The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Sebuah gambar


__ADS_3

Rumit di tunjukkan oleh Sania ketika melihat rupa seseorang yang tergambar di dalam kertas milik Erza.


"Aku tidak tahu siapa, aku bahkan sempat berpikir jika ini adalah gambar monyet atau sejenisnya ?." Jawab Sania yang bingung dengan rupa di gambar Erza.


"Ini manusia nona, ya awalnya juga aku berpikiran sama dengan anda." Tapi Erza tidak membatah.


"Lagian gambarnya benar-benar jelek, orang yang menggambarkan ini harus ikut kursus melukis."


"Anda benar." Tertawa Erza karena cukup akrab untuk mereka membicarakan sesuatu.


Siapa pun orang yang mendengar pembicaraan mereka jelas akan tersinggung. Meski pun Erza tahu, belajar melukis tidaklah berguna untuk para bandit, karena pekerjaan mereka bukan memegang kuas.


"Tapi kenapa kau mencari orang itu." Balik Sania bertanya.


"Ya ada banyak alasan, tapi aku harus mencarinya."


"Meski aku jarang keluar rumah, tapi aku yakin, orang seperti itu tidak ada di kota Losborn." Jawab Sania.


Lemas Erza menghembuskan nafas berat...."Hanya saja, aku dalam masalah jika tidak menemukan orang ini."


"Kalau begitu, apa kau tidak memiliki petunjuk lain."


"Soal itu...." Erza ragu-ragu untuk mengatakannya.


Dia tentu sempat berpikir jika tidak ingin melibatkan Raynor atau pun Sania dalam masalah pribadinya, terlebih ini berhubungan dengan kejahatan para bandit.


Tapi jika Erza tidak bisa menemukan orang seperti yang ada di dalam gambar, tentu hidupnya terancam, kebahagiaan untuk melepaskan diri dari para bandit akan sirna.


"Yang aku tahu, dia adalah orang yang menyelamatkan putri Siva ketika ada pembunuhan mengincarnya." Ucap Erza demi satu petunjuk keberadaan orang di gambar.


"Ah...." Sania tentu paham penjelasan Erza.


"Apa anda tahu nona ?." Erza bertanya melihat Sania seperti memahami sesuatu.


"Hmmm, sebaiknya kau tanya orang yang ada di belakangmu." Tunjuk Sania ke belakang Erza.


Erza pun berbalik, melihat siapa sosok yang disebutkan oleh Sania, dan itu adalah Raynor, dia baru saja keluar dari dalam pondok setelah berdiskusi dengan tuan Lamo tentang bentuk senjata miliknya.


"Eh ada apa ?." Raynor bingung ketika dua wanita cantik menatapnya bersamaan.


"Tidak, hanya Erza ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Jawab Sania.


"Aku pikir kalian terpesona dengan wajah tampanku."


"Dari mana asal pikiran itu." Erza yang membantah dengan gugup.

__ADS_1


Raynor datang untuk duduk dan mengambil gelas di tangan Erza untuk dia minum dalam satu tegukan.


"Jadi apa yang ingin kau tanyakan." Tanya Raynor.


Erza kini memberikan gambar yang dia pegang kepada Raynor. Sama seperti Sania, Raynor menunjukkan wajah rumit ketika melihatnya.


"Siapa lelaki jelek ini." Berkomentar Raynor.


Sania tertawa karena mendengar pendapat Raynor untuk penilaian terhadap dirinya sendiri.


"Kenapa kau tertawa Sania." Raynor pun bingung.


"Tidak, bukan apa-apa."


Melihat ke arah Erza, Raynor bertanya balik..."Jadi kenapa kau menunjukkan gambar jelek ini kepadaku."


"Sania berkata kau mengenalnya."


"Aku tidak pernah mengenal siapa pun dengan wajah jelek seperti monyet, tapi kenapa kau berpikir aku mengenalnya, Sania ?."


"Katakan Erza siapa orang di gambar itu." Sania ingin Erza yang mengatakannya sendiri.


"Dia adalah orang yang menyelamatkan putri Siva dari pembunuh." Jawab Erza seperti perintah Sania.


Kini ekspresi Raynor berubah, penuh dengan emosi meremas kertas bergambar yang dia pegang dan melempar hingga jauh.


"Apa yang kau lakukan Raynor, itu satu-satunya petunjuk yang aku miliki, kenapa kau membuangnya."


"Jadi itu alasanmu tertawa Sania." Raynor kesal.


"Aku hanya berpikir, jika orang yang menggambarkan wajahmu, membayangkan kau itu seperti seekor monyet."


"Apa yang kalian bicarakan ?." Erza bingung kenapa Sania tertawa dan Raynor kesal.


"Orang di gambar itu adalah Raynor." Jawab Sania dengan menunjuk kepada Raynor.


"Eh ?." Erza bingung.


"Bukan aku, jelas wajahku jauh lebih baik daripada di dalam gambar." Raynor menolak.


"Sudahlah jangan marah Ray, bukan hal penting juga kan ?." Sania coba menenangkan emosi Raynor.


"Jelas ini adalah hal penting, harga diriku seperti sedang terhina."


Mendengar ucapan Raynor dan Sania, dia seakan memahami ke mana arah pembicaraan mereka berdua.

__ADS_1


"Jadi kau yang menyelamatkan putri Siva." Terkejut Erza.


"Ya benar, tapi katakan siapa orang yang menggambarnya, aku akan membayar penghinaan karena asal menggambar wajah ku." Raynor bertanya dengan sorot mata tajam.


"Aku tidak tahu, aku hanya diminta mencarinya saja."


"Baiklah, tapi kenapa ada orang yang mencari ku ?."


"Aku juga tidak tahu, maaf." Erza tidak mungkin mengatakannya.


Kejutan ini membuat Erza bingung, di satu sisi dia hanya ingin melepaskan diri dari para bandit untuk mengikuti Raynor, tapi di sisi lain Raynor sendiri adalah orang yang para bandit itu cari, hidup Raynor dalam bahaya karena dirinya.


Erza tidak ingin itu terjadi, meski perkenalannya dengan Raynor tidak lebih dari satu bulan lalu, tapi dia merasa begitu dekat dan nyaman. Jika alasan berada di sini akan menjadi bencana untuk Raynor, tentu Erza tidak menginginkannya.


"Maaf Raynor, sepertinya tiba-tiba saja aku merasa tidak enak badan, aku akan pulang." Erza beralasan.


"Pekerjaan hari ini juga sudah selesai, kita bisa melanjutkannya besok, apa perlu aku antar."


"Tidak perlu, aku akan pulang sendiri." Bergegas untuk pergi.


Raynor segera menarik tangan Erza..."Erza tunggu."


"Apa kau yakin ?, Kau terlihat pucat, aku bisa memberikan mu perawatan kalau kau mau." Menempatkan tangannya di dahi Erza dan sedikit memastikan kondisinya.


"Itu tidak perlu, kau tidak perlu khawatir Raynor, aku akan pulang untuk beristirahat."


"Kalau begitu ambilah ini." Raynor mengeluarkan beberapa koin emas sebagai upah yang dia janjikan kepada Erza.


Tapi Erza hanya melihat tanpa ingin mengambil koin itu, Raynor sangat baik, bahkan jika dirinya yang akan membuat Raynor celaka, Raynor tetap menunjukkan sikap baik.


Ini menjadikan Erza merasa bersalah, dia pun berlari pergi dengan tergesa-gesa untuk menuruni bukit.


Raynor bisa merasakan perubahan sikap Erza, dia cukup yakin bahwa Erza sedang menghadapi sesuatu yang begitu rumit.


"Bagaimana menurutmu Sania." Raynor meminta Pendapatnya.


"Erza menyembunyikan sesuatu."


Raynor mengangguk paham...."Aku tahu, apa ini berhubungan dengan orang yang mencoba membunuh Siva."


"Aku juga berpikir seperti itu, sebaiknya kau memastikan sendiri Ray."


"Akan aku lakukan, tapi bisakah kau membawa Tuan Lamo pulang." Pinta Raynor.


"Tentu saja, kau jagalah Erza, dia gadis baik jadi jangan membuatnya dalam masalah."

__ADS_1


Raynor berjalan pergi untuk mengikuti Erza kembali ke kota kerajaan Losborn dan menyerahkan Tuan Lamo kepada Sania agar membantunya pulang.


Siapa pun orang yang memiliki hubungan tentang rencana pembunuhan Siva itu akan membawa masalah kepada Erza, Raynor yakin Erza sudah berubah dan bisa dipastikan ada alasan kenapa dia mencari dirinya.


__ADS_2