The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Guru pengajar


__ADS_3

Di dalam ruang pembelajaran ilmu tempa senjata....


Ada banyak murid yang terbagi menjadi dua ruangan, ruang pertama adalah tempat bagi mereka-mereka di pelatihan dasar dan ruang kedua adalah tempat bagi mereka di pelatihan lanjut.


Seorang ahli tempa memiliki lencana mereka sendiri, sama seperti ahli pengobatan, alkemis atau pun Shaman, lencana itu akan menunjukan seberapa tinggi pemahaman para ahli yang terbagi menjadi lima tingkatan.


Melampaui itu semua barulah mereka menjadi seorang master ahli dari masing-masing bidang yang di geluti. Bisa dikatakan Tuan Lamo berada di atas tingkat master, dia sudah mengabdikan diri selama puluhan tahun di dunia tempa senjata, meski pun tidak memiliki lencana karena semua ilmu yang dia pelajari bukan berasal dari sekte atau akademi.


Raynor cukup terlambat untuk memasuki ruang pembelajaran, dimana saat itu, guru tempat senjata, atau biasa dipanggil Empu sudah mulai menjelaskan jenis-jenis material yang digunakan oleh para Empu.


Dia menatap Raynor dengan sorot mata yang tajam sebelum berkata... "Kenapa kau terlambat ?."


"Maaf guru, sebelumnya guru besar Gundira memanggilku untuk membahas beberapa hal." Jawab Raynor beralasan.


"Untuk apa tuan Gundira memanggilmu ?."


"Soal itu, aku tidak bisa mengatakannya, tapi jika guru tidak percaya, anda bisaa tanyakan langsung kepada guru besar Gundira." Balas Raynor karena memang percakapan mereka sangat rahasia.


"Baiklah, kau bisa masuk, terserah duduk dimana. Dilantai juga boleh." Ucapnya seakan tidak senang.


Dari bangku barisan tengah itu, Siva, Erza dan Furan memanggil untuk Raynor duduk di tempat mereka, tapi melihat jika semua penuh sesak tidak ada ruang bagi Raynor.


Hingga dia melihat satu tempat dimana itu hanya ada satu wanita yang duduk sendirian, tanpa ragu sedikitpun Raynor mengambil langkah maju dan duduk di sampingnya.


Tapi ada hal aneh yang di rasakan oleh Raynor, dimana sebelumnya suasana cukup ramai dengan para murid sibuk bicara sendiri. Kini tiba-tiba saja terdiam, tepat ketika Raynor menempatkan pan*tatnya di atas bangku.


"Kenapa kau duduk disini ?." Ucap wanita itu dengan tatapan mata tidak biasa.


"Kenapa ?, Kalau kau bicara seperti itu tentu saja karena di sini kosong, jika ada orangnya mana mungkin aku duduk disini." Balas Raynor.


"Oh. Kau sudah punya nyali rupanya untuk menjawab perkataan ku."


"Lah ?, Kau bertanya tentu aku menjawab."


"Apa kau tidak tahu siapa aku ?." Ucapnya tersenyum pahit.


Seakan Raynor sadar untuk beberapa hal, sebuah pertanyaan yang sama dan sudah sering dia dengarkan hingga bosan. Dari para wanita dengan anggapan bahwa dia bukan sosok sembarangan.


"Jika kau seorang putri kerajaan yang terkenal dan bersikap sombong, aku sudah sering berkenalan dengan wanita seperti mu." Ucap Raynor.


"Kau tidak salah, karena memang aku putri kerajaan Reskna, tapi bersikap sombong, jelas kau seenaknya sendiri menyimpulkan." Jawabnya.

__ADS_1


"Kalau kau tidak sombong, lalu kenapa kau tidak senang jika rakyat jelata seperti ku duduk disini."


"Itu karena kau tidak pantas."


Hembusan nafas berat keluar di mulut Raynor... "Itu... itu... dari apa yang kau katakan, kalau bukan sombong, apa lagi ?."


"Aku hanya menyadarkan posisimu sebagai rakyat jelata."


"Terserah kau saja."


Selagi Raynor saling beradu argumen dengan putri kerajaan Reskna itu, sebuah kapur terbang cepat mengarah ke kepalanya. Tapi jelas itu meremehkan Raynor, kemampuan ruang tanpa batas dengan mudah membuat Raynor menangkap kapur yang datang.


"Jangan sembarangan melempar sesuatu ke arah ku, itu berbahaya." Teriak Raynor keras.


"Apa kau tidak terima ?." Yang menjawab adalah guru pengajar.


"Maaf..."


"Kau sudah terlambat, berbicara pula saat aku menjelaskan. Jika kau tidak berniat ikut dalam pelajaran ini, cepat kau keluar."


Raynor hanya tersenyum sendiri, terpaksa pula...."Tidak, maaf, guru silakan lanjutkan."


Melihat putri kerajaan Reskna yang tersenyum mengejek jelas Raynor sedikit kesal, dia yang mengawali argumen tidak penting perihal tempat duduk, tapi Raynor lah yang kena marah oleh guru.


"Sekali lagi... Terserah kau saja." Raynor benar-benar malas menanggapi perkataan wanita itu.


Guru pengajar selesai menjelaskan setiap dasar untuk bahan material pembuatan senjata.


"Baik, sekarang bisa keluarkan senjata kalian masing-masing, dan jelaskan bahan apa yang senjata kalian pakai."


Setiap murid pun mengeluarkan senjata mereka, sebagian besar adalah pengguna pedang dan hanya ada beberapa murid menggunakan senjata lain.


Termasuk putri kerajaan Reskna yang tersenyum sombong selagi memunculkan pedang berwarna perak dengan tiga ukiran rangkaian formasi prasasti.


Raynor merasa diantara semua orang di dalam pembelajaran ilmu tempa senjata ini, kecuali dirinya, senjata yang putri kerajaan Reskna miliki dianggap sebagai senjata mahal, langka dan jarang digunakan.


"Ini adalah pedang yang terbuat dari bahan platinum, di tambah dengan ukiran tiga rangkaian formasi penguatan, anti karat dan kepemilikan kontrak."


"Woooaaahhhhh..." Semua orang terkagum-kagum.


Bahkan Guru pengajar pun menganggukan kepalanya karena tahu seberapa besar nilai dari senjata platinum yang ditambah dengan rangkaian formasi.

__ADS_1


Jika di sandingkan dengan pedang milik Siva dia ada satu tingkat di atasnya, karena Siva sama-sama menggunakan senjata platinum namun hanya ditambah dua rangkaian formasi saja.


Cara Putri kerajaan Reskna menatap Raynor, jelas seperti sedang berkata...'Lihat, kau tidaklah setara denganku, jadi pergi saja kau dari sini.'


Kurang lebih seperti itulah.


Guru pengajar pun berjalan ke depan Raynor dengan sikap kurang bersahabat, mungkin karena Raynor sudah membuatnya marah.


"Keluarkan senjatamu." Perintah guru pengajar.


Tanpa ragu-ragu Raynor memunculkan senjata Asarc rex spatium dari dunia ilusi dalam tubuhnya, tapi barulah Senjaya itu muncul meja batu yang menjadi tempat untuk menaruh pedang ambruk seketika.


"Pedang ini bernama Asarc rex spatium, terbuat dari logam pamor dan di berkali rangkaian formasi prasasti penyerapan energi." Raynor tidak menyebutkan lebih banyak soal rangkaian formasi lain.


Tapi melihat seberapa besar dan beratnya pedang milik Raynor itu, guru pengawas atau pun putri kerajaan Reskna tidak menyembunyikan rasa terkejut luar biasa yang ada di wajahnya.


"Jangan bercanda, bagaimana mungkin kau menggunakan pedang seberat ini." Pengajar pun tidak percaya begitu saja.


"Tapi aku benar-benar bisa menggunakannya."


"Kalau begitu tunjukan."


"Baiklah."


Raynor menarik gagang pedang dengan satu tangan, dia mengangkatnya tinggi kemudian di ayunkan kuat ke depan.


Hembusan angin yang terbentuk dari ayunan pedang Raynor membuat siapa pun di sekitarnya jatuh. Dan untuk Raynor sendiri, dia merasa jauh lebih leluasa menggunakan pedang Asarc rex spatium setelah naik tingkat menjadi raja tempur.


"Kau berkata, jika pedang mu ini menggunakan logam pamor, tapi aku baru pertama kali mendengarnya jika logam pamor bisa digunakan untuk membuat senjata." Perjelas guru itu dengan bingung.


'Mau bagaimana lagi, logam pamor jarang di lirik sebagai bahan pembuatan senjata karena dianggap tidak menguntungkan.'


Guru pengawas coba mengusap bagian pedang milik Raynor, dia yang berpengalaman di dunia tempa senjata pun harusnya sadar jika kualitas pedang itu sangatlah tinggi, melampaui pedang platinum sekali pun.


"Darimana kau mendapatkan pedang ini dan siapa yang membuatnya." Ucapnya penasaran.


"Sebelum aku berada di sekte teratai api, aku belajar menempa senjata dengan Master empu Lamo dan pedang ini adalah senjata yang aku buat."


"Lamo, aku tidak pernah mengenalnya, jika benar pedang ini adalah buatan mu, haruslah empu Lamo yang mengajarkanmu adalah seorang Guru, tidak bahkan guru besar di bidang tempa senjata."


"Jika guru tidak percaya, wanita disana adalah orang yang ikut membantuku membuat pedang Asarc Rex spatium ini." Tunjuk Raynor ke arah Erza.

__ADS_1


Erza pun bingung, dia hanya tersenyum sendiri kemudian menyembunyikan wajah dari pandangan semua orang.


Guru pengawas ingin menolak percaya, jika ada seorang murid yang sudah mampu menempa senjata dengan sangat baik, tapi kenyataannya senjata itu berada tepat di depan mat dan juga ada rasa tertarik untuk mengetahui lebih banyak lagi.


__ADS_2