
Ada dua syarat di festival peringkat generasi muda klan utama untuk para generasi muda yang akan menjadi wakil petarung bagi masing-masing klan.
Pertama adalah tingkat terendah bagi para wakil petarung haruslah seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi.
Kedua adalah mereka harus mampu melewati batas nilai kekuatan energi tenaganya dalam yang akan diukur oleh klan.
Ada lima puluh sembilan anggota generasi muda klan harimau merah yang berkumpul di depan halaman latihan. Sebagai langkah pertama untuk mengetahui tingkat kekuatan masing-masing anggota, mereka harus menggunakan suatu artefak khusus yang menjadi alat penilai.
Tepat di tengah-tengah lapangan terdapat satu tugu batu besar dengan bola kristal di bagian atas, sedangkan sekeliling badan tugu, memiliki goresan-goresan simbol prasasti yang dibuat oleh Shaman.
Tanpa bantuan dari artefak pengukuran itu setiap ahli beladiri berpengalaman bisa mengetahui seberapa tinggi tingkatan yang orang lain miliki hanya dengan merasakan tekanan aura dari tubuh mereka.
Hanya saja, mengandalkan tekanan aura tenaga dalam bisa dimanipulasi dengan mudah, sehingga banyak yang terkecoh untuk menghadapi lawan saat mereka kira lemah ternyata menyembunyikan tingkatan secara nyata.
Satu orang yang menjadi pengawas adalah paman Yuran, dia bertanggung jawab sebagai ketua dalam bidang pelatihan murid klan harimau merah.
"Baiklah, kita mulai penilaiannya, yang pertama...." Paman Yuran memanggil satu persatu nama dari usia termuda.
Untuk awalan, seorang anak lelaki muda berusia sembilan tahun berjalan maju dengan malu-malu. Siapa pun tahu jika dia hanya seorang ahli beladiri tingkat penguatan tubuh, tapi demi menjalankan prosedur yang sesuai, lelaki muda itu tetap harus mengikuti penilaian.
Bocah itu berdiri di depan tugu artefak, meletakan tangannya di bagian tengah dan mulai mengalirkan energi tenaga dalam hingga setiap goresan prasasti menyala.
Batu kristal yang ada di bagian atas menampilkan tulisan cahaya berbeda-beda, dan bocah itu mampu menampilkan kata 'Tubuh' bergaris tiga, dimana artinya dia masih berada di tingkat penguatan tubuh tahap akhir.
"Seon, tingkat penguatan tubuh tahap akhir." Ucap Yuran dan nama Seon diberikan tanda silang dalam daftarnya.
Meski belum memenuhi syarat, Seon adalah anak berbakat, karena mampu mencapai penguatan tubuh tahap akhir di usia yang belum genap sepuluh tahun.
"Selanjutnya, Liya." Panggil paman Yuran untuk nama lain.
Di sisi para tetua...
Gundira cukup serius memperhatikan satu persatu generasi muda yang sekarang ada di halaman latihan, dia tentu merasa tertarik dengan beberapa orang, hanya saja bukan itu alasan kedatangannya di klan harimau merah.
"Regar, apa dia putrimu, Sania ?." Tunjuk Gundira ke salah satu wanita yang tentu menarik perhatian siapa pun saat melihat.
"Ya guru, dia Sania." Regar mengangguk patuh.
"Kau memiliki anak yang luar biasa."
"Terimakasih atas pujiannya guru."
Dari pandangan mata Gundira dia bisa melihat wujud aura yang muncul dari tubuh Sania, diantara semua orang dengan kepulan aura energi warna merah pudar, hanya Sania saja memiliki warna putih kebiruan itu pun cukup pekat hingga meluap naik begitu tinggi.
"Jadi apa kau akan membawa Sania ke Sekte teratai api."
"Tidak guru, maaf, tapi aku memiliki sahabat yang di kenalkan oleh Rezar, dia mengajar di akademi pedang suci, jadi aku memintanya untuk membawa Sania saat dia dewasa nanti." Jawab Regar.
__ADS_1
Balik Gundira menatap Sura..."Oh jadi itu juga alasan Siva kau kirim ke sana Sura."
"Itu juga alasannya, tapi bukankah guru tahu, jika akademi pedang suci berada di bawah pengawasan kaisar pedang naga Elonel, tentu kami ingin mereka mendapat pendidikan terbaik."
"Aku tahu itu, akademi pedang suci juga menjadi peringat pertama di seluruh perguruan beladiri benua angin biru ini." Dengan kesal Gundira menjawab.
Kembali Gundira melihat ke setiap generasi muda, menggunakan mata batin yang sudah dia latih selama ratusan tahun, tentu tidak akan salah dalam menilai kekuatan seseorang.
"Tapi aku yakin bukan dia yang membunuh raja ular putih." Gumam Gundira sendirian.
Seperti yang dikatakan oleh dua murid sekte teratai api, jika ada seorang lelaki bersama Sania, dan dia mencari sosok lelaki itu. Hanya saja lelaki terkuat yang dia lihat tidak lain dan tidak bukan adalah Darnu.
"Regar apa hanya ini generasi muda yang kau miliki." Bertanya Gundira selagi menggaruk janggutnya.
"Sebenarnya ada satu orang lagi, tapi sampai sekarang dia belum juga datang." Jawab Regar.
"Siapa dia ?."
"Namanya Raynor.... Dia adalah anak Rezar."
"Oh benarkah itu." Gundira tersenyum penuh makna.
"Lah masa iya aku berbohong padamu guru."
"Memang kau pikir sudah berapa banyak kebohongan yang kau katakan saat masih menjadi murid di sekte."
Gundira merasa penasaran tentang Raynor yang menjadi anak dari murid terbaiknya, meski pun tidak secara yakin bahwa Raynor itulah sosok pembunuh penguasa hutan Jatilowa, raja ular putih.
Kali ini Darnu menjadi generasi muda yang maju untuk melakukan penilaian, dia terlihat percaya diri dengan kekuatannya setelah mendapat bantuan dari klan Wu zang.
Berdiri di depan Tugu artefak penilaian, dia berbalik untuk menatap semua orang dari generasi muda dan Darnu pun bicara menyampaikan sepatah dua patah kata.
"Kalian semua tidak berguna, bagaimana mungkin klan harimau merah ini hanya memiliki sedikit generasi muda berbakat. Lihat aku..." Tegas ucapan Darnu yang meremehkan.
Beberapa orang yang jelas tidak menyukai Darnu tentu merasa marah karena kesombongan itu.
"Sadar diri kau Darnu, jangan merasa kau sudah diatas angin karena memiliki kekuatan dari klan Wu zang."
"Jika bukan karena bantuan klan Wu zang, apa kau pikir mampu mendapatkan pencapaian setinggi itu."
"Ingat Darnu suatu saat nanti kau akan tahu rasanya di injak-injak."
Seakan tidak perduli dengan ocehan orang lain, Darnu kini menatap lurus di depan tugu artefak, satu tangan yang dia tempatkan kini mengalir energi tenaga dalam.
Tulisan 'Bumi' dengan tiga garis membuat para tetua terkagum-kagum, dia generasi muda dibawah usia dua puluh tahun dengan pencapaian tertinggi.
"Darnu, pemahaman bumi tahap akhir." Ucap paman Yuran membuat pengikut Darnu bertepuk tangan.
__ADS_1
Ditunjukkan senyum sombong kepada semua orang dan Darnu pun berkata.... "Lihat, akulah yang terbaik dari kalian semua." Berkata Darnu dan kembali ke barisan kelompoknya.
Paman Yuran membacakan nama selanjutnya... "Sania, kau selanjutnya."
Sania seakan tidak fokus dan masih harap-harap cemas karena Raynor belum menampakkan diri.
"Sania, apa yang kau lakukan, cepat maju."
Dia pun terkejut karena namanya terpanggil...."Ah iya, tentu paman."
Berjalan maju dengan kekhawatiran jika Raynor tidak datang, Sania seakan tidak mengharapkan apa pun soal penilaian ini. Dia yang menempatkan tangan di badan tugu artefak dan mendengar semua orang diam tanpa satu pun bicara.
"Ada apa ?." Sania bingung.
Sania sadar, dimana tidak ada satu orang pun komentar, bahkan paman Yuran yang biasanya menyebutkan hasil penilaian, kini diam di tempat selagi memperhatikan batu kristal diatas tugu artefak.
"Sania, Raja tempur tahap awal." Suara paman Yuran pun terdengar.
Segera saja Sania melihat ke atas, dan menang ada tulisan 'Raja' dengan satu garis tergambar dalam batu kristal.
Terbayang ekspresi Darnu yang kini seperti orang terdesak biji kedongdong, tak percaya jika setelah semua kesombongannya kepada generasi muda klan harimau merah, harus hancur di hadapan Sania.
Para tetua mulai memberi komentar tentang Sania.
"Dia adalah orang ketiga di kerajaan ini yang mampu mencapai tingkat Raja, dibawah usia dua puluh tahun." Bergumam Gundira dengan senyum cerah.
"Selamat, tuan Regar, putri Sania benar-benar membanggakan untuk klan harimau merah." Tetua lain yang ikut memberi pujian.
"Masa depan Klan harimau merah sangat cerah di tangan Sania." Ucap kakek Souza.
Sedangkan untuk Regar sendiri yang menerima pujian, hanya bisa melongo karena dia pun tidak tahu menahu soal peningkatan Sania yang sedemikian tinggi.
"Aku tidak menyangka jika putri Sania sudah menjadi Raja tempur."
"Kau terkejut Sura ?."
"Tentu saja. Ini sangat mengejutkan." Tidak bisa Raja Sura menyembunyikan kekagumannya kepada Sania.
"Begitu juga untukku." Balas Regar.
"Bagaimana mungkin kau tidak tahu perkembangan anakmu sendiri." Ada perasaan kesal bercampur iri saat Sura melihat Regar.
"Mau bagaimana lagi, aku selalu sibuk mengurus klan, sehingga aku kurang memperhatikan Sania."
"Ya aku seperti paham apa maksud mu." Balas raja Sura.
Tapi Regar seakan menyadari sesuatu tentang pencapaian Sania, dimana semua adalah berkat Raynor, karena untuk satu bulan ini, Raynor lah yang begitu memperhatikan Sania.
__ADS_1