
Raynor dan Sania memasuki satu toko yang menjadi kepemilikan dari klan naga langit, meskipun mereka adalah pembuat dan pemasok senjata ke setiap pertokoan untuk dijual lagi, tentu antara klan naga langit dan garuda api juga menjualnya sendiri.
Tapi tetap saja ada perbedaan kualitas dari senjata yang mereka jual di toko klan naga langit dengan senjata di toko-toko kecil, karena itulah harga yang diberikan di tempat milik pribadi sangatlah mahal.
"Aku tidak yakin bisa membeli senjata di tempat seperti ini." Raynor jelas ragu-ragu karena bangunan toko sangat mewah.
"Jangan khawatirkan itu Ray, klan naga langit dan klan harimau merah memiliki hubungan baik, jadi tidak mungkin menertawakan kita meski tidak membeli apa pun."
"Baiklah jika kau berkata seperti itu."
Bisa dipastikan jika hanya orang-orang kaya, anggota kelompok pemburu terkenal, keluarga utama klan, dan para pejabat penting kerajaan saja yang mampu membeli senjata di toko itu.
Sania membawa Raynor masuk, tempat yang cukup luas dan setiap senjata tertata rapi di dalam lemari kaca, ada pula beberapa pelayan wanita mengarahkan setiap pelanggan untuk memberi penjelasan dengan tersenyum merayu.
Ketika satu orang lelaki muda melihat Sania dan Raynor ada di dalam toko, ekspresi Sania berubah aneh ketika tahu jika lelaki itu berjalan mendekat dan menunjukkan sikap sopan ketika menyambut mereka.
"Putri Sania, selamat datang, ada yang bisa aku bantu ?." Ucap lelaki itu dengan membungkuk.
"Aku ingin melihat senjata untuk temanku ini." Jawab Sania selagi menggenggam tangan Raynor semakin erat.
"Tentu saja biar aku antarkan."
Raynor menganggap bahwa perubahan sikap Sania karena dia malu ketika bertemu dengan lelaki asing. Apa lagi jika mereka bersikap sok akrab untuk mencari perhatiannya.
"Kau sangat terkenal Sania, bahkan seorang pelayan toko tahu namamu." Ucap Raynor.
"Dia bukan pelayan toko, dia adalah orang dari klan naga langit, namanya Edwarudin."
"Eh begitukah ?, Aku pikir dia pelayan."
Siapa sangka lelaki itu mendengar apa yang Raynor katakan kepada Sania dan merasa tersinggung, bahkan bisa dirasakan ada sedikit aura kesal muncul darinya.
Sebagai seorang penguasa tertinggi yang sudah bertemu banyak orang selama hidup, mengetahui sifat dan karakter mereka adalah hal mudah, oleh sebab itu Raynor tahu jika dia menyembunyikan kemarahannya karena memandang Sania sebagai putri kesayangan pemimpin klan harimau merah.
"Itu benar tuan, aku adalah putra kedua dari adik lelaki pemimpin klan Naga langit yang di percaya untuk menjaga bisnis keluarga." Berkata lelaki itu dengan senyum terpaksa kepada Raynor.
"Maafkan aku, aku tidak tahu, tolong jangan dimasukkan ke dalam hati."
"Tentu saja tuan, karena bagaimanapun anda adalah pelanggan kami, dan juga tidak mungkin aku marah di depan putri Sania."
__ADS_1
Selagi Edwarudin menjelaskan setiap senjata terbaik yang ada di dalam tokonya.
Gerak gerik Sania terlihat tidak nyaman, dia berdiri semakin dekat bahkan menempelkan diri di samping lengan Raynor seperti sedang mencari perlindungan.
Raynor tidak mungkin menolak, bahkan dia sangat senang karena bisa merasakan sesuatu yang lembut dari sentuhan tubuh Sania.
"Kenapa kau Sania apa ada yang salah."
"Tidak bukan apa-apa, Ray, kau dengarkan saja apa yang di jelaskan oleh Edwarudin."
"Jika kau merasa tidak nyaman sebaiknya kita keluar saja." Jawabku karena tahu bahwa ada sesuatu antara Sania dan si Udin.
"Itu tidak perlu, aku yang membawamu kemari tapi karena aku juga kau tidak mendapatkan apa pun."
"Kau tidak perlu memikirkannya, hanya sebuah senjata bukan hal penting untukku."
Sania mengangguk perlahan, dan tanpa perduli dengan Udin yang masih sibuk menjelaskan satu persatu senjata di dalam lemari kaca, Raynor membawa Sania keluar tanpa diketahui oleh Udin.
Meski Raynor sudah berada di luar, Sania tetap tidak melepaskan tangannya.
"Apa yang sebenarnya antara kau dan Edwarudin itu."
"Ah jadi begitu."
"Aku benar-benar minta maaf Ray, aku tidak tahu jika sekarang Edwarudin lah yang menjalankan Toko naga langit."
"Tidak perlu meminta maaf, itu bukan salahmu, kita hanya perlu mencari toko yang lain."
"Tentu saja." Sania kembali menarik tangan Raynor untuk pergi ke toko selanjutnya.
Cukup lama mereka berkeliling toko di tempat perdagangan, tapi tidak satu pun senjata bisa membuat Raynor tertarik, meski dikatakan bahwa kualitas senjata di toko mereka adalah yang terbaik, itu masih belum sesuai keinginan Raynor.
Bahkan untuk sekarang mereka memasuki toko milik klan Garuda api, Raynor diperlihatkan senjata dengan goresan segel aksara api, dimana siapa orang yang menggunakannya tanpa perlu mempelajari kemampuan tenaga dalam mampu melepas serangan api dari senjata itu sendiri.
Raynor hanya menggeleng dan berkata ..."Ini masih belum cukup."
Pada akhirnya mereka berdua pun keluar dari toko Garuda api.
Sania penasaran dengan keinginan Raynor yang menolak semua saran dari pelayan toko, Sania tahu jika setiap senjata itu memiliki kualitas terbaik begitu juga dengan harga yang mahal.
__ADS_1
Sania pun bertanya... "Ray, apa ini karena harganya ?, Jika memang begitu aku bisa membantumu membelinya."
"Bukan itu... sebenarnya memang benar harganya mahal, tapi senjata yang mereka jual tidak memenuhi syarat untuk aku gunakan."
"Memang senjata seperti apa yang kau inginkan, jika di tempat ini tidak ada, aku bisa minta kepada Ayah untuk mencarikannya."
"Tidak perlu, aku pun tidak terlalu membutuhkannya untuk sekarang."
"Baiklah."
"Sebaiknya kita mencari ke toko yang lain, maaf Sania aku membuatmu repot karena mengikuti keinginan ku."
"Jangan berpikir ini merepotkan Ray, aku merasa senang bisa pergi berdua denganmu."
"Benarkah itu."
"Tentu saja."
Tapi selagi mereka berdua membicarakan banyak hal dengan suasana hati yang terlihat senang, Raynor bisa merasakan kehadiran aura penuh rasa benci dan niat membunuh di dekatnya.
Seorang lelaki yang berjalan dengan langkah sedikit pincang dan satu tangan terselip di balik bajunya untuk menyembunyikan sesuatu.
Raynor tahu bahwa lelaki yang sedang dia perhatian memiliki niat buruk dan juga pandangannya tertuju kepada seorang gadis di tengah kerumunan banyak orang.
"Ada apa Ray ?." Sania seakan tahu jika perhatian Raynor tertuju ketempat lain.
"Apa kau lihat lelaki itu Sania ?." Tunjuk Raynor ke arah lelaki pincang yang berjalan menuju kerumunan.
"Kenapa dengan lelaki itu."
"Aku bisa merasakan niat buruk datang darinya, kau tunggulah di sini Nia, aku akan pergi melihatnya."
"Berhati-hatilah Ray."
"Tentu saja, jangan khawatir."
Memang benar dari balik baju lelaki pincang itu menyimpan sebilah pisau dan mungkin bertujuan untuk melukai seseorang, dan bisa dipastikan targetnya adalah wanita di tengah kerumunan orang-orang.
'Jika ini berhubungan dengan wanita, aku tidak mungkin membiarkannya begitu saja.'
__ADS_1
--