
"Sania, Raja tempur tahap awal."
Suara paman Yuran terdengar ke telinga semua orang. Siapa yang tidak terkejut saat mendengar pernyataan paman Yuran atas hasil penilaian Sania itu.
Bahkan siapa pun bisa melihat Darnu seperti orang terdesak biji kedongdong, tak percaya jika setelah semua kesombongannya kepada generasi muda klan harimau merah, harus hancur di hadapan Sania.
Sorak-sorai tentu merasa bangga atas pencapaian Sania, berbeda dengan Darnu, Sania tidak sedikit pun ingin membanggakan diri, segera turun karena merasa malu oleh banyak pujian yang di tunjukan kepada dirinya.
"Tidak mungkin, pasti artefak itu rusak." Darnu menolak percaya meski pun bukti ada di depan mata.
"Maaf apa ?." Sania balik bertanya dengan tatapan kesal.
"Seorang ahli beladiri tingkat raja tempur, jelas ada kesalahan disini, setiap hari yang aku lihat kau hanya bermain-main dengan Raynor."
"Jaga bicaramu kak Darnu, aku berlatih dengan Raynor setiap hari." Sania membantah keras ucapan Darnu.
"Memang latihan apa dengan anak numpang itu, dia tidak lebih seorang ahli beladiri tingkat penguasaan jiwa."
"Jika kau tahu, Raynor jauh lebih hebat darimu kak Darnu." Sania memberi pembelaan karena asal kekuatannya adalah berkat Raynor.
"Satu bulan lalu memang aku akui kekuatan Raynor, tapi tidak untuk sekarang."
"Jangan banyak berharap, atau kak Darnu akan menangis menerima kenyataannya." Jawab Sania yang tersenyum mengejek.
Sania berjalan melewati Darnu, tidak perduli dia sedang marah, Sania lebih khawatir karena Raynor belum datang.
Selagi orang-orang yang mendukung Sania begitu senang dan bangga, atau pun pendukung Darnu yang tidak mau menerima kenyataan, satu orang terlihat murung karena Sania menunjukan diri jauh di atasnya, dia adalah Furan.
Bagi seorang kakak, mereka tidak mau kalah dengan sang adik, harga diri sebagai orang yang akan melindungi, tapi kini percuma, karena bagi Furan, Sania sudah melampaui kekuatannya.
"Selanjutnya, Raynor." Panggil paman Yuran.
Tapi Raynor masih belum datang, paman Yuran pun tidak melihat di dalam barisan.
"Maaf paman Yuran, Raynor belum datang, biarkan orang lain melakukan penilaian terlebih dahulu." Sania angkat bicara.
"Dimana dia, apa Raynor tidak tahu hari ini sangat penting."
"Aku tidak tahu dimana Raynor sekarang, tapi aku yakin paman, dia akan segera datang."
Karena ini bukan pertandingan, tentu paman Yuran masih bisa memaklumi keterlambatan Raynor. Tapi tidak ada kesempatan lain jika pertandingan empat klan utama telah di mulai.
Ketika ada satu peserta terlambat, mereka akan mengeluarkan orang itu dan dianggap kalah, atau pun ter diskualifikasi dari pertandingan.
"Baiklah, selanjutnya Furan."
Lelaki bertubuh gemuk itu berjalan maju, wajahnya suram, lemas dan putus asa, tidak perduli tentang kekuatannya sebagai ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, dia tidak akan dipilih oleh ayahnya karena penyakit yang dia derita.
Paman Yuran paham atas situasi dari Furan... "Furan apa kau yakin."
"Iya paman."
__ADS_1
"Jangan memaksakan diri."
"Aku...." Wajah Furan pucat.
Dia membayangkan kembali bagaimana Sania mendapat semua pujian karena mencapai tingkat raja tempur, sedangkan dirinya tidak mampu berkembang meski berlatih sedemikian keras.
"Percuma saja kau gem*uk lebih baik turun dan tidurlah di dalam kamar."
"Kau tidak lebih baik dari Sania."
"Dasar beban."
Sania mendengar setiap ucapan orang-orang, rasa marah menyelimuti Sania, dia tidak pernah menganggap kakaknya sebagai beban atau tidak berguna.
"Diam kalian semua." Tegas suara Sania mengehentikan semua perkataan itu.
Semua orang merasakan tekanan energi tenaga dalam kuat dari Sania, tidak ada yang berani bersuara disaat melihat tatapan tajam seakan ingin membunuh.
Di sisi lain....
Regar dan semua orang mendengar ucapan yang diarahkan kepada Furan, raja Sura pun menyadari ada kejanggalan dari Furan.
"Regar apa kau tidak menghentikan mereka bicara seperti itu kepada anakmu." Raja Sura lah yang berkata demikian.
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan, aku ingin melakukannya, tapi jika aku membela Furan, dia akan merasa lebih terhina."
"Tapi mereka benar-benar kelewatan." Raja Sura tidak terlihat senang.
Bukan berarti Regar tidak menyayangi Furan, tapi harga diri sebagai seorang lelaki haruslah dia lindungi sendiri, Furan tidak ingin dianggap sebagai orang yang mengandalkan nama ayahnya, dan Regar tahu itu.
"Apa yang kau katakan, bagaimana bisa kau menganggap dirimu sebagai seorang ayah."
"Jika memang karena penghinaan itu Furan hancur, maka biarkan itu hancur, dia harus menyadari bahwa menjadi ahli beladiri tidak cocok untuknya." Ucap Regar meski berat hati, tapi itu yang dia inginkan.
Penyakit Furan tidak bisa Regar sembuhkan, meski sudah banyak tabib dia bawa untuk mencoba. Setiap kali Furan mencoba berlatih, tubuhnya seakan tidak mampu menampung energi tenaga dalam yang muncul.
Regar takut itu akan membahayakan tubuh Furan sendiri, sehingga Regar berharap kepada anaknya agar berhenti.
Furan menguatkan hati, dia menempatkan posisi di depan tugu artefak dan mulai mengalirkan energi tenaga dalam, takut jika orang-orang akan mengejeknya, cemas ketika dia harus dibanding-bandingkan dengan Sania.
Dan menang ada darah keluar dari hidung Furan disaat aliran tenaga dalam memasuki tugu artefak. Sania khawatir, begitu pula paman Yuran.
Tapi Furan menghentikan mereka untuk datang dan membawa dirinya turun.
"Furan, tingkat pemahaman bumi tahap awal." Paman Yuran segera mengucapkan hasil.
Gundira yang melihat dengan mata batin tahu bahwa energi dari tubuh Furan sangat buruk, tidak stabil dan kacau.
"Regar, jika anakmu itu tidak segera mendapat perawatan, dia akan kehilangan kemampuannya untuk berlatih tenaga dalam." Gundira memberi nasihat.
"Aku tahu itu tuan guru, tapi di seluruh tabib di daratan timur tidak ada yang mampu menyembuhkan Furan, aku sudah mencobanya."
__ADS_1
"Sungguh sangat disayangkan." Menggeleng kepala Gundira merasa iba.
Furan berbalik arah, langkah kaki lemas membawanya kembali ke barisan, melihat wajah-wajah yang menatapnya penuh ejekan, tertawa-tawa dengan penuh penghinaan, dia sendiri tahu bahwa semua percuma saja, tapi Furan hanya ingin membuktikan diri bahwa dia bukan orang tidak berguna.
Kemarahan Sania sudah sangat besar, dia hendak melepas tenaga dalam dingin kepada semua orang di sekitarnya. Tapi belum sempat Sania bertindak, sebilah pedang besar jatuh dari atas langit.
Ledakan besar membuat siapa pun terkejut, dan satu sosok bayangan berdiri di atas pedang yang kini menancap lurus di tanah.
"Apa kalian pikir, kalian lebih baik dari Furan." Sosok itu bersuara.
Semua orang diam di tempat, seakan takjub akan kehadiran yang mengejutkan, atau juga mereka takut saat merasakan aura dari lelaki di atas pedang itu.
"Raynor...." Panggil Sania yang mengenal suara darinya.
"Maaf terlambat Sania, banyak hal terjadi kepada Erza, jadi aku baru datang sekarang."
Raynor turun dan menarik pedangnya untuk dimasukan kembali kedalam dunia spiritual, dia berjalan ke tempat Furan saat masih terjatuh dengan wajah terkejut.
"Jangan dengarkan ucapan mereka, karena sebenarnya kau sangat kuat, Furan." Ucap Raynor yang membantu Furan berdiri.
"Terimakasih, Raynor."
Setelah suasana lebih tenang, Raynor berjalan mendekati paman Yuran.
"Maaf paman Yuran karena ada hal yang harus aku selesaikan." Raynor memberi alasan meski itu tidak perlu.
"Itu bukan masalah, apa kau bisa melakukan penilaian sekarang ?." Jawab paman Yuran.
"Tentu saja."
Kejutan dari hadirnya Raynor tidak hanya dirasakan orang-orang di halaman, begitu juga para tetua yang hampir terjatuh dari kursi saat merasakan ledakan pedang itu datang.
Para tetua pun mulai berkomentar....
"Bagaimana mungkin anak itu muncul dengan cara yang tidak biasa, lantas apa gunanya sebuah pintu."
"Kedatangan membuat ku terkejut, kemana dia selama ini."
"Dia hampir membuatku pingsan. Dasar anak serampangan, tidak tahu adat."
Gundira begitu fokus melihat kehadiran Raynor dan dia pun bisa menebak dari wajahnya yang mirip dengan Rezar.
"Apa dia itu Raynor, putra Rezar." Ucap Gundira bertanya.
"Itu benar tuan guru."
Sebuah senyum terlintas di wajah tua berjanggut milik Gundira, ada yang tidak biasa sedang dia perhatian dengan mata batin. Aura merah darah membentuk jubah dan titik-titik cahaya seperti mahkota.
"Apa mungkin dia orang yang mampu mengalahkan raja ular putih." Gumam Gundira sendirian.
Ada keraguan karena tingkat kekuatan Raynor berbanding jauh jika harus melawan raja ular putih, tapi Gundira tetap tertarik, tidak hanya sebatas Raynor putra murid terbaiknya, melainkan wujud dari aura yang dia lihat sangat kuat.
__ADS_1