
Klan harimau merah mengumpulkan semua generasi muda di halaman luar, bukan tanpa alasan, karena sekarang mereka harus memilih para petarung yang akan mewakili klan dalam festival peringkat generasi muda empat klan utama.
Sosok yang memiliki bakat tinggi seperti Sania dan Darnu tentu menjadi kandidat kuat, tapi kekuatan klan harimau merah tentu bukan hanya mereka berdua saja. Semua generasi muda datang dari keluarga cabang luar kerajaan Losborn untuk harapan jika mereka akan terpilih sebagai wakil petarung.
Jika mereka mampu memberi kemenangan bagi klan dalam peringkat teratas, tidak hanya menjadi rasa bangga untuk klan, secara pribadi masa depan cerah sudah menanti.
Di tambah lagi, Kerajaan Losborn menjanjikan banyak hadiah berupa koin emas, senjata-senjata kualitas tinggi dan juga peralatan lain yang terbilang mahal. Tapi dari itu semua, satu tujuan para peserta adalah jabatan penting di dalam kerajaan bagi generasi muda terbaik.
Tapi seorang gadis cantik berjalan mengelilingi barisan, dia mencari sesuatu yang mungkin dilewatkan olehnya.
Sania mencari Raynor yang tidak tampak dimana pun, bahkan di dalam kamar, atau di jam*ban, sangat jarang bagi Raynor tidak pulang ke rumah tanpa sepengetahuannya.
"Apa yang terjadi, dimana Raynor ?." Ucap Sania bingung.
Sedangkan seorang lelaki bertubuh sedikit gemuk dagang mendekat.
"Nia ada apa ?, Kau terlihat bingung mencari sesuatu." Bertanya Furan.
"Tidak kakak, aku mencari Raynor, dia masih belum datang."
"Kau tidak perlu memikirkannya, entah Raynor itu datang atau tidak, dia tidak mungkin masuk ke dalam perwakilan klan harimau merah." Furan jelas kurang menyukai Raynor.
Semua itu karena hubungan yang terjalin antara Raynor dan Darnu sangat tidak baik, sehingga Furan pun menganggap Raynor bukan temannya.
"Jangan bicara buruk kepada Raynor, dia cukup kuat untuk mengalahkan Darnu, tentu klan harimau merah ingin Raynor masuk sebagai perwakilan."
"Kau terlalu menganggap Raynor sangat hebat, dia harusnya tahu untuk tidak menentang Darnu."
"Terserah kakak bicara apa."
"Tapi apa yang aku katakan itu benar, hanya para ahli beladiri tingkat pemahaman bumi saja bisa memenuhi syarat. Jadi dia yang masih berada di tingkat penguasaan jiwa, tidak mungkin terpilih."
"Ya itu ada benarnya."
Darnu yang melihat Furan dan Sania berbincang-bincang tentu tidak tinggal diam untuk menjadi pendengar, dia pun datang menyapa mereka.
"Aku tidak melihat anak numpang itu, apa dia sudah pergi dari klan ini." Sindir Darnu dengan jelas tertuju kepada Raynor.
"Kenapa kau selalu mengatakan hal tidak penting, kak Darnu." Balas Sania kesal.
"Tidak penting ?, Tentu saja ini penting, jika dia pergi aku tidak perlu repot-repot lagi menunjukkan diri jika sekarang aku bisa mengalahkan anak itu." Darnu bersikap sombong seperti biasa.
Tapi pernyataan Darnu jelas bukan tanpa dasar, Sania menyadari akan jika Darnu sudah naik satu tahap dari pertemuan terakhir. Dia sekarang adalah ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap akhir.
Memang tidak main-main bagi klan Wu zang memberi sumber daya bagi keturunannya hingga mampu berkembang lebih tinggi.
Darnu menjadi satu-satunya generasi muda di klan harimau merah, dimana usia dibawah dua puluh tahun sudah mencapai tahap akhir dari tingkat pemahaman bumi, adalah suatu kebanggaan luar biasa.
*******
Di tepi halaman latihan...
Regar dan beberapa ketua lain sudah menempatkan posisi di kursi kehormatan untuk melihat para generasi muda menunjukkan diri.
Tapi tiba-tiba saja seorang penjaga datang menghadap Regar, dia membungkuk hormat sebelum menyampaikan maksud kedatangannya.
__ADS_1
"Tuan Regar, ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan anda." Ucap penjaga itu dengan gemetar.
Regar tidak mengharapkan kehadiran seorang tamu ketika dia sedang dihadapkan dalam pertemuan penting.
"Kenapa harus sekarang, katakan padanya untuk kembali besok." Perintah Regar.
"Tidak bisa tuan, aku sudah mengatakannya tapi dia tetap memaksa ingin bertemu."
"Kenapa tidak bisa, harusnya kau tahu hari ini adalah hari penting untuk masa depan Klan harimau merah." Ada rasa kesal Regar tunjukan.
"Tapi hamba benar-benar tidak bisa." Penjaga itu menggeleng kepala dengan cepat.
"Memang siapa orang itu, sampai kau melawan perintahku."
"Dia satu orang tua bertubuh besar dengan janggut putih lebat, tapi cara dia melihat, seperti ingin membunuhku jika tidak mau menuruti keinginannya." Penjaga menjelaskan dengan rasa takut.
"Apa dia ingin membuat keributan disini." Balas Regar.
"Sepertinya tidak, tapi hamba tidak mungkin kembali jika tidak bersama anda tuan Regar."
Dengan perasaan kesal dan tidak menyenangkan Regar berdiri, tapi belum sempat melangkah untuk menemui lelaki tua yang di sebutkan oleh penjaga, pintu gerbang itu terbuka seperti dipaksa menggunakan kekuatan tenaga dalam.
Setiap orang sontak saja berdiri, mereka bisa merasakan tekanan aura hebat datang dari pintu gerbang. Termasuk kakek Souza yang menunjukan sorot mata tajam untuk tahu siapa sosok hebat dengan kekuatan di tingkat diatasnya.
Satu lelaki tua muncul, dia menunjukan perasaan kesal selagi berkata.... "Apa-apaan kau Regar, berani-beraninya meminta penjaga untuk mengusir ku, kau murid yang tidak berbakti kepada gurumu."
"Tuan guru Gundira, kenapa anda datang kemari." Gemetar suara Regar menyebutkan nama lelaki tua itu.
Lelaki tua yang di panggil Gundira oleh Regar itu berjalan maju dan menampar wajahnya. Tidak ada perlawanan, Regar dengan tubuh besar pun sempoyongan karena satu tamparan di pipi.
Regar memberikan hormat dihadapan Gundira...."Maafkan aku guru, aku tidak tahu jika anda akan datang."
"Alasan saja, aku datang untuk membicarakan sesuatu yang penting."
"Tapi maaf guru, bisakah anda menunggu sebentar, aku harus mengawasi calon petarung generasi muda untuk nanti festival empat klan utama." Regar memberi alasan.
"Begitukah ?, Kalau begitu biar aku juga melihat mereka."
Tidak ada pilihan lain untuk Regar menolak keinginan sang guru...."Tentu saja, silakan guru."
Gundira pun berjalan melewati Regar yang masih membungkuk, dia segera menghampiri kakek Souza dimana keduanya cukup akrab dan saling mengenal satu sama lain.
Sebuah kebetulan lain pun datang, dimana dari balik pintu gerbang yang masih terbuka lima sosok berjalan masuk.
Kali ini mereka adalah Raja Sura dan putri Siva, tiga lain adalah para prajurit yang dibawa langsung sebagai penjaga.
Raja Sura memperhatikan Regar, dia pun berkomentar...
"Kenapa dengan pipimu Regar." Bertanya raja Sura.
"Guru Gundira datang kemari." Singkat dan jelas jawaban Regar sudah menjelaskan makna dari bekas merah di pipinya.
Berubah raut wajah Raja Sura dengan jawaban Regar.... "Apa ?, Sial sepertinya aku datang di waktu yang salah."
"Kenapa ayah, kenapa kau seperti tidak senang dengan orang bernama Gundira itu." Siva penasaran atas perubahan sikap ayahnya.
__ADS_1
"Tidak..." Jawab Raja Sura ragu-ragu bahkan dia jelas menghindari pertanyaan Siva.
"Ayahmu dulu di Sekte teratai api salah satu pembuat onar yang hampir mengacaukan seluruh sekte." Orang yang menjawab adalah Regar.
"Itu juga karena mu Regar." Balas raja Sura tidak menerimanya begitu saja.
"Ok, ok. Jangan bahas itu, jadi bagaimana Sura ?."
"Aku akan datang lain waktu." Raja Sura tidak berniat untuk pertemuan dengan guru Gundira.
"Tapi ayah, bagaimana dengan Raynor ?." Siva merasa enggan.
"Kau bisa bertemu dengannya nanti."
"Eeehhh." Siva menolak tapi tetap saja Raja Sura sudah berniat pergi.
Hanya saja baru dia balik kanan, wajah lelaki tua dengan tubuh besar itu muncul, menahan langkahnya untuk pergi dari klan harimau merah.
"Mau kemana kau Sura ?." Ucap Gundira.
"Tidak tuan guru, aku hanya ingin mencari kamar mandi." Raja Sura beralasan.
"Kamar mandi ada di dalam, jadi kenapa kau berjalan ke arah luar."
"Maafkan aku ?."
"Untuk apa kau meminta maaf ?."
"Untuk segalanya."
Hanya Gundira yang bahkan mampu membuat seorang raja kerajaan Losborn tidak berani bicara, sosok guru besar sekte teratai api, seorang ahli beladiri tingkat master, tidak perduli apa, dia pun sudah mampu meratakan kerajaan seorang diri.
Gundira menarik tangan Sura dan Regar untuk kembali ke kursi, tidak ada perlawanan jika itu berhubungan langsung dengan sang guru.
"Siapa gadis muda ini ?, Putri kau kah Sura ?." Bertanya Gundira tentang Siva.
"Itu benar tuan guru." Patuh raja Sura menjawab.
Gundira bertanya dengan serius memperhatikan wajah Siva... "Oh jadi dia anak dari Niran ?."
"Itu juga benar tuan guru."
"Apa kau berniat memasukannya ke sekte teratai api ?."
"Itu tidak, aku sudah mendaftarkan Siva ke akademi pedang suci di daratan tengah tuan guru." Jawab Raja Sura.
"Cih, jadi begitu." Ada ketidaksenangan bagi Gundira dari jawaban Sura.
Siva terkejut, dia tidak tahu apa pun soal pendaftaran yang dikatakan ayahnya itu.
"Aku tidak tahu soal pendaftaran itu ayah." Berkata Siva.
"Akan ayah jelaskan nanti, jadi untuk sekarang kau tidak perlu marah-marah."
"Baiklah." Siva pun menurut saja dengan perkataan Ayahnya.
__ADS_1
Pemilihan generasi muda klan harimau merah pun dilanjutkan, meski satu orang belum tampak batang hidungnya.