The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
identitas


__ADS_3

Wajah wanita itu tidak menujukan keinginan untuk meminta buah duku yang Raynor tawarkan kepadanya. Sekilas pandangan Raynor melihat pedang Liana yang baru jatuh dari atas langit dan mendarat tepat di depan mata.


"Cepat kau pergi, dan sisakan buah dukunya." Kata wanita itu yang masih kesakitan tapi masih memikirkan buah duku.


"Eh, ternyata kau mau ?." Jawab Raynor yang tidak perduli sedikit pun atas peringatan dari gadis bernama Liana itu.


"Jangan banyak bicara, cepat kau pergi, sebelum mendapatkan masalah." Liana berteriak keras kepada Raynor dan mencoba untuk berdiri.


Tidak perlu satu nafas, sesosok lelaki dewasa tampan berbaju putih sedikit kuning, muncul dan berdiri dibelakang Raynor dengan bersiap melancarkan sebuah tebasan pedang.


"Kau menghalangi jalan ku, bocah." Ucap lelaki di belakang Raynor.


Raynor bisa merasakan jika sosok yang ada dibelakangnya memang kuat, dia adalah seorang ahli beladiri tingkat lord tempur tahap akhir. Tapi seakan tidak peduli tentang seberapa kuat lelaki yang bernama Hazard Lue itu, Raynor tetap mengunyah dulu dengan santai.


"Jangan melawan, pergi dari sini, Raynor." Teriak Liana yang berlari sekuat tenaga untuk menghentikan serangan pedang dari Hazard Lue ke arah Raynor.


Tapi Raynor tidak memperdulikan teriakan Liana, secara cepat dia bergerak ke samping untuk menghindar. Kemampuan ruang tanpa batas terbentuk mengelilingi sekitar tubuh Hazard Lue dan Liana, semua gerakan seperti menjadi lambat di depan mata.


"Kau...." Hazard Lue terkejut, karena jelas Raynor tidak memiliki kesempatan menghindar. Tapi itu benar-benar terjadi.


"Kau terlalu kasar kepada seorang wanita."


Satu tendangan kuat cepat Raynor lepaskan menghantam perut Hazard Lue hingga terlempar jauh ke atas langit, tanpa ada yang tahu kemana dia akan mendarat.


Dengan kekuatan tingkat raja tempur tahap akhir yang Raynor miliki sekarang, kesetaraan sudah menyamai ahli beladiri tingkat guru, jadi Hazard Lue bukan masalah besar untuk dia lawan.


Tapi ketika Liana datang tepat di sebelah Raynor, dia terlihat kebingungan ketika sosok Hazard Lue sudah lenyap sedangkan Raynor masih berdiri tanpa luka sedikitpun.


"Apa yang terjadi." Ucap Liana.


"Entahlah, mungkin dia mules, dan ingin cepat-cepat pulang." Jawab Raynor yang masih dengan santai mengupas kulit duku ditangannya.


Liana hilang keseimbangan dan jatuh tepat disamping Raynor, tapi dengan cepat Raynor menangkap tubuhnya sebelum menyentuh tanah.


"Sua sebaiknya kau ikut aku ke penginapan untuk mengobati lukamu." Kata Raynor menawarkan bantuan.


"Baiklah." Jawab Liana yang menerima tawaran Raynor.


Beberapa saat, Liana merespon panggilan Raynor secara biasa, tapi seketika dia pun sadar...."Tunggu kenapa kau tahu aku ini Sua ?."


"Hmmm insting ?, Instingku cukup tajam jika berurusan dengan wanita."


"Jangan bercanda Raynor, aku serius." Liana itu bingung.


"Aku juga, tapi awalnya aku tidak mengenal mu, tapi melihat pedang dan kau memanggil namaku, akhirnya aku sadar." Raynor menjelaskan.


"Hanya dengan itu."

__ADS_1


"Aku sangat paham dengan pedang yang kau beli dariku, jadi jangan salah, insting ku bisa diandalkan... Tapi yang aku pertanyakan kenapa dengan penampilan mu ini." Balas Raynor.


Bagaimana pun terlihat, nama Liana putri api merah darah menggambarkan sosok wanita dengan rambut merah seperti api dan riasan menor bibir bergincu merah.


"Rambutku memang seperti ini, tapi sisanya hanya sekedar penyamaran." Jawab Serin Sua.


"Ah... Apa kau juga memalsukan identitas mu di sekte teratai api."


"Bisa dibilang begitu, tapi guru Gundira tahu tentang rahasia ini dan guru pula yang menyarankan untuk mengubah warna rambut ku."


"Termasuk dendam dengan lelaki bernama Hazard Lue itu apa guru Gundira juga tahu ?." Kembali Raynor bertanya.


"Ya, karena guru Gundira lah yang menyelamatkan ku saat sekte iblis tanah neraka membantai habis desa Tunadan di kerajaan Sunfall. Jadi beliau tahu masalah antara aku dan Hazard Lue."


"Ternyata masalah yang kita miliki sama." Gumam Raynor sendirian meski pun dia sendiri belum sepenuhnya yakin soal anggapannya kepada sekte iblis tanah neraka.


"Aku pun sudah mendengar itu dari guru Gundira." Jawab Raynor.


Kejadian di desa Maresha memang menjadi berita yang tersebar di seluruh kerajaan Losborn, sehingga bukan hal aneh jika Serin Sua tahu tentang itu.


Raynor berjalan membawa Serin Sua pergi untuk kembali ke penginapan kota Tegalasa, keadaan tubuh yang penuh luka, tentu dia tidak akan bertahan, jika harus melawan beberapa binatang iblis tingkat tinggi seorang diri.


"Raynor, arah kota Tegalasa ke sana." Tunjuk Liana ke arah timur.


"Ah maaf aku memang sedang tersesat, jadi aku lupa arah jalan pulang." Jawab Raynor yang tersenyum tidak jelas.


"Apa benar aku akan baik-baik saja." Gumam Serin Sua yang tampak lemas memikirkan tentang kondisinya sekarang.


Keduanya berjalan secara perlahan melewati rindangnya pepohonan hutan Jatilowa untuk segera kembali ke kota Tegalasa.


Liana mengulurkan tangan... "Bagi buah duku nya."


"Nih." Raynor memberikan satu buah ke tangan..


"Kenapa satu ?."


"Memang kau mau makan semua sekaligus, tanpa membuka kulitnya." Jawab Raynor yang merasa sedikit kesal karena sikap Sua.


"Tolong kupas, aku tidak bisa menggunakan satu tanganku." Kata Sua dengan sedikit mengeluh.


"Sudah aku tolong, masih nyusahin lagi." Gumam Raynor dan membuka duku ditangannya..."Mau sekalian aku suapin."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." Jawab Sua dengan malu-malu dan mengambil duku ditangan Raynor.


'Kalau bukan gadis cantik sudah aku buang.' Pikir Raynor yang sekali melirik kearah sua.


Jika dilihat dari perbedaan umur, Serin Sua berusia sekitar dua puluh empat tahun, dia menujukan aura sosok wanita dewasa dengan kecantikan menawan.

__ADS_1


Rambut merah, mata tajam, tubuh langsing, bentuk yang wow dan lembut, itu terasa jelas dari sentuhan tidak sengaja di punggung Raynor.


Beberapa waktu mengikuti arah....


"Tenang saja, tenang saja, kita sudah berjalan sampai matahari akan terbit, bagaimana mungkin bisa tenang." Kata Serin Sua yang merasa kesal.


Raynor sudah melihat pohon beringin besar dari dalam hutan, itu menunjukan bahwa kota Tegalasa tidak jauh lagi dari tempatnya.


"Maafkan aku, ternyata memang sulit untuk mencari jalan keluar dari hutan ini." Jawab Raynor atas ucapannya.


Raynor kembali berjalan membawa Liana yang dia tahan di punggung.


"Kemana kau Raynor." Serin Sua bingung kemana langkah kaki membawanya pergi.


"Ke sana." Tunjuk Raynor berlawanan dari arah pohon beringin.


"Jangan kembali lagi ke dalam hutan. Jalan sudah terlihat saja kau masih salah arah, bagaimana jika tidak ada aku, kau bisa sampai ke kerajaan Reskna." Lemas Liana memikirkan Raynor.


"Itu sudah biasa, bahkan bisa di katakan, jika tidak tersesat maka bukan aku." Entah kenapa Raynor menanggapi Serin Sua dengan tersenyum sombong.


Bahkan dulu penguasa tertinggi sampai tersesat ketika hendak pergi ke sebuah planet yang menjadi tujuannya, tapi berbelok arah ke planet lain yang entah dimana.


Beberapa penjaga gerbang kota yang bertugas untuk mengawasi pintu masuk terkejut, ketika mereka melihat seorang murid dengan lencana dari sekte teratai api datang dari arah hutan, dimana seorang wanita berambut merah yang tampak terluka berat sedang dibawanya.


"Tuan, kenapa kau datang dari dalam hutan, apa yang di lakukan murid sekte teratai api di pagi buta seperti ini." Bertanya salah satu penjaga.


"Sudah lupakan hal itu, ini masalah darurat." Raynor melemparkan dua koin emas untuk masing-masing penjaga.


Hal ini menjadi cara klasik agar mereka tutup mulut.


"Baiklah, tapi kenapa kau membawa seorang gadis, cantik lagi, jangan-jangan !!." Bertanya kembali penjaga itu karena membawa merasa curiga atas kondisi wanita berambut merah yang Raynor bawa.


"Sudah ini urusanku, anggap saja sudah terjadi kecelakaan karena bertemu binatang iblis tingkat tinggi." Lempar kembali dua koin emas untuk menyelesaikan masalah.


"Baiklah, aku akan tutup mata, tapi.." Penjaga itu mencari alasan lain agar mendapatkan keuntungan lebih.


Belum sempat penjaga itu berbicara, Raynor sudah memelototi mereka.


"Jika kau bertanya lagi, aku jejalkan sekantong koin emas ini ke mulut kalian berdua, sampai kalian tidak bisa bernafas." Ucap Raynor yang mengangkat satu kantong penuh koin emas.


Keduanya terdiam seketika dan menggeleng kepala karena takut melihat tatapan Raynor yang mengancam.


"Maaf merepotkan mu, Raynor." Ucap Serin Sua.


"Aku tidak masalah direpotkan. Selama kau memberi imbalan nantinya." Jawab Raynor.


"Kau benar-benar perhitungan."

__ADS_1


"Sudah menjadi kebiasaan ku untuk mencari imbalan atas apa pun yang aku kerjakan."


Serin Sua menggeleng kepala, kini dia merasa salah karena pernah menyatakan perasaannya kepada Raynor.


__ADS_2