
Raynor mengangkat tubuh Zezan dengan satu tangan, dia adalah inti dari semua masalah yang di hadapi oleh Raynor sekarang, tentu ada alasan untuknya marah.
"Apa kau tahu, karena permohonan misi palsu yang kau buat kepada sekte, aku rugi banyak hal. Waktu, tenaga, dan juga uang, harusnya kau mengerti kenapa aku marah." Ucap Raynor berteriak keras di wajah Zezan.
Karena permohonan palsu itu, imbalan yang dia dapat setelah menyelesaikan misi dari pedagang untuk menemukan putranya, kini tidak mungkin diberikan.
"Jika kau inginkan uang, aku akan memberikan sebanyak yang kau mau, tapi lepaskan aku." Zezan coba memberi penawaran.
Tapi tersenyum Raynor mengejek...."Untuk sekarang, aku sudah tidak peduli lagi soal itu. Rasa ingin melihatmu tewas jauh lebih besar dari pada uangmu."
"Jadi apa maumu, akan aku lakukan apa pun, Raynor. Tapi aku mohon jangan bunuh aku." Zezan semakin takut.
"Kau pikir aku tertarik dengan apa yang kau miliki ?."
"Ayahku bisa mengabulkan keinginan mu."
Raynor tertawa keras ketika melihat wajah Zezan pucat.... "Apa itu termasuk jika aku meminta nyawamu."
Zezan sontak terdiam melihat sorot mata tajam dan senyum penuh makna dari wajah Raynor.
"Jika kau membunuhku, tentu kau tahu akibatnya Raynor, ayahku adalah penguasa kerajaan Soran, kau tidak akan bisa hidup dengan tenang." Kini Zezan memberi ancaman.
"Sudahlah, berhenti mengoceh tidak jelas seperti itu, dan lihat wajahku. Apa kau pikir aku peduli ?. Biar pun ayahmu mengirim seribu orang untuk membalasakan dendam, aku tidak sedikit pun takut." Balas Raynor dengan malas.
Tidak ada lagi yang bisa Zezan katakan, semua hanya menjadi angin lalu di telinga Raynor, sebilah pedang di tariknya kembali dan bersiap melepas nyawa Zezan tanpa bisa ditawar.
"Lepaskan Zezan atau wanitamu ini akan aku bunuh." Suara itu datang dan menarik perhatian Raynor.
Ketika dia menoleh ke belakang, Regun adalah orang yang menahan Raynor ketika hendak membunuh Zezan.
Nyatanya Regun yang sejak awal tidak terlihat di sekitar tempat persembunyian para bandit Taring Hitam. Memang memiliki kemampuan unik, dimana dia bisa melenyapkan seluruh auranya dan mampu bersembunyi tanpa diketahui oleh siapa pun.
Tapi kini Regun datang dengan Erza, hanya saja tujuan lelaki itu bukanlah hal baik, dimana pedang sudah menempel di kulit leher Erza dan siap untuk menusuknya.
"Kau memiliki seorang teman yang baik ternyata Zezan." Ucap Raynor.
"Raynor, aku tahu kau sangat peduli dengan wanita-wanita mu, tentu kau tidak ingin melihatnya terbunuh kan ?." Balas Regun seakan dia siap membunuh Erza.
"Apa kau sedang mengancam ku ?, Itu artinya kau sudah siap dengan konsekuensinya." Jawab Raynor.
"Ya aku siap, bahkan jika perlu, aku berikan nyawaku agar kau mau melepaskan Zezan."
__ADS_1
Raynor melihat sorot mata Regun yang tajam, tidak ada keraguan dari perkataannya dan jelas membuat Raynor berubah pikiran.
"Aku tidak pernah senang membunuh seseorang ketika ada orang lain yang memohon untuk keselamatannya. Baik, kau bisa bawa pergi lelaki tidak berguna ini, tapi ingat jangan pernah kembali ke Sekte teratai api." Raynor melempar Zezan ke tanah.
Regun pun menepati janji itu dan menarik pedang di leher Erza yang kemudian membiarkannya untuk pergi.
Harusnya Raynor mudah membunuh Regun tanpa perlu takut, jika Erza akan celaka. Ruang tanpa batas bisa memperlambat gerakan Regun sebelum dia menghunus pedang dan Raynor bisa saja melepas satu serangan telak.
Tapi Raynor menyukai sorot mata Regun yang penuh keyakinan. Dia siap mengorbankan nyawa demi keselamatan orang lain, itu adalah tindakan pemberani dan jarang Raynor lihat.
Regun berlari ke tempat Zezan, dia pun segera membantunya untuk menghentikan pendarahan di kaki yang sudah terpotong oleh pedang Raynor.
"Tuan Zezan, apa kau baik-baik saja." Ucap Regun khawatir.
"Apa kau buta, ini tidak bisa dibilang baik-baik saja, harusnya kau bunuh saja wanita itu, agar dia menyesal."
"Apa yang kau katakan ?." Raynor bertanya dengan tatapan mata marah.
"Kau akan membayar perbuatan mu Raynor." Berteriak keras Zezan.
Raynor marah...."Harusnya kau berterima kasih, jika bukan karena Regun yang memohon demi keselamatan mu, kau sudah pasti tewas di tanganku."
"Berterimakasih ?, Ini sudah menjadi tugas Regun untuk memberikan nyawanya demi keselamatan ku."
Tapi sebelum Raynor melakukannya. Segera saja Regun bersujud...."Tuan Raynor, aku mohon tolong jangan lanjutkan ini."
"Aku akan menganggap bahwa ucapanmu itu tidak terdengar, tapi aku berubah pikiran.... Regun kau tetap pergi ke sekte teratai api dan menjadi bawahan ku."
"Akan aku lakukan apa pun."
Pedang di tangan Raynor pun lenyap, dia segera mendekati Erza yang melihat dengan terdiam.
"Erza ayo pergi, biarkan saja, kita tidak punya urusan lagi dengan mereka." Ucap Raynor.
Erza menuruti perkataan Raynor, segera mendekat dan berjalan mengikuti Raynor dari belakang. Setelah cukup jauh hingga tidak lagi terlihat Regun dan Zezan, Erza pun memberi pelukan hangat karena sudah melewati banyak hal berbahaya.
"Apa kau yakin untuk membiarkan mereka berdua tetap hidup Ray ?."
Raynor tersenyum sendiri..."Sebenarnya aku ingin membunuh Zezan, tapi melihat keteguhan hati Regun itu, aku sedikit berubah pikiran, aku memiliki niat lain untuknya."
"Begitu kah ?." Erza tidak paham dengan tujuan Raynor.
__ADS_1
"Apa kau tidak senang jika aku melepas orang yang berniat membunuh mu." Balik Raynor bertanya.
"Tidak juga, tapi ya.... aku sedikit kecewa karena kau membiarkan mereka tetap hidup setelah semua kejadian yang membahayakan nyawamu." Erza tentu paham karena Raynor melepaskan Zezan.
"Kau tidak perlu mencemaskan aku, selama kau selamat, aku merasa lega."
Senyum Erza tampak cerah mendengar ungkapan Raynor yang terasa begitu romantis untuk dirinya seorang.
"Hei... Apa kita akan kembali ke sekte sekarang." Kini Erza bertanya.
Tapi Raynor merasa aneh...."Memang kau mau pergi kemana lagi ?. Bukankah ini sudah selesai dan juga
"Ya kau tahu, sudah cukup lama kita tidak bisa berduaan seperti sekarang, setiap saat ada Siva yang mengikuti, dan juga di sekte memiliki peraturan sehingga kita tidak bisa menikmati waktu bersama." Erza mengatakannya dengan malu-malu.
"Hmmm, kalau begitu apa yang kau inginkan Erza." Sedikit Raynor menggoda.
"Bagaimana jika kita mencari penginapan di kota Tegalasa, bukankah hari ini sangat melelahkan."
Seakan Raynor paham dengan keinginan Erza yang mulai menggodanya untuk setiap sentuhan secara sengaja. Ditarik tubuh Erza dimana tangan Raynor sudah melingkar dalam pelukan.
"Untuk apa repot-repot mencari penginapan, sedangkan kota Tegalasa masih jauh, kita bisa melakukannya disini." Jawab Raynor dengan sentuhan langsung ke dalam baju yang Erza gunakan.
"Apa kau mau di sini ?, Kita ada di dalam hutan sekarang, bagaimana jika ada binatang iblis datang." Beralasan Erza.
"Jika itu terjadi, akan aku bunuh mereka semua." Santai Raynor menjawab.
"Tapi.... Aku tidak terbiasa melakukannya di luar ruangan. "
"Anggap saja pengalaman baru untukmu." Jawab kembali Raynor.
"Aku tidak perlu pengalaman memalukan seperti ini."
"Jika kau tidak mau, katakan saja Erza." Raynor berbisik di telinga Erza yang sudah merah karena malu.
"Terserah apa yang ingin kau lakukan." Erza pun setuju karena jelas dia tidak mau membuat Raynor kecewa.
"Aku anggap kau setuju." Balas Raynor.
Setelah mendapat persetujuan Erza, Raynor sigap melepas tali belakang bajunya hingga terbuka. Wajah merah merona ketika merasakan sentuhan jari Raynor mulai merayap di belakang punggung.
Erza tidak menolak keinginan Raynor, dia melingkarkan kedua tangan dan memeluk erat di saat jari-jari Raynor beranjak turun ke aset pribadi miliknya.
__ADS_1
Tidak perduli lagi untuk Erza jika hanya beralaskan semak belukar, di temani nyamuk-nyamuk yang mengganggu waktu mereka ketika saling berbagi kenikmatan.