
Langit malam di kota kerajaan Losborn saat itu terlihat mendung, semilir angin dari timur pun dirasakan dingin oleh semua orang, termasuk oleh gadis kecil yang berdiri diam sembari menggenggam erat tangan lelaki di sampingnya.
Sisha tentu menyadari jika kini ayahnya tidak akan lagi membuka mata, menggenggam tangan yang kini terasa dingin, tapi gadis kecil itu tidak menangis, menatap Raynor penuh makna dan dia pun bertanya.
"Paman, Apa ayah tidak akan merasakan sakit lagi ?." Ucap Sisha.
"Ya, ayahmu sudah terbebas dari semua rasa sakit, lihat ayahmu terlihat bahagia di saat terakhirnya." Jawab Raynor dengan senyum kepada Sisha.
"Begitukah ?."
Raynor bisa memahami kenapa Sisha begitu tenang, meski demikian dia hanya coba untuk menutupi kesedihannya.
"Apa kau sedih ?." Bertanya Raynor.
"Tidak, aku lebih sedih ketika ayah menahan sakit setiap malam, aku tidak bisa membuatnya lebih baik, aku benar-benar tidak berguna." Sisha tentu tahu bagaimana kesengsaraan sang ayah.
"Kalau begitu, di masa depan nanti, kau harus bahagia, itu yang di inginkan oleh Ayahmu."
"Akan aku lakukan, paman."
Raynor memberi pemakaman yang layak kepada tuannya, di sebelah pondok atas bukit, dia menggali lubang untuk menguburkan jazad Lamo.
Tuan Lamo pergi jauh dari benua tanah merah, meninggalkan keluarga dan sanak saudara demi belajar ilmu tempa dan sudah menghabiskan hidup di kerajaan Losborn di akhir hayat.
Sania berjalan datang ke sebelah Raynor dan mengusap kepala Sisha yang tertunduk lemas menatap pusara sang ayah.
Sania menarik tangan Raynor untuk bicara di tempat lain.
"Jadi apa yang akan kita lakukan untuk Sisha." Bertanya Sania.
"Biarkan dia tinggal di klan harimau merah, jika ada yang tidak setuju biar aku bicara kepada mereka."
"Mungkin tidak ada orang melarang kita membawa Sisha, hanya saja apa dia mau ?."
"Ini hanya untuk sementara, karena aku sudah berjanji kepada tuan Lamo tentang Sisha."
__ADS_1
"Baiklah jika kau sudah merencanakannya Ray." Balas Sania yang percaya untuk rencana Raynor.
Raynor membawa Sisha ke klan harimau merah, tidak mungkin Raynor membiarkan gadis kecil itu sendirian tinggal di kawasan kumuh yang dipenuhi manusia-manusia berpikiran jahat.
Terlebih lagi, Raynor memiliki janji kepada tuan Lamo untuk mengantarkan Sisha ke tempat ibunya yang menjadi selir di klan naga langit. Meski pun Raynor merasa tidak merasa Sisha akan mau ikut dengan Ibunya, dia sudah ditinggalkan dan harus hidup dalam penderitaan yang panjang.
Tidak banyak barang-barang Sisha untuk dia bawa dari rumah, hanya tiga potong pakaian lusuh dan pernak-pernik yang diberikan oleh ayahnya. Itu semua menjadi hal berharga tanpa bisa Sisha tinggalkan.
"Untuk sekarang kau akan tinggal di tempat ku, Sisha." Ucap Raynor ketika tangan mengusap rambutnya.
"Apa boleh ?, aku tidak ingin merepotkan paman." Sisha merasa enggan, tapi dia pun sadar jika tidak mungkin tinggal sendirian.
"Tenang saja, tidak perlu sungkan, kau tidak membuat kami repot."
"Terimakasih paman, kakak." Sisha menunjukkan senyum kepada Raynor karena dia menjadi dermawan yang telah banyak memberinya bantuan.
Di dalam perjalanan menuju kediaman Klan harimau merah, Sisha menunjukkan ekspresi wajah murung, dia yang harus menerima kenyataan bahwa ayahnya sudah tiada dan kini hidup di tempat asing, seakan tidak membuat Sisha merasa senang.
Membeli beberapa perlengkapan dan baju-baju baru agar terlihat lebih baik untuk Sisha, semua itu Raynor berikan dengan uang yang sudah di janjikan kepada tuan Lamo.
Dua ratus koin emas demi masa depan Sisha adalah nominal yang sangat banyak, itu sudah cukup untuk membeli sebuah rumah besar beserta perabotan lengkap dan menunjang berbagai kebutuhan hingga beberapa tahun kedepan. Meski pun semua menjadi percuma bagi Sisha karena dia hanya menikmatinya sendirian tanpa sang ayah.
Sisha dibawa masuk ke dalam ruang pertemuan klan, disana Regar sudah duduk dengan santai untuk bicara mengenai Sisha.
Hanya saja....
"Untuk menghindari ketidaknyamanan bagi para tetua lain, ayah tidak bisa memberi perlakuan khusus kepada gadis kecil ini, dia tetap harus melakukan pekerjaan seperti halnya para pengikut kita." Ucap Regar serius.
"Tapi ayah...." Sania coba menawar.
Regar mengangkat tangan untuk menghentikan Sania bicara....
"Tidak ada kata tapi Sania, kita bukan lembaga masyarakat yang membantu orang lain secara sukarela, jika tidak bekerja maka tidak makan, itulah hukum yang ditetapkan oleh dunia ini."
Sisha hanya akan menjadi pengikut klan harimau merah, bukan saudara angkat atau pun tamu spesial, dia tetap mendapat tugas sebagaimana yang para pengikut lain lakukan.
__ADS_1
Sania tidak bisa membantah ucapan sang ayah, karena ucapan Regar memang benar.
"Bagaimana gadis kecil apa kau bersedia ?." Bertanya Regar kepada Sisha.
"Akan aku lakukan paman, jadi biarkan aku tinggal di sini." Sisha pun menjawab dengan lantang.
"Baiklah." Regar mengangguk setuju.
Tidak ada permintaan lain dari Raynor atau pun Sania, mereka juga harus memberi Sisha pengetahuan soal hidup, karena tidak mungkin selamanya Sisha berada di klan harimau merah.
Raynor dan Sania membawa Sisha ke bangunan belakang, dimana itu adalah tempat bagi para pekerja dan pengikut klan harimau merah.
Di kediaman Klan harimau merah memiliki banyak ruangan yang siapkan secara khusus menjadi tempat tinggal para pengikut. Termasuk untuk anak-anak seperti Sisha karena memiliki nasib sama, ditinggal oleh orang tua mereka dan harus hidup sendirian.
Tapi memang tidak ada keadilan di dunia ini, setiap anak-anak yang diambil klan harimau merah hanya mereka-mereka dengan bakat tinggi, berpikir jika itu akan menjadi keuntungan di masa depan.
"Sisha bagaimana dengan ibumu." Bertanya Raynor.
"Ibu ?, Aku tidak tahu apa pun soal itu, paman, aku bahkan lupa seperti apa wajah ibuku."
"Jika kau bertemu dengan ibumu, apa kau mau ikut dan tinggal dengannya."
"Tidak, aku tidak mau, aku tidak ingin bertemu dengan ibu lagi."
Entah ucapan Sisha itu hanya sebuah bentuk kemarahan kepada seseorang yang telah menelantarkan keluarganya, atau sejak awal memang dia tidak ingin mengetahui soal sang ibu.
Tapi istri Lamo yaitu Istian kini berada di dalam kediaman Klan naga langit, tidak sulit untuk Raynor mengajak Sisha bertemu dengan sang ibu.
"Sisha, aku sudah berjanji kepada ayahmu, jika beliau tidak ada maka aku di minta untuk membawamu bertemu dengannya."
Sisha bingung, dia jelas tidak ingin membahas soal apa pun mengenai Istian, tapi karena ayahnya sendiri yang meminta, dia tentu harus menuruti keinginan itu.
"Apa itu artinya aku tidak boleh tinggal disini selamanya paman ?."
"Jika kau lebih memilih untuk tinggal di klan harimau merah, aku tidak akan memaksa, semua tergantung keinginan mu, tapi kau harus bicarakan itu dengan ibumu terlebih dahulu" Balas Raynor.
__ADS_1
"Aku mengerti paman." Jawab Sisha.
Gadis kecil itu kini menerima keadaannya sekarang, dia tidak bisa hidup sendiri dan harus bergantung kepada orang lain karena sang ayah sudah pergi selamanya.