The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
lupa soal umur


__ADS_3

Ketua klan naga langit, Tu Naru Sursanto .


Berbeda dari tiga klan lain yang notabenenya menjadi para pendiri kerajaan Losborn sejak awal, tapi klan naga langit adalah sosok pendatang dan terus berkembang menjadi satu klan terbesar di kerajaan.


Klan naga langit tidaklah berasal dari daratan timur, mereka datang dari daratan tengah, dimana setiap kepala keluarga diperintahkan oleh klan utama naga langit untuk berkelana dan melebarkan kekuatan klan ke setiap kerajaan di benua angin biru.


Ini yang menjadi alasan kenapa bisnis senjata dan peralatan tempur milik klan naga langit bertahan meski saingannya banyak. Mereka memonopoli pasar dengan kekuatan keluarga yang sudah tersebar di setiap kerajaan di wilayah timur.


Tapi seakan semua mudah dilakukan oleh klan naga langit, dimana pun keberadaan mereka, selalu mampu menguasai beberapa wilayah dalam kerajaan dan menjadikan itu sebagai tempat berdirinya klan naga langit.


Raynor adalah sosok dengan pengalaman hidup ratusan ribu tahun sebagai penguasa tertinggi, dia cukup paham untuk menggambarkan sifat dari satu manusia bernama Sursanto .


Lelaki tua bertubuh gemuk yang menunjukan senyum menjijikan dengan pandangan penuh nafsu kepada Sania, itu sudah menunjukan sebagian kecil dari gambaran Sursanto dan tujuannya mengundang semua anak-anaknya untuk menyapa.


"Bagaimana menurut kalian tentang putri Sania." Bertanya Sursanto kepada masing-masing dari anaknya.


"Seperti yang di katakan oleh setiap orang jika putri Sania adalah kecantikan abadi, aku tidak bisa menyangkal hal itu." Jawab anak pertama uang ada di barisan sebelah kanan dari Sursanto .


"Jika pun harus dibandingkan dengan semua wanita yang aku temui, tentu putri Sania berada di atas mereka, aku bisa mengakuinya." Itu jawaban putra kedua untuk pertanyaan soal Sania.


"Aku tidak perduli, selama aku bisa melihat putri Sania lebih lama, aku tidak perduli soal apa pun." Jawab putra ketiga.


"Bagaimana dengan mu Dianda." Sursanto bertanya kepada Dianda.


Sebagai sosok wanita yang di nyatakan oleh orang-orang sebagai kecantikan abadi, tentu mereka sudah sangat bosan untuk menerima pujian.


Meski ketiga putri kecantikan abadi ini saling bertolak belakang, tapi Raynor sendiri mengakui tidak akan menolak untuk mengenal mereka.


"Kenapa ayah bertanya kepadaku, tentu saja aku lah yang lebih cantik, ketiga kakak ku ini hanya orang dungu, bahkan ketika melihat kambing kena bedak saja sudah mereka anggap cantik." Balas Dianda yang tidak menyukai sikap semua orang.


"Bagaimana mungkin kau anggap kakakmu ini dungu, Dianda." Kakak pertama tersinggung.


Dua kakak lainnya pun kesal, tapi sayang putri Dianda memiliki bakat yang lebih tinggi dari kakak kedua dan ketiga, sehingga hanya kakak pertama saja yang berani membalas ejekan Dianda.


Berbeda dari kecantikan Sania yang lembut dan pemalu, kecantikan Siva yang tegas dan egois, Dianda adalah satu kecantikan yang penuh kejam dan licik.


"Bagaimana menurutmu Seanu." Sursanto bertanya kepada adik terkecil.

__ADS_1


"Aku pikir kak Dianda lebih cantik."


"Benarkah ?." Sursanto mengangguk paham.


"Tentu saja, karena jika aku tidak mengatakannya, kak Dianda akan memukulku." Balas Seanu sembari tersenyum pahit.


Meski menerima pujian, tetap saja putri Dianda menunjukan menarik paksa wajah Seanu dan menunjukkan tatapan tersenyum kepadanya. Tapi Seanu segera memalingkan wajah yang ketakutan melihat Dianda tersenyum.


Dianda tahu jika ayahnya tidak akan bertanya tanpa alasan...."Jadi kenapa ayah ingin tahu pendapat kami soal Sania ?."


"Bukan hal penting, hanya berpikir apa putri Sania pantas menjadi ibu kalian." Jawab Sursanto dengan senyum di wajahnya.


Raynor, Erza dan semua anak-anaknya terkejut bukan buatan ketika mendengar pernyataan itu dari mulut Sursanto . Bahkan Sania sendiri gemetar takut ketika tahu maksud dan tujuan lelaki tua bang*ka di depan mereka.


'Si*al, orang tua ini lupa soal umur, apa dia tidak berpikir untuk hidup tenang bersama anak dan cucunya saja, dari pada harus mencari istri baru.' kesal Raynor di dalam hati.


Dianda menghentakkan kakinya dengan keras di atas lantai, tekanan energi muncul dan dirasakan semua orang.


"Ayah, jangan bercanda, aku akan pergi, ada banyak hal yang harus aku lakukan." Ucap Dianda dengan perasaan kesal untuk perkataan Sursanto.


Di ikuti oleh empat saudaranya yang lain, kini hanya Sursanto dan beberapa pelayan di dalam ruang pertemuan.


"Maaf tuan Sursanto , kami datang kemari tidak untuk mendengar pendapat anda soal Putri Sania." Berkata Raynor.


"Baiklah, katakan saja kenapa kalian datang ke tempatku."


"Ini soal Istian, dia adalah ibu dari anak bernama Sisha." Raynor menunjuk kepada gadis kecil di sebelahnya.


"Oh begitukah, aku tidak pernah tahu jika Istian sudah memiliki anak."


"Aku tidak tahu soal perkataan Istian kepada anda, tapi aku diminta oleh almarhum mantan suaminya untuk mengantarkan Sisha bertemu dengan Istian." Jawab Raynor yang mengatakan tujuannya.


"Baiklah, pelayan panggil Istian kemari." Ucap Sursanto dengan perintah kepada satu pelayan di belakang.


Tidak lama seorang wanita cukup muda yang mungkin belum menginjak umur tiga puluh tahun datang dibawa oleh para pelayan.


Meski tidak bisa dikatakan sama cantiknya dengan Sania, tapi untuk standar sebuah kecantikan dia memang mampu membuat lelaki seperti Sursanto senang.

__ADS_1


Wanita yang bernama Istian itu segera menghadap ke depan Sursanto dengan membungkuk patuh, wajah gugup ketika tanpa sengaja dia melihat ke arah Raynor dan tentu Sisha.


Istian menyadari jika itu adalah anaknya, namun karena suatu alasan dia seakan pura-pura tidak melihatnya.


"Istian kenapa kau tidak mengatakan kepadaku jika selama ini kau sudah memiliki seorang anak." Berkata Sursanto yang berusaha menunjukkan sikap ramah karena ada Sania di depannya.


"Tidak, bukan seperti itu tuan Sursanto , aku sudah memutuskan hubungan apa pun dengan keluargaku yang lama, Sehingga tidak bisa aku katakan jika selama ini aku berbohong." Istian membela diri.


"Aku tidak pernah perduli soal kau punya anak atau tidak. Asal kau mau jujur tentu kita bisa bicarakan itu."


"Benarkah itu...." Istian coba melihat tatapan Sursanto dengan senyum bahagia.


Tapi dari cara lelaki buntal itu melihat, itu bukan isyarat dimana dia menerima kebohongan Istian dengan mudah, karena Raynor sendiri bisa merasakan niat buruk yang muncul di tubuh Sursanto.


"Jadi apa yang ingin kau katakan." Sursanto memberi kesempatan kepada Raynor.


Raynor pun mendorong Sisha untuk maju kedepan.


Berdiri ragu-ragu, menatap kaki yang menapak di atas lantai. Sisha tidak berani melihat wajah ibunya. Dia merasa takut, dia juga enggan untuk bicara, tapi kuat tangan saling menggenggam, kuat pula tekad demi menyelesaikan semua urusannya.


Tapi belum sempat Sisha mengatakan sepatah kata pun, Istian segera saja bicara.


"Untuk apa kau datang kemari, aku tidak pernah menginginkan apa pun darimu atau ayahmu itu lagi." Tegas ungkapan Istian yang menunjukkan raut wajah kecewa.


Entah apa yang sebenarnya terjadi di dalam hubungan keluarga antara tuan Lamo dan Istian. Tapi sosok Istian seperti gambaran dari orang yang sudah memiliki banyak berharap, namun dia menyerah karena tidak mendapat harapannya untuk terwujud.


"Aku hanya ingin mengatakan, jika aku sekarang tinggal dengan paman, dan tidak ingin bertemu ibu lagi." Ucap Sisha yang langsung saja berlari keluar.


Melihat hal itu, Raynor atau pun Sania tidak serta merta meninggalkan Sisha sendirian, Erza mengejar terlebih dahulu dan Raynor berpamitan kepada Sursanto .


"Terimakasih atas waktunya tuan Sursanto." Raynor memberi salam.


"Tidak bukan masalah besar, dan putri Sania, kediaman Klan naga langit selalu terbuka untuk anda, jadi datanglah kemari untuk sekedar mengakrabkan diri." Sursanto mengarahkan pandangan kepada Sania.


"Akan aku pikirkan lagi tuan Sursanto, selamat tinggal." Jawab Sania cepat.


Sania yang sudah gemetar karena melihat senyum Sursanto, dia pun segera berpamitan dan pergi secepatnya meninggalkan klan naga langit.

__ADS_1


Bagi wanita lain yang menginginkan kekuasaan seperti Istian, menggoda Sursanto untuk menjadi selirnya adalah satu pilihan tepat.


Tapi sayang, Sania bukan orang yang gila akan kekuasaan, karena keluarganya sendiri sudah berkuasa, tidak pula menginginkan uang, dimana dia pun sudah kaya. Oleh karena itu melihat wajah Sursanto tentu menjadi mimpi buruk yang melekat dalam ingatannya.


__ADS_2