The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Taruhan


__ADS_3

Beberapa orang dari barisan para putra-putri raja itu datang mendekat ke tempat Raynor, lebih tepatnya, mereka tentu melihat kehadiran Siva dan ingin menyapa.


Kecantikan Siva memang menjadi perhatian bagi semua lelaki, hanya sekilas pandang mata, mereka akan tertarik dan mulai mencari kesempatan agar bisa mengenalnya.


Salah satunya adalah Erdan Xersas, pangeran dari kerajaan Balasumpang yang kini berdiri di samping Raynor sebagai tamu tidak di undang.


"Oh, oh, oh, siapa sangka aku bisa bertemu dengan putri Siva di sini, sungguh sebuah kebetulan yang indah." Ucap Erdan Xersas mencoba untuk bersikap akrab.


Tapi seakan Siva tidak merasa nyaman atas kehadiran Erdan dan Raynor bisa tahu dari senyum kaku sebelum Siva menjawab panggilan dari Erdan.


"Pangeran Erdan Xersas, tentu ini bukan sekedar kebetulan, aku di sini pun sebagai salah satu peserta ujian masuk sekte teratai api, jadi bukan hal aneh untuk kita bertemu." Balas Siva yang masih tersenyum pahit tanpa ada niat menyanjung sang pangeran.


"Benarkah itu, aku pun sama."


"Aku juga tahu, jadi aku tidak sampai terkejut seperti orang lain."


"Kalau begitu putri Siva, bagaimana jika kita bekerja sama, tentu itu cukup menguntungkan untuk kita berdua."


"Itu tidak perlu pangeran Erdan, aku yakin dengan kemampuan ku sendiri. Terlebih lagi aku bersama TUNANGAN ku, maka semua akan baik-baik saja." Jawab Siva yang menarik lengan Raynor agar lebih dekat.


Secara sengaja Siva mengatakan kata TUNANGAN dengan sedikit keras di depan Pangeran Erdan sebagai bentuk alasan untuknya tidak menganggu waktu mereka.


"Oh. Jadi lelaki ini yang menjadi tunangan mu putri Siva." Ada senyum meremehkan terlihat di wajah Erdan.


"Benar sekali." Tidak ada bantahan dari jawaban Siva.


Hanya saja Raynor sudah merasa akan aura yang mengancam dari pangeran Erdan, ungkapan 'lelaki ini' sudah bisa diartikan bahwa dia meremehkan Raynor.


Tapi Raynor tidak menolak sikap Siva, dia juga merasa tertarik jika ada seseorang yang mencari masalah kepadanya, bagaimana pun, di dalam persaingan tanpa ada tokoh jahat dengan sikap sombong, itu terasa sangat membosankan.


"Jangan khawatir soal Putri Siva, pangeran Erdan, aku sendiri sudah cukup untuk membantunya memasuki sekte teratai api ini." Balas Raynor.


"Ucapan mu terasa sangat meyakinkan, padahal kau sendiri belum tentu mampu menyelesaikan ujian nanti." pangeran jelas sedang mengejek Raynor.


"Bagiku, ujian di tempat ini tidak lebih seperti permainan anak kecil bermain lempar tangkap bola."

__ADS_1


"Menarik sekali, siapa sangka putri, Tunangan mu memiliki bakat untuk mengarang cerita, jika di asah lebih baik, dia mungkin bisa menjadi penulis buku."


"Terimakasih pangeran, karena hanya itu bakat yang dia punya."


"Aku sungguh menantikan hasil yang akan kau dapat."


Semakin sombong pangeran menilai Raynor, dia bahkan tertawa terbahak-bahak karena menganggap dirinya jauh lebih baik.


"Kalau begitu, pangeran Erdan, bagaimana jika kita bertaruh." Raynor secara terang-terangan memancing pangeran Erdan.


"Kau ? Menantang ku ?."


"Memang apa yang aku katakan itu tidak jelas untuk kau dengar, baik akan aku ulangi. Bagaimana jika kita bertaruh pangeran Erdan yang terhormat."


pangeran Erdan tertawa terbahak-bahak...."Menarik, menarik sekali, ini pertama kalinya ada orang yang merasa jauh lebih hebat dariku."


"Aaaahhhh jangan merasa kau akan menang pangeran, ujian ini saja belum dimulai."


"Baik, aku terima. Tapi apa yang akan kau pertaruhkan, harga dirimu ?, Itu tidak akan cukup."


Terkejut Pangeran Erdan melihatnya, dia tidak menyangka jika Raynor yang dianggap tidak layak untuk bertaruh dengannya memiliki harta sangat banyak.


Pangeran merasa tertarik, dia pun mengambil sekantong koin emas yang jumlahnya hampir seribu keping. Bagaimana pun dia adalah anak seorang raja dengan uang saku melimpah.


"Aku tidak membawa sebanyak milikmu, tapi jika kau bisa menang, akan aku berikan sisanya nanti." ucap pangeran Erdan.


"Aku setuju."


Semua orang tentu sudah mendengar bagaimana jenis ujian yang akan diberikan kepada para calon murid. Lokasinya berada tepat di sebelah sekte teratai api, yaitu danau Cicaban.


Para guru sudah mempersiapkan seratus lencana yang di lempar ke dasar danau, para peserta akan menyelam ke dasar untuk mendapatkan lencana itu.


Tentu tidak sangat sederhana, di dalam danau Cicaban terdapat binatang iblis tingkat rendah hingga sedang dan mereka akan menggangu para peserta untuk mendapatkannya.


"Jadi bagaimana cara kita menentukan siapa yang menang dari taruhan ini." bertanya pangeran Erdan.

__ADS_1


"Bagaimana jika kita berlomba, siapa yang tercepat menemukan lencana dan menyerahkan kepada guru pengawas, dialah pemenangnya."


"Baik, aku mengerti."


Pangeran Erdan pun berjalan pergi dengan senyum semangat seakan sudah pasti menang. Dia kembali ke tempat dimana orang-orang dari kerajaan Balasumpang berkumpul.


"Raynor apa kau yakin menantangnya dengan taruhan sebanyak itu." Furan bertanya dengan khawatir.


"Kenapa harus ragu, ini seperti aku sedang menangkap ikan besar yang dijual dengan harga seribu koin emas."


"Tapi aku sering mendengar sepak terjang pangeran Erdan, dia adalah seorang ahli beladiri tingkat raja tempur tahap tengah yang mampu mengalahkan lawan satu tahap di atasnya."


"Memang apa yang salah ?." Jawab Raynor seakan tidak peduli.


"Selama kau tidak masalah aku tidak akan berkomentar apa pun."


Suara Gong di pukul keras untuk menarik perhatian semua orang. Satu guru lelaki berdiri di atas dinding sekte teratai api, dia ingin memberi pengumuman.


"Semuanya tolong dengar... aku adalah guru besar Saproni, aku juga adalah orang yang bertanggung jawab di ujian ini. Ada beberapa hal yang harus aku sampaikan sebelum ujian dimulai."


Lelaki paruh baya itu menang bisa dikatakan sosok kuat sehingga mampu mendapat gelar sebagai guru besar sekte, dia adalah ahli beladiri tingkat lord tempur tahap tengah.


"Pertama, ujian ini cukup berbahaya, kami tidak bisa menjamin keselamatan kalian sepenuhnya, jadi bagi siapa pun yang masih sayang dengan nyawa, lebih baik mundur."


Menyelam di dalam danau yang dipenuhi binatang iblis adalah hal menyulitkan, beruntung jika hanya bertemu binatang iblis tingkat rendah, tapi ketika mereka melawan binatang iblis tingkah tengah, itu sangat berbahaya.


"Kedua, kami hanya menerima seratus orang, tidak peduli siapa, selama mereka mampu mendapat lencana di dasar danau, kami nyatakan lolos."


Jumlah peserta yang ada di sekitar danau Cicaban ada lebih dari lima ratus orang, tapi sekte teratai api hanya akan menerima seratus murid, persaingan benar-benar ketat untuk mereka semua.


"Ketiga, terserah bagaimana cara kalian mendapatkan lencana itu, bekerja sama, atau mencuri dari lawan, kami anggap sah-sah saja."


Ini hal yang lebih mengerikan daripada melawan binatang iblis di dalam danau, karena manusia adalah makhluk yang terkadang mementingkan diri sendiri, cara licik sudah pasti mereka lakukan.


"Dan keempat, atau yang terakhir aku ucapkan, selamat berjuang dan semoga beruntung. Ujian di mulai."

__ADS_1


Gong kedua di pukul, semua orang segera berlari menuju danau dan mulai menyelam demi mendapatkan lencana yang ada di dasar danau Cicaban.


__ADS_2