The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Tengah malam


__ADS_3

Ketika tengah malam, disekitar klan harimau merah sangatlah sunyi dan sepi, sebagian besar penghuni rumah sudah tertidur, hanya menyisakan para penjaga yang berkeliling.


Ada sepuluh orang penjaga yang bertugas di siang hari dan lima orang penjaga ketika malam, mereka saling bergantian dengan jadwal masing-masing.


Raynor berada di dalam kamar tidur untuk melakukan kegiatan malam, lebih tepatnya dia sedang bermeditasi demi menyerap energi alam yang terbatas dari dunia ini.


Ketika Raynor membuka mata, ada hembusan nafas berat karena meditasi yang dia lakukan tidak memberi hasil memusatkan.


"Memang sangat sulit untuk mendapat banyak energi tanpa batu jiwa binatang iblis tingkat tinggi."


Sumber daya energi alam sendiri di hasilkan oleh inti planet, dimana ada dua hal yang membuat kualitas dan kuantitas untuk menentukan energi di dalam dunia.


Pertama inti planet terlalu kecil atau pun sudah kering hingga hampir habis, karena itu tidak memberi banyak energi keluar, tapi jika benar adanya, dunia tempat Raynor tinggal sekarang akan menjadi padang gersang hingga sedikit tanaman bisa tumbuh.


Kedua dia tidak berada di tempat yang tepat untuk menyerap sumber energi alam, dikatakan bahwa benua suci tanah beladiri, menjadi tujuan para ahli beladiri, sehingga bisa dipastikan semua sumber daya energi alam berkumpul di sana.


Raynor harus bersabar menerima keadaannya sekarang, karena mustahil dia pergi ke benua suci tanah beladiri dalam waktu dekat.


Pandangan Raynor mengarah keluar jendela, lebih tepatnya dia bisa melihat sesuatu yang berada di dalam jangkauan kemampuan ruang tanpa batas.


"Apa mereka tidak punya tempat lain untuk bermesraan..." Ucap Raynor sendiri.


Dia merasa terusik, ketika sebuah pemandangan antara seorang lelaki dan wanita saling berpelukan, pegangan tangan serta bermesraan seakan pasangan muda memadu kasih, padahal usia mereka sudah lebih dari empat puluh tahun.


Mereka adalah seorang penjaga malam bernama Suwarto, masih memiliki istri dan dua orang anak, sedangkan si wanita pembantu rumah, Ronayah, janda anak satu yang telah kehilangan suaminya.


Selama satu bulan Raynor hadir di klan harimau merah, sudah delapan kali dia melihat kegiatan ini. Tapi karena status Suwarto masih memiliki istri, tentu hubungannya dengan Ronayah menjadi rumit dan sembunyi-sembunyi.


Jika para penghuni lain hanya menganggap suara berisik semak-semak itu karena kucing kawin, tapi sayangnya tidak ada kucing yang bersuara ah ah ah, begitu.


"Selama mereka tidak merugikan ku, aku tidak perduli, tapi jangan sampai di grebek oleh warga."


Walau suara mereka tidak berisik, tapi dalam ruang lingkup tiga puluh langkah, semua yang terjadi akan tergambar jelas dipikirkan Raynor. Hal itu membuat dirinya tidak nyaman, karena bagi penguasa tertinggi, sudah cukup lama dia belum melakukan 'cocok tanam' dimana istri-istrinya ada di alam semesta atas.

__ADS_1


"Lebih baik aku tidur, sebelum aku merasa kesal sendiri melihat kemesraan mereka." Raynor membaringkan tubuh.


Tapi tiba-tiba saja ada hal lain yang membuatnya bangkit kembali dari tempat tidur.


Raynor merasa jika ada orang lain yang berjalan melewati wilayah ruang tanpa batas. Dia tahu siapa yang berkeliaran keluar saat tengah malam seperti ini, itu adalah Sania.


"Apa yang dia lakukan tengah malam seperti ini, jangan-jangan...."


Raynor hanya berpikir, jika Sania ingin mengintip Suwarto dan Ronayah yang sedang bermesraan.


Nyatanya tidak, Sania melangkah ke dinding pembatas halaman rumah, berlawanan arah jika dia ingin mengintip dua orang itu sedang bercocok tanam. Sania menyelinap pergi dari kediaman Klan .


Raynor mengenal Sania dengan sangat baik, dia bukan wanita buruk yang keluar rumah tanpa alasan, terlebih lagi di tengah malam seperti sekarang. Tentu ada alasan dengan tujuan Sania dan itu juga membuat Raynor penasaran.


"Mungkinkah Sania pergi diam-diam untuk menemui seorang lelaki...." Seakan ada rasa tidak rela jika Sania di miliki oleh orang lain.


Penuh rasa penasaran, Raynor pun pergi untuk mengikuti Sania. Segera saja Raynor melenyapkan aura tubuhnya secara sempurna.


Ini menjadi salah satu kemampuan lain dari ruang tanpa batas ketika dia sudah memasuki tingkat penguasaan jiwa, dimana Raynor gunakan untuk menyergap mangsa tanpa mampu merasakan aura nya sedikitpun.


"Untuk apa dia pergi sampai di dalam hutan ?." Tentu tidak ada yang menjawab, kecuali dia menanyakan sendiri kepada Sania.


Berjalan masuk lebih dalam di hutan Jatilowa, hingga menemukan sebuah sungai dan menuruni tebing yang di penuhi bebatuan besar. Melihat Sania mengeluarkan sebuah batu artefak dengan simbol prasasti dan muncul cahaya membentuk lingkaran segel ruang.


Penguasa tertinggi yang notabenenya adalah seorang ahli dalam pembentukan artefak prasasti dan kemampuan segel formasi, dia tahu betul jika Sania sedang menyembunyikan sesuatu menggunakan formasi ruang.


Seketika batu besar yang ada di depan Sania bergetar dengan sendirinya, sebuah pintu masuk kedalam lubang goa, dimana itu sengaja disamarkan oleh formasi tersembunyi dan kuncinya adalah batu artefak di tangan Sania.


Raynor melihat kegiatan Sania dari kejauhan, setidaknya seratus langkah dari mulut goa dan mulai melangkah semakin setelah Sania masuk ke dalam.


Melangkah hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Raynor juga susah menyembunyikan aura tubuhnya sehingga tidak khawatir jika Sania bisa merasakan aura dari sekitar.


Tapi ketika di mulut Goa, Raynor mendengar sebuah percakapan yang aneh.

__ADS_1


"Sania, kau harus berhati-hati dengan anak bernama Raynor, entah kenapa aku memiliki perasaan aneh kepadanya." Sania berbicara sendiri.


"Apa yang aneh, menurutku Ray adalah orang baik, dia bahkan membantu orang lain." Dan Sania pun menjawabnya sendiri.


Raynor mendengarkan percakapan aneh itu, karena dia sadar jika Sania sedang bertanya dan menjawab sendiri, tidak dirasakan kehadiran orang lain dalam Goa.


'Apa anak ini sedang bermain drama.'


Pikir Raynor yang kebingungan dengan tingkah Sania.


Semakin mendekat Raynor memasuki Goa, dia ingin memastikan jika Sania tidak sedang melakukan hal aneh.


Mendengar kembali percakapan Sania dengan dirinya sendiri.


"Ini bukan perkara baik atau tidak, intinya jangan terlalu dekat dengan Raynor, dia terlalu menakutkan." Ucap Sania dengan nada suara tinggi.


"Itu tidak bisa, karena dia adalah temanku, jadi tidak mungkin aku menghindar dan menganggapnya orang asing." Jawab Sania menolak perkataannya sendiri dengan halus.


"Kau itu terlalu polos Nia, jika aku tidak memperingatkan mu, sejak dulu kau sudah terjebak masalah yang terjadi dengan Darnu."


"Darnu dan Raynor berbeda, Aku percaya Raynor bukan orang jahat."


"Tapi apa kau tidak sadar, kemampuan Raynor berbeda dari manusia biasa, bagaimana mungkin dia mampu mengalahkan ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, aku lebih percaya jika lelaki itu adalah seekor monster."


"Tidak mungkin, kau jangan bicara sembarangan, aku tahu siapa Raynor dan kau tidak berhak menilainya sebagai monster."


'Itu benar, tidak baik menilai seseorang tanpa pernah mengenalnya.' Raynor ingin menjawabnya, tapi dia sedang bersembunyi.


Raynor tidak mungkin tidak penasaran, dia melangkah semakin dekat hingga melihatnya sendiri.


"Sania ada seseorang di luar." Sania memberikan peringatan kepada dirinya sendiri, saat merasakan sedikit kehadiran seseorang.


'Aduh gawat, sepertinya karena terlalu bersemangat, aku kurang konsentrasi.'

__ADS_1


Setelah kehadiran Raynor di ketahui, dia pun memilih menunjukkan diri kepada Sania, berjalan masuk lebih dekat, hingga cahaya bulan dari atas gua yang berlubang menyinari wajahnya


__ADS_2