
Siang hari, seorang wanita berjalan ragu-ragu menuju tempat kediaman Klan harimau merah, seakan dia sedang mencari alasan kenapa harus berada di tempat ini.
Erza berjalan hilir mudik di luar gerbang masuk klan harimau merah, para penjaga pun terlihat bingung ketika mereka memperhatikan sikapnya.
Tapi tidak lama seorang lelaki keluar, dia sedikit terkejut karena melihat Erza ada di luar rumah selagi bicara sendirian. Hanya saja kehadirannya sekarang seakan tidak di pedulikan oleh Erza.
"Nona ada yang bisa aku bantu." Ucapnya kepada Erza.
"Eh, kenapa ?." Balas Erza yang balik bertanya.
"Kau sudah mondar-mandir sepuluh kali di tempat ini, apa kau memerlukan sesuatu dengan klan harimau merah ?."
"Tidak bukan itu, aku hanya...." Belum selesai Erza menjawab dia pun menyadari jika yang bertanya adalah Raynor.
"Aku hanya apa ?."
"Lupakan saja." Erza enggan menjawab.
Raynor tentu sadar jika kehadiran Erza bukan tanpa alasan, hanya saja dia sendiri tidak berpikir soal alasan yang Erza miliki, karena pekerjaan membuat senjata sudah selesai itu membuat mereka jarang bertemu seperti biasa.
"Apa yang kau lakukan di luar Erza ?."
"Ya kau tahu Raynor, karena pekerjaan ku sudah selesai, aku merasa bosan berada di penginapan." Erza pun menjawab dengan alasannya sendiri.
"Kalau begitu apa kau ingin ikut denganku."
"Baiklah aku akan ikut." Tanpa penolakan dan tanpa berpikir hal lain Erza langsung menjawab penuh antusias.
"Apa kau tidak bertanya kemana aku akan pergi ?."
"Ya itu benar, kemana kau akan pergi."
"Aku ingin mengantarkan Sisha bertemu ibunya, bisa dibilang ini adalah permintaan dari tuan Lamo."
"Memang kau tahu dimana ibunya sekarang."
"Tuan Lamo mengatakan jika mantan istrinya itu sekarang menjadi selir ketua dari klan naga langit." Jawab Raynor.
Raynor dan Erza menunggu sedikit lebih lama, Sania dan Sisha muncul dari balik pintu setelah berganti pakaian yang lebih pantas, walau pun tidak ada komentar untuk Sania, karena apa pun pakaiannya, semua terlihat menakjubkan.
Bahkan untuk Erza yang sesama wanita dia sampai tertegun melihat Sania, kecantikan milik Sania seakan tidak memandang jenis kelamin, siapa pun akan tahu seberapa menakjubkan sosoknya.
__ADS_1
"Oh, Erza kau disini." Ucap Sania ketika tahu ada Erza di sebelah Raynor.
"Iya nona Sania, aku sedikit bosan di kamar, jadi aku memilih untuk berjalan-jalan, siapa sangka bertemu dengan Raynor."
"Bukannya kau mengatakan sengaja datang untuk mencariku." Balas Raynor sedikit menggoda.
"Kapan aku mengatakannya." Tegas Erza membantah meski sebenarnya dia memang ingin bertemu Raynor.
"Ok, ok, jangan marah aku hanya bercanda."
Erza melihat Sisha, dia masih banyak diam, lebih sering menundukkan kepala dan tidak bersemangat seperti hari-hari sebelumnya. Perubahan besar terjadi dalam hidup gadis kecil ini, mau tidak mau, tanpa bisa untuk menolak dia harus menerima keadaan tanpa ayahnya mulai sekarang.
Kediaman Klan naga langit tidak jauh berbeda dari klan-klan utama lain yang ada di kerajaan Losborn. Mereka memiliki rumah besar dikelilingi oleh dinding pembatas tinggi dan juga ada banyak penjaga bertugas menjaga keamanan.
Jika harus dibandingkan, klan naga langit memiliki jumlah kekayaan lebih banyak dari tiga klan lain, bahkan klan Garuda api yang notabenenya adalah pemegang kekuasaan kerajaan Losborn masih belum cukup menandingi klan naga langit.
Kehadiran Raynor tentu di hentikan oleh para penjaga keamanan, tapi melihat sosok putri Sania yang menggunakan baju bermotif harimau merah, membuat mereka tidak bisa sembarangan bicara.
"Putri Sania, apa yang bisa kami bantu atas kehadiran anda di klan naga langit ini." Ucap penjaga itu dengan sopan.
"Aku ingin bertemu dengan Istian." Jawab Raynor karena memang dialah yang memiliki urusan.
"Siapa kau ?, Kami tidak memiliki waktu untuk mengurusi masalah mu." Bentak mereka kepada Raynor.
'Cih, ternyata memang selalu ada diskriminasi antara orang biasa dan orang cantik.'
"Tuan-tuan, maaf aku hanya mengantarkan lelaki ini saja, jadi biarkan dia bertanya."
"Tentu saja nona Sania." ...Mereka tersenyum bodoh setelah mendengar perkataan Sania.
Meski pun cara mereka melihat Raynor seakan tidak ada bedanya, tampak malas atau pun tidak perduli untuk urusan apa dia datang kemari.
"Cepat kau katakan, ada perlu apa datang kemari."
"Maaf tuan, aku ingin bertemu dengan Istian."
"Apa tujuanmu ?, Nona Istian adalah selir ketua Sursana, dia jarang sekali mendapatkan tamu, apa kau keluarganya ?."
"Aku hanya ingin mengantarkan anak dari Istian, biarkan kami bertemu dengan Istian." Jawab Raynor.
Mereka melihat wajah Sisha yang tertunduk lesu selagi menggenggam erat tangan Raynor, tentu ada perasaan iba ketika melihat anak kecil seperti Sisha.
__ADS_1
"Maafkan kami tuan, bukan kami tidak memberikan anda bertemu dengan nona Istian, tapi dia sedang pergi keluar dengan tetua Sarsana." Ucap mereka dengan sopan.
"Begitukah, apa bisa kami menunggu." Raynor tidak bisa kembali begitu saja.
"Soal itu...."
Sebelum penjaga itu bicara, sebuah kereta kuda datang dan akan memasuki gerbang masuk klan naga langit. Tapi berhenti tepat di sebelah Sania untuk membuka tirai.
Seorang lelaki paruh baya dengan tubuh buntal berada di dalam kereta kuda, dia bersama tiga wanita yang tampak dekat untuk merayu.
Lelaki itu mengarahkan pandangan kepada Sania, dia pula menunjukkan senyum yang tampak tidak nyaman di lihat, seakan ada rasa tertarik untuk menggoda Sania.
"Putri Sania, sudah cukup lama anda tidak berkunjung ke klan naga langit, ada keperluan apa nona datang kemari." Berkata lelaki itu selagi tersenyum lebar kearah Sania.
"Kami ingin bertemu dengan seseorang, tuan Sursana ?." Sania masih menunjukkan sikap sopan, meski Raynor tahu jika yang menjawab itu adalah Wilea.
Raynor seakan paham kenapa Sania berganti posisi dengan Wilea, karena jika mereka lihat Sursana, itu membuat siapa pun ingin menamparnya.
"Oh begitukah, apa aku yang anda maksud ?."
Raynor terkejut, melihat seorang tua bang*ka seperti dia menggoda Sania.
'Kau jangan bercanda, wanita mana yang berharap untuk bertemu denganmu, sadar diri pak tua.' Raynor ingin mengungkap isi hatinya.
"Tidak bukan itu." Jawab Sania yang tersenyum pahit.
"Bagaimana kalau kita masuk terlebih dahulu, tidak baik untuk bicara di luar seperti ini."
"Terimakasih tuan Sursana."
Mereka berempat dibawa masuk oleh para penjaga dan diarahkan ke tempat pertemuan yang biasa klan naga langit gunakan untuk menyambut para tamu.
Meski mereka tidak mengenal Raynor, Erza dan Sisha, tapi disana ada Putri Sania, anak perempuan dari ketua klan harimau merah, Regar. Tentu harus ada jamuan yang layak untuk mereka berikan kepada orang penting seperti Sania.
Hingga seorang lelaki bertubuh buntal itu muncul dari balik pintu, mengambil satu kursi untuknya duduk dan beberapa orang pelayan mengayunkan kipas dari samping.
"Putri Sania, sebelum anda ingin mengatakan tujuan anda datang kemari, biarkan anak-anak ku memberi sambutan terlebih dahulu." Ucap lelaki buntal itu dengan memberi tanda tepukan tangan.
Ada lima orang, tiga diantaranya adalah lelaki muda yang sudah mencapai usia dewasa, satu lelaki generasi muda dan satu wanita di generasi muda dengan kecantikan sama menakjubkannya seperti Sania.
Seperti yang Raynor dengar, jika ada tiga kecantikan abadi di kerajaan Losborn, pertama putri Siva dari klan Garuda api, putri Sania dari klan harimau merah dan satu lagi adalah putri Dianda dari klan naga langit.
__ADS_1
Soal empat anak lelaki lain Raynor tidak perduli, benar-benar tidak perduli, karena jelas tujuannya dari awal adalah untuk bertemu dengan ibu Sisha, bukan berkenalan dengan anak-anak Sursana. Kecuali jika itu adalah putri Dianda, tentu Raynor tidak akan menolak.