
Sepak terjang para bandit yang ada di kerajaan Losborn memang cukup terkenal, dimana orang-orang mengatakan jika mereka semua terbentuk dalam satu kelompok besar di wilayah timur bernama Taring Hitam.
Kehadiran para bandit, perampok, pencari informasi atau pun pembunuh bayaran yang ada di kerajaan Losborn hanya sebagian kecil dari seluruh anggota kelompok Taring Hitam dengan jumlah ribuan orang.
Bergerak tersembunyi di pasar gelap dan dunia malam setiap kerajaan di wilayah timur, mereka menyediakan berbagai macam jasa pekerjaan kotor.
Salah satunya ketika kejadian dimana putri Siva hampir terbunuh oleh lelaki pincang di pusat perdagangan kota kerajaan, sudah diketahui jika lelaki itu adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh kelompok Taring Hitam.
Termasuk Erza yang sebelumnya menjadi anggota para bandit dibawah naungan kelompok Taring Hitam, meski sekarang dia sudah berusaha pergi dan bersembunyi, tapi tetap saja kehadirannya bisa diketahui dengan mudah.
Kini satu wanita dengan jubah hitam berjalan memasuki sebuah rumah kawasan kumuh di bagian utara kota kerajaan Losborn. Terlihat pula beberapa orang berwajah seram yang duduk-duduk sambil ngopi di warung sekitar mulai memperhatikan gerak-gerik Erza.
Jika saja saat ini Erza masih menjadi anggota kelompok bandit Taring Hitam tentu aura tatapan intimidasi dari mereka semua tidak akan terasa, bahkan sesama anggota lain saling menyapa dengan akrabnya.
Tapi kini berbeda, Erza adalah orang yang memilih pergi dari kelompok dan itu dianggap sebagai pengkhianatan atas semua aturan di dalam buku panduan menjadi seorang bandit yang baik dan benar.
Erza berjalan ke rumah lokasi persembunyian markas bandit, tanpa bicara sepatah kata pun, dia mengeluarkan satu lencana perak kepada seorang lelaki bertubuh besar hitam legam dengan tiga luka bekas cakar yang ada di wajahnya.
"Apa yang kau inginkan nona muda ?."
"Aku diminta oleh ketua cabang Dorondo untuk melapor, senior."
Melihat sorot mata tajam dari lelaki di hadapannya, Erza hanya menunduk takut, bagaimana pun dalam segi kekuatan dia tidak mungkin melawan, terlebih lagi di sekitar ada banyak orang yang tidak memiliki rasa takut untuk membunuh.
"Apa kau penasaran dengan luka yang ada di wajahku." Bertanya lelaki itu.
"Eh ?, Apa senior ?." Balas Erza kaget, dia tidak mendengar ucapan lelaki itu karena terlalu takut.
"Aku tanya, apa kau penasaran dengan luka yang ada di wajahku." Ucapnya mengulangi pertanyaan.
"Tidak juga."
"Harusnya kau penasaran."
"Kalau begitu, kenapa wajahmu terluka senior."
"Luka ini aku dapatkan ketika melawan raja serigala merah hutan Jatilowa, bertarung mati-matian selama dua hari dua malam hingga raja serigala merah itu pergi karena tahu dia tidak bisa melawanku." Terlihat sombong lelaki itu menceritakan kisahnya.
Walau pun Erza tidak menganggap ceritanya penting-penting amat, hanya berusaha terkagum karena takut senior itu marah.
__ADS_1
"Oh, itu sangat hebat, luar biasa." Balas Erza tersenyum pahit.
"Benar sekali hanya aku yang berani melawan raja serigala sendirian." Dia tidak berhenti bersikap sombong ketika ada orang terkagum-kagum.
'Terserah saja kau mengatakan apa, aku lebih berharap kau tewas saat melawan Raja serigala itu.' Pikir Erza tanpa berani mengatakannya.
"Baiklah nona muda, ikuti aku, tuan Dorondo ada di dalam."
Lelaki bertubuh besar hitam legam dengan tiga luka bekas cakar yang ada diwajahnya membawa Erza masuk, di dalam rumah hampir tidak ada barang-barang atau perabotan, hanya empat kursi dan satu meja.
Tapi penampilan rumah ini hanya sebuah kamuflase agar mengelabui para petugas keamanan kota, sedangkan jalan masuk utama menuju markas ada di tempat lain.
Pintu dibawah lantai menjadi ruang rahasia, terdapat pula tangga yang mengarah ke ruang bawah tanah dengan lorong gelap dan juga sempit.
"Berhati-hatilah dan perhatikan langkahmu nona."
"Apa disini ada jebakan."
"Tidak, tapi jika kau tidak berhati-hati, kau akan terpeleset, tangga disini cukup licin."
"Ah ... Aku mengerti, terimakasih senior."
Baru satu langkah Erza menuruni tangga dia sudah jatuh dan menghantamkan pan*tat di atas lantai.
"Apa kau baik-baik saja nona ?." Berteriak lelaki bertubuh besar hitam legam dengan 'Sebagian teks hilang' ..... dari atas.
"Tidak apa senior." Jawab Erza meski pun dia bisa merasa pan*tat nya kram karena benturan dengan lantai.
"Kau tinggal mengikuti lorong ini dan kau akan sampai di pintu masuk."
"Baik senior."
Seperti yang diarahkan olehnya, Erza mulai berjalan mengikuti lorong dengan membawa penerangan batu cahaya dari dalam kantong penyimpanan.
*******
Di sisi lain....
Kini Raynor yang berdiri diam di atas atap rumah warga sudah melihat kemana Erza pergi, sebuah pemukiman kumuh wilayah barat menjadi tujuannya. Sama seperti wilayah tempat tinggal tuan Lamo di sebelah tenggara, dua tempat itu adalah lokasi dimana para penjahat berkumpul.
__ADS_1
Raynor bisa memastikan jika di pemukiman kumuh wilayah barat memiliki sekumpulan penjahat yang terorganisir, mereka semua bersikap sangat tenang, tanpa membuat keributan dan sangat santai.
'Aku tidak berpikir jika Erza masih berhubungan dengan dunia kejahatan, tapi kenapa dia ada di tempat seperti ini.'
'Tentu Erza memiliki alasan.'
Dia tidak mungkin salah menilai seseorang, jika awal pertemuan Erza memang memiliki niat buruk, tapi setelah beberapa hari terakhir sikapnya benar-benar berubah.
Bukan kebohongan ketika Erza mengatakan dia ingin menjalani hidup baru sebagai manusia baik tanpa perlu melakukan hal jahat.
'Tunggu.... Apa ini berhubungan dengan gambar yang dia tunjukan.' kesal Raynor mengingatnya.
'Dan juga, alasan dia mencari ku, karena aku adalah orang yang mengehentikan pembunuh Siva itu.'
Raynor memikirkan semua alasan dengan seksama, dia pun mendapat kesimpulan tentang tindakan Erza sekarang.
'Ah... Jika menang benar dari dugaan ku, Erza dipaksa mencari keberadaan orang yang menghentikan pembunuh Siva dan orang itu adalah aku.'
'Hal terpenting sekarang adalah Erza berniat memberitahu kepada para bandit itu soal aku, atau dia akan menutupinya.'
Satu-satunya cara yang bisa menjawab pertanyaan Raynor adalah bertanya kepada Erza. Dia tidak ingin berpikiran buruk kepada seorang wanita, tapi dia juga tidak bisa mengampuni siapa pun orang yang tega mengambil keuntungan dari orang lain.
Raynor melompat turun, dia berjalan ke arah rumah yang menjadi tujuan Erza, di sekitar Raynor sudah banyak pasang mata melihat dengan aura membunuh kental.
Tapi tidak ada sedikit pun rasa takut meski Raynor kalah jumlah, dimana ada lebih dari dua puluh orang bersenjata dengan kekuatan ahli beladiri tingkat penguasaan jiwa tahap awal hingga akhir.
Masing-masing sudah bersiap menarik senjata dan bertarung jika pun ada orang asing memasuki wilayah mereka untuk mencari keributan
Satu orang lelaki kurus parah baya berjalan sempoyongan mulai mendekat kearah Raynor dengan membawa kendi berisi Arak atau pun air keras berbau seperti jam*ban untuk minum.
Di pinggangnya pula ada sebilah pisau yang tentu akan berbahaya jika digunakan oleh orang mabuk.
"Disini bukan tempat bermain, bocah, sebaiknya kau pergi pulang, cuci kaki dan tidur sana." Ucap lelaki mabuk itu dengan menunjuk ke wajah.
Tangan lelaki itu menyentuh pundak Raynor, wajah saling berhadapan, aroma jam*ban dari mulutnya bisa Raynor rasakan.
"Tapi maaf saja, aku disini pun tidak ingin bermain-main dan juga aku tidak senang ketika ada orang menunjuk ke arah wajah." Jawab Raynor.
Tanpa perduli dengan banyaknya bandit di sekitar, Raynor melempar tubuh lelaki itu hingga menghantam meja di warung tempat teman-temannya minum.
__ADS_1