The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
terimakasih


__ADS_3

Raynor menghancurkan raja ular putih dari dalam kepala, tentu mustahil untuk binatang iblis itu melakukan regenerasi karena dipastikan otaknya sudah hancur.


Mengalahkan penguasa hutan Jatilowa yang notabenenya setara dengan seorang ahli beladiri tingkat lord tempur, sudah menunjukkan seberapa besar kekuatan pedang Asarc Rex spatium milik Raynor.


Dia kini tidak perlu takut lagi jika harus berhadapan dengan para ahli beladiri tingkat lord tempur. Tapi tetap saja melawan seorang manusia yang memiliki akal dan rencana dalam bertarung itu akan menjadi pertaruhan sulit, berbeda dengan melawan binatang iblis.


"Raynor kau benar-benar luar biasa." Sania berteriak dari tepian sungai melihat Raynor yang dengan mudah membunuh ular putih itu.


"Aku lebih kagum kepadamu yang mampu membuat dinding es begitu besar."


"Ini berkat teknik meditasi dunia beku abadi yang kau ajarkan, kekuatan energi dingin di dalam tubuh benar-benar berkembang dengan pesat."


"Aku senang mendengarnya."


"Kau harus tahu, di tempat ini memiliki energi dingin yang lebih baik daripada di klan harimau merah, jika kau bermeditasi di sini mungkin bisa mengumpulkan energi cukup banyak."


"Aku mengerti, tapi bukankah kita sudah selesai, apa kau tidak ingin pulang."


"Tenang saja, kau bisa bermeditasi dengan santai, aku juga ingin memanfaatkan semua tubuh ular putih ini."


"Baiklah, kalau begitu." Jawab Raynor yang mengikuti arahan dari Raynor.


Semua pencapaian Sania tentu karena perpaduan antara keberadaan Phoenix biru yang ada di dalam tubuhnya dengan teknik meditasi dunia beku abadi, tapi tidak lupa pula bakat pemahaman Sania memang diatas rata-rata.


Jika itu orang biasa yang memiliki bakat biasa pula tentu tidak akan berkembang pesat seperti Sania.


Selagi Sania bermeditasi, Raynor dan Erza bersiap membelah tubuh sang ular menjadi dua bagian. Setiap hal yang di miliki oleh binatang iblis tingkat tinggi adalah harta berharga.


Untungnya Raynor tidak serta merta mengincar batu inti kehidupan ular putih, karena saat batu itu hancur, maka seluruh tubuh akan melebur menjadi debu.


Raynor menguliti sisik ular dengan cepat, kulit ular putih bisa di gunakan untuk membuat jubah atau zirah yang melindungi tubuh dari serangan senjata tajam.


Hingga Raynor mengambil baru jiwa di bagian tengah tubuh ular yang berwarna merah cerah. Berbeda dari batu jiwa binatang iblis biasa, binatang iblis yang sudah membuka kecerdasan spiritual mereka disebut binatang iblis raja dan menghasilkan batu jiwa dengan energi kemurnian yang melimpah.


Dalam seribu tahun lagi, ular putih yang dia bunuh akan mendapat perubahan evolusi lebih tinggi dan berubah menjadi separuh naga. Tapi malang nasibnya karena harus bertemu dengan Raynor dan harus tewas.


"Apa yang akan kau lakukan dengan semua ini, jika kau jual, ini bisa membuatmu kaya."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak kekurangan uang dari hasil rampasan bandit, jadi aku punya rencana membuat jubah dari kulit ular dan menyerap energi batu jiwanya." Jawab Raynor untuk tujuannya.


"Bukankah kau sudah cukup kuat."


"Memang, aku akui itu, tapi aku masih memiliki tujuan besar yang harus di selesaikan." Tentu dia tidak akan lupa dengan tragedi desa Maresha.


Selama dua bulan hampir tidak ada kabar perihal tragedi desa Maresha, bahkan dengan bantuan raja Sura yang menyebar pasukan mencari informasi, hasilnya tetap nihil.


"Soal pembalasan dendam kepada orang yang membunuh orang tua mu." Jawab Erza.


"Begitulah, karena sosok pembunuh orang tuaku sangat kuat, sehingga tidak mungkin aku melawannya dengan kekuatanku sekarang." Raynor tersenyum pahit.


"Memang seberapa kuat lawan mu."


"Aku tidak tahu, tapi jika dibandingkan dengan ayahku yang seorang ahli beladiri tingkat Sovereign, pembunuh itu tentu jauh lebih kuat dari tingkat Sovereign."


Erza tentu tahu tingkat Sovereign berada di atas tingkat lord tempur, tidak banyak orang-orang di daratan timur mampu mencapai tingkat seorang ahli beladiri Sovereign. Sedangkan sosok yang Raynor incar kemungkinan besar adalah ahli di tingkat Saint suci.


"Karena itu aku harus menjadi lebih kuat lagi." Sebuah pernyataan yang Raynor katakan.


"Apa mungkin pembunuh yang ingin kau cari mungkin ada di kelompok Taring Hitam." Berkata Erza.


Hanya saja, kehadiran kelompok Taring Hitam sangat sedikit, mereka hampir tidak memiliki jejak atas semua kegiatannya, jikapun ada seorang ahli beladiri tingkat Saint suci di kelompok mereka, jelas nama Taring Hitam sudah melegenda di benua angin biru.


"Ini hanya rumor yang aku dengar ketika masih berada di kelompok Taring Hitam, pemimpin besar mereka adalah seorang ahli beladiri Sovereign."


"Jika memang benar maka aku harus bertanya sendiri kepada orangnya." Jawab Raynor.


Setiap bagian tubuh ular putih telah dipotong beberapa bagian, dan masing-masing dimasukkan kedalam dunia spiritual.


"Aku berpikir mereka akan datang sendiri kepadamu." Itu yang Erza pikirkan.


"Memang kenapa mereka mencari ku ?." Balas Raynor terlihat bingung.


Erza tersenyum pahit melihat Raynor..."Apa kau sedang cuci tangan atau berlagak bodoh dan tidak mengakui dosa atas tindakanmu."


"Oh yang kau maksud karena aku sudah menghancurkan markas rahasia mereka."

__ADS_1


"Tidak hanya menghancurkan, tapi kau juga menjarah semua harta yang mereka simpan."


"Jadi mereka dendam kepadaku, begitu ?." Raynor tertawa.


"Tentu saja, memang siapa orang yang tidak marah jika rumahnya dirampok."


"Mereka pun harusnya sadar, karena aku hanya melakukan apa yang menjadi pekerjaan mereka." Dengan santai Raynor tersenyum mengejek.


Hari sudah menjelang sore, Raynor dan dua wanita di sampingnya berjalan pulang ke perbatasan kota kerajaan Losborn. Hanya saja ketika mereka belum sampai, seorang anak kecil berlari tergesa-gesa ketika melihat Raynor datang.


"Paman, paman, ayah.... Ayah..." Ucap Sisha terbata-bata.


"Apa yang terjadi dengan ayahmu." Sania bertanya.


"Jangan-jangan...."...Raynor merasakan sesuatu yang tidak nyaman, dia segera berlari menuju rumah milik Lamo.


Suasana rumah kayu milik tuan Lamo dan Sisha begitu sepi, tidak ada suara batuk yang terdengar keluar dari tuan Lamo seperti biasanya.


Ada pun yang Raynor perhatian adalah seekor burung gagak bertengger di dahan pohon jambu sebelah rumah, mengeluarkan suara keras dan membuat perasaan merinding untuk siapa pun ketika melihatnya.


Sore itu adalah waktu yang lama untuk menunggu matahari hingga terbenam. Bagi gadis kecil yang baru berusia 11 tahun di bulan lalu, hanya mampu tertegun merasakan ada kejanggalan dari apa yang tidak biasa dia gambarkan.


Raynor pun memiliki firasat buruk akan suasana ini, sekilas pikirannya mengingat sosok Lamo yang pernah berkata...'Kalau bukan tentang sisha, dirinya lebih memilih untuk menggantung diri, dan mengakhiri hidupnya.'


Semua masih Raynor ingat dengan jelas, betapa rumit wajah tuan Lamo untuk menggambarkan tentang kesengsaraan yang dia alami selama ini.


'Apa tuan Lamo memilih untuk mengakhiri hidupnya.' berpikir Raynor dan mencoba menghilangkan bayangan itu.


Sisha berjalan sedikit cepat, seakan mengejar sesuatu yang tidak mungkin dia lihat kembali, Raynor pun mengikuti dan menahan langkah Sisha jika terjadi sesuatu kepada ayahnya.


Tapi ketika memasuki rumah gubuk yang hanya sebuah susunan kayu lempeng, hening Sisha menatap ke tempat ayahnya sekarang tertidur pulas.


"Ayah, paman Raynor sudah datang." Ucap Sania sembari membangunkan ayahnya.


Lelaki tua itu hanya berbaring diam di atas ranjang, tidak terbangun atau pun membuka mata, tubuh kaku dan dingin, tidak ada lagi suara nafas penuh kesakitan, tuan Lamo telah di bebaskan dari penderitaan atas penyakit yang menggerogoti tubuhnya.


Dari sebelah tubuh tuan Lamo yang tidak bernyawa, Raynor mengeluarkan bilah pedang besar dalam genggaman, tersenyum getir dan berkata.

__ADS_1


"Terimakasih tuan."


Ucap Raynor sebagai bentuk penghormatan atas ajaran tuan Lamo.


__ADS_2