
Latih tanding ini memiliki sepuluh ronde, dimana setiap ronde akan menggunakan gerakan beladiri dari satu persatu langkah teknik dasar.
Meski pun teknik serangan yang mereka gunakan sama, tentu ada beberapa faktor penentu kemenangan yaitu kekuatan fisik, lincah gerakan dan refleks yang baik.
Bagi mereka yang baru mempelajari teknik dasar sepuluh langkah harimau merah, tentu tidak sekuat orang yang sudah melatih kemampuan dalam waktu lama.
Hal ini membuat Darnu berpikir dia akan menang dengan mudah, karena sudah memahami setiap gerakan melampaui orang lain seusianya.
Raynor dan Darnu saling berhadapan, hanya berjarak satu langkah dan bersiap dengan kuda-kuda untuk menyerang. Paman Yuran memberi anggukan kepala sebagai tanda bahwa latih tanding akan dimulai.
"Gerakan pertama, lakukan"
Sesaat setelah paman Yuran memulainya, cepat gerakan tangan Darnu melesat lurus dalam bentuk cakar, tapi sebelum mengenai baju, Raynor segera menghindar ke bawah, mengambil gerak maju setengah langkah dan melepas cakaran lurus seperti mencengkram bagian perut.
Satu tangan Raynor yang lain, mengambil pergelangan tangan Darnu, menariknya keras dan memutarnya hingga jatuh, Darnu tidak bisa melawan karena Raynor sudah mengunci lehernya dengan cakar.
Satu kekalahan untuk Darnu.
Paman Yuran terkejut bahkan bingung dengan apa yang dia lihat, seakan tidak percaya jika Raynor mampu mengalahkan Darnu. Raynor barulah mempelajari teknik dasar tapi mampu menjatuhkan Darnu yang notabenenya jauh lebih lama mempelajari setiap gerakan beladiri klan harimau.
Raynor melangkah mundur, Darnu pun bangkit kembali untuk bersiap di ronde kedua.
"Jangan merasa senang Raynor, aku hanya mencoba berbaik hati dan sedikit mengalah."
Kenyataannya tidak seperti ucapan Darnu, Raynor merasakan sendiri niat bertarung dengan serius yang dia miliki, jika lawannya adalah orang lain, tidak segan-segan Darnu mematahkan lengan mereka.
Tapi melihat bagaimana Raynor melakukan serangan hingga menjatuhkannya, tentu ada rasa terkejut karena sudah meremehkan lawan.
"Aku sangat berterimakasih karena kau masih memberi kelonggaran untukku, hanya saja aku lebih senang jika kau bersikap serius." Jawab Raynor dengan tersenyum.
"Akan aku lakukan seperti yang kau minta."
"Kalau begitu kita mulai ronde kedua."
Paman Yuran sudah siap sebagai wasit.
"Gerakan kedua, lakukan."
Berbeda dari gerakan pertama, gerakan kedua mereka bersiap dengan jarak yang cukup jauh, sekitar sepuluh langkah dan saling berhadapan. Ini seperti serangan dengan melompat ke arah lawan, melepaskan pukulan dan tendangan sebelum jatuh ke tanah.
Darnu berlari cepat, di ikuti oleh Raynor yang memikirkan sesuatu untuk melawan serangan langkah kedua ini. Tepat di saat Darnu sudah melompat, Raynor hanya diam ditempat, menunggu serangan Darnu datang Raynor menghindar.
__ADS_1
Tapi ketika Darnu sudah lewat, barulah Raynor melompat ke belakang untuk memulai langkah serangan kepada Darnu, hantaman tepat mengenai kepala, mengunci kembali leher dan mendorong jatuh.
Kekalahan kedua untuk Darnu.
"Ini curang namanya, aku tidak mengakui kemenangan mu, Raynor."
"Bagaimana bisa kau tidak terima, bukankah kau sudah aku jatuhkan, jelas sekali kau kalah."
"Kau menunggu dan menghindari serangan ku...."
"Di dalam pertarungan, menghindar dan menunggu kesempatan menyerang, termasuk sebagai strategi bertarung agar bisa menang, setidaknya aku mengalahkan mu dengan gerakan kedua teknik sepuluh langkah harimau merah seperti perjanjian."
Darnu tersulut emosi, bagaimana pun dua kali di jatuhkan olehku tentu membuatnya merasa malu.
"Paman Yuran aku tidak mengakui ini." Tegas ucapan Darnu demi melindungi harga dirinya.
"Apa yang dikatakan oleh Raynor itu benar, menghindari serangan dan menunggu kesempatan adalah strategi bagi para petarung, kau harus tahu Darnu." Jawab Yuran dengan membantah.
Semua tidak seperti keinginan Darnu, dia yang ingin memberi pelajaran kepada Raynor, tapi dialah yang sekarang Raynor permalukan.
Darnu benar-benar hilang kesabaran dan tersulut emosi, dimana dia pun segera bersiap-siap untuk melanjutkan pertandingan.
"Baiklah kita mulai....." Paman Yuran sudah siap.
Gerakan ketiga, kekalahan untuk Darnu.
Gerakan keempat, kekalahan untuk Darnu.
Gerakan kelima, kekalahan untuk Darnu.
Tidak ada kesempatan untuknya menyelamatkan muka setelah lima kali dikalahkan oleh Raynor. Entah itu paman Yuran atau orang-orang di pelatihan hanya bisa terdiam.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin aku kalah olehmu."
"Masih ada lima gerakan lagi, apa kau tidak ingin melanjutkannya."
"Jangan berpikir kau sudah menang, aku akan menghajar mu." Berteriak keras Darnu dengan emosi sudah di ujung tenggorokan.
Ada yang berbeda dari tujuan awal Darnu sekarang, dia secara terang-terangan mengeluarkan energi tenaga dalam dan menyerang tanpa perduli gerakan untuk dia gunakan.
Paman Yuran berniat menghentikan Darnu, tapi Raynor memberi tanda dengan tangan agar dia tidak perlu ikut campur. Darnu seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, dimana kekuatannya tidak bisa dianggap lemah, tapi itu jika lawan Darnu adalah orang lain.
__ADS_1
Aliran energi yang Darnu gunakan mempercepat gerakan dan kekuatan fisik berkali-kali lipat.
Tapi Raynor pun tidak mau kalah, energi tenaga dalam mulai mengalir di tubuh, paman Yuran atau pun Sania terkejut saat tahu seberapa besar tekanan yang mereka rasakan.
Jika Sania sebelumnya tahu bahwa Raynor hanya seorang ahli beladiri tingkat penguatan tubuh, tapi dia sadar, dalam sehari Raynor memiliki kekuatan setara seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, bahkan jauh lebih tinggi.
"Bagaimana mungkin Raynor bisa sekuat ini, apa dia menyembunyikan kekuatannya." Paman Yuran sampai terkejut, dia seakan bertanya kepada Sania.
"Aku pun tidak tahu paman, tapi aku yakin dia sebelumnya adalah Ahli penguatan tubuh." Jawab Sania yang sama bingungnya.
Raynor tetap mengikuti aturan untuk melanjutkan gerakan keenam dan seterusnya sebagai pembuktian bahwa aku sudah mempelajari teknik sepuluh langkah harimau merah dengan sempurna.
Pukulan Darnu melesat cepat dan tajam, tidak perduli soal menahan diri, dia bahkan menunjukan niat seperti ingin membunuh Raynor. Tapi menghadapi lawan bertarung ketika emosi jauh lebih mudah, karena mereka melupakan cara untuk bertahan.
Melihat satu kesempatan dimana gerakan Darnu terlalu lebar dan membuka sisi tubuh bagian kiri, Raynor pun melepas satu pukulan kearah rusuk, melanjutkan dengan gerakan keenam hingga membuat Darnu harus mundur beberapa langkah ke belakang.
Tidak berhenti sampai disitu, Darnu hilang keseimbangan, Raynor melangkah maju dan melepas gerakan ketujuh, dilanjutkan gerakan kedelapan, sembilan dan serangan terakhir dari gerakan kesepuluh.
Darnu terpental jauh, tubuhnya jatuh hingga berguling ke tanah dan segera pingsan di tempat. Raynor tidak merasa bersalah meski sudah menghajar Darnu, dimana jika harus menjawab, ini adalah bentuk pembelaan diri.
Paman Yuran segera melihat kondisi Darnu.
"Bawa Darnu ke ruang perawatan."
Beberapa orang murid sudah siap dengan tandu dan mengangkat tubuhnya pergi.
Sedangkan Sania datang mendekat kepada Raynor, dia seperti ingin menanyakan banyak hal dari rasa penasarannya setelah melihat kekuatan tenaga dalam yang dia rasakan.
"Ray, apa kau baik-baik saja." Bertanya Sania berbeda dari apa yang Raynor pikirkan.
"Harusnya kau lebih baik mengkhawatirkan Darnu." Balas Raynor.
"Untuk apa, kakak Darnu sendiri yang salah, tapi aku tidak tahu jika kau sangat kuat."
"Hanya keberuntungan, ya aku beruntung karena sedikit lebih kuat."
"Kau terlalu merendah, Ray."
"Terkadang manusia harus merendahkan diri, karna sebenarnya menjadi sombong tidak memberi untung apa pun."
Raynor pun berjalan pergi untuk membersihkan diri dari semua debu yang tidak membuatnya nyaman.
__ADS_1