The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
Rencana


__ADS_3

Setelah berjam-jam Raynor dan semua peserta bertarung melawan binatang iblis, kini hanya tersisa dua puluh orang yang masih bertahan. Mereka terlihat kacau, penuh luka dan hampir pingsan karena lelah.


Salah satunya adalah Darnu, siapa sangka karena rasa takut akan kematian, itu membuat Darnu bertahan lebih lama, dia melawan setiap binatang iblis sekuat tenaga.


Tapi tidak berhenti sampai disitu, tanpa menunggu mereka beristirahat satu makhluk dengan tubuh batu muncul dari bawah tanah. Itu adalah Golem raksasa setinggi dua puluh meter dan memiliki kekuatan setara ahli beladiri tingkat lord tahap awal.


"Ini bukan lelucon kan ?." Darnu melihat dengan sorot mata tidak percaya.


"Sepertinya bukan, karena aku pun merinding melihat makhluk itu datang." Jawab orang lain di samping Darnu.


Sedangkan Raynor tersenyum penuh semangat, dia menikmati pertarungan yang dihadapi oleh mereka sekarang.


"Tidak mungkin kita kabur, satu-satunya cara adalah menghadapi makhluk itu." Sang Qian cukup tenang.


Sang Qian tidak tinggal diam, dia segera melompat tinggi dan mengalirkan tenaganya dalam ke pedangnya. Satu ayunan itu dilepaskan, ledakan kuat memberi goresan besar di bagian kepala Golem.


Tapi serangan Sang Qian masih belum cukup untuk mengalahkan Golem, makhluk itu menghantam tubuh Sang Qian dan menjatuhkannya keras ke bawah.


Bagi seorang ahli beladiri tingkat raja tempur tentu mustahil mengalahkan monster yang setara ahli beladiri tingkat lord, semua orang harus menyerang bersamaan untuk mengimbangi kekuatan Golem.


"Sania kau masih bisa bertarung kan ?." Bertanya Raynor kepada Sania yang terkejut akan kekuatan makhluk itu.


"Aku akan mencoba sekuat tenaga." Sania mengeratkan pegangan di pedangnya.


"Baguslah kalau begitu."


"Apa ada yang kau rencanakan Ray."


"Tentu saja ada, tapi aku tidak bisa melakukannya sendiri." jawab Raynor.


Senyuman Raynor selalu memiliki banyak makna, tapi Sania percaya jika dia sudah melihat senyum itu, maka ada kepastian untuk menang.


Raynor menarik Darnu dengan paksa, dia tentu ingin memanfaatkannya agar bisa mengalahkan Golem.


"Darnu apa kau akan diam saja atau bertarung melawan Golem ini." Ucap Raynor memanggil Darnu.


"Jangan memerintah ku, jelas aku akan bertarung karena aku lebih kuat darimu." Tapi Darnu masih belum menerima Raynor.


"Baguslah."


Raynor mengarahkan Sania dalam rencananya, begitu juga untuk semua orang yang masih tersisa.


Sania sudah bersiap dengan kuda-kuda serangan. Sania mulai bergerak maju, sekumpulan energi tenaga dalam berwarna biru menyala terang di pedangnya, mengayunkan dari bawah Golem, Sania menggunakan kekuatan yang sudah dia pelajari.


"Dunia beku abadi : penjara dunia dingin."

__ADS_1


Menggabungkan kekuatan Phoenix biru dan teknik dunia beku abadi, wujud burung Phoenix melesat membekukan tanah yang ada di bawah pijakan kaki Golem.


Raynor ingin Sania mengunci pergerakan Golem, tapi dengan ukuran yang sedemikian besar, hanya separuh badan saja Sania mampu melepaskan serangan beku.


Rayos dan Darnu bersiap dari kejauhan dengan teknik serangan jarak jauh andalan klan harimau merah dan juga klan serigala hitam.


"Raja harimau memangsa matahari."


"Serigala hitam malam tanpa cahaya."


Dua warna kekuatan tenaga dalam melesat lurus membentuk perwujudan harimau merah dan serigala hitam, masing-masing mengarah ke kedua tangan golem hingga hancur.


Sang Qian, kembali melompat meski dia sudah dijatuhkan dengan keras, kilatan cahaya putih menyala di atas kepala Golem. Bersama Woyzo Elvord mereka berdua siap melepas kekuatan secara bersamaan.


"Naga langit surga yang runtuh."


"Garuda api pembakaran dunia."


Pedang Sang Qian dan Woyzo Elvord menyambar lurus dari atas ke bawah, kilatan petir bercampur kobaran api panas memberi retakan besar di bagian dada.


Kini giliran Raynor datang dengan pedang besar yang sudah diisi tenaga dalam secara penuh, retakan dari sang Qian membuka celah untuk menghancurkannya.


Raynor menancapkan pedang besar itu hingga masuk cukup dalam di bagian dada.


Dentuman keras pertama menghasilkan kekuatan penghancur luar biasa dan membuat tubuh Golem retak semakin besar.


Ledakan kedua dari pedang besar Raynor benar-benar meruntuhkan seluruh tubuh Golem hingga hancur menjadi kepingan batu yang jatuh berserakan.


Raynor memberi eksekusi akhir dari rencana untuk mengalahkan makhluk sekuat ahli beladiri tingkat lord tempur.


Meski pun sebenarnya tanpa perlu rencana yang melibatkan semua orang, dia bisa meratakan seluruh binatang iblis dan Golem dengan mudah. Tapi keinginan Raynor adalah menikmati pertarungan bukan sekedar membuang-buang waktu untuk ujian yang membosankan.


Setelah Golem itu hancur, Raynor melihat Sania terduduk dengan lemas, dia yang tidak pernah merasakan pertarungan nyata, kini untuk pertama kalinya harus dihadapkan dengan ilusi seakan hidup dalam bahaya.


"Nia, apa kau lelah." Bertanya Raynor.


"Aku bahkan tidak bisa merasakan tanganku saat memegang pedang ini." Jawab Sania dengan senyum pahit.


"Tapi ini cukup baik untuk dijadikan pengalaman mu dalam bertarung."


"Menurutmu begitu ?, tapi aku hanya merasa kau sendirilah yang menikmati pertarungan semacam ini."


"Ya sedikit." Balas Raynor.


"Apa ini akan berlanjut ?, Aku sudah tidak kuat." Keluh Sania seakan ingin pasrah.

__ADS_1


Dari dua puluh orang ini sudah menunjukkan betapa mereka berjuang demi hidupnya, Raynor tidak berencana memperpanjang waktu ujian kedua, sehingga dia pun berniat mengakhiri ilusi.


"Sepertinya sudah cukup." Ucap Raynor sendirian.


Sania yang mendengar merasa aneh...."Cukup ?, Apa benar tidak ada binatang iblis lagi yang akan menyerang kita."


"Ya, aku bisa yakin untuk hal itu."


"Kenapa kau bisa tahu Ray." Semakin penasaran apa yang dipikirkan Raynor.


"Karena aku sendiri lah yang mengatur semua rangkaian formasi prasasti ilusi di tempah ini." Jawab Raynor.


Setelah Raynor menjawab pertanyaan Sania, dia pun segera menghentikan jari tangannya, kilatan cahaya silau di mata semua orang dan ketika membuka mata, kesadaran mereka kembali ke tubuh yang nyata.


Mereka terkejut, melihat luka yang didapat ketika pertarungan melawan ribuan binatang iblis lenyap seakan tidak terjadi apa pun.


Sania dengan perasaan kesal berjalan ke tempat Raynor yang masih memejamkan mata dalam meditasi.


"Kenapa kau tidak mengatakan apa pun soal tadi." Berkata Sania di depan wajah Raynor.


Tanpa perlu membuka mata Raynor menjawab .... "Jika aku mengatakannya, maka tidak akan menjadi hal seru dalam pertarungan melawan Golem itu."


"Aku pikir aku benar-benar akan mati, kau tahu !!!."


"Seperti yang aku katakan, itu bisa menjadi pengalaman agar kau bisa berkembang Nia."


Di dalam pertarungan yang hanya sebuah ilusi, mereka tidak mungkin menunjukkan tekad untuk bertahan hidup melawan kematian. Tapi jika semua adalah nyata, mereka harusnya merasakan pertarungan dimana nyawa sedang dipertaruhkan.


Dua ujian di hari ini telah selesai, dan menyisakan enam belas wakil petarung yang dimana Raynor, Sania, Darnu satu orang klan harimau merah lolos untuk berhadapan satu lawan satu.


Hanya saja, karena ulah Raynor, ketika pulang membuat Sania lebih banyak diam.


"Apa kau marah Nia ?." Bertanya Raynor melihat wajah kesal Sania.


"Jika aku tidak marah, maka itu akan aneh."


"Baiklah, aku terlalu berlebihan, jadi...."


"Tidak, aku tidak akan memaafkanmu dengan mudah untuk hal ini." ...Sania pun berjalan pergi meninggalkan Raynor sendirian.


Ketika Sania sudah lenyap dari pandangan mata Raynor, dia tidak mengejarnya, karena ada sesuatu yang menarik perhatian Raynor diantara keramaian penduduk kota.


Ruang tanpa batas menangkap suatu aura familiar yang dia rasakan dengan jelas, mereka sedang mengawasi Raynor untuk sebuah rencana jahat.


Mereka adalah orang-orang yang mencelakakan Erza dan hampir membunuhnya di penginapan beberapa minggu lalu.

__ADS_1


__ADS_2