
Satu tempat ditunjukan oleh Lamo ada di luar kerajaan, Raynor membawa Lamo yang sudah kesulitan untuk berjalan dengan mengendong tubuhnya. Di atas bukit kecil sebelah timur dari kota kerajaan Losborn, di sana berdiri sebuah pondok yang terbuat dari batu dan itu akan menjadi tempat untuk Raynor berlatih menempa senjata.
Tempat itu juga yang dulu digunakan oleh Lamo menempa senjata, terlihat cukup tua, bahkan semak belukar mulai tumbuh di dalam pondok, sudah lebih dari tiga tahun ditinggalkan oleh Lamo ketika dirinya berhenti menjadi penempa senjata.
Di dalamnya terdapat tungku api dan alat pembakar manual, meski cukup usang namun semua alat masih berfungsi dengan baik.
"Untuk sekarang, sebaiknya kita membersihkan tempat ini terlebih dahulu." Perintah Lamo.
Sania dan Sisha ikut membantu, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk semua semak-semak dan kotoran dibersihkan oleh mereka bertiga.
"Aku tidak menyangka akan datang ke tempat ini lagi dan mengajarkan keahlianku kepada mu tuan Raynor." Ucap Lamo untuk dirinya sendiri.
"Apa tuan Lamo tidak berniat mengajarkan Sisha menempa senjata." Balas Raynor bertanya.
"Menjadi ahli tempa senjata tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang, selain Sisha masih kecil, dia juga seorang wanita, pekerjaan berat seperti ini haruslah orang dengan fisik yang kuat."
"Aku mengerti, jika nanti Sisha cukup dewasa aku akan mengajarkan ilmu tempa ini agar di teruskan kepada keturunan anda tuan Lamo." Seakan itu menjadi janji yang bisa Raynor berikan.
"Tidak perlu memaksakan Sisha, biarkan dia menjadi apa yang diinginkannya."
"Tapi aku yakin Sisha tidak akan menolak, karena dia tahu, jika dari pekerjaan inilah ayahnya mampu memberikannya hidup."
"Hidup apa yang anda maksud tuan, sedangkan di ujung hidupku, aku hanya membuat Sisha sengsara." Tampak murung untuk jawaban Lamo.
"Sisha tidak akan berpikir seperti itu, aku yakin dia merasa bangga tentang ayahnya."
"Perkataan anda membuatku tidak ingin mati dengan cepat dan meninggalkan Sisha sendirian."
"Sayangnya itu mustahil, maafkan aku, tuan Lamo." Raynor sadar bahwa Lamo tidak bisa di selamatkan.
Lamo menepuk pundak Raynor dan tersenyum penuh makna... "Aku tahu tuan Raynor, jangan merasa bersalah,karena berkat anda, di akhir hidupku ini aku bisa memberi sesuatu yang berguna kepada orang lain dan juga untuk anakku."
"Aku akan melakukan yang terbaik."
Lamo memerintahkan kepada Raynor untuk membeli bahan logam yang ingin dia gunakan, tentu Lamo juga memberi wawasan agar pengetahuan Raynor dalam pembuatan senjata lebih banyak.
Logam yang di jual dalam kota kerajaan ini ada lima macam, dan semakin keras logam itu maka semakin mahal pula harganya.
Logam besi, perunggu, perak, platinum. Berbeda dengan logam baja yang sebenarnya adalah campuran dari berbagai macam logam lain untuk pembentuknya, begitu juga dengan logam pamor, karena tidak sepenuhnya bisa disebut sebagai logam, itu adalah sebuah batu dari angkasa yang memiliki kandungan mineral.
Tujuan Raynor adalah logam pamor, meski logam platinum dianggap sebagai yang terbaik, tapi bagi dirinya kekuatan logam pamor jelas lebih unggul.
Di kerajaan Losborn ini hanya Lamo satu-satunya orang yang tahu tentang keberadaan logam pamor, dimana dia mendapatkan pengetahuan dari gurunya, selama perjalanan hidup Lamo di benua tanah merah hingga benua angin biru tentu banyak pengalaman sudah didapat.
__ADS_1
Sehingga Raynor harus mengikuti instruksi Lamo saat meleburkan batu angkasa agar bisa mendapatkan biji mineral yang terkandung di dalamnya dan ketika bahan terkumpul barulah dia bisa menempa senjata.
Keesokan harinya Raynor pergi ke tempat perdagangan kota sendirian, dia sudah bisa menghafal arah jalan pulang dan pergi. Dia pun melangkah ke sebuah toko yang menyediakan segala berbagai macam logam untuk membuat senjata atau pun aksesoris.
Di depan pemilik toko itu Raynor berkata.
"Tuan seberapa banyak anda memiliki batu angkasa."
"Untuk sekarang aku hanya memiliki 100 kilo, apa anda berniat membelinya."
"Ya tentu, berapa harganya."
"Untuk 1 kilo kami menjual dengan harga 30 koin perak, tentu semakin banyak anda membeli kami akan memberi potongan harga."
"Jadikan itu 20 koin perak untuk satu kilo." Raynor coba menawar.
"Memang seberapa banyak tuan ingin membeli."
"1.000 kilo."
Mendengar jumlah yang terbilang besar membuat pemilik toko itu berpikir serius.
'Anak muda ini ternyata orang kaya, jika aku hanya menjual dengan 20 perak saja, keuntungan yang aku dapat terlalu kecil.'
"Begitukah ?." Pikir Raynor dengan serius.
Dia tahu ada yang di sembunyikan oleh si pemilik toko, namun Raynor tidak bisa menawar lebih banyak. Karena bagaimanapun juga dia adalah orang yang menjual dan dia pula yang memberikan harga.
"Tentu saja tuan, coba tuan hitung potongan 2 perak untuk 1 kilo, dan tuan ingin membeli 1.000 kilo, itu sudah sangat menguntungkan, pedagang yang lain tidak mungkin mau memberi potongan sebanyak itu."
"Aku pikir itu ada benarnya." Raynor sudah mengeluarkan kantong berisi uang.
Tiba-tiba saja dari belakang ada seseorang yang menepuk pundak Raynor, dia menutupi diri dengan jubah dan berbisik padanya agar tidak di dengarkan oleh si pemilik toko.
"Asal kau tahu saja, dia hanya mempermainkan mu untuk harga yang diberikan." Bisik orang itu dan segera pergi.
Raynor segera melihat ke arah orang itu, namun dia berjalan semakin jauh dan lenyap di dalam kerumunan, ini membuat dia penasaran setelah merasakan sesuatu yang cukup akrab.
"Jadi bagaimana tuan ?."
"Tunggu, biar aku pikirkan kembali." Segera Raynor pergi untuk mengejar orang itu.
Wajah si pemilik toko seakan menyesal karena kepergian Raynor dari tokonya.
__ADS_1
Di tempat perdagangan kota ini sangatlah ramai untuk mencari satu orang di tengah kerumunan. Tapi satu kemampuan Raynor bisa melihat keberadaan siapa pun.
Pengendalian ruang tanpa batas.
Energi tenaga dalam Raynor menyebar luar ke segala arah, kehadiran setiap orang di sekitar pun tergambar dalam pikiran, tapi satu sosok yang dia cari berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Raynor kembali mengejar, dan orang itu seperti sengaja menunggunya dengan berjalan pelan.
"Hei kau tunggu." Panggil Raynor.
Dia pun berhenti ... "Apa anda memanggilku tuan."
"Ya tentu, karena aku tidak tahu jika sekarang kau ada di sini."
Orang itu pun membuka jubah yang menutupi kepala, sosok wanita berambut pendek seperti penampilan lelaki dan bersama-sama masuk ke dalam penjara kota Tegalasa.
"Bukan hal penting, aku cukup serius berpikir untuk hidup dengan cara yang kau katakan."
"Oh benarkah, apa kau tidak menjadi bandit dan mencuri uang orang lain lagi."
"Tentu saja tidak, dan juga terimakasih karena kau memberikan jaminan agar aku bebas." Ucap gadis itu dengan senyum malu.
Ketika itu, sebelum Raynor pergi, dia memberi tiga koin emas kepada penjaga penjara untuk membebaskannya. Tapi siapa sangka jika
"Itu bukan masalah, karena aku tahu, kau melakukannya karena keadaan." Jawab Raynor dengan tersenyum juga.
"Meski begitu, mencari uang dengan cara jujur di kota ini cukup sulit dan aku masih belum mendapatkan pekerjaan." Sedikit keluhan darinya.
Raynor terpikir sesuatu, dimana ada yang bisa membantu gadis ini untuk mendapatkan uang.
"Kalau begitu, apa kau ingin bekerja denganku, aku akan membayar mu dengan layak."
"Apa kau yakin."
"Jika kau ragu, kau bisa menolaknya."
"Hanya karena penampilan mu sedikit lebih baik daripada di penjara, kau menjadi lebih sombong."
"Jadi apa mau bekerja denganku ?."
"Baiklah, tapi ingat kau harus membayarku."
"Aku adalah orang yang selalu menepati janji."
__ADS_1
Tentu sang penguasa tertinggi tidak akan salah menilai seseorang, dia tahu bahwa wanita ini sudah berubah dan Raynor tidak ingin usahanya sia-sia.