
Memasuki ruang kamar Furan, semua terlihat seperti tempat perawatan untuk orang sakit, Raynor bisa melihat di bawah ranjang yang menjadi tempatnya tidur terdapat bertumpuk batu kristal energi dimana itu memberikan efek sebagai pelancar aliran darah.
Ada pun hal lain adalah botol-botol kosong dari sisa ramuan obat yang setiap hari di konsumsi oleh Furan, jumlahnya cukup banyak, dan di tubuh Furan sendiri terdapat beberapa artefak khusus sebagai sarana menyetabilkan energi tubuh.
Itu adalah cara Regar demi menyelamatkan Furan dari penyakitnya, tapi bagi Raynor, apa yang dialami oleh Furan bukanlah sebuah penyakit, karena kerusakan di bagian vitalnya tidak disebabkan oleh apa pun dari luar, melainkan itu sudah ada sejak dia lahir.
Untuk masa hidup Furan sebelum memasuki usia mengolah energi tenaga dalam, tidak ada keanehan yang terjadi. Tapi beberapa tahun setelah dia berlatih tenaga dalam, organ vital itu tidak sanggup menampung sejumlah kekuatan yang muncul.
Oleh sebab itu, Raynor membuat ramuan perbaikan tubuh dan memperbaiki struktur aliran energi yang telah rusak, kemudian memperkuatnya agar tidak terjadi kerusakan organ vitalnya lagi.
Furan membuka mata ketika sadar jika Sania datang, wajahnya terlihat lemas, nafas yang perlahan-lahan, dan aura energi dari Furan sangatlah lemah.
"Nia, bagaimana dengan pertandingan mu." Bertanya Furan.
"Aku sudah menang kakak."
"Syukurlah kalau begitu." Furan tidak menunjukkan kebahagiaannya terhadap pencapaian Sania.
Furan tentu masih memiliki rasa iri, meski Sania adalah adiknya sendiri, semua orang yang menganggap bahwa dia tidak berguna dan selalu membandingkan antara mereka berdua.
"Jadi kenapa kau ada di sini Nia ?."
"Aku ingin kakak, minum ramuan ini." Diberikan satu botol ramuan yang Sania bawa ke tangan Furan.
"Ramuan apa ini ?."
"Aku mendapatkannya dari seseorang, dia mengatakan jika itu akan memperbaiki organ dalam di tubuh kakak." Raynor sudah berpesan untuk Sania tidak mengatakan apa pun soal ramuan itu.
"Jangan memberi harapan besar, Nia, aku tidak tahu apa ramuan ini akan berhasil." Jawab Furan dengan senyum getir.
"Kalau begitu kakak harus mencobanya, aku merasa yakin jika ini akan mengobati kakak." Sania sedikit memaksa.
Furan tidak bisa menolak keinginan dari Sania ... "Jika kau bilang begitu, aku akan coba percaya."
Masih ragu-ragu untuk Furan meminum ramuan dari Sania. Dia melirik ke arah semua orang seakan tidak nyaman.
"Kenapa kau ragu begitu, cepat lah kau minum dan kau akan tahu seberapa manjur ramuan itu." Ucap Raynor.
"Jangan banyak bicara kau Raynor, aku ini baru akan meminumnya, tapi...." Furan merasa enggan.
"Tapi apa ?, Kau takut pahit .... Jangan manja Furan."
__ADS_1
"Aku tidak takut pahit... Tapi Nia apa ada yang rasa strawberry." Balas Furan.
"Jika kau lelaki, tidak perlu rasa strawberry, rasa jeruk atau rasa alpukat, itu demi kesembuhan mu, kau harus meminumnya." Paksa Raynor meski sedikit mengejek Furan.
Furan tidak terima...."Kenapa kau yang memaksa."
"Sudah kakak, minum saja." Pinta Sania.
Furan pun tidak lagi peduli soal rasa, dia menenggak habis semua ramuan, meski ekspresi wajah itu seperti ingin memutahkan kembali yang dia telan.
"Cepat kau bermeditasi." Raynor memberi arahan.
"Untuk apa ?."
"Itu demi menyerap efek ramuan agar sempurna."
"Baiklah, baiklah." Furan pun mengikuti anjuran Raynor.
Selagi Furan duduk bersila dan memejamkan mata untuk mengalirkan energi tenaga dalam ketika meditasi. Raynor dari belakang sudah bersiap dengan energi pengobatan yang akan dia berikan kepada Furan.
Meski dari ramuan itu saja, Furan bisa sembuh, tapi jika Raynor menambahkan energi pengobatan tentu keefektifan ramuan jauh lebih besar.
Kesepuluh jari Raynor ditempatkan dalam titik-titik syaraf di punggung Furan yang terhubung langsung ke organ vitalnya, aliran energi pengobatan di lepaskan masuk untuk mulai memproses perbaikan tubuh.
Regar terkejut ketika melihat seorang anak kecil yang berdiri di sebelah pintu kamar Furan, tentu dia sadar siapa anak itu, tapi yang menjadi pertanyaan kenapa dia ada di sana.
"Aslan, kenapa kau disini." Bertanya Regar karena dia tidak pernah melihat Aslan keluar ruangannya.
Aslan gugup ..."Tu... Tuan Regar, maaf, tapi... Tapi... Aku disini karena Raynor."
"Raynor ?."
Regar segera membuka pintu kamar, dan dia melihat Sania serta Raynor di dalam, sedikit terkejut dimana saat ini Raynor sedang melakukan sesuatu kepada Furan.
"Sania apa yang terjadi, kenapa Raynor ada disini." Terkejut Regar karena dia tidak memperbolehkan siapa pun memasuki kamar Furan.
"Ayah, tenang lah, Ray, sedang membantu penyembuhan Kakak Furan."
Khawatir jika terjadi sesuatu kepada Furan, Regar jelas sedikit kesal...."Jangan bercanda, bagaimana mungkin Raynor bisa melakukannya."
"Lihat saja, ayah, percayakan semua kepada Ray."
__ADS_1
Regar tentu tidak ingin percaya, tapi melihat keseriusan wajah Sania dia hanya bisa menyerahkan semua kepada Raynor.
Melihat apa yang sedang terjadi, Regar bisa merasakan adanya lonjakan energi muncul dari Furan dan kepulan asap pun seperti sedang membakar tubuhnya.
Tentu dia merasa khawatir dan berniat menghentikan Raynor, tapi Sania cepat menahan tangan Regar tanpa mengatakan satu kata pun.
Seketika itu sekepal darah hitam keluar dari mulut Furan, aroma busuk tercium kuat, bahkan Regar tidak menyembunyikan sikap untuk menutup mulut dan hidungnya.
Tapi setelah itu, Furan jatuh dan Raynor membantunya berbaring, nafas Furan yang sebelumnya berat, naik turun seakan mencekik leher, kini terasa lancar tanpa ada hambatan apa pun."
Raynor membuka mata, dia tersenyum cerah ke arah Regar.
"Apa yang terjadi Raynor." Bertanya Regar.
"Paman Regar, darah itu adalah darah kotor yang mengendap di dalam organ vital milik Furan, karena peredaran darahnya tidak lancar dan tersumbat itu membuatnya kesulitan dalam mengalirkan energi tenaga dalam." Raynor pun menjelaskan.
"Apa itu artinya kak Furan bisa sembuh ?." Bertanya Sania penuh harapan.
"Tentu saja bisa, aku sudah mengeluarkan kotoran yang mengganggu aliran darah, saat ini ramuan itu sedang melakukan perbaikan di tubuh Furan."
Seakan keajaiban jatuh di atas kepala Regar, lututnya lemas hingga tidak bisa menopang tubuh besar yang sebelumnya berdiri kokoh tanpa lawan.
"Tapi... Tapi bagaimana mungkin kau melakukan hal ini."
"Paman Regar, kau tahu bahwa aku memiliki banyak rahasia yang tidak pernah kau bayangkan, tapi sayangnya aku tidak bisa menceritakan semua yang ingin paman tahu." Raynor jelas menolak pertanyaan itu.
"Ya aku bisa memahaminya." Regar pun tidak bisa memaksa.
Seperti yang Raynor sudah jelaskan kepada Sania, Regar diberikan dua botol ramuan tersisa untuk proses penyembuhan Furan selanjutnya dan dia pun segera keluar.
Tapi tepat di luar kamar, dua anak kecil saling berhadapan satu sama lain. Mereka adalah Sisha dan Aslan yang dimana keduanya terlihat saling beradu mulut.
"Paman, siapa anak kecil ini, dia menganggu ku." Ucap Sisha.
"Jangan panggil aku anak kecil, kau juga masih kecil." Balas Aslan tersinggung.
"Lihat paman, dia bicara kasar kepadaku."
"Kau duluan yang memulainya."
Raynor tersenyum pahit melihat tingkah dua bocah yang meributkan sesuatu tidak penting.
__ADS_1
"Sebagai sesama anak kecil, jangan ribut, ok." Balas Raynor.
Dia pun segera saja Raynor membawa mereka berdua agar tidak menggangu waktu Furan yang sedang beristirahat.