
Semua peserta sudah berlari dan memasuki danau Cicaban secepatnya, semua ini akan menjadi ujian untuk menilai ketahanan fisik dan dalam menghadapi situasi yang tidak biasa. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati, bagi para ahli beladiri tingkat pemahaman bumi ketika harus menghadapi binatang iblis tingkat tinggi penghuni danau Cicaban yang mungkin menjadi masalah besar.
Binatang iblis di danau Cicaban adalah ikan julung-julung putih bertanduk lancip, mereka bergerak sangat gesit di dalam air, memiliki tanduk tajam di kepala sebagai bentuk pertanahan diri melawan musuh-musuhnya.
"Erza, Siva, dan kau Furan, bagaimana jika kita bekerja sama." Ucap Raynor kepada mereka bertiga.
"Bekerja sama seperti apa ?." Balas Siva bertanya.
Raynor pun menjelaskan..."Jadi begini, aku bisa pastikan jika Pangeran Erdan itu tidak akan melepaskan ku untuk mendapat lencana di dasar danau, dia akan mengirimkan beberapa orang dan menggangguku."
"Kau ingin kami menjaga mu dari serangan orang-orang yang mungkin di perintah oleh pangeran Erdan." Siva paham.
"Tepat sekali, kau benar-benar bisa mengerti isi pikiran ku Siva."
"Walau sebenarnya aku tahu, kau hanya ingin menang taruhan mu sendiri." Erza tersenyum dengan sindiran.
"Itu tidak salah kan, karena aku melakukannya demi menjaga harga dirimu."
"Tapi tidak sampai harus bertaruh juga Raynor." Siva pun berpihak kepada Erza.
"Baiklah aku mengerti, tapi untuk sekarang kalian harus membantuku, aku janjikan untuk mendapat empat lencana."
Furan, Erza dan Siva pun setuju, karena mereka sadar jika untuk bersaing dengan lima ratus orang yang tidak segan-segan bertarung sekuat tenaga, tentu kerja sama adalah pilihan terbaik.
Tentu tidak mudah mendapatkan lencana yang ada di dasar danau, kedalaman sekitar seratus meter sudah sangat menyusahkan, terlebih lagi jika harus bertahan dari serangan ikan julung-julung didalam habitatnya, ini sama halnya dengan bunuh diri.
Jika bertanya bagaimana bisa para peserta bertahan di dalam air untuk waktu yang lama sedangkan manusia memiliki batas waktu untuk bernafas. Jawabannya adalah mereka menggunakan energi tenaga dalam dan menggantikan udara yang masuk ke paru-paru.
__ADS_1
Untuk sekelas ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, mereka bisa bertahan hingga dua jam lamanya di dalam air, tentu ini sudah menjadi batas untuk mendapat lencana di dasar danau.
Kerena itu, hanya ada satu pilihan bagi para peserta yang ikut dalam ujian ketahanan tubuh di danau Cicaban ini. Berenang secepat mungkin untuk mendapat lencana dan segera naik ke permukaan.
Berdoa agar tidak diserang ikan julung-julung sampai mendapat lencana. Dan jika pun harus melawan para binatang iblis ikan julung-julung sebisa mungkin pergi.
Semuanya orang sudah bergerak turun hingga seperempat jalan, kaki dan tangan terus mengayuh untuk secepat mungkin berenang ke dasar.
Walau ada beberapa yang baru masuk, kemudian langsung tenggelam. Bagi mereka yang tidak bisa berenang, diperbolehkan menggunakan artefak khusus untuk mempermudah bergerak di dalam air.
Setiap peserta sudah melesat cepat dengan kemampuan berenang yang handal di tambah kekuatan tenaga dalam dialirkan ke kakinya, memperkuat kecepatan gerak tubuh mereka.
Ketika Raynor memasuki danau, dia terkejut ketika merasakan kemurnian dari energi alam didalam danau Cicaban, penuh keinginan untuk menyerap semua energinya, karena bisa dipastikan mendapat peningkatan ke raja tempur tahap awal.
Hanya saja ada hal yang di sayangkan oleh Raynor...
Jika Sania ada disini untuk menggunakan teknik meditasi dunia beku abadi, dengan keistimewaan dari teknik yang Sania pelajari, dia akan mendapat keuntungan luar biasa ketika menyerap energi dingin di dalam danau.
Cukup banyak ikan julung-julung menyerang, mereka hampir sama besarnya dengan tubuh seorang manusia usia sembilan tahun, meski cukup lemah dikalahkan, tapi cepat gerak ikan julung-julung menjadi masalah utama.
Seketika Raynor merasakan ada sebuah gelombang energi tenaga dalam yang melesat menuju tempatnya, cepat Raynor menghindar dan lima energi lain pun berdatangan kembali.
Ternyata ada lima orang yang secara sengaja mengincar dirinya, sedangkan ruang tanpa batas menangkap pergerakan pangeran Erdan sudah turun jauh lebih dalam.
Seperti yang di janjikan, Erza dan Siva datang dari atas menyerang lima orang agar tidak menggangu Raynor, pergerakan kedua wanita itu benar-benar mampu melepas energi tenaga dalam yang mendorong mundur mereka.
Sedangkan Furan sendiri dia dari kejauhan menghantam tubuh pangeran Erdan yang sudah mencapai pertengahan danau.
__ADS_1
Raynor segera mengeluarkan pedang berat yang dia gunakan sebagai beban. Di tambah lagi Raynor memusatkan semua energi tenaga dalam di telapak kaki, ledakan kuat membuat Raynor melesat untuk turun ke dasar tanpa perlu repot-repot berenang.
Sebuah kecepatan luar biasa dimana dalam beberapa menit sudah mencapai dasar danau.
Tidak ada cahaya penerang di dasar danau, para peserta harus mempersiapkan batu cahaya untuk bisa melihat dimana letak lencana itu. Tapi Raynor tidak membutuhkannya, menggunakan kemampuan ruang tanpa batas dia melihat segala bentuk benda yang ada di sekitarnya.
Semua disembunyikan oleh guru pengawas di antara bebatuan dasar danau, cukup mudah untuk Raynor mengambil empat lencana dan bersiap kembali ke permukaan.
Hanya saja tepat di atas Raynor sudah terlihat sosok pangeran Erdan yang datang untuk melepas serangan energi. Ledakan besar membuat gelombang untuk menghempas tubuh Raynor.
'Jadi Furan kalah, bagiamana pun pangeran Erdan ini cukup kuat dan Furan tidak mungkin mampu mengalahkannya.' pikir Raynor.
Bukan Raynor namanya kalau tidak membalas, pedang besar yang ada di genggaman tangan mulai terisi dengan tenaga dalam, tepat ketika Pangeran Erdan ada di depan mata, ayunan pedang Raynor menghasilkan gelombang energi dan meledak kuat .
Pangeran Erdan terhempas jauh hingga menabrak bebatuan besar, tapi di kesempatan itu Raynor segera berenang naik ke permukaan, melepas gaya dorong dari energi tenaga dalam melalui telapak kaki.
Seperti yang Raynor rencanakan, dia sudah memberitahu kepada Erza, Siva atau pun Furan untuk tidak bertarung terlalu lama, hanya sebatas menganggu orang-orang yang coba menghalanginya saja.
Setelah Raynor lolos mereka pun segera di paksa kembali ke permukaan dan menunggunya datang. Tidak peduli bagaimana cara yang dilakukan untuk mendapat lencana, semua akan sah-sah saja. Karena di ujian ini para guru menilai seberapa tangguh peserta dalam bertahan hidup.
Raynor sampai di permukaan dan Erza bersama Furan sudah menunggu di sana, tapi terlihat raut wajah itu begitu khawatir untuk sesuatu.
Erza berjalan mendekat sedikit terburu-buru, dengan bingung dia pun berkata..."Ray, Siva menghilang, aku tidak menemukannya ketika naik ke atas."
"Hmmm aku mengerti." Jawab Raynor.
"Kenapa kau begitu tenang." Erza bertanya khawatir.
__ADS_1
"Dalam hal ini kita tidak boleh panik, aku akan menyerahkan lencana ku terlebih dahulu kepada pengawas, kemudian aku akan mencari Siva."
Segera Raynor berlari menuju pengawas yang ada di depan pintu masuk sekte teratai api. Dia sudah memastikan dirinya tercantum sebagai peserta pertama yang lolos dalam ujian ini.