The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Kepergian Sania


__ADS_3

Semua keluarga klan harimau merah mengantar Sania hingga gerbang keluar kota kerajaan Losborn, termasuk juga kehadiran Raja Sura dan Putri Siva sebagai bentuk ikatan baik antara mereka berdua kepada Sania.


"Nia baik-baik lah kau disana, berlatih keras agar mampu melindungi keluarga kita dengan kekuatanmu nanti." Regar menahan isak tangis di depan Sania.


"Aku mengerti Ayah, jaga kesehatan jangan sembarangan makan sesuatu yang tidak jelas." Balas Sania seakan paham dari raut wajah ayahnya.


"Memang kau pikir ayahmu ini orang seperti apa makan sembarangan ?."


"Paling tidak Nia ingin ayah tetap sehat." Balas Sania.


"Ayah tahu itu."


Kini giliran Furan yang datang untuk memberi salam perpisahan sebelum Sania pergi.


"Kakak, jangan sampai membuat Raynor kesal, ingat bahwa jika bukan karena dia entah apa jadinya kakak." Ucap Sania merasa lega melihat Furan sudah kembali sehat.


"Aku tahu Nia, tidak mungkin aku melakukannya."


"Dan juga, soal pendaftaran di sekte teratai api, kakak pasti bisa."


"Ya, kakak akan berusaha, mulai dari ini, kakak ingin menjadi sosok yang bisa kau andalkan." Jawab Furan dengan tegas.


"Terimakasih kak." Balas Sania tersenyum.


Perjalanan dari daratan timur menuju daratan tengah cukuplah panjang, jika berjalan kaki Sania dan ketiga murid akademi pedang suci akan membutuhkan waktu hingga satu bulan.


Belum lagi mereka harus melewati hutan Jatilowa, pegunungan, dan lembah untuk melewati perbatasan wilayah timur.


Ada banyak binatang iblis tingkat tinggi dalam jumlah yang cukup banyak, tapi dengan penjagaan ketiga murid akademi pedang suci keselamatan Sania sangat terjamin.


Tapi secara khusus ketiga murid akademi pedang suci itu membawa kereta kuda untuk mempersingkat waktu perjalanan mereka.


Sebelum Sania pergi, secara khusus Raynor memberikan sebuah bingkisan panjang dengan selimut kain putih.


"Apa ini Ray ?."


"Nasi bungkus... Jelas bukan, ini hadiah untukmu." Jawab Raynor.


Sania menerima pemberian Raynor, dia pun segera membukanya dengan wajah tersenyum cerah, cukup terkejut ketika Sania melihat isi di dalam hadiah itu. Sebilah pedang biru yang hampir mirip dengan miliknya, tapi jelas bentuknya berbeda karena logam pembuatannya adalah logam pamor.


Ditambah lagi dengan ukiran rangkaian formasi prasasti sepuluh lapis dan batu kristal seperti yang digunakan dalam pedang besar milik Raynor.


"Apa kau yakin memberikan ini kepadaku Ray." Sania merasa tidak percaya.


"Jika kau tidak mau biar aku ambil kembali." Raynor berniat mengambilnya kembali.


"Siapa yang bilang, tentu saja aku mau." Sania jelas tidak menolak.


"Ingatlah untuk tidak menjual pedang ini."


"Tidak mungkin aku melakukannya, karena kau jelas sudah membuatkan untukku. Tapi berapa harga jika aku menjualnya." Balas Sania bertanya hal lain.


"Dua ribu koin emas, bahkan mungkin lebih." Jawab Raynor.


"Woooaaahhhhh...."


Raynor seakan paham cara terkejut Sania...."Ingat jangan dijual."


"Aku mengerti Ray, dan juga terimakasih."


Tidak peduli soal pendapat orang lain, Sania langsung saja memberi Raynor sebuah pelukan sebelum mereka berpisah, tapi di mata semua orang tentu itu hanya sebatas bentuk persahabatan antara keduanya.


"Apa sudah selesai ?, Sebaiknya segera kita untuk berangkat." Ucap Jiang Wei kepada Sania dari kereta kuda.


"Baik senior."


"Jaga dirimu Ray, tunggu aku kembali."


"Tentu saja, kau juga Nia." Jawab Raynor.


Sania pun naik dan melambaikan tangan selagi kereta kuda berjalan pergi, terlihat wajah sedih dari Regar ketika harus melepas Sania untuk berlatih di tempat yang jauh.

__ADS_1


Tidak ada rasa khawatir untuk Raynor pikirkan, jika pun ketiga murid akademi pedang suci itu memiliki niat jahat, kemampuan Sania sudah cukup mampu mengalahkan mereka sendirian.


Terlebih lagi ada Wilea jiwa Phoenix biru yang akan menjaga Sania jika nyawanya dalam bahaya. Ketika jiwa Phoenix biru dilepaskan maka kekuatan nyata Sania berada di tingkat yang sama dengan ahli beladiri lord tempur.


*******


Beberapa hari setelah kepergian Sania menuju akademi pedang suci.


Kini giliran Raynor berangkat menuju sekte teratai api, bersama dengan Furan, Siva dan Erza, mereka berempat sudah memiliki niat untuk mendaftar di sana.


Perkembangan tenaga dalam Furan sudah sepenuhnya pulih bahkan semakin meningkat pesat dengan bantuan konsultasi dari Raynor.


Tapi berbeda dengan Erza dan Siva, mereka berdua tidaklah benar-benar tertarik belajar di sekte teratai api, lebih seperti keinginan mengikuti kemana Raynor pergi, karena Erza jelas sudah membulatkan tekad untuk tetap dekat bersama lelaki yang dia cintai.


Ada empat perguruan beladiri di daratan timur selain sekte teratai api, mereka adalah....




Istana beladiri timur.




Perguruan angin biru.




Sekte lima aliran pedang.






Hanya saja, jika bicara tentang peringkat perguruan beladiri terbaik di benua angin biru, sekte teratai api masihlah yang terkuat di wilayah daratan timur.


Para generasi muda atau pun generasi tua dibawah Lima puluh tahun berdatangan sekte teratai api saat hari ke dua belas bulan lima dari kalender matahari untuk mengikuti ujian masuk demi menjadi bagian pengikut sekte.


Sudah terlihat begitu banyak para ahli beladiri di sekitar danau Cicaban, mereka tidak hanya berasal dari kerajaan Losborn saja, kerajaan Soran, kerajaan Balasumpang, kerajaan Reskna dan kerajaan lain di wilayah timur pun berdatangan.


"Aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua untuk ujian ini." Erza terlihat murung ketika merasa lebih lemah dari para ahli beladiri yang lain.


"Begitu juga denganku, sangat sombong jika aku menganggap remeh semua orang disini." Siva pun terbawa suasana dari perkataan Erza.


"Jangan bicara seperti itu, Erza, Siva. Kalian sudah aku latih keras dengan teknik-teknik khusus yang aku miliki, tidak peduli siapa lawannya, kalian pasti menang." Balas Raynor memberi semangat.


"Aku akan berusaha, jika itu bersama denganmu aku tidak akan menyerah." Siva pun merasa termotivasi.


"Tapi maaf Siva, aku sudah memiliki undangan khusus untuk melewati semua ujian masuknya." Balas Raynor.


"Apa-apaan itu, kau curang Ray."


"Ini bukan curang, mereka jelas mengakui kemampuan ku.... Ya semua menjadi sangat mudah tanpa perlu melakukan ujian." Jawab Raynor tersenyum sendiri.


Raynor tidak perlu mengikuti ujian seperti para pendatang itu, dia memiliki lencana yang diberikan langsung oleh guru besar Gundira untuk menjadi murid bagian dalam.


Dia pun berjalan ke tempat penjaga pintu masuk sekte teratai api, tapi sikap para murid yang di tugaskan sebagai penjaga itu terlihat kurang senang melihat Raynor datang.


"Apa yang kau inginkan ?, Ujian masuk akan segera dimulai, jadi kau harus menunggu." Satu penjaga bertanya dengan sikap tegas.


"Ujian ?, Aku tidak perlu melakukannya." Jawab Raynor tersenyum.


"Memang siapa kau, setiap orang yang ingin memasuki sekte teratai api, harus lulus dari ujian nanti."

__ADS_1


Tapi tangan Raynor diangkat untuk menghentikan ocehan mereka..."Aku memiliki undangan khusus dari guru besar Gundira."


Kedua murid penjaga itu tertawa terbahak-bahak.... "Itu tidak mungkin, guru besar Gundira, tidak pernah memberi rekomendasi kepada siapa pun. Bahkan jika kau adalah anak seorang raja."


"Tapi apa yang aku katakan itu benar. "


"Kalau begitu tunjukan kepada kami."


Raynor segera merogoh kedalam saku jubahnya, sebelah kiri atau pun kanan, merasa aneh karena tidak dia temukan di kedua sakunya itu.


Beralih ke saku celana, depan atau pun belakang tapi tetap tidak ada juga, bahkan ketika dia coba mengecek di bagian dalam celana, tangannya meraba-raba hanya menemukan senjata khusus yang biasa bergelantungan di sana.


"Bagaimana ?, Apa kau sudah menemukannya." Bertanya penjaga itu terlihat meremehkan.


Tertawa Raynor sendirian... "Sepertinya tertinggal di rumah."


"Jangan banyak alasan, kau pergi dan baris di tempat para peserta ujian."


Raynor menolak ...."Tapi aku yakin jika Guru besar Gundira datang melihatku. Dia akan membiarkan aku masuk."


"Guru besar Gundira sedang sibuk, jadi jangan berharap jika beliau akan meluangkan waktu untuk orang biasa saja seperti mu." Balas penjaga dengan kesal.


"Tapi...."


"Tolong, jangan pancing emosi kami, kau harus tahu jika kami sampai marah aku tidak akan segan-segan mencoret nama mu dari ujian ini." Ancaman datang.


"Baiklah ..." Raynor tidak punya pilihan.


Raynor tidak bisa membantah apa pun soal itu, dia berjalan pergi dengan wajah menunduk lemas. Erza jelas merasa aneh ketika melihat sikap Raynor yang tersenyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.


"Ada apa Ray, kenapa kau kembali lagi, bukankah harusnya kau sudah masuk ke sekte." Erza merasa aneh untuk sikap Raynor.


"Aku meninggalkan lencana rekomendasi dari guru Gundira di rumah." Jawab Raynor dengan tertawa lemas.


"Bagaimana mana mungkin kau meninggalkannya, padahal itu sangat penting."


"Mau bagaimana lagi, aku terburu-buru dan lupa jika sebelum berangkat aku menaruh lencana teratai api itu di atas meja."


"Hmmm, jadi apa kau akan kembali ke klan harimau merah untuk mengambilnya ?." Balas Erza.


"Itu tidak perlu, karena disini aku hanya harus menyelesaikan ujian untuk memasuki Sekte, tentu tidak terlalu sulit, bahkan sangat mudah." Raynor memiliki percaya diri tinggi.


"Jika kau beranggapan seperti itu, aku pun tidak melarang mu." Siva seakan paham dari mana kepercayaan diri Raynor.


Dia tidak perlu menggunakan lencana rekomendasi dari guru besar Gundira, karena kehadirannya di sekte teratai api bukan untuk berlatih melainkan mencari informasi tentang Rezar, ayahnya.


"Bukankah itu pangeran kerajaan Balasumpang, Erdan Xersas."


"Dan di belakang pangeran itu adalah putri Erdian Xersas adiknya."


"Ada lagi putra jendral Zernad dari kerajaan Soran, Regun."


"Dia bersama Putra ke tiga dari Raja Greedan Soulland, Pangeran Zezan Soulland."


"Dan jangan lupa, di sana ada putri Siva Elvord, putri raja Sura kerajaan Losborn."


"Memang benar jika sekte teratai api memiliki reputasi besar di daratan timur, banyak generasi muda yang cukup terkenal ingin berlatih di tempat ini."


Semua orang terkagum-kagum untuk kehadiran putra dan putri kerajaan, sebagaimana di ketahui oleh mereka, jika nama para pangeran dan putri kerajaan tidak hanya terkenal karena menjadi anak dari penguasa sebuah kerajaan.


Tapi tingkat kekuatan yang mereka miliki pun berada di atas rata-rata ahli beladiri pada umumnya, bisa di katakan jika itu adalah bakat, kejeniusan, atau pun sumber daya melimpah untuk di gunakan demi mendapatkan peningkatan kekuatan tenaga dalam agar lebih efesien.


"Apa hebatnya mereka semua itu, kita yang berlatih keras untuk sampai di tingkat seperti sekarang, harusnya mendapat apresiasi lebih." Ucap Raynor mengejek setiap orang yang dikagumi oleh mereka semua.


"Jangan merasa iri Ray, aku yakin kita bisa mengalahkan mereka." Siva pun menjawab ucapan Raynor.


"Tentu saja, bahkan dengan satu tamparan itu sudah cukup membuat leher mereka patah."


"Paling tidak kau harus menahan diri."


Di ujian masuk sekte teratai api ini, tidak peduli siapa mereka, masing-masing adalah lawan yang bersaing untuk memperebutkan tempat sebagai murid sekte.

__ADS_1


__ADS_2