
Ketika malam datang.....
Sania duduk di atas ranjangnya, melihat sekeliling ruangan yang akan dia tinggalkan besok, sedikit hati Sania merasa enggan untuk pergi, tapi seperti perkataan Raynor, berlatih di tempat lain itu akan memberi banyak pengalaman dalam berkembang.
Terlebih lagi akademi pedang suci bukan tempat sembarangan, itu sama halnya dengan benua suci tanah beladiri yang menjadi tempat tujuan bagi para ahli beladiri.
Dia akan mempelajari setiap ilmu berpedang yang berasal dari kaisar pedang naga Elonel, bahkan jika Sania beruntung, kaisar pedang sendirilah yang membawa Sania untuk menjadi murid langsung.
Selesai membenahi pakaian untuknya bersiap pergi esok hari, Sania memutuskan keluar kamar dan ada keinginan menemui Raynor.
Berada tepat di depan kamarnya, Sania mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dan menang benar, ketika dia membuka pintu, tidak ada siapa pun disana.
"Kemana Raynor pergi." Gumam Sania sendiri.
"Nia apa yang kau lakukan ?." Sebuah suara datang memanggil namanya.
Melihat ke samping dan sosok Furan sedang berjalan mendekat.
Setelah pengobatan yang diberikan oleh Raynor dengan ramuan khusus perbaikan tubuh, Furan kini bisa berjalan bebas tanpa perlu merasa sakit.
Terlebih lagi, dalam beberapa Minggu terakhir dia pun mendapat peningkatan tenaga dalam dan menjadi ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap tengah.
Ramuan yang dibuat Raynor memiliki kandungan energi murni begitu tinggi, sehingga setelah Furan menyerap semuanya inti kehidupan pun berkembang jauh lebih kuat.
"Aku mencari Raynor, kak." Jawab Sania.
"Dia ada di halaman belakang."
"Apa yang dia lakukan disana."
"Sebelumnya aku berkonsultasi dengan Raynor, mungkin sekarang dia sedang berlatih." Balas Furan.
"Konsultasi ?, Memang apa yang kak bicarakan."
Ada senyum getir sebelum Furan menjawab...."Soal pendaftaran di sekte teratai api, aku berniat mengikutinya bersama Raynor. Tapi aku sedikit ragu, apa aku akan diterima."
"Kakak tidak perlu khawatir, karena sekarang kakak jauh lebih kuat untuk mengolah tenaga dalam." Jawab Sania untuk memberi semangat kepada kakaknya.
"Ya kau mungkin benar Nia, tapi di ujian nanti, tentu banyak ahli beladiri yang jauh lebih kuat dariku." Furan kembali ragu-ragu.
"Jangan berkecil hati kakak, kak Furan pasti lolos ujian sekte teratai api."
__ADS_1
"Terimakasih Nia, kau juga berjuanglah di akademi pedang suci."
"Tentu kakak."
Hanya sebuah perbincangan singkat antara kedua bersaudara itu, Sania pun beranjak pergi ke halaman belakang, karena dari perkataan Furan di sanalah Raynor sedang berlatih.
Sangat jarang bagi para pengikut klan harimau merah berada di halaman belakang rumah ketika malam tiba, selain tidak ada penerangan di tempat ini pula cukup banyak nyamuk berkeliaran.
Kemungkinan Raynor secara sengaja memilih belakang rumah agar tidak ada orang lain melihatnya sedang berlatih.
Memang benar Sania melihat Raynor duduk bersila di atas sebuah batu, dia sedang dalam meditasi dan sudah memasuki alam bawah sadar.
Titik-titik cahaya tujuh warna muncul dari bawah tanah, berputar di sekeliling tubuh Raynor dan diserapnya masuk secara perlahan. Itu semua adalah energi alam yang harusnya sangat biasa bagi para ahli beladiri untuk melihat.
Tapi sedikit hal menakjubkan di mata Sania, karena hampir tidak mungkin bagi siapa pun menyerap tujuh jenis energi alam secara bersamaan.
Terlebih lagi aura yang Sania rasakan dari tubuh Raynor sangatlah berbeda, begitu segar karena memiliki kemurnian energi alam begitu banyak.
Sania berjalan mendekat dan perlahan, dia tidak ingin menganggu waktu Raynor dalam meditasi nya. Hingga kini berada tepat untuk saling menatap di depan wajah, meski pun Raynor masih memejamkan mata.
Dia menyadari akan perasannya terhadap Raynor, tapi karena kedekatan sebagai sesama saudara klan harimau merah dan juga hubungan antara teman yang sangat akrab, tentu ada kecanggungan jika menginginkan ikatan lebih dari biasanya.
Ada keinginan Sania untuk menyentuh wajah Raynor, tapi tepat sebelum jari tangan menempel di pipinya, mata Raynor terbuka .
Sontak Sania terkejut dan hampir jatuh ke belakang karena secara tiba-tiba Raynor kembali dari alam bawah sadar.
"Kenapa kau terkejut ?, Apa sebegitu menakutkannya aku ini."
"Tidak, aku hanya.... " Sania tertawa sendiri, dia tentu merasa canggung ketika Raynor melihat tingkahnya.
"Nia, bisa aku bicara dengan Wilea ?."
"Memang apa yang ingin kau bicarakan." Bertanya Sania penasaran.
"Bukan hal penting, tapi karena kau akan pergi ke akademi pedang suci, tentu ada yang ingin aku sampaikan."
"Baiklah." Sania segera memejamkan mata dan beralih jiwa untuk diberikan kepada Wilea.
Seakan tidak ada perubahan dari segi fisik antara Wilea dan Sania, tapi jika Raynor merasakan energi mereka berdua, ketika Phoenix mengambil alih kesadaran wadahnya akan muncul aura murni yang kuat.
Segera setelah Wilea muncul dia membungkuk hormat di hadapan Raynor...."Tuan Raynor, apa yang ingin anda bicarakan."
__ADS_1
"Untuk apa kau membungkuk, berdiri, padahal sudah aku katakan agar tidak menganggap ku seperti seorang tuan." Pinta Raynor yang mengangkat tubuh Wilea untuk berdiri.
"Baik tuan."
Sebenarnya Raynor merasa enggan untuk panggilan tuan dari Wilea, tapi karena itu seperti sudah menjadi kebiasaan, Raynor pun menyerah.
"Begini Wilea, aku ingin kau benar-benar menjaga Sania."
"Aku mengerti tuan." Cepat dan tegas jawaban Wilea.
"Hmm...tetap tidak menyenangkan jika mendengar kau memanggilku tuan di tubuh Sania."
"Apa boleh buat tuan, aku belum bisa mendapatkan kebangkitan tubuh nyata."
"Bukan itu masalahnya, Lupakan.... Karena mulai besok kau akan berada jauh dariku, dan di luar sana tentu akan ada banyak orang melakukan segala cara demi mendapatkan jiwa Phoenix mu, aku peringatkan untuk tidak menggunakan kekuatan Phoenix meski Sania memintanya, kecuali jika berhubungan dengan hidup dan mati." Berkata Raynor dengan serius.
"Mengerti tuan. Tapi kenapa tuan tidak ikut saja dengan Sania ke akademi pedang suci." Wilea menanyakan sesuatu yang seharusnya dia ketahui saat Sania juga bertanya hal yang sama.
Raynor memiliki jawabnya...."Ini soal janjiku untuk membalas dendam atas kematian penduduk desa Maresha dan kedua orang tuaku, karena itu aku harus mencari informasi kepada orang yang benar-benar dekat dengan ayahku."
"Berapa lama tuan di sekte teratai api."
"Tidak lama, hanya beberapa bulan saja, setelah aku mendapatkan informasi aku akan pergi ke daratan tengah." Jawab Raynor.
"Baik tuan, tapi boleh aku meminta sesuatu sebelum pergi."
"Apa itu...." Balas Raynor.
Wilea secara sengaja menekan kesadaran Sania lebih dalam agar tidak mendengar ucapan mereka.
Raynor berpikir cukup serius setelah mendengar perkataan Wilea..."Apa kau yakin Sania menginginkan itu."
"Aku yakin tuan, Paling tidak sebelum Sania berangkat buat dia merasa senang."
"Aku akan coba melakukannya." Jawab Raynor mengangguk paham.
Wilea kembali menyerahkan kesadaran kepada Sania, tapi ada tatapan bingung karena dia tidak bisa mendengar percakapan terakhir Wilea dan Raynor.
"Ray, apa yang terjadi dengan Wilea." Bertanya Sania.
Tidak jawaban dari pertanyaan Sania, Raynor cepat menarik tubuh Sania kedalam pelukan. Terkejut dengan sikap Raynor, karena sekarang antara mereka begitu dekat hingga saling bersentuhan lebih dari biasanya
__ADS_1
Sania pun menerima pelukan Raynor tanpa ada perlawanan, tapi karena itu juga ada keyakinan di hati Sania yang selama ini menolak kenyataan bahwa dia menginginkan lebih dari sekedar teman atau pun saudara sesama klan harimau merah.
Tanpa ada keraguan lagi, cepat tangan Sania menarik kepala Raynor untuk mendekat, hingga secara langsung keduanya saling mendekat di dalam ciuman.