
Tidak terasa malam akan datang.
Raynor telah menyelesaikan janji yang dia sanggupi kepada tuan Lamo, meski pun Sisha lebih memilih pergi dari pada harus hidup bersama ibunya.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang Ray, pulang ?." Bertanya Erza .
"Tentu saja... Aku sudah menyelesaikan janjiku untuk membawa Sisha bertemu Istian."
Ditunjukkan oleh Erza wajah tidak bersemangat..."Baiklah, tapi untuk kali ini apa bisa kau mengantarkan aku pulang ?."
"Aku tidak masalah, tapi kenapa ?, Apa sekarang kau takut pulang sendirian ?."
"Bukan begitu."
"Aku pikir juga bukan, karena kau sudah cukup kuat untuk melawan orang yang berniat jahat kepadamu." Balas Raynor.
"Ada yang ingin aku bicarakan." Seakan itu hanya menjadi alasan Erza saja.
"Tapi tempat tinggal kita berlawanan, akan sangat merepotkan jika aku harus bolak balik." Tapi Raynor menjawab perkataan Erza dengan penolakan.
"Kau benar...." Erza tersenyum lemas.
Seakan Sania tahu dengan keinginan Erza untuk bisa bicara sedikit lebih lama bersama Raynor, meski pun, jika Siva tahu dia tentu akan marah.
"Sudahlah Ray, kau antarakan saja Erza..."
"Ehhhh, aku ingin cepat-cepat mandi dan beristirahat, badanku lengket setelah berkeringat hari ini."
"Sudahlah, kau berkeringat atau kau selesai mandi, semua terlihat sama saja jadi jangan khawatirkan itu." Sania mendorong Raynor untuk pergi bersama Erza.
"Perkataan mu terasa sedikit menyakitkan Nia."
"Aku akan pulang duluan bersama Sisha, jadi kau antar Erza sampai rumah dengan selamat."
Raynor tersenyum dan berkata kepada Erza...."Baiklah.... Ayo kita pergi."
Erza mengikuti dari belakang tapi perlahan langkahnya semakin cepat hingga kini berjalan di sebelah Raynor. Entah apa yang terjadi untuk banyak hal di pertemuan dengan Raynor itu membuat Erza menjadi gugup, canggung dan tidak tahu harus berkata apa saat bersamanya.
Melihat sekeliling di setiap langkah menyusuri jalanan...
Kota kerajaan Losborn adalah tempat yang ramai seakan tidak ada waktu istirahat dari pagi hingga malam, bahkan ketika Raynor dan Erza sudah berada di pinggiran kota, suasana dunia malam dipenuhi oleh mereka-mereka yang sedang mencari kesenangan.
Dalam perjalanan mengantar Erza ke tempatnya menginap, Raynor melihat bagaimana ekspresi di wajah Erza yang dirasa sedang memikirkan sesuatu.
"Kenapa kau Erza ?." Bertanya Raynor.
Erza terkejut..."Kenapa apa ?."
"Tidak bukan apa-apa, hanya saja aku merasa kau sedang kebingungan."
"Hmmm kau benar untuk banyak hal aku merasa bingung."
"Aku pikir dengan semua hasil rampasan yang kita bagi dua tidak lagi membuatmu bingung mencari uang." Balas Raynor.
__ADS_1
"Kalau tentang uang aku menang merasa cukup, bahkan terlalu banyak sampai aku bingung sendiri, tapi ini tentang hal lain." Rumit Erza menggambarkan isi pikirannya.
"Apa itu, jika aku bisa membantu akan aku lakukan."
Ragu-ragu untuk Erza menjawab, tapi Erza balas bertanya untuk sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Raynor, kau sudah selesai membuat senjata, jadi apa yang ingin kau lakukan selanjutnya ?." Balas Erza bertanya balik.
"Jika kau bertanya demikian, sekarang aku hanya mengikuti arus hidup untuk menjadi lebih kuat, karena tujuan utamaku adalah membalaskan dendam."
"Memang kau sudah menemukan informasi tentang orang yang membantai seluruh penduduk desa Maresha?."
"Entahlah aku pun belum mendapat informasi apa pun." Jawab Raynor tersenyum pahit.
Erza pernah mengatakan jika Kelompok Taring Hitam mungkin memiliki hubungan dengan pembantaian desa Maresha, karena mereka biasa dibayar untuk melakukan hal kejam.
"Tapi apa kau ingat, jika kau berjanji saat kita bertemu lagi, kau akan melatihku agar menjadi lebih kuat." Erza pun mengungkit hal lain.
Raynor mengangguk paham, karena dia tidak melupakan perkataannya saat keluar dari penjara...."Ya aku memang mengatakannya, tapi semua bertanggung kepadamu, menjadi seorang ahli beladiri adalah jalan berbahaya, apa kau tetap ingin berlatih bersamaku."
"Ijinkan aku mengikuti mu Raynor, kemana pun kau pergi dan apa pun yang ingin kau lakukan..." Seakan tidak ada keraguan untuk Erza menjawabnya.
"Termasuk jika aku di dalam toilet."
"Bukan itu maksudku."
"Aku tahu.... Aku hanya bercanda." Raynor tertawa untuk menggoda Erza.
"Jadi ?." Erza menunggu jawaban dari Raynor.
Jika orang lain mendengarnya, tentu mereka menganggap ucapan Raynor hanya sebuah lelucon, bagaimana mungkin mereka akan percaya dengan seorang bocah yang bahkan belum berusia 20 tahun.
Tapi pandangan mata Erza penuh kekaguman kepada Raynor, entah darimana datangnya, jantung Erza berdetak kencang, ini pertama kali dia rasakan bahwa lelaki yang kini berada di sampingnya mampu melakukan semua janji itu.
"Tidak seperti itu ... Aku tidak perlu menjadi yang terkuat di dunia, hanya seperti mendapat alasan agar tahu tujuan untuk hidupku saja." Erza memiliki alasan yang tidak mungkin dikatakan kepada Raynor.
Raynor pun menyadari jika hidup Erza sudah hancur dalam kesengsaraan sejak kecil, tapi karena ketika dia memiliki tujuan, maka ada alasan untuk hidup lebih lama.
"Kau benar, manusia hidup tanpa tujuan adalah hal paling membosankan, seperti menjadi yang terkuat di alam semesta dan tidak ada lagi seorang pun berani melawannya." Jelas sekali itu masalah pribadi Raynor sebagai seorang penguasa tertinggi .
Erza tertawa..."Gambaran mu terlalu besar... menjadi yang terkuat di alam semesta, kau jangan bercanda, dunia ini masih banyak ahli beladiri yang kuat dan tidak mungkin kita mampu mengalahkan mereka."
'Hei nona aku serius untuk hal itu.'
Sepanjang jalan Erza hanya melamun dan tersenyum sendiri, tanpa dia sadari, mereka sudah sampai di penginapan kecil di pinggiran kota, tempat dimana Erza tinggal.
"Erza, kita sudah sampai.."
Tidak ada jawaban...
"Hei Erza...." Sekali lagi Raynor memanggil namanya.
Terkejut Erza ketika mata Raynor bertemu tepat di depan wajah... "Eh iya, Hmmmm, kita sudah sampai, itu baik..."
__ADS_1
"Kenapa kau melamun ?."
"Tidak bukan apa-apa. Jadi apa kau ingin mampir dan sedikit minum teh." Balas Erza.
'Teh ?, Apa aku memiliki teh ?, Kenapa aku tidak membelinya.'
"Seperti untuk sekarang tidak, aku benar-benar ingin pulang dan mandi, kau tahu ini terasa tidak nyaman." Jawab Raynor dengan penolakan.
"Hehe ya kau benar, kita berkeringat seharian ini. "
'Tunggu apa badanku bau ?, Dan membuat Ray tidak nyaman, sungguh ini memalukan.'
"Baiklah, kau segeralah pergi dan tidur agar besok kembali segar."
"Aku tahu, terimakasih untuk semuanya." Erza tersenyum dengan pahit.
Raynor berdiri diam selagi Erza melangkah masuk kedalam penginapan, keramaian malam masih terlihat jelas di sekitar pinggiran kota.
Dia melihat, banyak hal bisa di lakukan oleh lelaki dewasa, lebih tepatnya tempat pinggiran seperti taman bermain mereka ketika malam, tempat-tempat pela*curan, perjudian atau pun warung-warung untuk mereka bercengkrama dengan pasangan.
Ini tidaklah aneh, karena tujuan mereka semua adalah melepas lelah untuk kerasnya hidup yang telah mereka jalani.
Tapi barulah langkah kaki Raynor berniat untuk pergi, teriakan keras terdengar dari penginapan tempat Erza. Semua orang terdiam sejenak, pandangan mata menuju ke arah teriakan dan Raynor merasakan ada hal buruk terjadi.
Ternyata benar saja, ketika kemampuan ruang tanpa batas dia keluarkan, ada enam manusia berdiri dengan satu senjata di tangan, sedangkan satu tubuh tergeletak bersimbah darah.
Raynor mengenali satu orang itu, dia adalah Erza. Melihat beberapa bayangan dengan cepat keluar melewati jendela kemungkinan anggota kelompok Taring Hitam yang datang untuk menangkap Erza.
Raynor segera masuk kedalam penginapan untuk menyelamatkan Erza, ini sebuah kesalahan, dia kurang waspada, menganggap tidak ada orang yang akan mencelakakan mereka sehingga ruang tanpa batas Raynor tidak gunakan.
'Di dalam kamar Erza ada dua orang, empat lainnya pergi...'
Tanpa perduli dengan sopan santun dalam bertamu, tidak perlulah Raynor mengetuk pintu dan mengucapkan salam, satu pukulan sudah cukup untuk mendobraknya.
"Siapa kau ...." Satu sosok berjubah yang ada di dalam kamar Erza terkejut akan kehadiran Raynor.
Segera saja mengeluarkan sebuah pedang dan mengayunkannya ke arah leher, tapi itu percuma karena Raynor jauh lebih kuat dari mereka berdua.
Gerakan tangan Raynor begitu cepat dari ayunan pedang, dalam sekejap dia mencengkram leher lelaki yang berniat membunuhnya itu.
"Apa yang kau lakukan kepada Erza" Ucap Raynor dengan marah.
Tentu tidak bisa dijawab oleh lelaki itu, karena cengkraman tangan Raynor sudah menghancurkan tulang leher hingga remuk.
Sedangkan satu orang lain pun berniat untuk kabur, tapi Raynor tidak mungkin membiarkannya lolos begitu saja, dia segera mengambil pedang di lantai dan dia lempar hingga menembus kepala.
Melihat Erza bersimbah darah di lantai, Raynor bisa melihat sebuah luka besar yang ada di punggungnya.
"Luka ini sangat besar, aku tidak bisa menggunakan energi pengobatan yang lebih tinggi untuk menutupnya, jika saja...."
Jika saja Raynor bisa menembus ke tingkat selanjutnya dan menjadi seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, kemampuan pengobatan pun akan menjadi lebih kuat.
Tapi untuk sekarang dia hanya memiliki satu batu jiwa binatang iblis tingkat tinggi dari raja ular putih. Selain membutuhkan waktu lama ketika penyerapan, Raynor pun tidak yakin akan mampu mengisi danau energi tenaga dalam di dunia spiritual hingga penuh.
__ADS_1
"Ray.... terimakasih." Panggil Erza dengan lemas, ditunjukkan senyum perlahan meski darah keluar di mulutnya.
Tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara untuk menerobos ke tingkat pemahaman bumi adalah melakukan teknik meditasi gabungan jiwa dan harus Raynor lakukan demi menyelamatkan hidup Erza.