
Menjadi murid sekte teratai api adalah sebuah kebanggaan tersendiri bagi siapa pun di daratan timur. Mereka semua akan mendapatkan perlakuan khusus di dalam masyarakat, di sanjung dan di puja oleh para wanita, serta memiliki masa depan cerah jika mengabdikan diri di sebuah kerajaan.
Tidak ada yang berani mengusik murid-murid dari sekte teratai api, dengan berbekal lencana bergambar bunga teratai terbakar di dada mereka, siapa pun orang melihat akan langsung tertunduk hormat dan berusaha menjilat agar mendapatkan perhatian.
Regar Avya, kepala klan harimau merapi, dan Rezar Avya pahlawan besar kerajaan Losborn, keduanya adalah mantan murid dari pilar utama sekte teratai api sebagai murid langsung dari salah satu guru besar yaitu Gundira.
Di dalam wilayah timur benua angin biru, kerajaan Losborn, Balasumpang, Slawisana, Reskna, Soran, Pakusanga, dan Sunfall., mengenal siapa sosok Rezar. Dia menjadi salah satu dari kekuatan tidak tertandingi yang berdiri dipuncak beladiri daratan timur.
Tapi pada akhirnya setelah peperangan antara Kerajaan Losborn dan kerajaan Soran berakhir, Rezar memutuskan untuk tidak mengejar kekuatan lagi dan dia menghilang dari dunia beladiri. Karena itu, Regar pun mengikuti keinginan adiknya agar mengambil kursi kepemimpinan dari klan harimau merah.
Tidak ada satu pun orang yang tahu keberadaan dari Rezar, selain klan harimau merah dan raja kerajaan Losborn, dimana dia hidup di desa Maresha sebagai seorang petani biasa.
Namun, ketika Raynor menguping pembicaraan antara Regar dan Guru Gundira saat itu.
Setelah bertahun-tahun tidak pernah berkunjung kembali ke Sekte teratai api, satu Minggu sebelum pembantaian desa Maresha terjadi, Rezar berkunjung untuk menemui Gundira dan membicarakan soal sekte iblis tanah neraka.
Dan kini Raynor berada di tempat yang mungkin memiliki informasi tentang kematian Rezar.
*******
Raynor terbangun di sebuah ruang tidur yang menjadi tempat tinggal para murid sekte teratai api atau lebih tepatnya ini adalah sebuah asrama untuk mereka tinggal selama menjadi murid.
Di dalam ruangan itu ada dua ranjang yang mana di gunakan oleh teman satu kamarnya. Sebagai sesama murid bagian dalam.
Berbeda dengan Siva, Erza dan Furan, mereka bertiga ada di asrama lain yang jelas berbeda dari tempat Raynor sekarang. Selain itu, sekte teratai api ini juga menerapkan sistem kasta dimana murid-murid bagian harus mematuhi perintah murid yang lebih tinggi.
Raynor melihat ke ranjang sebelah yang sudah kosong, teman satu kamarnya mungkin bangun lebih pagi dan mulai berlatih sebelum pagi datang.
Tapi belum sempat Raynor pergi untuk membenahi diri, pintu kamar terbuka dan satu sosok lelaki pun masuk kedalam dengan tubuh penuh keringat.
"Ah, kau sudah bangun Raynor, apa tidurmu nyenyak disini."
"Tentu saja Saudara Jun, aku termasuk jenis orang yang bisa tidur dimana pun dan kapan pun." Jawab Raynor menunjukkan sikap ramah karena dia masihlah seorang junior di sini.
"Syukurlah kalau begitu."
Semalam Raynor berkenalan dengan lelaki bernama Jun ini, nama lengkapnya adalah Junaidi, asal dari kerajaan Soran yang berlatih di sekte teratai api sudah lebih dari delapan tahun.
Lima tahun sebagai murid bagian luar dan tiga tahun sebagai murid bagian dalam. Dua tahun lagi, Jun akan melakukan ujian bagian dalam dan berharap bisa mendapatkan kursi pilar utama, meski pun kesempatannya sangat kecil.
Jika gagal, selama jenjang lima belas tahun pelatihan dia hanya akan berakhir sebagai murid bagian dalam hingga lulus nanti.
__ADS_1
"Apa kau selesai berlatih ?." Berbasa-basi Raynor tanya.
"Begitulah, setiap pagi, sebelum fajar datang aku berlatih di halaman istana. Tidak hanya aku, hampir sebagian besar murid sekte pun melakukan hal yang sama."
Raynor bicara sopan terhadap Junaidi, karena dia pun melakukan hal yang sama, tidak mungkin untuknya bersikap arogan kepada orang baik.
"Aku dengar dari murid-murid lain jika kau menjadi murid dalam karena guru besar Gundira."
"Itu bukan sesuatu yang istimewa." Balas Raynor tersenyum sendiri.
"Bagaimana mungkin kau mengatakan tidak istimewa, rekomendasi langsung dari guru besar Gundira tentu membuat banyak orang iri, karena beliau tidak pernah memberikannya kepada siapa pun." Ucapnya dengan kagum.
"Apa kau juga termasuk orang yang iri denganku ?." Raynor balik bertanya.
"Tentu saja, aku iri. Benar-benar iri, karena kau memiliki kedekatan kepada guru Gundira." Jun tidak menutupi apa pun.
"Meski pun begitu, aku yakin semua murid di sekte ini mendapat penilaian berdasarkan kemampuan bukan berasal dari orang dalam."
"Ya kau benar, jika kau bisa menjadi murid bagian dalam, itu artinya kau pantas dan guru besar Gundira sudah mengakuinya."
Segera membenahi diri dan Raynor berjalan keluar dari ruang kamarnya, melihat sekitar ada banyak murid bagian dalam yang langsung saja mengarahkan pandangan dengan cara mereka masing-masing.
Raynor mendengar beberapa komentar tentang dirinya meski pun itu dilakukan dengan bisik-bisik.
"Mungkin dia orang kaya dan memberi banyak sumbangan demi mendapat kelancaran."
"Sungguh luar biasa memang kekuatan orang dalam, dia bahkan melewati masa pelatihan murid bagian luar dan langsung menjadi murid bagian dalam."
"Dan orang itu adalah guru besar Gundira."
"Pantas saja. Sekarang aku ragu, tidak mungkin orang tua itu membawa masuk dia tanpa imbalan."
Tepat di belakang mereka yang sedang berbisik-bisik, terdengar suara batuk dimana itu menjadi tanda bahwa ada seseorang memberi kode.
Mereka pun melihat dan seketika diam sembari tersenyum bodoh dengan terpaksa.
"Jika kalian sibuk membicarakan orang lain, bukankah lebih baik kalian mengurusi masalah kalian sendiri." Ucapnya dengan tegas.
"Senior Du Gong, ada keperluan apa anda kemari."
"Aku ingin menjemput orang yang sedang kalian bicarakan itu."
__ADS_1
"Oh, kalau begitu kami akan pergi."
"Tidak apa, aku pun memiliki pemikiran yang sama seperti kalian, tapi aku tidak suka bicara di belakang, itu akan dianggap sebagai pengecut."
Raynor melihatnya berjalan mendekat, dia memiliki aura kuat diatas Zuang Wu Zang, bahkan bisa dipastikan dia adalah seorang ahli beladiri tingkat lord tempur tahap awal.
"Aku sudah mencari mu di seluruh asrama ini, tapi tidak ketemu. Ternyata kau disini Ranor." Ucapnya dengan menyapa dengan santai.
"Ranor ?, Kalau senior mencari Ranor itu bukan aku, mungkin salah orang." Balas Raynor bingung.
"Aku yakin itu kau, bukankah kau yang dibawa oleh Tuan Gundira."
"Ya benar sih, tapi namaku bukan Ranor, melainkan Raynor."
Dari cara senior itu bicara, Raynor menilai jika dia termasuk orang yang santai dan masa bodoh untuk segala urusan selama tidak menyangkut dirinya. Dan yang terpenting, jika dia tidak memiliki niat buruk sama sekali.
"Apa salahnya, cukup mirip, kecuali jika aku memanggil mu SBY, itu jelas salah." Ucap Du Gong dengan santai.
"Memang apa SBY ?." Balas Raynor bertanya.
"Sarmad Badrun Yamin."
"Oh, aku kira siapa. Tapi tetap saja, aku berharap anda memanggilku dengan benar."
"Jangan khawatir, aku cukup baik untuk mengingat nama seseorang, Yakin lah kepadaku, Hamzah."
"Siapa Hamzah ?." Raynor merasa aneh.
"Kau bukan Hamzah ?." Senior Du Gong pun ikut terkejut.
"Tentu saja bukan." Dia benar-benar tidak bisa mengingat nama orang lain dengan benar.
"Sudahlah itu bukan hal penting, karena aku kemari untuk membawamu ke tempat Guru Gundira." Ucapnya dengan merangkul pundak Raynor untuk pergi.
Lepas kepergian Du Gong dan Raynor, para murid disekitar segera melepas hembusan nafas berat seperti telah lolos dari ancaman sesuatu.
Itu karena aura bawaan yang dimiliki oleh Du Gong benar-benar memberi dampak mental bagi siapa pun di sekitarnya, tapi aura Du Gong bukanlah sesuatu niat jahat, melainkan energi di dalam tubuhnya terlalu besar dan dia belum mampu mengendalikan dengan sempurna.
"Aku merasa kasihan dengan anak itu. Harus bertemu dengan senior Du Gong, di hari pertamanya disini."
"Sebaiknya kita doakan, semoga hanya tulang iga dan tangannya saja yang patah."
__ADS_1
"Meski pun hanya beberapa menit keluar kamar. Dia tetaplah kawan satu angkatan kita."
Berkomentar semua orang dengan raut wajah sedih.