The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Sang Qian VS Sania


__ADS_3

Di dunia ini ada banyak hal tanpa bisa tidak dipahami, bahkan untuk seorang penguasa tertinggi yang sudah berkelana menjelajahi seluruh alam semesta atas.


Boleh dikatakan dia mengetahui bermacam-macam Teknik meditasi, mempelajari berbagai kemampuan bertarung, ahli dalam artefak, pembuat ramuan tiada banding dan orang yang mendekati kekuatan Dewa.


Tapi untuk sekian banyak hal yang dia alami dalam hidupnya ratusan ribu tahun itu, Tidak ada satu pun pengetahuan tentang memahami isi pikiran wanita.


Termasuk tentang dua sosok yang duduk bersebelahan di samping tempat Raynor beristirahat. Erza dan Siva, mereka hanya diam, tidak berbicara, tidak pula berbuat apa pun, hanya senyum, namun Raynor seakan merasa canggung atas pertemuan mereka sekarang.


Suasana di dalam ruang perawatan terasa berat, mencekik leher Raynor hingga sulit untuknya bernafas.


Hingga Raynor pun membuka suara...."Apa kalian berdua haus, biar aku ambilkan minuman lebih dahulu."


"Tidak perlu repot-repot Ray, biar aku yang mengambilnya, kau beristirahat lah." Balas Erza segera berdiri menghentikan Raynor.


"Ah iya terimakasih, Erza."


"Hanya mengambil minuman saja bukan masalah, kau sendiri sudah banyak bertarung tadi."


"Ya itu karena kerajaan Soran memiliki orang-orang dengan kemampuan tidak biasa, jika mereka berhasil mengalahkan ku, maka dipastikan kerajaan ini akan kalah." Jawab Raynor.


Siva yang tahu tentang rencana Raynor bertanya...."Apa mereka sekuat itu ?, tapi aku cukup yakin jika kerajaan Losborn tidak akan kalah dengan mudah."


"Semoga saja." Raynor tentu tidak yakin dengan ucapan Siva.


Satu orang dengan kekuatan energi hitam sudah menjadi momok menakutkan untuk dilawan siapa pun. Bahkan jika bukan karena Raynor menggunakan kekuatannya sebagai penguasa tertinggi, dia dipastikan tewas.


"Lantas apa yang terjadi dengan para bandit saat membantu mereka." Kembali Siva bertanya.


Tentu Raynor menyadari kehadiran mereka yang lebih banyak bersembunyi dari pada ikut bertarung....."Sebagian besar bandit-bandit itu mundur, mereka tahu akan kalah dan meninggalkan kerajaan Losborn untuk menyelematkan diri."


"Ya begitulah para bandit, tidak mungkin mereka mau mengorbankan nyawa demi orang lain." Kini Erza sendiri yang menjawabnya.


"Nona Erza sepertinya kau sangat tahu mengenai para bandit itu."


Erza terdiam, sedikit tersenyum tapi jelas dia tidak ingin menjawab apa yang ditanyakan oleh Siva.


Raynor tahu ada ketidaknyamanan di wajah Erza... "Siva, Erza sebelumnya pernah menjadi anggota bandit Taring Hitam, tapi karena aku menggunakan 'jurus pencerahan hidup' dia akhirnya sadar dan pergi dari tempat para bandit."


"Benarkah begitu."


"Ya begitulah putri Siva, bukan aku tidak ingin menceritakannya, tapi aku hanya tidak mau mengingat kembali masa-masa sebagai seorang bandit." Tambah Erza yang mengakuinya sendiri.


"Itu adalah hal baik, tidak perlu disembunyikan." Balas Siva.

__ADS_1


Erza menunjukkan senyum getir, tentu dia paham kenapa Siva tidak tahu apa pun perihal kehidupannya..."Tapi tetap saja, jika orang lain tahu tentu mereka merasa curiga, seakan aku memiliki niat mengambil barang-barang mereka. Tentu berbeda dengan hidup anda putri."


Itulah sebabnya Erza enggan menceritakan tentang hidupnya yang pernah menjadi bandit, penilaian di mata masyarakat sangatlah kejam, hanya sedikit orang ingin menerima kehadiran seperti Erza.


"Jika kau mendapat masalah, katakan saja kepadaku Erza, biar aku hajar mereka semua yang mengolok-olok mu." Berkata Raynor dengan yakin.


"Tidak perlu kau melakukan itu, Ray, aku bisa mengatasinya sendiri." Erza tersenyum cerah mendengar pernyataan Raynor.


Tentu Siva menaruh rasa penasaran antara hubungan mereka berdua, Raynor dan Erza, keduanya sangat dekat, meski Raynor pernah menyelamatkan Erza, tapi menurut pandangan mata sesama wanita, cara melihat Erza jauh lebih dalam daripada seorang teman.


"Ngomong-ngomong, aku penasaran seperti apa hubungan kalian berdua." Barulah Siva mengatakan isi pikirannya secara langsung.


"Kenapa kau bertanya Siva."


"Ya, bagaimana aku mengatakannya yah... Kalian seperti memiliki hubungan yang lebih dekat daripada rasa hormat dan terimakasih."


"Itu hanya perasaanmu saja Siva, kau jangan menganggap aku seperti lelaki hidung belang yang menggoda semua wanita, padahal kau bisa lihat jika hidung ku tidak belang." Raynor mencari alasan seadanya.


"Tapi aku merasa ada hubungan khusus yang begitu dekat dari kalian berdua."


Semakin terpojok untuk Raynor menjawab...."Sudah aku katakan, itu hanya perasaanmu saja, ya perasaanmu saja, tidak kurang dan tidak lebih."


'Gila, insting wanita benar-benar mengerikan.'


*******


Perawatan Raynor tidak membutuhkan waktu lama untuknya kembali sehat, selain memiliki kemampuan dalam energi pengobatan, dia juga mempersiapkan ramuan yang jauh lebih efektif daripada milik klan harimau merah.


Tidak sampai tiga jam, kondisi Raynor sudah menjadi lebih baik dari terakhir pertarungan antara dirinya dan Sania.


Bersama dengan Siva, Raynor datang kembali ke tempat duduk bagi tamu kehormatan. Regar dan Yuran bingung ketika melihat kehadiran Raynor di sebelah mereka.


"Raynor, kenapa kau disini ?, Bukankah seharusnya kau ada di ruang perawatan." Bertanya Paman Yuran.


"Jangan khawatir paman Yuran, itu hanya masalah kecil, hanya sedikit meminum ramuan sudah cukup mengembalikan kesehatan ku." Balas Raynor.


Regar mengangguk setuju..."Tentu saja, ramuan dari klan kita adalah yang terbaik."


'Walau pun itu adalah ramuan yang aku buat sendiri.'


"Jadi bagaimana dengan pertarungan Darnu dan Sang Qian, siapa yang menang antara mereka." Tentu Raynor penasaran.


Meski pun tanpa dijelaskan lebih detail dia yakin bahwa Darnu mustahil menang melawan Sang Qian.

__ADS_1


Rumit wajah paman Yuran .... "Sayang sekali, padahal aku tahu Darnu benar-benar berusaha keras untuk mengalahkan sang Qian, tapi dia... Dia..."


"Jangan bilang Darnu tewas." Asal saja Raynor memberi tanggapan.


Sedangkan seseorang yang dudu di kursi depan Raynor berdiri dengan wajah penuh emosi.


"Hei aku ada disini, jangan sembarangan menganggap ku tewas begitu saja."


"Oh, ternyata kau masih hidup, cih tidak menarik." Balas Raynor.


Seakan paham isi pikiran Raynor, Darnu pun berkata...."Kau tidak peduli soal aku menang atau kalah, tapi kah hanya ingin melihatku tewas benarkan Raynor."


"Memang ada hal lain yang lebih menarik dari itu." Raynor tidak menyangkalnya.


"Kau benar-benar membuatku kesal, awas kau Raynor, selanjutnya aku pastikan kau menyesal."


"Aku tahu. Aku tahu. Kau sudah mengatakannya berulang kali, bahkan aku seakan hafal setiap kata yang kau ucapkan."


Darnu seketika diam, dia merasa kesal tapi dia juga tidak ingin banyak bicara tentang kekalahannya melawan Sang Qian. Bagaimana pun usia Darnu tertinggal tiga tahun dan juga soal pengalaman bertarung sang Qian tentu jauh diatasnya.


Dan kini orang yang akan bertarung di babak akhir sebagai penentu peringkat generasi muda terbaik adalah Sania Avya dan Sang Qian.


Raynor sudah mencari informasi mengenai sang Qian, dia mempelajari pengolahan energi atribut petir, kemampuan beladiri dari klan naga langit dan tingkat pertumbuhan tenaga dalam sebagai seorang raja tempur tahap tengah.


Tapi Raynor merasa yakin jika Sania mampu mengalahkan Sang Qian meski pun tidak mudah, karena energi petir menjadi lawan sulit dari energi dingin.


Hanya saja mau tidak mau Sania harus menang, demi mendapatkan hadiah sebagai peringat pertama, tiga tetes air dari bunga Rensa malam yang akan menyembuhkan saudaranya, Furan.


Sania berdiri tanpa rasa takut untuk menghadapi Sang Qian, wasit memberi aba-aba, anggukan kepada dari mereka berdua menjadi tanda.


"Baiklah, mulai."


Ditariknya pedang sang Qian, gerakan cepat melesat maju dengan langkah kilat mengayunkan senjata yang di selimuti energi petir menyambar ke arah Sania.


Tapi Sania pun bukan lawan lemah, energi dingin menyebar ke seluruh arena, menghalau laju gerakan dari Sang Qian dengan duri-duri es, namun tetap bisa di hindari.


Keduanya bertemu, saling berhadapan, saling beradu senjata, benturan antara dua kekuatan energi petir dan energi dingin menghasilkan gelombang ledakan yang mendorong masing-masing untuk mundur.


Sang Qian tidak berhenti sampai disitu, dari tangannya mengeluarkan sejumlah energi tenaga dalam dengan konsentrasi tinggi, sekumpulan petir menggeliat dan menghancurkan lantai arena di sekitarnya.


Sania sadar, jika serangan yang Sang Qian siapkan cukup berbahaya, sehingga Sania tidak tinggal diam, aura dingin pun menyelimuti tubuhnya untuk bersiap melawan.


Langkah cepat membawa sang Qian maju, dia melompat naik ke atas dan bersiap melepas serangan energi petir ke arah Sania.

__ADS_1


Gemuruh petir datang menyambar, Sania segera melepas energi dingin yang membentuk bunga es untuk menghalau sang Qian.


__ADS_2