The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
dewa penciptaan


__ADS_3

Phoenix di tubuh Sania bersiap melepas serangan energi dengan tekanan kuat, tapi belum sempat terbentuk, tubuhnya tiba-tiba saja berhenti bergerak.


"Sania, apa yang kau lakukan." Phoenix kesal karena jiwa Sania mencoba merebut kesadarannya.


"Jangan, jangan menyakiti Raynor, aku mohon." Ucapnya sendiri setelah menarik paksa kesadaran Phoenix.


"Tapi jika kehadiranku di dunia ini diketahui banyak orang akan menjadi masalah besar, jadi membunuh lelaki ini adalah jalan satu-satunya." Kata Phoenix dengan nada serius.


Phoenix menekan kesadaran Sania ke titik terdalam, sehingga Sania tidak akan melihat apa pun yang terjadi melalui mata batinnya.


Sebuah kumpulan energi beku murni terkumpul di tangan Phoenix biru dan itu tidak lemah, kekuatan tingkat tinggi yang mungkin mampu melukai seorang ahli tingkat raja tempur sekali pun.


Bisa dipastikan jika Raynor terkena serangan ini, dia tidak mungkin selamat dan itu juga sudah membuatnya berkeringat.


"Rangkaian beku, gerakan pertama, cahaya dingin abadi...."


Belum sempat Phoenix melepas serangannya, tangan Raynor terangkat tinggi menunjukkan tanda untuk berbicara.


"Tunggu sebentar, apa kita bisa bernegosiasi terlebih dulu ." Raynor dengan cepat memotong pengucapan jurus yang akan dilakukan oleh Phoenix sebelum terlambat.


"Cepat katakan, aku tidak bisa menahan ini lebih lama ." Kata Sang Phoenix dengan wajah kesal.


"Bagaimana jika aku berjanji untuk membantumu mencapai tingkat beladiri dewa yang mulia, sehingga kau mendapatkan tubuh nyata." Kata Raynor dengan nada panik.


Phoenix biru membatalkan serangan ditangannya dan semua energi pecah menjadi kepingan cahaya kemudian lenyap, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Raynor.


Di dunia ini Phoenix biru menyadari jika pemahaman setiap orang dalam ilmu beladiri sangatlah terbatas, para manusia beranggapan bahwa tidak ada kekuatan yang mampu melampaui batas tingkat immortal.


Tapi Raynor mengatakan sesuatu yang tidak mungkin berasal dari orang di dunia ini. Dewa yang mulia, pencapaian tertinggi seorang ahli beladiri untuk menjadi setara layaknya dewa nyata.


"Dari mana kau tahu tentang tingkat beladiri dewa yang mulia dan juga pembangkitan tubuh nyata." Phoenix biru bertanya balik.


Kini Raynor bisa bernafas lega karena Phoenix tertarik untuk mendengarkan penjelasannya, meski pun aura membunuh yang Phoenix keluarkan masih terasa dengan jelas.


"Apa kau percaya jika aku sebenarnya adalah renkarnasi dari penguasa alam semesta atas." Jawab Raynor.


"Apa bukti yang bisa kau tunjukan ."

__ADS_1


"Tunggu sebentar."


Raynor membuka segel pertama dari gerbang tujuh langit surgawi dan menunjukkan sedikit kekuatan milik penguasa tertinggi.


Kilauan cahaya emas dan merah menyala terang menyilaukan seisi Goa, tekanan luar biasa yang mungkin mampu menyaingi seorang ahli beladiri tingkat Sovereign.


Phoenix biru terkejut ketika dirinya merasakan sensasi dari pembukaan sedikit kekuatan penguasa tertinggi, tapi dalam diam dia memandangi titik-titik cahaya seperti mahkota yang ada di atas kepala.


Tapi ada yang mengejutkan ketika Phoenix melihat kekuatan penguasa tertinggi, dia segera membungkuk hormat di hadapan Raynor.


"Eh, ada apa ?, Kenapa kau menunduk kepadaku, apa kau takut dengan kekuatan yang aku miliki."


Sejak awal Raynor memang tidak menganggap Phoenix biru sebagai musuh, dimana tubuh yang dia gunakan adalah milik Sania, tentu tidak mungkin Raynor melukainya.


"Tidak bukan itu, tapi...."


"Tapi apa ?, Apa ada yang salah ?."


"Aku mohon maaf tuan, aku tidak tahu, jika Anda adalah pembawa takdir milik dewa penciptaan." Kata Phoenix.


Sikap Phoenix menjadi tenang dan bisa Raynor rasakan hanya dengan mendengar nada suaranya saja.


Phoenix jelas menyebutkan dewa penciptaan, dimana itu adalah salah satu dari para dewa zaman kuno atau pun zaman awal terbentuknya jagat raya.


Penguasa tertinggi tahu akan semua kisah para dewa zaman awal penciptaan jagat raya, karena dia sudah menjelajahi seluruh alam semesta dan mempelajari bermacam-macam kemampuan dari reruntuhan kuno.


"Teknik meditasi dunia nirwana itu sudah hilang dimasa lalu bersama dengan kiamat ke dua, dewa penciptaan memberi petunjuk kepada semua makhluk untuk mengikuti dan tunduk terhadap siapa pun yang membawa takdir miliknya, anda adalah sosok terpilih itu." Kata Phoenix biru dengan serius dan menjadi lebih lembut.


"Kami ?, Memang siapa lagi."


"Semua mahluk yang menjadi pengikut sang dewa penciptaan."


Raynor memikirkan perkataan Phoenix tentang teknik meditasi dunia nirwana. Ingatannya kembali ke waktu tujuh ribu tahun di masa lampau, penguasa tertinggi menerima satu pencernaan dari satu eksistensi astral masuk ke dalam pikiran.


Di saat pencernaan itu, semua hal tentang teknik meditasi dunia nirwana secara langsung diberikan, namun penguasa tertinggi sudah mencapai tingkat dewa yang mulia sehingga tidak ada niat untuk mempelajari teknik lain.


Barulah ketika dia mengambil tubuh Raynor, Penguasa tertinggi menerapkan teknik meditasi dunia nirwana, seperti anggapan Phoenix jika teknik ini memiliki hubungan dengan dewa penciptaan.

__ADS_1


Namun persoalan kiamat kedua yang melenyapkan teknik meditasi dunia nirwana, penguasa tertinggi baru pertama kali mendengarnya.


"Tapi untuk sekarang, aku belum menyempurnakan teknik dunia nirwana." Jawab Raynor karena memang teknik itu akan terus berkembang hingga dirinya mencapai tingkat dewa yang mulia.


"Itu wajar, segala hal yang berhubungan dengan Dewa penciptaan sangatlah sulit di pahami, termasuk keberadaan dari Dunia ini."


"Dunia ini ?, Jadi planet yang kita tinggali sekarang berhubungan dengan Dewa penciptaan."


"Kau benar, ketika kiamat kedua datang, dewa penciptaan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menciptakan satu dunia dan disinilah tempatnya." Jawab Phoenix dengan mengangguk perlahan.


Jika kehadiran penguasa tertinggi di dunia ini karena teknik meditasi dunia nirwana atas dasar penerus takdir dewa penciptaan, tentu menjadi alasan kenapa dari banyaknya dunia di jagat raya, penguasa tertinggi datang ke dunia antah berantah.


"Jadi begitu... Aku cukup memahaminya." Bergumam Raynor sendiri.


"Apa ada yang anda pikirkan tuan." Bertanya Phoenix.


"Tidak bukan apa-apa."


"Jika menang ada yang membuat anda tidak nyaman katakan saja tuan."


Sang Phoenix dengan sikap yang berbeda mulai berbicara sopan kepada Raynor, berbanding terbalik jika disamakan dengan awal perkenalan mereka.


"Maaf, mbak Phoenix, Sebaiknya jangan terlalu sopan kepadaku." Kata Raynor yang tidak nyaman mendengar perkataan Phoenix.


"Memangnya kenapa ."


"Aku merasa aneh mendengarnya." Jawab Raynor dengan sedikit menggigil .


"Tapi aku tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena bagaimanapun anda andalah penerus takdir sang dewa penciptaan."


"Itu sebabnya, aku lebih senang jika kau mengenalku sebagai Raynor, bukan Dewa penciptaan atau yang lainnya."


"Baiklah, jika itu yang anda inginkan tuan."


"Tolong berhenti memanggilku dengan sebutan 'Tuan'." Pinta Raynor.


"Aku mengerti."

__ADS_1


Mendengar panggilan tuan membuat Raynor teringat akan kehidupannya di dalam istana Penguasa tertinggi, itu membuatnya bosan dan tidak nyaman jika ada orang lain menunjukan rasa hormat dengan cara berlebihan.


__ADS_2