The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
krasak, krosok


__ADS_3

Keesokan harinya Raynor bersama dengan Sania, dan Erza melakukan perjalanan menuju muara sungai, sungai di hutan Jatilowa ini berujung ke sebuah danau yang menjadi lokasi sekte teratai api.


Ada dua rute perjalanan yang bisa Raynor ambil untuk sampai ke muara sungai, tempat batu hitam berada.


Pertama adalah lewat jalur kota Tegalasa menuju perbatasan kerajaan Soran. Tapi sebelum sampai ke perbatasan mereka harus mengambil jalan lain ke sekte teratai api.


Dan yang kedua adalah melewati bukit dan hutan Jatilowa ke arah tenggara, jalan memotong ke muara sungai.


Diantara dua pilihan itu, rute memotong melewati bukit dan hutan Jatilowa adalah yang tercepat, hanya membutuhkan waktu setengah hari untuk mereka sampai. Tapi memasuki hutan Jatilowa adalah sangatlah berbahaya, ada banyak binatang iblis berkeliaran.


Orang-orang biasa tentu lebih mencari rute aman. Sedangkan Raynor bukan orang biasa, dia lebih bersemangat ketika harus menghadapi tantangan.


Seharusnya memang cukup mudah jika Raynor pergi sendirian, hanya saja, karena kebiasaan tersesat tentu menyulitkan dirinya untuk pulang, meski jarak hanya setengah hari perjalanan ketika melewati hutan Jatilowa, itu bisa menjadi satu Minggu hingga dia kembali ke kediaman Klan harimau merah.


Jalanan bukit yang menanjak dan berbatu membuat mereka bertiga sedikit kesulitan.


Sebagai orang yang tahu arah jalan ke muara sungai Erza berjalan di depan, dengan bantuannya Raynor tidak perlu kerepotan jika harus tersesat di hutan.


Termasuk Sania bisa membantunya mengatasi masalah jika ada beberapa binatang iblis kuat yang ingin mengerang mereka.


"Kenapa kau tidak memiliki jalan dari kota Tegalasa saja Raynor, bukankah itu jauh lebih aman."


"Untuk apa mencari jalan aman, sedangkan jalanan ini jauh lebih menyenangkan."


"Hanya kau yang merasa senang Raynor."


Erza melirik ke arah Sania, nyatanya Sania sendiri tidak menganggap serius perkataannya, hanya tersenyum dan bertanya.


"Apa ?." Ucap Sania karena dia merasakan Erza sedang menatapnya.


Terhembus nafas berat sembari memijat keningnya sendiri...."Apa hanya aku sendirian saja yang merasa dengan isi pikiran Raynor."


Setelah satu bulan Sania berteman dengan Erza, dia bisa tahu bahwa Erza memiliki sifat serius.


"Jangan terlalu dipikirkan Erza, kita hanya perlu mengikuti kemana Raynor akan membawa kita." Ucap Sania dengan tersenyum.


"Aku pikir, disini akulah yang tahu jalan."

__ADS_1


"Tidak bukan seperti itu, kita hanya perlu percaya, jika semua yang Raynor lakukan tidak mungkin membuat kita dalam bahaya."


"Aku tahu, tapi tetap saja....."


Erza hanya bisa pasrah menerima keadaan, dia tidak mungkin menolak keinginan Raynor, berusaha percaya, meski dia tidak tahu bahwa ada banyak binatang iblis sedang mengawasi.


Nyatanya memang benar, selama perjalanan ada puluhan binatang iblis tingkat rendah menyerang, tapi satu persatu tewas oleh Raynor tanpa perlu bantuan dari Sania.


Bahkan Raynor tidak menggunakan pedang besar yang dia bawa, bukan hanya penggunaan senjata berat terlalu terbatas, tapi juga karena daya hancur sangat kuat itu akan bisa membuat pepohonan tumbang.


Sania dengan semangat mengambil dan mengumpulkan semua batu jiwa binatang iblis yang sudah Raynor kalahkan, tidak perlu menunggu lama satu kantong hampir terisi penuh.


"Raynor, kita cuma bermain-main saja sudah mengumpulkan banyak batu, bagaimana kalau kita berburu semua binatang iblis di hutan ini, aku yakin akan sangat menguntungkan." Ucap Sania menunjukan isi kantong yang dia bawa.


"Nia, kita datang kemari bukan untuk bermain-main, tapi kita sedang menuju lokasi muara sungai dan juga, jika kita bunuh semua binatang iblis di tempat ini, aku yakin mereka bisa punah." Jawab Raynor.


"Aku tahu itu." Balas Sania dengan menggerutu.


Sania tidak pernah bepergian untuk memburu binatang iblis, sebagai seorang putri terpandang salah satu dari empat klan besar, dia benar-benar dijaga oleh ayahnya.


Sedikit ingatan Raynor ketika dia pertama kali bertemu dengan Siva, mereka adalah sosok tuan putri yang tidak pernah menikmati petualangan, sehingga Raynor bisa paham kenapa Sania begitu bersemangat.


Muara sungai yang disebutkan oleh tuan Lamo dan Erza adalah tempat berkumpulnya anak sungai lain di ujung hutan Jatilowa ini.


Termasuk pula ada air terjun yang jatuh dari atas tebing wilayah kekuasaan kerajaan Soran dan terhubung dengan muara tempat mereka berada.


"Kau mengatakan jika tempat ini tidak jauh dari danau sekte teratai api." Bertanya Raynor.


"Ya itu benar, kita hanya perlu mengikuti jalur sungai lain hingga keluar hutan Jatilowa, dan kau akan menemukan danau tempat sekte teratai api berdiri."


Sekte teratai api bukan milik kerajaan Losborn atau pun kerajaan Soran, mereka berdiri sendiri tanpa diperintah oleh kekuasaan lain. Seperti halnya dengan kuil lembah besar, sekte teratai api adalah kekuatan yang tidak bisa kerajaan Losborn singgung.


"Hmmm bagaimana menurut mu soal sekte teratai api." Raynor cukup tertarik dengan itu.


"Jika kau bertanya tentang pendapatku, sekte teratai api adalah tempat yang tepat untuk para ahli beladiri memperdalam ilmu mereka kepada para guru besar."


"Memang siapa para guru besar itu, apa mereka kuat ?."

__ADS_1


Erza terkejut, kejutan itu karena Raynor tidak tahu soal sekte teratai api yang sangat terkenal di daratan timur.


"Tentu saja mereka kuat, mereka adalah para ahli beladiri tingkat lord tempur, kau tentu tahu seberapa kuat lord tempur itu." Jawab Erza dengan serius.


Raynor sedikit berpikir... 'Jika lord tempur saja sudah mereka panggil sebagai guru besar, lantas bagaimana denganku yang sudah mencapai tingkat dewa yang mulia.'


Lepas dari rasa penasarannya dengan sekte teratai api.


Raynor sudah melihat bongkahan batu hitam sebesar lima meter di sekitar air terjun. Memang benar batu itu terlalu besar untuk dibawa pulang.


"Kalian berdua bisa beristirahat, mandi atau mengisi waktu luang sampai aku selesai mengasah pedang." Ucap Raynor.


"Baiklah Ray,, jika kau memerlukan bantuan tinggal bilang saja." Jawab Sania yang berjalan cukup jauh untuk bersantai.


Berdiri di samping batu hitam, tangan Raynor mengeluarkan kilatan cahaya dan menjadi sebilah pedang besar Asarc Rex spatium.


Raynor meletakkan pedang besar Asarc diatas batu hitam, dia mulai mengalirkan semua tenaga dalam di tangan dan menarik pedangnya secara cepat.


Kekuatan dari gesekan pedang di atas batu hitam saat mengasah terdengar melengking keras hingga memekikkan telinga, percikan api dan gelombang kejut seakan menjadi sayatan angin yang membekas di dinding tebing.


Setelah sepuluh kali gerakan Raynor mengangkat pedang ke atas, dia melihat hasil dari asahannya.


"Masih belum." Raynor merasa kesal.


Sekali lagi Raynor mengulangi dan terus mengulangi asahan hingga puluhan kali. Tanpa terasa sudah dua jam berlalu, tapi tidak mendapat hasil memuaskan.


Walau pun pedang Asarc saat ini sudah mengalami perubahan, itu belum cukup karena ketajaman pedang tidak sesuai harapannya.


Belum selesai Raynor dengan urusan pedang, dia merasakan satu sosok yang memiliki aura kuat datang menuju ke arahnya. Makhluk itu bergerak cepat dan menumbangkan pepohonan ketika dia bergerak.


Sesosok ular putih besar muncul dan menunjukan kekuatan tidak biasa, dia binatang iblis tingkat tinggi, sama kuatnya dengan raja serigala merah yang Raynor bunuh dulu.


"Hei, hei, hei, berapa kali kau akan melakukannya, kau membuatku tidak bisa tidur... krasak, krosok, krasak, krosok, seak, seok, Seak, Seok, berisik tahu." Suara dari sang ular menggema ke segala arah.


Raynor tersenyum penuh semangat, dia tahu bahwa binatang iblis kelas rendah hanya memiliki insting untuk mencari makan. Tapi ular putih yang datang adalah binatang iblis tingkat tinggi.


"Binatang iblis tingkat tinggi yang berevolusi untuk menumbuhkan kecerdasan spiritual." Gumam Raynor melihat sosok ular yang berbicara itu.

__ADS_1


Bisa dipastikan bahwa satu makhluk ini adalah sosok raja penguasa dari hutan Jatilowa, dan yang terpenting lagi, dia memiliki batu jiwa.


__ADS_2