The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Pertemuan kembali


__ADS_3

Setelah menukarkan separuh batu jiwa binatang iblis yang ada di dalam artefak kantong penyimpanan, Raynor keluar dari serikat perdagangan untuk mengajak Sisha berjalan-jalan.


Tidak peduli dengan keinginan Sisha, Raynor bisa membeli apa pun yang diinginkan, termasuk juga, jika tokonya di jual bisa saja dibeli olehnya.


"Apa yang ingin sesuatu Sisha ?." bertanya Raynor.


Tapi Sisha seakan tidak tertarik...."Hmmm tidak, aku tidak menginginkan apa pun, selama bisa berjalan-jalan dengan paman, itu sudah cukup."


"Baiklah, bagaimana jika kita cari makan."


"Ayo ...." Sisha cukup semangat dengan menggandeng tangan Raynor.


Berjalan ke sekitar warung makan dan toko senjata, suara keras dari beberapa orang yang berkumpul, membuat Raynor berhenti sejenak untuk melihat mereka.


Wajah botak, brewokan, dan wajah tersayat luka besar, tokoh orang seperti ini hanya melakukan tindak kejahatan, menjadi bandit, tukang todong, tukang palak, penagih hutang atau pun orang yang kerjanya nganggur tapi lagaknya seperti juragan tanah.


Dimana pun tempat orang-orang seperti itu, selalu ada dalam kisah cerita, sebagai penjahat yang sangat ditakuti.


"Oi, pak tua Goma, dimana kau ?." Suara kasar, berat dan keras terdengar dari depan toko.


Sekali lagi gebrakan meja terdengar keras hingga sekitar toko. Semua orang memperhatikan, tertegun dan pura-pura tidak kenal. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah untuk menghadapi orang brewokan, seram dan botak pula, tentu saja menjadi keputusan yang salah. Sedangkan didalam hidup mereka masing-masing sudah serba kekurangan.


Semuanya tahu akan posisi, para tetangga lamo hanya tokoh tambahan yang menjadi komentator jalannya cerita. Terlebih lagi, saingan kiri kanan, tertawa terbahak-bahak menyaksikan kemalangan orang lain.


"Aku hitung sampai tiga kau tak keluar, maka...., Aku hitung sampai lima, jika masih tak keluar, heh..... Aku pulang." Lantang Rolfo bersuara dengan ancaman sembari menghantamkan tangan ke meja.


"Loh kok pulang, bos." Yang bertanya itu salah satu dari anak buahnya, kawan setia, satu nasib, satu rumpun tanah kelahiran, Warju.


"Pulang, tapi aku angkut semua barang di toko mu ini." Begitu penjelasan dari Rolfo yang memang berniat untuk memalak Lamo.


Warju mengangguk-anggukkan kepala, mengerti apa yang dimaksudkan oleh bos besar dari para  bandit di kota Tegalasa itu.


Di kota Tegalasa yang memiliki luas hingga 50 kilometer jauhnya tidak ada yang tidak kenal siapa Rolfo.

__ADS_1


Seorang veteran bandit yang telah lalu lalang di sekitar kota Tegalasa tanpa satu pun orang luput menjadi mangsanya, dari para pedagang, petugas keamanan, tukang angkut barang, penjahit pakaian, empu senjata, juragan sembako hingga ajudan raja sekali pun, kena palak oleh Rolfo.


Goma pun muncul dari balik pintu belakang toko yang menjadi tempat terpisah, untuk dia beristirahat.


Tubuh lelaki tua yang kurus namun berotot keras layaknya dahan pohon belimbing, hitam, dan kering, menujukan seberapa banyak Goma untuk bekerja.


"Tuan Rolfo, kemarin aku sudah memberikan uang untukmu, jika sekarang kau masih meminta uang lagi, aku bisa bangkrut tuan." Begitu jawaban Goma yang menujukan wajah melas penuh keringat di dahinya.


"Kemarin itu uang kebersihan, dan sekarang uang keamanan, apa kau tidak tahu itu." Rolfo pun mencari segala macam alasan, tapi tujuannya cuma satu memalak Lamo.


Bagi beberapa orang yang menyewa para penjaga berkekuatan tinggi, tentu Rolfo tidak akan terlalu sangar dalam mencari masalah, karena dia tahu seberapa kuat lawan yang harus dihadapi.


Tapi bukan berarti Rolfo takut, dibawah kekuasaannya sebagai bos bandit Taring Hitam di wilayah kerajaan Losborn, ada puluhan anak buah yang siap menyerang, jika diperlukan. Hanya perlu mengucap 'A' maka semua beres dilibas oleh mereka semua.


Untuk orang-orang seperti Goma yang mati-matian bekerja dengan pendapatan sedikit, tidak mampulah dia menyewa para orang sewaan. Terlebih lagi, para pejaga kota pun bersekongkol mencari keuntungan bersama bandit-bandit.


Hanya sekedar alasan, entah itu uang keamanan, uang kebersihan, atau pun sekedar berniat untuk meminta uang sumbangan, hampir tujuh hari, tiga hingga empat kali. Rolfo atau pun anak buahnya selalu meminta jatah yang tidak masuk diakal.


Segera sebuah tangan melingkar di tenggorokan Goma, diangkat oleh Rolfo tanpa kesulitan... "Perduli setan, kau tidak ingin memberikannya, maka aku ambil barang-barang milikmu."


Sisha yang melihat bagaimana seorang lelaki tua penjual senjata harus berhadapan dengan bandit menunjukkan rasa iba, karena dia ingat bagaimana kehidupan ayahnya dulu.


Ketika masih memiliki keluarga utuh dan pekerjaan sebagai ahli tempa senjata di kota kerajaan Losborn, ayah Sisha, Tuan Lamo sering mendapat perlakuan buruk oleh para bandit.


"Paman, tolong pak tua itu." Ucap Sisha memohon kepada Raynor.


Sebenarnya Raynor bukan tidak mau menolong, tapi pernah sekali dia mendapat masalah dengan para bandit, tapi pada akhirnya dia pula menjadi tersangka.


Tapi melihat wajah memelas Sisha, Raynor tidak bisa menolak permintaannya untuk menolong pak tua pemilik toko senjata dari para bandit-bandit.


Benar saja, saat Rolfo ingin melemparkan tubuh kurus Goma, sebuah pedang besar hitam keperakan melesat dari atas langit dan tepat berdiri menancap dihadapannya.


Rolfo serentak melepaskan tubuh Goma dan tangan mulai gemetar, dia terkejut bukan buatan, mendengar suara dari datangnya pedang seperti batu seberat hampir 100 kilo jatuh dengan keras. jika dia tidak menghindar maka tangan Rolfo sudah putus.

__ADS_1


Mencari kesegala arah, siapa gerangan yang dengan sengaja melemparkan senjata untuk menganggu bisnis mereka.


"Kau macam-macam dengan pak tua itu, maka aku pastikan, besok kau tidak akan pernah bisa makan lagi." Ucap seorang lelaki yang jauh dibalik kerumunan orang-orang ditengah kegiatan Rolfo.


Bersama dengan seorang gadis kecil digandengnya, Raynor muncul menujukan diri selaku pahlawan pembela kebenaran.


"Jika kau tidak pergi, maka.." belum selesai Raynor berbicara.


"Kau !!!." Rolfo terkejut melihat kehadiran Raynor.


Tentu dia ingat betul siapa Raynor, karena satu tahun yang lalu, ketika mereka hendak merampoknya setelah keluar dari serikat perdagangan, Rolfo di hajar hingga tangannya patah dan juga harus di tangkap oleh penjaga kota.


Itu semua menjadi kemarahan untuk bos bandit yang namanya terkenal diseluruh kota Tegalasa.


"Akhirnya aku bertemu denganmu lagi, bocah si*alan." Ucap Rolfo bernada penuh emosi.


"Tunggu apa kau mengenalku ?." Balik Raynor bertanya, karena memang dia tidak pernah bisa mengingat nama orang lain dengan benar, terlebih orang itu adalah lelaki.


"Harusnya kau ingat, bagaimana dulu kau membuat tanganku patah."


"Ah, iya aku ingat sekarang, tapi maaf aku lupa dengan namamu." jawab Raynor dengan wajah masa bodoh.


"Aku tidak peduli jika kau tidak mengingat namaku, karena sekarang kau akan mati jadi tidak perlu lagi tahu siapa aku ini." Ucap Rolfo dengan marah.


Rolfo secepat mungkin bergerak untuk menyerang, dia adalah ahli beladiri tahap pembentukan jiwa tahap tengah, tentu dengan kekuatan yang Rolfo miliki sekarang cukup mengalahkan Raynor.


Tapi hanya butuh satu gerakan kesamping untuk menghindar, dan Raynor menghantamkan pukulan telak berselimut energi api tepat ke perutnya.


Bertekuk lutut Rolfo tidak mampu bergerak, seakan organ dalam di perutnya sudah dihanguskan oleh serangan Raynor. Mata Rolfo menatap atas, melihat sosok bocah yang bukan sembarang, dia pun gemetar ketakutan.


"Cepat kau pergi, jika tidak..." Raynor menunjukkan telapak tangan api di depan wajah Rolfo.


Itu tidak main-main, jika Raynor berniat melepaskan pukulan energi api kepala Rolfo, sudah dipastikan kepalanya akan pecah.

__ADS_1


__ADS_2