
Raynor di bawa ke istana utama, dimana di sanalah dia diminta untuk bertemu dengan Guru Gundira, walau pun dia sendiri memang memiliki niat pergi menemuinya dan membahas soal Rezar.
Tapi karena wilayah sekte teratai api cukup luas dan memiliki banyak tempat, Raynor tidak yakin akan menemukan Gundira dalam satu hari, itu pun jika dia tidak tersesat.
Kehadiran Senior Du Gong mempermudah Raynor, dia tidak perlu repot-repot mencari petunjuk arah dan tidak pula takut untuk salah masuk ruangan.
"Aku mendengar tentang mu dari Zuang Wu Zang." Ucap Du Gong.
"Apa itu tentang hal-hal baik." Balas Raynor.
Du Gong tertawa-tawa..."Sepertinya tidak, karena dia bercerita dengan wajah yang begitu kesal."
"Aku bisa membayangkannya."
"Jadi, apa kau membuat permusuhan dengan Zuang."
"Aku tidak berniat melakukannya, tapi dia sendiri yang mulai menunjukkan sikap buruk di depanku." Jawab Raynor memberi alasan.
"Oh, oh, kau termasuk lelaki yang tidak ingin di usik oleh orang lain."
"Begitulah, kecuali jika yang mengusik ku seorang wanita, aku tidak akan menolak." Jawab Raynor dengan tertawa.
Secara tiba-tiba suara Du Gong yang sebelumnya terdengar ramah, kini terdengar serius... "Tapi apa kau tahu Rayhan."
"Aku Raynor." Koreksinya.
"Ya begitulah, aku tidak pernah menerima apa pun perkataan orang, juga bukan aku yang melihat sendiri." Du Gong tidak merasa report untuk mengubah panggilan Raynor.
"Jadi ?, Apa kau ingin mengujiku seperti Zuang."
"Itu tidak perlu, karena dari awal aku melihatmu, aku merasa yakin kau sama kuatnya dengan para pilar utama sekte teratai api ini." Jawabnya dengan memuji.
Raynor tersenyum sendiri, dia tidak merasa senang untuk anggapan Du Gong tentang kekuatannya, dimana sepuluh pilar hanya seperti seorang bayi yang baru belajar merangkak, sedangkan Raynor sudah bisa jungkir balik.
Du Gong memang tidak menunjukkan permusuhan, atau sikap arogan seperti halnya Zuang. Tapi bagi siapa pun yang berada dekat di sekitarnya, tentu bisa merasakan ada tekanan kuat menimpa tubuh mereka.
Itu adalah energi bawaan yang keluar dari tubuh Du Gong. Hal ini memang jarang terjadi, ketika tubuh manusia mampu memproduksi energi, sedangkan kapasitas tubuh mereka tidak mampu menampung semuanya.
Penguasa tertinggi menyebut keanehan di tubuh Du Gong ini sebagai Tubuh kaisar.
Entah itu dianggap kelebihan atau kekurangan, dimana bagi orang-orang yang tidak memahami karakteristik tubuh milik Du Gong, mereka akan menganggap dia sedang mengeluarkan aura kemarahan.
Sedangkan di sisi lain, Du Gong mendapatkan kelebihan dengan fisik yang jauh lebih kuat diatas rata-rata manusia biasa.
__ADS_1
Ketika Du Gong bersama dengan Raynor, Raynor tidak menunjukkan sikap takut dan itu membuatnya merasa senang. Karena jarang untuk dia berbicara santai kepada orang lain.
Memasuki sebuah ruangan yang berada di bagian dalam istana utama, beberapa orang sudah berkumpul di sana dan satu orang tua bertubuh besar duduk bersila di depan mereka.
Du Gong segera membungkuk, tapi tidak untuk Raynor, dia hanya mengangguk sebagai tanda menyapa kepada Gundira.
"Du Gong kau terlalu lama mencari Raynor, apa sebegitu sulit untuk menemukannya." Ucap Gundira tegas.
"Maaf, tuan guru, tapi aku memang kesulitan mencari Rojak."
"Aku Raynor." Koreksinya kembali.
"Ya Ranor."
"Terserah lah." Pasrah Raynor menerima kondisi Du Gong.
Kembali Du Gong menjelaskan... "Aku coba bertanya kepada murid di asrama, tapi mereka masih belum mengenalnya, dan juga saat aku bertanya sebagian besar dari mereka pergi ketakutan."
"Sudahlah tidak perlu kau jelaskan lebih detail, kau segera kembali bermeditasi."
"Baik tuan guru." Jawab Du Gong yang mengambil posisi di sebelah murid-murid lain.
Gundira bangkit dan berjalan ke tempat Raynor, melangkah perlahan selagi memperhatikan setiap muridnya dalam berlatih meditasi.
"Kenapa tuan Gundira bertanya kepada seorang murid seperti ku."
Gundira menepuk pundak Raynor dengan tertawa...."Tidak perlu menyembunyikan diri Raynor, sejak awal aku melihatmu mengacaukan tugu artefak pengukuran di klan harimau merah, aku sudah paham jika pemahamanmu sangatlah tinggi."
"Tuan Gundira terlalu banyak memuji, karena itu bukan hal istimewa, aku hanya sedikit mengubahnya saja." Raynor masih merendah diri.
"Untukmu itu mungkin tidak istimewa, tapi bagiku sendiri kemampuan mu jauh diatas ku soal rangkaian formasi prasasti."
Raynor memahami pertanyaan Gundira, dia secara sengaja membawa Raynor untuk melihat bagaimana setiap murid-muridnya berlatih, karena dia cukup yakin bahwa Raynor bukan sosok biasa.
"Baiklah jika kau tidak berniat menjelaskan apa pun tentang dirimu, tapi aku merasa kau datang ke sekte ini bukan untuk berlatih." Gundira merasa paham.
"Kenapa tuan Gundira mengatakan itu."
"Jika memang kau memiliki niat untuk berlatih, akademi pedang suci jauh lebih baik dari pada sekte teratai api, karena disana kau akan mendapat ajaran langsung dari kaisar pedang naga Elonel, tapi kenapa kau memilih disini, tentu ada alasannya."! Gundira cukup cerdas untuk mengetahui tujuan Raynor.
"Aku tidak bisa menyembunyikannya, itu benar. Aku disini untuk meminta kejelasan soal Ayahku, Rezar."
Mengangguk kepala Gundira... "Baiklah ikut aku."
__ADS_1
Raynor kembali di bawa pergi menuju satu ruangan yang menjadi tempat pribadi bagi Gundira. Meski terasa aneh untuk sebuah pembicaraan soal Rezar seakan terdapat suatu rahasia.
"Apa kau tahu soal sekte iblis tanah neraka." Bertanya Gundira serius.
"Sedikit, aku sempat membaca beberapa buku yang menjelaskan tentang sekte iblis tanah neraka, dimana mereka kalah oleh kaisar pedang naga Elonel dua puluh tahun silam." Perjelas Raynor.
"Ya itu benar, tapi ada beberapa hal yang harus kau ketahui, jika saat peperangan melawan sekte iblis tanah neraka, kaisar pedang naga tidak sendirian, dia bersama Rezar dan para ahli beladiri benua angin biru."
Gundira pun menjelaskan, jika dua puluh tahun lalu, sekte iblis tanah neraka memproklamirkan diri untuk memusnahkan semua kerajaan di benua angin biru, nyatanya itu bukan sekedar omong kosong.
Dia membangkitkan sosok abnormal yang dimana dalam dunia antah berantah ini disebut sebagai Raja iblis, dan mereka berhasil melakukannya.
Kebangkitan raja iblis itulah menjadi awal kehancuran bagi banyak kerajaan di wilayah selatan, bahkan sisa-sisa bencana itu masih bisa terlihat. Sebuah kerajaan lenyap karena menjadi korban tumbal untuk raja iblis.
Ketika benua angin biru semakin kacau, para ahli beladiri di penjuru benua pun berkumpul, mereka menggabungkan kekuatan untuk memusnahkan sekte iblis tanah neraka dibantu oleh Kaisar pedang naga.
"Lantas, apa karena Ayahku ikut ambil bagian dalam perang itu, mereka datang ke desa Maresha untuk membalas dendam."
"Menurut ku bukan itu, karena saat Rezar datang kemari dia menitipkan ini." Gundira mengambil sebuah kotak yang tersimpan secara rahasia di balik rak buku.
Sebuah batu merah yang mengeluarkan cahaya cerah dan memiliki energi gelap begitu murni. Mata Raynor terbuka lebar dia sendiri tahu apa itu.
"Batu Darah iblis." Ucapnya pelan.
"Kau tahu tentang batu ini."
"Ya, karena aku sempat melihat tulisan Ayahku mengenai batu darah iblis." Sebenarnya tidak, pengetahuan penguasa tertinggi lah yang mengetahui jenis dari batu merah itu.
"Rezar lah yang mengambil batu ini dari tubuh raja iblis setelah kalah melawan Kaisar pedang naga."
"Jadi begitu." Raynor mengangguk paham.
"Aku cukup yakin, jika kematian ayahmu dan seluruh desa Maresha, karena ada salah satu pengikut sekte iblis tanah neraka mencari batu yang Rezar ambil."
Batu darah iblis sendiri dibuat menggunakan rangkaian formasi prasasti pengorbanan jiwa, sehingga bisa dipastikan satu kerajaan yang lenyap karena di korbankan untuk membuatnya.
"Apa tuan Gundira tahu, siapa pengikut sekte iblis tanah neraka itu."
"Aku tidak yakin, tapi menurut kabar, pemimpin kelompok bandit Taring Hitam adalah salah satunya."
Ini seperti perkataan Erza sebelumnya, dimana pemimpin kelompok bandit Taring Hitam memiliki asal usul tidak biasa, dan ada kemungkinan juga sebagai pembunuh Rezar.
Kini Raynor tahu kemana harus pergi, begitu juga hubungan antara bandit Taring Hitam dan kerajaan Soran kemungkinan berkaitan dengan sekte iblis tanah neraka.
__ADS_1