The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Gali lubang


__ADS_3

Terlihat wajah Erza yang basah oleh keringat, Raynor memberikan kain kepadanya untuk membersihkan diri, selama lima jam itu mereka berdua tidak hanya lelah menggenjot alat kipas manual, tapi juga menahan hawa panas di dalam ruangan.


"Apa kau baik-baik saja Erza ?." Bertanya Raynor saat melihat wajah lemas Erza.


"Untuk sekarang aku masih bisa bertahan, pekerjaan ini sangat menyiksa." Jawabnya dengan tersenyum pahit.


"Tapi kau harus tahu jika ini belum selesai, kita perlu membentuk semua bijih logam agar menjadi lempengan dan barulah mulai membentuknya menjadi senjata."


"Aku mengerti, tapi untuk sekarang aku ingin beristirahat sejenak."


"Ya tentu saja, karena pekerjaan ini akan membutuhkan waktu cukup lama."


Erza dan Raynor berjalan keluar pondok untuk menghirup udara segar, setelah berlama-lama kepanasan tentu suasana teduh dan angin yang melewati dedaunan pohon begitu nyaman.


Hembusan nafas panjang dikeluarkan oleh Erza, dia tidak terlihat menyesal untuk tujuan mendapat uang secara layak meskipun itu sangat melelahkan.


"Sekarang aku sadar kenapa kau tidak menyukai para bandit." Ucap Erza.


"Tentu saja, setiap orang bekerja keras, mereka menggantungkan diri dalam pekerjaan yang hanya cukup memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, dan para bandit dengan mudah merampas harta mereka, seakan tidak perduli nasib orang lain."


"Maafkan aku."


"Kenapa kau meminta maaf kepadaku." Balas Raynor.


"Aku merasa bersalah."


"Selama kah tidak melakukannya lagi, itu sudah cukup."


Sedikit waktu untuk Raynor dan Erza beristirahat, sedangkan Sania mengajak Sisha bermain-main di sekitaran pondok sebelum melakukan sesi berikutnya.


"Kalian berdua, jangan bermain terlalu jauh, berbahaya, mungkin ada binatang iblis di sekitar sini." Berteriak Raynor.


"Tenang saja paman." Sisha membalas teriakan Raynor.


"Kau tidak perlu khawatir aku akan menjaga Sisha, Ray." Sania pun ikut menjawabnya.


Harus menang tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena ada Sania menjaga Sisha, bahkan jika bertemu binatang iblis, merekalah yang harus khawatir karena berhadapan dengan Sania.


Raynor berdiri di samping Erza, mereka menikmati suasana sejuk dengan air nira yang Raynor bawa untuk melepas lelah.

__ADS_1


Tapi semua tidak berlangsung lama, karena pekerjaan mereka masih tersisa satu proses di hari ini dan setelah menyelesaikannya barulah mereka akan pulang.


"Baiklah, ayo kita mulai kembali..."


"Ehhh, aku masih ingin beristirahat." Sedikit Erza mengeluh.


"Hei Erza, aku membayarmu dengan cukup layak, paling tidak bersemangatlah karena tenaga yang kau gunakan itu menghasilkan uang."


"Baiklah aku mengerti."


Seakan terlihat malas, Raynor menarik tangan Erza, dia bisa merasakan kulit yang sebelumnya lembut kini terasa kasar karena cukup lama menggenjot alat kipas secara manual.


Saling bersentuhan dan Raynor tidak berniat melepaskan tangannya, tentu sudah membuat Erza malu, kehadiran satu lelaki ini jelas berbeda dari lelaki ketika dia di dalam geng bandit kota Tegalasa.


Meski Erza sudah lama berkerumun dengan para lelaki kasar, dia tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajah merah yang dia alihkan ketika menghindari tatapan Raynor.


Gugup Erza yang mencoba menarik paksa tangannya...."Apa yang kau lakukan, lepaskan."


"Jangan khawatir, aku tidak berniat mematahkan tanganmu." Jawab Raynor.


"Bukan soal itu, tapi...."


Erza terkejut, dia sebelumnya merasakan sedikit rasa sakit karena sudah lama tidak melakukan pekerjaan kasar, kini sembuh setelah di usap oleh Raynor, termasuk rasa lelah di pergelangan tangannya pun ikut hilang.


"Bagaimana kau melakukannya." Ucap Erza seakan tidak percaya.


"Hanya sedikit kemampuan untuk mengobati luka."


"Tapi bukankah ilmu pengobatan adalah energi khusus yang tidak sembarang orang bisa melakukannya."


"Dan akulah salah satu dari sembarang orang itu." Cukup sombong untuk Raynor menjawab.


Banyak hal yang tidak Erza mengerti tentang Raynor, dia sosok lelaki penuh rahasia, bukan hanya ahli dalam beladiri, tapi ilmu pengobatan pun mampu dilakukan olehnya.


Kembali ke pekerjaan utama mereka.


Setelah bijih logam pamor terkumpul, Raynor pun bersiap untuk meleburkan semua bijih logam agar menjadi lempengan besar.


Ini pekerjaan yang jauh lebih berat daripada membuat batu angkasa menjadi empuk, karena proses pemanasan akan menjadi lebih lama dan harus menggunakan api yang lebih panas pula.

__ADS_1


"Jadi tuan Lamo, apa yang harus aku lakukan sekarang ?, Apa kita membakar diatas kuali seperti sebelumnya." Bertanya Raynor.


"Tidak, itu akan sangat lama, bahkan bisa seharian penuh untuk melelehkan logam ini."


"Lantas bagaimana tuan ?."


"Pertama-tama kau menggali sebuah lubang." Perintah tuan Lamo.


"Lubang, untuk apa ?."


"Sudah lakukan saja, karena ini akan menjadi cara efektif meleburkan bijih logam."


"Baik tuan." Raynor tidak bisa menolak karena saat ini dia sedang belajar.


Raynor bingung dengan tujuan Tuan Lamo yang memberi perintah untuk membuat lubang, dan tanpa perlu repot memikirkan alasannya dia pun segera mengambil cangkul.


Dengan fisik seorang ahli beladiri tingkat penguasaan jiwa kekuatan Raynor ketika mencangkul tanah sangatlah ringan, tanpa perlu banyak waktu semua sudah selesai dalam sekejap.


"Sekarang kau tempatkan batu energi api di bawah lubang, dan masukkan kuali di dalamnya."


"Baik tuan."


Raynor seakan paham, cara yang tuan Lamo gunakan ini adalah untuk mempercepat dan mempermudah peleburan logam, dimana Raynor harus menempatkan kuali di lubang itu karena tuan Lamo ingin membakar kuali dari atas, bawah dan semua sisinya.


Sebuah pembuktian bahwa gabungan dari pengalaman dan ilmu pengetahuan bisa menjadi satu kemampuan hebat yang tidak mungkin di miliki oleh seorang amatiran.


Jika Raynor sudah memiliki kekuatan di tingkat lord dan menumbuhkan perubahan tenaga dalam menjadi elemen, hanya dengan kekuatan elemen api tingkat tinggi cukup untuk meleburkan logam sekeras platinum.


Tapi untuk sekarang, pembakaran seperti ajaran tuan Lamo adalah cara yang bisa Raynor lakukan.


Kurang dari lima jam, bijih logam itu sudah mencair sepenuhnya, ini jauh lebih cepat dari pada pembakaran ketika masih berbentuk batu.


(Jika ada yang berpikir, kenapa kok tidak menggunakan cara ini dari awal pembakaran, kan lebih cepat. Itu karena pembakaran kedua membutuhkan suhu yang jauh lebih panas, sehingga ketika batu angkasa mendapat panas yang lebih kuat, logam di dalamnya akan ikut mencair dan tercampur dengan lelehan batu.)


Sebuah peti berisi pasir kering sudah di persiapkan, dibentuknya cetakan kotak dan sedikit demi sedikit cairan logam di ambil untuk Raynor tuang ke dalam cetakan.


"Untuk sekarang kita hanya perlu menunggu sampai logam itu dingin, jadi kita bisa pulang dan melakukan penempaan esok hari." Ucap tuan Lamo merasa cukup dengan pekerjaan di hari ini.


"Baik tuan." Raynor pun bersiap-siap dengan semua peralatannya.

__ADS_1


Melakukan proses peleburan batu angkasa sudah terasa melelahkan, bahkan untuk seorang seperti Raynor yang berada di tingkat pembentukan jiwa tahap akhir. Tapi di sisi lain, dia benar-benar merasa puas karena senjata yang terbuat dari logam pamor akan sangat sebanding dengan kerja kerasnya sekarang.


__ADS_2