
Salah satu sosok yang menjadi Penguasa hutan Jatilowa, binatang iblis tingkat tinggi, Ular putih .
Sama seperti raja serigala merah, makhluk satu ini sangatlah kuat, hanya seorang ahli beladiri tingkat lord tempur saja yang mampu mengalahkan mereka.
Wujudnya berdiri dengan lihat menjulur berulang kali, jika harus dibandingkan dengan sebuah pohon kelapa di sebelahnya, itu hanya separuh badan saja.
"Hei bocah, aku sudah banyak melihat manusia yang mengasah pedang ditempat ini, tapi kau paling berisik dan mengganggu waktu tidurku." Ucap ular putih dengan marah.
"Mau bagaimana lagi, pedang ini sangat keras, berulang kali aku gosok tidak mau tajam." Balas Raynor.
"Memang kau pikir aku peduli ?, Cepat kau pergi atau aku akan membunuhmu."
"Soal itu aku tidak bisa, tujuanku belum selesai."
Jika binatang iblis mencapai tingkat yang lebih tinggi, mereka akan berevolusi dan membentuk kecerdasan spiritual, seperti ular putih ini. Dia mampu berkomunikasi dengan seorang manusia bahkan terdengar sangat lancar untuk marah-marah kepada Raynor.
"Asal kau tahu, jika di sini adalah daerah kekuasaan ku." Ular itu benar-benar marah.
"Maaf kalau begitu, tapi meski kau menginginkan ku untuk pergi, aku tidak bisa meskipun kau mengancam." Balas Raynor dengan wajah tidak perduli.
Tekanan energi yang di tunjukkan oleh ular putih membuat banyak binatang iblis di sekitar hutan dekat muara sungai berlari pergi karena takut. Raynor sendiri bisa merasakan jika binatang iblis ular putih itu berniat membunuhnya.
"Raynor apa yang terjadi ?." Teriak Sania dari kejauhan.
Bersama dengan Erza, mereka berdua segera kembali karena merasakan tekanan aura kuat yang berasal dari satu kehadiran binatang iblis.
"Jangan mendekat, ular ini sangat berbahaya." Sania segera hentikan langkah Erza.
"Kau tahu aku ini berbahaya, tapi kau cukup berani untuk memancing amarahku."
"Kau hanya berbahaya untuk mereka, tapi tidak untukku."
__ADS_1
"Benarkah itu." Ular putih itu datang dan menyerang secepat kilat.
Raynor menggunakan kemampuan ruang tanpa batas, dia menggeser tubuh dan menggunakan badan pedang untuk menangkis sayatan dari sisik tajam yang mungkin mampu mengoyak daging.
Nyatanya memang benar, jika sisik tubuh sang ular putih ini memiliki kekerasan yang tidak biasa, bahkan jauh lebih keras dari batu hitam. Mengetahui hal itu Raynor memikirkan suatu rencana untuk memanfaatkan sisik ular putih.
"Kau terlihat begitu sombong untuk seukuran anak manusia."
"Jangan salah, aku masih menahan diri untuk lebih sombong lagi."
"Memang kau pikir bisa mengalahkan ku, pedangmu saja tidak akan bisa melukaiku, meski besar tapi terlalu tumpul." Ular itu berbicara dengan nada sombong.
"Bukankah kau tahu jika aku sedang mengasah senjata disini, tentu saja pedangku belum tajam."
Raynor melihat kembali pedangnya, mata pedang yang tergores sisik ular menjadi lebih mengkilat, jelas dia harus membuat ular putih marah sehingga datang menyerangnya agar bisa mengasah mata pedang.
"Kalau begitu tunjukan apa Raja penguasa ular putih bisa mengalahkan ku." Dengan senyuman Raynor memprovokasi sang ular.
Dia datang, Raynor mempersiapkan diri dengan ruang tanpa batas, ketika berada satu meter Raynor segera menghindar, menjadikan pedang sebagai tameng, goresan antara mata pedang dan sisik ular mengeluarkan percikan api.
"Kenapa Raynor tidak membalas dengan serangan pedangnya, bukankah itu cukup kuat." Erza bertanya untuk cara bertarung Raynor.
"Tidak bukan Raynor tidak bisa membalasnya, tapi dia sengaja untuk menghindar." Jawab Sania yang memahami setiap tindakan Raynor.
Hanya saja Erza tidak tahu...."Tapi kenapa ?."
"Lihat itu, Raynor menjadikan sisik ular untuk mengasah pedangnya." Sania pun menjelaskan.
"Jadi dia benar-benar sengaja untuk tidak melawan balik."
Raynor terus menerus menghindar setiap serangan dari ular putih dan terus menggoreskan pedangnya disisiknya. Setelah berulang kali pedang itu terasah, Raynor menujukan senyum serius.
__ADS_1
"Sepertinya ini cukup." Bergumam Raynor tersenyum melihat pedangnya.
Ular putih merasa tidak nyaman untuk senyum yang di tunjukan Raynor... "Kenapa kau terlihat begitu senang."
"Tidak, bukan apa-apa, hanya aku sedikit berpikir jika kau sangat berguna."
Kini Raynor sudah mendapat apa yang dia inginkan, terlihat dari sorot matanya berada dalam sikap serius. Tapi memang ketika harus bertarung dengan binatang iblis ular putih tingkat tinggi. Matanya terbuka lebar menyaksikan setiap arah gerakan yang datang.
Meski saat ini Raynor sudah mencapai tingkat pembentukan jiwa, berbeda ketika dia harus melawan raja serigala, Raynor barulah membentuk tenaga dalamnya. Terlebih selama satu bulan penuh menempa pedang dia kini memiliki kekuatan fisik yang jauh lebih besar.
Sebuah gelombang kekuatan tenaga dalam yang tersimpan di tubuh Raynor muncul. Gambaran dari mata sang ular melihat bagaimana tenaga dalam lelaki yang ada di hadapannya melonjak hingga ke langit dengan rambut panjang berkibar ke atas.
"Siapa kau sebenarnya anak kecil." Ular putih itu terkejut bukan main.
"Ya aku hanya bocah kecil yang sedang mengasah pedang, apa itu terlihat aneh ?." Jawab Raynor dengan mengarahkan pedang ke depan wajah sang ular.
Raynor sadar jika dia bertarung dalam kekuatan setingkat pemahaman bumi tidak akan mampu menang melawan sosok ular putih yang setara dengan ahli beladiri lord tempur.
Tapi untuk Raynor sekarang dia tidak perlu membuka segel kekuatan penguasa tertinggi, karena dengan pedang Asarc Rex spatium dia bisa mengalahkan seorang lord tempur, walau tidak mungkin untuk satu serangan telak.
Dia harus mampu membunuh raja ular putih dalam tiga ayunan pedang, lebih dari itu efek pedang berat akan membuat tangannya keseleo.
Sang ular bergerak maju dengan kecepatan tinggi, Raynor menatap tenang menggenggam kuat pedang di tangan. Pengisian energi tenaga dalam memasuki tiga kristal.
Sebuah tebasan pedang besar dari Raynor datang dan saling berhantam dengan kepala ular putih, ledakan gelombang tenaga dalam satu kristal mendorong tubuh ular hingga terpental jatuh.
Serangan Raynor masih belum cukup untuk membunuh sang ular putih, hanya luka besar terbentuk di kepala. Ular putih kembali sadar, memahami jika pedang yang dia anggap tumpul, sebenarnya adalah senjata kuat dan itu bisa menghancurkan keras sisiknya.
"Ya, ini sesuai dengan keinginanku." Raynor tersenyum melihat pedang yang dia pegang sudah sesuai dengan harapan.
Tahu jika ular putih itu tidak mudah untuk mengalahkan lawannya, dia pun berniat pergi. Binatang iblis yang sudah menumbuhkan kecerdasan spiritual mereka tidak lagi terikat dengan insting, tentu berpikir menghindari pertarungan dimana dia akan kalah.
__ADS_1
Tapi sebuah dinding es terbentuk menjaga ular putih agar tidak bisa kabur, di sisi lain, sekali lagi Raynor memusatkan kekuatan dalam satu titik.
Melompat tinggi dan mengayunkan pedang ke atas kepala ular putih, dengan seluruh kekuatan Raynor menancapkan pedang hingga menembus tulang. Melepas ledakan tenaga dalam dari kristal energi kedua, dan seketika darah menyembur dari mulut.