The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
putri kerajaan


__ADS_3

Erdian melihat tubuhnya, dia jelas ingat tentang semua luka ketika di dapatnya dari raja ikan julung-julung, tapi sekarang hanya tampak bekas gigitan yang sudah mengering.


Erdian coba menutup setiap bagian tubuh agar tidak dilihat oleh Raynor, tapi sayangnya, semua cukup mustahil karena gaun indah yang biasa putri kerajaan pakai kini sudah sobek kiri kanan, bahkan tidak pantas lagi disebut sebagai pakaian.


Tapi seakan tidak peduli, mata Raynor masih terfokus menyaksikan Erdian yang malu-malu dengan tangan tidak cukup menutupi setiap aset pribadinya.


"Kenapa kau melihatku terus ?." Kesal Erdian menanggapi cara Raynor melihatnya.


"Sebagai seorang lelaki yang sehat jasmani dan rohani, tentu tidak mungkin aku melewatkan sesuatu yang indah dari seorang wanita."


"Kau hanya lelaki sang*ean yang sangat jujur, entah aku harus kagum atau jijik denganmu." Balas Erdian menunjukkan tatapan jijik.


"Anggap saja aku tidak ada, jadi jangan perlu khawatir."


Rumit wajah Erdian karena merasa risih untuk cara Raynor menatapnya..."Aku benar-benar khawatir sekarang. Apa kau tidak memiliki sesuatu untuk mengganti pakaian ku."


Raynor menggelengkan kepala "Hmmm. tidak."


Singkat saja jawabnya. Tapi jelas Raynor berbohong, dia selalu menyimpan pakaian ganti di dalam dunia ilusi, dimana karena kejadian awal perjalanan menyusuri hutan Jatilowa membuat pakaiannya rusak.


Itu menjadi pelajaran bagi Raynor untuk mempersiapkan segala keperluan sebelum pergi berpetualang.


"Kalau begitu lepas pakaianmu."


Raynor terkejut dan mundur selangkah kebelakang... "Nona aku tidak tahu jika kau sebegitu ingin melihatku telan*jang."


Kesal Erdian melihat Raynor...."Jangan sembarangan bicara, isi pikiranmu yang tidak waras membiarkan seorang wanita menggunakan pakaian sobek seperti ini. Apa kau tidak tahu aku ini putri kerajaan Balasumpang, Erdian Xersas. Harusnya rakyat jelata seperti mu tahu dengan siapa sedang berbicara."


Erdian dengan menyombongkan dirinya sendiri.


"Tapi yang aku tahu, tidak ada putri raja yang mengemis meminta pakaian dari rakyat jelata seperti ku." Balas Raynor mengejek.


"Terserah kau mau bilang apa, cepat berikan pakaian mu."


"Baiklah." Tanpa ragu Raynor melepas baju dan juga celananya.


Sontak Erdian terkejut dan membalik tubuh ketika menyaksikan tubuh Raynor tanpa selembar kain pun kecuali yang menutupi aset pribadinya.


"Apa kau tidak punya malu, memperlihatkan tubuh kotormu di hadapanku."


"Menurut ku yang tidak punya malu itu, orang yang meminta pakaian kepada rakyat jelata dengan bersikap sombong." Jawab Raynor.


Mendengar sindiran itu, Erdian merasa dipermalukan, tapi dia lebih memilih untuk tetap menerima pakaian dari Raynor. Setelah semua terpasang rapi menutupi tubuhnya, Erdian masih menunjukan ekspresi wajah tidak nyaman.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa dingin di bagian bawah."


"Ah mungkin karena celana ku robek oleh raja ikan julung-julung ketika menyelamatkan mu."


Dan benar saja, meski bagian atas tertutup rapat, tapi bagian bawah melongo cukup besar hingga jelas terlihat pan*tat mulus milik Erdian.


"Tidak, aku tidak mau memakainya."


Kesal Raynor dengan sikap putri kerajaan satu ini..."Kau wanita terlalu banyak meminta, terkadang berpikirlah untuk menerima apa yang kau miliki sekarang."


Raynor dan Erdian sekarang berada di sisi lain danau Cicaban, jarak yang cukup jauh dari tempat Sekte teratai api mengharuskan mereka pergi melewati hutan Jatilowa atau berenang di danau Cicaban untuk kembali.


"Aku tidak ingin masuk ke danau ini lagi." Ucap Erdian seakan trauma karena kejadian raja ikan julung-julung hampir membunuhnya.


"Apa kau takut ?." Bertanya Raynor.


"Takut, tentu saja tidak, sebagai seorang putri kerajaan Balasumpang, aku tidak takut sama sekali."


"Jadi apa kau akan pergi mencari jalan di hutan Jatilowa."


"Tidak, aku akan menunggu disini, aku yakin kakak Erdan datang menyelamatkan ku."


'Apa semua putri raja itu keras kepala seperti ini.' pikir Raynor dengan hembusan nafas berat dan panjang.


"Baiklah, aku akan pergi terlebih dahulu."


"Jangan !!!." Cepat tangan Erdian menangkap Raynor.


"Kenapa ?, Bukankah kau ingin menunggu disini, tapi kenapa kau menahan ku untuk tidak pergi."


"Kau gagal sebagai lelaki, tega-teganya meninggalkan wanita sendirian, itu sebabnya kau tidak punya wanita." Ucapnya menyalahkan Raynor.


"Sembarangan kau bicara, memangnya kau tahu apa soal wanitaku."


"Tidak usah banyak bicara, lelaki seperti mu itu jelas tidak disukai oleh semua wanita."


"Jika semua wanita seperti mu, aku tidak di sukai oleh mereka pun bukan masalah."


Merasa kasihan dan sedikit kesal, Raynor ikut menunggu Erdian yang duduk di pinggiran danau dengan wajah terlihat bingung.


"Kenapa kau menyelamatkan ku." Ucap Erdian bertanya.


"Karena kau wanita." Singkat jawaban Raynor.

__ADS_1


"Hanya itu, apa tidak ada alasan lain. Seperti karena melihat seorang gadis cantik dalam masalah dan muncul rasa ingin melindunginya."


Raynor melihatnya aneh...."Ya tidak sampai sebegitu nya, aku menyelamatkan mu karena kau wanita, soal cantik atau tidak itu relatif, tapi setelah tahu kau tidak tahu balas budi, aku sedikit menyesal."


"Dasar lelaki perhitungan."


"Jika aku tidak perhitungan, aku akan rugi, memang kau pikir aku pahlawan yang menyelamatkan semua orang tanpa pamrih, ingat beras beli pakai uang, bukan terimakasih."


Cukup lama menunggu, hingga seseorang muncul menggunakan sebuah perahu dayung, namun bergerak sendiri tanpa perlu di kayuh. Dia lelaki paruh baya cukup tua, namun memiliki tubuh besar kekar dengan janggut putih panjang.


Gundira yang sedang memantau situasi sekitar danau tanpa sengaja melihat Raynor dan mendekat...."Raynor, kenapa kau disini, bukankah aku sudah meminta kepada Regar, jika kau berniat masuk ke sekte teratai api, secara khusus mendapat lencana undangan dariku."


"Guru besar Gundira, soal itu...." Raynor tertawa sedikit sebelum menjawab... "Aku lupa karena meninggalkannya di rumah."


"Hmmm aku mengerti, tapi kau bisa bertanya kepada murid penjaga untuk bertemu denganku. Mereka pasti mengantarkan mu kedalam."


"Terkadang semua tidak seperti yang anda bayangkan tuan Gundira, aku sudah melakukannya tapi mereka menganggap jika itu hanya alasan saja, dan meminta ku untuk tetap mengikuti ujian." Jawab Raynor dengan menggaruk kepalanya.


"Oh begitu.... Biar nanti aku akan beri mereka hukuman." Berkata Gundira yang selagi merapikan janggut.


"Itu tidak perlu tuan Gundira."


Gundira tertawa-tawa..."Kau memiliki hati yang besar untuk memaafkan kesalahan mereka."


Lebih tepatnya, andaikata dua murid penjaga itu memperbolehkan Raynor untuk masuk, tentu dia tidak memiliki kesempatan menyerap energi di dalam danau Cicaban. Jadi Raynor tidak mau memperbesar masalah jika dia tidak dirugikan.


"Jadi... Siapa gadis ini." Tunjuk guru besar Gundira kepada Erdian.


"Dia putri kerajaan Balasumpang, Erdian."


"Oh begitu... Kau adik dari Erdan." Balas Gundira.


Tidak ada tanggapan lebih dari Gundira, dia benar-benar tidak tertarik untuk membahas siapa pun meski dia adalah putri kerajaan.


Terkejut karena seorang guru besar mengenal saudaranya... "Tuan Gundira kenal Kakak Erdan."


"Ya bukan kenal... Kakakmu terus merengek dan memohon kepada para guru pengawas untuk mencari adiknya yang masih belum di temukan."


Sudah terbayang dibenak Erdian, tentang bagaimana sikap sang kakak yang membuatnya malu...."Maaf lupakan saja Guru, dia bukan kakakku."


"Jadi apa yang akan kalian berdua lakukan, tetap disini atau kembali ke Sekte bersamaku."


Erdian mengarahkan pandangan kepada Raynor, dan Raynor pun menyadari jika putri kerajaan Balasumpang ini, ingin dia ikut untuk kembali ke Sekte teratai api menggunakan perahu dari Gundira.

__ADS_1


"Baiklah... Kami akan ikut tuan Gundira." Jawab Raynor mengikuti keinginan Erdian.


__ADS_2