The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
jangan panggil aku paman


__ADS_3

Seperti yang gadis kecil itu janjikan untuk membawa Raynor ke tempat ayahnya, tentu Sania pun ikut dengan mereka, karena dia tidak ingin meninggalkan Raynor, begitu pula Raynor akan kerepotan jika Sania tidak ada.


"Gadis kecil siapa namamu."


"Aku Sisha, kalau paman dan kakak cantik ini siapa ?."


"Kenapa kau memanggilku dengan sebutan paman dan Sania kakak cantik, apa aku terlihat setua itu."


Sania menutupi mulut untuk menyembunyikan tawanya setelah mendengar ucapan Sisha karena terdengar mengejek Raynor.


"Panggil aku kakak tampan, atau kakak Ray, itu lebih baik."


"Itu terasa aneh, aku lebih senang memanggil paman dengan sebutan paman."


Pasrah saja Raynor mendengar panggilan dari Sisha..."Terserahlah."


Sisha adalah anak perempuan dari seorang mantan ahli tempa senjata, dia pun hanya lima tahun lebih muda dari Raynor, tapi bisa dirasakan telapak tangan gadis sekecil itu begitu kasar, Sisha menunjukan perjuangan hidup dari seorang anak kecil yang begitu berat.


Sisha membawa mereka ke perbatasan sebelah tenggara dari kota kerajaan Losborn, dimana tempat yang di datangi oleh Raynor adalah kawasan kumuh atau tempat orang-orang buangan hidup.


Disinilah wilayah kota kerajaan Losborn yang paling keras, mereka harus bertahan hidup dengan segala cara bahkan jika itu adalah kejahatan.


Bisa terlihat hampir semua penduduk di kawasan kumuh itu terbuat dari anyaman rotan, ada pun pekerjaan mereka hanya sebatas buruh angkut barang, pedagang kecil, pelacur, pengemis, perampok, pembunuh bayaran dan perdagangan budak.


Gadis sekecil Sisha harus hidup di tempat yang begitu kejam, tapi ini adalah kenyataan, Sisha harus bisa menerimanya tanpa berhak untuk menawar.


Setiap pandangan mata tertuju kepada Raynor dan Sania, mereka-mereka adalah para bandit yang memiliki niat buruk kepada siapa saja demi mendapatkan uang.


Tapi bisa dipastikan tidak ada yang berani mengusik Sania, dimana mereka tahu jika itu dilakukan, mereka akan mendapat masalah dari klan harimau merah.


"Paman kita sudah sampai."


Raynor dan Sania dibawa ke sebuah rumah kumuh yang hampir roboh, tidak ada jendela atau pun pintu termasuk atap berlubang di semua sisinya. Lebih mirip lempengan kayu saling tersusun hingga berbentuk persegi, namun sedikit mirip dengan jajar genjang.


Jika seekor ternak dimasukan kedalam rumah ini, ternak itu akan menolak dan lebih memilih tidur kandang, karena tidak ada bedanya antara rumah Sisha dan sebuah kandang.


Sisha juga tidak pernah berpikiran untuk mengunci pintu, karena tidak harta berharga yang bisa dicuri dari rumah mereka, jika pun ada pencuri datang, maka pencuri itu akan merasa kasihan sendiri.


Di depan rumah itu, Sisha segera berlari masuk penuh semangat. Sedangkan Raynor dan Sania masih menunggu di luar.


"Ayah... Ayah... Lihat aku mendapatkan uang yang banyak." Teriak Sisha dengan suara bahagia.


Saat itulah seorang lelaki tua bertubuh kurus melangkah keluar dengan perlahan-lahan dari dalam kamar, meskipun itu tidak bisa di sebut kamar, hanya sebuah pembatas untuk memisahkan rumah menjadi dua bagian.


"Kenapa kau berteriak-teriak Shisa."

__ADS_1


"Ayah lihat ini, ada paman membeli pisau kita dengan koin emas."


Ayah Sisha tertegun, mata tua itu berkilauan dan hampir menangis ketika melihat sepuluh keping koin emas yang diberikan oleh anaknya.


"Keajaiban, siapa yang memberikan uang sebanyak ini, dia sangat dermawan."


"Paman yang memberikan uang ini ada di luar."


"Bawa mereka masuk Shisa."


Mendengar suara Sisha dan ayahnya itu, Raynor hanya tersenyum sendiri dengan perasaan rumit.


"Padahal sudah aku katakan untuk tidak memanggil ku dengan sebutan paman."


Sania yang masih tertawa melihat ekspresi Raynor mulai menepuk pundaknya dan berkata "Sudahlah, dia hanya anak kecil, jadi jangan marah paman."


"Kau juga Nia, jangan menyebutku paman."


"Sudahlah ayo kita masuk."


Untuk seorang lelaki yang baru memiliki satu anak perempuan, ayah Sisha terlalu tua, entah karena memang dia menikah di usia tua atau ada hal lain terjadi dengan tubuhnya.


"Maafkan aku tuan dermawan karena harus datang di tempat kumuh seperti ini."


"Jangan pikirkan hal itu tuan, dan juga aku memiliki alasan untuk bertemu dengan anda."


Sebelum Raynor menyebutkan tujuannya, Sisha datang dengan tiga cangkir air putih yang di berikan sebagai bentuk suguhan.


"Ini air untuk paman dan kakak cantik." Ucap Sisha yang tersenyum penuh kepolosan.


"Terimakasih dan tolong jangan panggil aku paman, aku hanya lima tahun lebih tua darimu, gadis kecil." Berkata Raynor yang tidak nyaman untuk panggilannya.


"Baik, paman."


"Ah, sudahlah lupakan." Pasrah saja mendengar panggilan Sisha.


Ayah Sisha menyebutkan diri dengan nama Lamo, seorang mantan murid ahli tempa senjata dari benua tanah merah.


"Maaf jika kami hanya memiliki air putih untuk anda tuan."


"Ini sudah cukup tuan Lamo, jangan merepotkan diri."


"Lantas apa menjadi tujuan anda datang ke rumah kami tuan muda."


Raynor menunjukan pisau yang dia beli dari Sisha sebelumnya dan berkata.

__ADS_1


"Setelah melihat pisau ini, aku ingin meminta anda membuatkan sebuah pedang untukku." Jawab Raynor dengan tersenyum.


Lamo tertawa, dia menertawakan dirinya sendiri karena tahu bahwa tujuan Raynor sangat mustahil untuknya lakukan.


"Maaf tuan muda, bukan aku tidak mau menerima permintaan anda, tapi dengan kondisi yang aku alami sekarang, mengangkat palu kecil pun aku tidak mampu, apa lagi membuat pedang." Balas Lamo dengan perasaan yang campur aduk.


Mendengar jika itu adalah sebuah kondisi yang membuat Lamo kesulitan untuk membuat senjata, tentu ada sesuatu terjadi kepada dirinya.


"Bolehkah aku melihat kondisi anda, jika ini masih dalam kemampuanku, aku akan mengobati anda."


"Jangan memberikan aku harapan tuan, sudah lima tahun sejak penyakit ini menggerogoti tubuhku, semua hartaku habis untuk berobat, tapi hasilnya tidak ada." Lelaki tua itu sangat tenang dengan senyuman yang berat.


"Karena itu aku ingin memastikan bahwa seperti apa penyakit anda."


Sania tidak tahu jika Raynor memiliki pengetahuan untuk mengobati seseorang, tentu ini terlalu luar biasa, seakan semua bisa dilakukan olehnya.


Lelaki tua itu berbaring diatas ranjang beralaskan jerami, Raynor memegang tangan dan mengalirkan sedikit energi tenaga dalam untuk masuk melalui syaraf.


Seakan sudah mengetahui sesuatu, Raynor hanya menggelengkan kepala, menunjukan perasaan menyesal dan berat untuk berbicara.


Raynor bisa memahami keadaan yang dialami oleh Lamo, aliran tenaga dalam sangat kacau dimana ada kerusakan berat di bagian vital, sebuah keajaiban karena mampu bertahan hidup hingga lima tahun melawan penyakit ini. Dan itu tubuh lamo kurus termakan oleh penyakit yang dideritanya, siapa pun melihat mereka bisa mengira kalau Lamo seperti mayat hidup.


"Jika kita bertemu tiga tahun lalu, aku masih mampu untuk menyembuhkan anda tuan, tapi untuk sekarang, aku hanya mampu memperpanjang waktu agar penyakit ini tidak merenggut nyawa anda dalam waktu dekat."


"Ah.. seperti itukah." Lelaki itu tidak menyesal setelah mendengar perkataan Raynor, seakan dia pun sudah pasrah dengan kondisi yang dideritanya.


Raut wajah Lamo tidak menunjukan penyesalan, dia tersenyum dan kemudian tertawa terbahak-bahak.


"Jadi pada akhirnya akulah yang kalah dengan penyakit ini."


"Kenapa ada terlihat bahagia tuan." Sania melihat tidak ada ketakutan dari tatapan mata Lamo.


Senyum di wajah tua itu begitu menunjukan ada sesuatu yang membuatnya bahagia.


"Putri Sania, kematian bagi sebagian besar orang adalah ketakutan, mereka takut jika kehilangan semua yang mereka miliki. Tapi untuk orang sepertiku yang merasakan kesakitan dan penderita setiap kali menghembuskan nafas, kematian seperti sebuah pembebasan dari penderitaan ini, hanya saja...."


Davendra didalam tubuh Raynor memanglah seorang penguasa tertinggi yang hidup dalam jalan beladiri. Kesengsaraan adalah hal wajar bagi setiap orang. Mereka yang tidak mampu melawan takdirnya sendiri, maka tidak akan mampu mengubah hidupnya.


"Sisha adalah satu-satunya alasan kenapa aku harus bertahan hidup sampai hari ini, jika tidak, sudah sejak lama aku lebih memilih menggantung diriku di pohon jambu." Lanjut Lamo berkata dengan tenang.


Dia mengatakan hal itu dengan ekspresi tersenyum namun seperti ingin menangis, lelaki itu bahkan tidak tahu apa harus bahagia atau bersedih. Dirinya telah lama pasrah dengan keadaan.


"Tuan, aku bisa menjanjikan sesuatu, ajarkan aku cara menempa senjata, maka aku bayar tiga ratus koin emas setidaknya untuk masa depan anakmu." Raynor mengeluarkan satu kantong penuh koin emas dari balik bajunya.


Raynor memang seorang penguasa tertinggi, tapi persoalan membuat sebuah senjata dia tidak pernah mengerti akan hal itu, semua senjata yang dia miliki adalah hasil dari rampasan atau harta peninggalan.

__ADS_1


"Anak kecil sepertimu mengatakan sesuatu yang berat, tapi mungkin ini adalah sebuah takdir." Lamo menujukan tatapan lembut.


Lamo pun menerima permintaan Raynor, karena tahu setelah dia meninggal dunia, Sisha akan hidup sendirian, tapi dengan semua uang itu akan menjadi pemberian terakhir untuk anaknya.


__ADS_2