
Sekte teratai api memang menjadi tempat pelatihan terbaik di daratan timur, sehingga bukan hal aneh jika Raynor di tempat ini akan bertemu dengan banyak anggota keluarga kerajaan.
Putri Siva Elvord yang berasal dari kerajaan Losborn, Erdian Xersas dari kerajaan Balasumpang, dan sekarang wanita asing dari kerajaan Reskna. Mereka bertiga memberi pengalaman aneh untuk awal pertemuan.
Mengingat ketika dia bertemu dengan Siva di hutan Jatilowa, kesombongan putri kerajaan Losborn benar-benar tinggi. Dia tidak mau menerima kenyataan bahwa sudah di selamatkan oleh Raynor.
Meski pun pada akhirnya hubungan mereka berdua menjadi dekat, dan terikat pertunangan karena janji raja Sura kepada Rezar.
Ada pun putri Erdian dari kerajaan Balasumpang, barulah kemarin Raynor mengenal Erdian karena semua orang begitu terkagum-kagum akan sosoknya.
Salah satu wanita dari generasi muda berbakat yang sudah mencapai tingkat pemahaman bumi tahap akhir, meski sebenarnya dia gagal ujian masuk sekte.
Tapi karena keberuntungan atau lebih tepatnya Raynor mencari keuntungan dari Erdian. Dia pun memberi lencana ujian untuk menjadi hutang agar dibalas nanti di masa depan.
Dan sekarang, pertemuan kembali dengan putri kerajaan Reskna yang Raynor sendiri tidak kenal siapa dia. Tapi seperti dugaannya, semua putri kerajaan memang memandang rendah para lelaki dibawah kasta.
Raynor menjejalkan kenyataan pahit kepada putri kerajaan Reskna itu dengan pedang Asarc Rex spatium yang jelas melampaui senjata yang dia gunakan.
Waktu pembelajaran telah selesai, Raynor berjalan keluar bersama Erza, Siva dan Furan. Begitu juga Erdian dan Erdan mengikuti di belakang mereka.
"Apa kalian cukup nyaman berada di asrama ?." Bertanya Raynor memastikan keadaan kedua wanitanya.
"Hmm tempatnya tidak terlalu buruk, meski pun tidak bisa dibilang nyaman." Ucap Siva.
"Mau bagaimana lagi. Kau terbiasa hidup dengan semua kemewahan dan ranjang yang empuk. Setiap hal sudah tersedia tanpa perlu bersusah payah. Kau harus belajar menghargainya Siva." Ucap Raynor selagi mengusap rambutnya.
Balik Raynor melihat Erza..."Bagaimana dengan mu."
"Soal tempat aku tidak masalah, aku terbiasa hidup di mana pun, tapi teman sekamar ku, ya bisa di bilang sangat cerewet, dia bercerita banyak hal sampai aku kesulitan tidur semalaman." Lemas Erza menjawab.
"Setidaknya kau harus bersabar, di dunia ini banyak orang dengan karakteristik mereka masing-masing, tapi semua tergantung tentang bagaimana kau menanggapinya." Sekali lagi Raynor memberi nasihat.
"Kau Furan ?, Apa kau baik-baik saja." Kini Raynor bertanya kepada Furan.
Murung wajah Furan sebelum menjawab, seakan dari raut wajah itu sudah menjadi jawabannya...."Aku tidak bisa bilang baik-baik saja. Senior di sana sangat mengerikan, mereka memerintahkan para murid baru untuk membersihkan kamar, mencuci pakaian, bahkan memijat pundak mereka saat lelah, jika menolak maka akan ada hukuman."
"Sabar yah." Singkat tanggapan Raynor.
"Kenapa kau tidak memberikan ku nasihat juga seperti Siva atau pun Erza."
"Kau itu lelaki, jangan merasa lemah hanya karena hal sepele seperti ini."
"Ya aku mengerti." Menunduk kepala Furan dengan lemas.
Dia adalah kakak dari Sania, tentu secara langsung Raynor harus bisa menjaganya dari segala hal yang membahayakan. Meski pun tidak semuanya harus dia atasi. Di tempat ini Furan belajar untuk mengenal kehidupan dan memberi pengalaman secara nyata.
"Tapi jika ada seseorang atau siapa pun itu yang coba mencelakakan kalian, katakan kepadaku, aku akan membalas mereka." Ucap Raynor untuk memberi perlindungan.
__ADS_1
Di sisi lain, Erdian dan Erdan yang berjalan di belakang pun ambil bagian untuk bicara.
"Raynor, apa kau berniat untuk masuk ke perkumpulan." Ucap pangeran Erdan.
"Ah soal itu, aku sudah di beritahu oleh Rayos jika untuk mengambil permintaan sekte harus bergabung kedalam perkumpulan."
"Lantas apa kau akan bergabung ?."
Raynor menggelengkan kepala...."Sepertinya tidak, aku tidak mau mengikuti perintah orang lain, apa lagi mereka memandang rendah para murid baru seperti kita."
"Kalau begitu bagaimana jika kita membuat perkumpulan sendiri."
"Hmmm, itu ide yang bagus pangeran Erdan." Ucap Furan setuju.
"Aku pun setuju." Begitu juga dengan Erza.
"Tidak ada salahnya dengan hal itu." Siva menunggu persetujuan Raynor.
"Jika kau memaksa aku tidak bisa menolak." Erdian beralasan.
Raynor mengangguk setuju dengan usul Erdan. Tidak ada syarat khusus untuk membentuk sebuah perkumpulan, asalkan mereka memiliki minimal lima anggota dan di setujui oleh seorang guru sebagai pengawas, maka perkumpulan bisa dibentuk.
"Baiklah, aku ikut." Raynor menerima saran Erdan.
"Selanjutnya hanya perlu mencari guru yang bisa menjadi pengawas perkumpulan kita."
Erdan pun tersenyum senang..."Bagus sekali, aku yakin semua akan mudah."
Selagi mereka berjalan, tiba-tiba saja seorang wanita berdiri dengan menyilangkan tangan di depan dada, kemudian menghentikan langkah Raynor dan kawan-kawan.
"Kau berhenti, aku ingin bicara." Tunjuk wanita itu dengan tegas.
Dia adalah putri kerajaan Reskna yang bersikap seenaknya sendiri kepada Raynor, ini cukup menyulitkan bagi Raynor, karena dia tidak pernah berniat meributkan sesuatu masalah dengan seorang wanita.
"Ada keperluan apa Putri Qiu Nan ?." Berkata Siva yang sesama seorang putri kerajaan tentu saling kenal.
"Putri Siva aku tidak memiliki urusan dengan mu. Tapi dengan lelaki yang ada di sampingmu itu."
"Aku ?." Ucap Raynor berlagak bodoh.
"Ya kau, memang siapa lagi ?."
"Tapi disebelah Siva ada lelaki yang lain, Furan dan juga Erdan, aku pikir mereka juga termasuk." Raynor menjelaskan.
"Aku tidak ada keperluan dengan mereka, bagaimana pun juga kau yang sudah membuatku kesal tadi."
Raynor tertawa...."Kau kesal karena kalah saing dengan pedang ku ?, Sungguh sebuah lelucon yang tidak menyenangkan."
__ADS_1
"Itu bukan lelucon, tapi penghinaan." Tegas jawabannya.
"Tunggu dulu, hanya karena pedang kau sebut penghinaan ?. Kalau begitu aku bisa menghina mu begitu banyak." Raynor kembali tertawa di depan Putri Qiu Nan.
"Aku adalah putri kerajaan Reskna, salah satu pilar utama sekte teratai api, tidak ada yang boleh lebih baik dariku."
"Tapi sayangnya dalam segi apa pun aku jelas lebih baik darimu." Cukup sombong pernyataan Raynor meski pun kenyataannya memang benar.
Putri Qiu Nan semakin marah, kuat kepalan tangan berasa ingin membunuh Raynor.
"Itu artinya kau berani melawan pilar utama."
Raynor berjalan maju, secara langsung berdiri di hadapan Qiu Nan...."Putri apa kau tahu. Aku tidak perduli kau pilar utama, pondasi, blandar, jerumpul, daun pintu, daun jendela atau apa pun itu terserahlah. Tapi jika kau merasa mampu melawanku aku bisa buktikan bahwa ucapan mu hanya sekedar omong kosong."
"Aku anggap kau berani menantang ku."
"Tentu saja." Tidak ada keraguan bagi Raynor.
Banyak orang bertanya-tanya kenapa dia yang pilar utama seperti putri Qiu Nan berada di ruang pembelajaran ilmu tempa senjata tingkat dasar.
Itu karena selama pelatihan di dalam sekte teratai api, dia sudah mempelajari semua jurusan Ilmu pengobatan, alkemis, rangkaian formasi prasasti hingga menjadi seorang master, dan yang terbaru adalah tempa senjata.
Meski pun Qiu Nan harus memulai dari awal, tapi semua cukup mudah, dimana para guru pun mengakui, kecerdasan Qiu Nan benar-benar sangat luar biasa.
"Kalau begitu bagaimana jika kita bertading."
"Pertandingan seperti apa putri Qiu Nan ?." Balas Raynor dengan serius.
"Terserah kau, aku siap melawanmu dalam hal apa pun, karena jelas aku jauh lebih hebat darimu." Balas Qiu Nan mengejek Raynor.
"Tapi maaf, aku tidak mau beradu pukul dengan wanita."
Kesal wajah Qiu Nan atas ucapan Raynor...."Kau meremehkan ku. Aku sudah menguasai semua keahlian beladiri di sekte teratai api, jadi jangan aku bisa mengajar mu dengan tangan kosong."
"Tidak bukan begitu, aku hanya tidak nyaman jika bertarung dengan wanita, jadi bagaimana kalau kau saja yang menentukan, pertandingan seperti apa nanti ?."
"Kau terlalu sombong Raynor, bagaimana dengan pertandingan rangkaian formasi serangan dan bertahan." Ucap Qiu Nan memberi tantangan.
"Hmmm, boleh juga, atur saja apa yang kau inginkan." Santai saja Raynor menjawab.
"Besok aku tunggu kau di arena."
Putri Qiu Nan berjalan pergi tanpa menyembunyikan kekesalannya kepada Raynor. Sedangkan Raynor sendiri bertanya-tanya.
"Menangnya di sini ada arena ?."
"Lah itu di depan istana utama." Jawab Erdan.
__ADS_1
"Oh. Jadi itu arena, aku pikir hanya tempat bersantai saja."