The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Hasil taruhan


__ADS_3

Raynor memahami jika di anak tangga ke empat puluh satu, bagi siapa pun yang menggunakan kekuatan tenaga dalam untuk berjalan di atasnya akan berbalik membuat tubuh dan mental semakin di tekan.


Satu-satunya cara adalah melepaskan semua tenaga dalam agar bisa berjalan tanpa mengalami efek pembalik dari rangkaian formasi khusus ini.


Tepat kini Sania berada di sebelah Raynor, dan Sania pun melihat bahwa Raynor tersenyum mengejek kepadanya.


"Apa ?." Sania merasa kesal.


"Tidak bukan apa-apa." Balas Raynor.


"Kenapa kau begitu santai, Ray ?."


"Ini tidaklah sulit, jadi aku tidak merasakan apa pun."


"Tapi semakin tinggi aku melangkah, semakin terasa tekanan untuk mendorong ku jatuh."


Raynor menggelengkan kepala karena dia menganggap Sania tidak paham soal ujian ini.


"Nia, bukankah sudah aku katakan untuk mempelajari ilmu formasi rangkaian prasasti, apa kau tidak melakukannya." Berkata Raynor menjelaskan.


"Maaf Ray, tapi aku benar-benar tidak bisa mengerti setiap simbol-simbol rumit itu."


"Ya... Aku pikir juga setiap orang memiliki bakatnya sendiri-sendiri, tidak ada orang yang berbakat untuk segala hal." Sindir Raynor.


"Apa kau sedang mengejekku, Ray."


"Kenapa kau berpikiran seperti itu."


"Kau berbakat untuk segala hal, sedangkan aku, aku tidak bisa dikatakan berbakat seperti mu." Jelas Sania kesal untuk perbedaan antara mereka berdua.


"Aku tidak mengatakan, jika aku adalah orang yang berbakat, semua yang aku miliki pun adalah hasil kerja keras." Balas Raynor memahami kekesalan Sania.


Kerja keras selama dirinya belum menjadi penguasa tertinggi, sosok Davendra pun sama, dia bukan orang dengan bakat tinggi atau pemilik kekuatan tubuh spesial dengan telor tiga, sedangkan telornya cuma dua.


Tapi perjalanan menjadi penguasa tertinggi mengharuskan dirinya berlatih segala hal, ilmu pengobatan, ilmu rangkaian formasi prasasti, ilmu alkemis, ilmu beladiri dan segala macam ilmu-ilmu yang lain.


Dan itu juga tidak begitu saja dipahami dengan mudah, pelatihan Davendra untuk mempelajari setiap pengetahuan mengorbankan banyak hal, hingga dirinya sadar bahwa dia telah kehilangan hasrat setelah menjadi Penguasa tertinggi.


"Biar aku katakan satu penjelasan, tangga penghakiman Surga, menyerap energi dari dalam tubuh dan melepaskan kembali kepada pemiliknya." Berkata Raynor sebagai bantuan kecil untuk Sania.


"Apa itu ?."


"Nia kau harus belajar sendiri, jika kau tidak memahaminya sampai di ujung tangga ini, kau akan kehabisan semua energi tenaga dalam."


Lanjut Raynor berjalan naik melewati Sania, di atasnya kini ada Sang Qian dan Fang Rayos, mereka berdua seperti sedang saingan, tidak saling mengalah satu sama lain.


Sang Qian dan Feng Rayos mungkin memang menjadi seorang ahli beladiri tingkat raja tempur dan berpengalaman dalam hal pertarungan, tapi kemampuannya soal formasi prasasti bisa dikatakan kosong, tidak tahu apa pun dan hanya mengandalkan kekuatan tenaga dalam mereka saja.


Keduanya kini berada di langkah lima puluh dua, itu pun menapaki satu persatu dengan sekuat tenaga hingga keringat membasahi wajah.

__ADS_1


"Tersisa lima langkah lagi." Ucap Sang Qian.


"Aku akan menang." Tegas Rayos menyemangati dirinya sendiri.


"Aku pikir ujian ini tidak ada yang di pilih sebagai pemenang, selama kita mampu melewatinya Itu sudah cukup." Balas seseorang dibelakang mereka.


Keduanya berbalik saat mendengar suara lain yang ada dibelakang.


Rayos terkejut bukan main..."Raynor, bagaimana bisa, kau harusnya masih ada jauh di bawah."


"Kenapa ?, Pertanyaan yang lucu, tentu saja aku ingin menyelesaikan ujian ini." Jawab Raynor santai.


"Memang kau pikir bisa melakukannya."


"Tentu saja, ini sangatlah mudah."


"Mudah mata mu." Rayos kesal untuk sikap Raynor.


"Jika ini sulit, itu karena kau tidak kompeten, jadi jangan salahkan aku." Balas Raynor.


Tanpa perduli dengan kekesalan Rayos atau yang lainnya, Raynor berjalan santai melewati satu persatu anak tangga, bahkan untuk sekedar memeriahkan suasana hati Darnu, Rayos atau pun Qian, Raynor berjalan dengan satu kaki hingga menuju garis akhir.


Di bawah Sania yang sudah memahami perkataan Raynor kini mulai memperkecil pelepasan tenaga dalam dari tubuhnya, dan menang itu sangat berpengaruh terhadap pijakan kaki di tangga penghakiman Surga.


Merasa lebih baik, Sania segera berjalan untuk menyusul Raynor, melewati Sang Qian dan Feng Rayos, Sania pun mendapat menjadi orang kedua yang menyelesaikan tangga penghakiman Surga setelah Raynor.


Raynor mendekati Sania... "Apa kau sudah mengerti Nia ?."


"Bukan masalah, aku hanya ingin kau belajar, jangan mengandalkan kekuatan tenaga dalam saja, tapi ada banyak ilmu yang mungkin berguna dimasa depan nanti." Jawab Raynor.


"Aku akan mencobanya."


Dari empat puluh peserta kini tersisa tiga puluh satu, sembilan wakil petarung harus kehabisan energi dan pingsan di langkah ke lima puluh.


Darnu telah sampai di garis akhir hanya bisa menerima kenyataan bahwa Raynor sudah terlebih dahulu menjadi orang pertama yang menyelesaikan ujian.


"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi aku yakin kau menggunakan cara curang untuk menyelesaikan ujian ini." Darnu tidak terima kekalahannya.


Raynor kesal, dia bahkan ingin melemparkan Darnu, tapi itu akan menjadi pelanggaran.


"Kau selalu saja berprasangka buruk kepadaku, mengatakan aku curang lah, alatnya rusak lah, wasitnya tidak adil lah, sedang kena sariawan lah... Apa kau tidak bisa menerima kenyataan bahwa kau sudah kalah Darnu." Berkata Raynor menunjuk di depan wajahnya.


"Tidak, aku tidak mungkin kalah, selanjutnya, ujian kedua aku pasti akan mengalahkan mu."


"Ok, ok, kita bicarakan itu nanti. Sekarang bayar taruhan mu." Raynor mengulurkan tangan.


Dengan wajah pahit Darnu menyerahkan sepuluh koin emas kepada Raynor, karena dia harus membayar apa yang sudah menjadi aturan dalam bertaruh.


Beralih kepada Rayos, dia masih tergeletak di lantai untuk menyetabilkan kondisi tenaga dalam.

__ADS_1


"Kau kalah, aku yang menang dalam ujian ini, jadi bayar kompensasi dari kesepakatan kita." Raynor menagih janji.


"Tapi, harusnya aku yang menang."


"Semua orang melihat, banyak saksi mata disini, siapa yang menyelesaikan ujian terlebih dahulu, aku atau kau."


"Kau, Tapi...." Mencoba Rayos membantah tapi tangan Raynor menutup mulutnya.


"Tidak ada kata tapi, aku tidak punya waktu untuk berbincang-bincang denganmu sepanjang hari."


"Baiklah." Lemas Rayos memberikan sepuluh koin emas untuk kompensasi yang disepakati sebelumnya.


Meski itu sama artinya Rayos sudah kehilangan seluruh tabungan dan uang sakunya selama berbulan-bulan kedepan.


Sania melihat bagaimana kejamnya Raynor seperti seorang rentenir.


"Lihat Nia, aku mendapat banyak uang hanya dengan berjalan di atas tangga ini saja." Raynor menunjukkan semua uang di tangan.


"Terserah kau saja, aku tidak menyukai hal-hal seperti perjudian."


"Ya kau tahu, mereka yang memulainya duluan, aku hanya mengikuti."


"Tetap saja, itu tidak baik."


Tidak ada bantahan dari Raynor.


Ujian kedua akan segera dimulai, pintu besar dari ruang ilusi jiwa kini dibuka oleh empat orang penjaga.


Tempat itu sendiri hanya sebuah ruangan serba putih yang sangat luas, tapi di lantai, langit-langit dan juga dinding dipenuhi goresan formasi simbol prasasti.


Wakil petarung yang tersisa tidak perlu melakukan apa pun di ujian ke dua ini, mereka hanya perdu duduk dan melakukan meditasi, secara otomatis formasi prasasti akan aktif untuk menarik alam bawah sadar mereka memasuki satu tempat ilusi.


Di dalam ruang ilusi itu mereka akan di pertemukan dengan ratusan binatang iblis beraneka ragam dan tingkat kekuatan berbeda-beda pula.


Semua orang di haruskan melawan dan bertahan selama waktu yang di tentukan, namun ketika ada banyak peserta gagal maka akan di ambil lama waktu mereka di dalam ruang ilusi, hingga nanti dipilih untuk enam belas wakil petarung saja.


"Raynor mari kita bertaruh lagi." Darnu masih belum menerima kekalahan.


"Oh, kau masih berani melakukannya, aku selalu siap menerima taruhanmu."


"Dua puluh koin emas untuk siapa yang bertahan sampai akhir." Berkata Darnu penuh semangat.


"Aku setuju."


Menurut kabar, sangat jarang ada peserta mampu bertahan hingga akhir waktu penentuan ujian, sehingga taruhan antara Raynor dan Darnu harus bertahan untuk siapa yang paling lama berada di ruang ilusi.


"Silakan semua peserta melakukan meditasi."


Ketika para pengawas mempersilahkan peserta melakukan meditasi, rangkaian formasi prasasti di bawah lantai mulai menarik masing-masing jiwa mereka.

__ADS_1


Raynor membuka mata, dan dirinya muncul di sebuah dunia serba putih tanpa ada langit atau pun lantai untuk dipijak, namun jelas dia sedang berdiri bukan mengambang.


__ADS_2