
Di ruang singgasana kerajaan Losborn.
Raja Sura duduk dengan satu kaki terangkat, di sebelah kiri dan kanan terdapat para pelayan berpenampilan cantik sedikit terbuka untuk memanjakan dirinya.
Tapi untuk sekarang suasana hati Raja Sura sedang tidak nyaman, karena tentang rencana pembunuhan putri Siva sudah terdengar di telinganya.
Pintu ruang singgasana pun terbuka, dimana satu pelayan tua datang dan membawa sepuluh penjaga yang diperintahkan untuk mengawal putri Siva sebelumnya.
"Tuan aku sudah membawa sepuluh penjaga seperti yang anda perintahkan." Weiz membungkuk hormat dengan sepuluh pengawal mengikuti.
"Weiz, kau boleh pergi." Perintah Raja Sura.
"Baik tuan."
Satu orang penjaga yang menjadi pemimpin pun membungkuk di bagian terdepan untuk mempertanggungjawabkan pekerjaannya kepada sang Raja.
Sorot mata raja Sura menatap tajam dan menghantamkan kaki kebawah hingga terdengar suara keras menggema di seluruh ruangan.
Wajah para pelayan terkejut mereka tahu jika saat ini Raja mereka sedang memiliki suasana hati yang buruk, begitu juga para penjaga ketakutan dengan rasa bersalah.
"Sebenarnya aku tidak terlalu perduli dengan orang-orang yang melakukan rencana pembunuhan, karena aku percaya kepada kemampuan kalian semua sebagai pengawal kerajaan, tapi untuk pertama kalinya aku mendengar jika kalian dikalahkan oleh satu orang." Ucap Raja Sura tegas.
Pemimpin penjaga semakin membungkuk bahkan dia bersujud untuk bicara.
"Maafkan kami Raja, aku pun merasa malu untuk kejadian ini, hanya saja, lelaki yang berniat membunuh putri Siva bukan orang biasa, setidaknya dia ahli beladiri tingkat pemahaman bumi."
Diacungkan tongkat emas ke kepala pemimpin penjaga itu ... "Bukankah kalian juga ahli beladiri tingkat pemahaman bumi, lantas kenapa kalian bisa dikalahkan dengan mudah."
"Orang itu memiliki kemampuan bertarung tingkat tinggi, ini benar-benar memalukan, karena jika bukan karena tuan muda Raynor tidak mungkin putri Siva bisa selamat."
"Apa kerajaan ini kekurangan ahli beladiri yang bisa melatih kalian." Semakin marah Raja Sura untuk jawabannya.
"Itu tidak benar raja."
"Kalian semua terlalu banyak bermalas-malasan, apa semua otot dan otak beralih kedalam perut kalian yang buncit itu."
"Maafkan kami Raja."
Terhembus nafas berat dari mulut raja Sura, tangannya mulai menahan janggut dengan rasa malas untuk marah.
"Baiklah, untuk kejadian ini aku masih bisa memaafkan kalian, tapi jika terjadi sesuatu kepada Siva di masa depan, hukuman berat akan aku berikan." Raja Sura memberi ancaman keras.
__ADS_1
"Kami berjanji itu tidak akan terjadi lagi."
"Sekarang kalian akan aku hukum untuk menjalani latihan berat, sampai perut buncit itu hilang."
"Siap raja."
Ini masih lebih baik daripada dihukum mati oleh raja Sura, karena memang sudah menjadi tugas mutlak bagi para penjaga melindungi keluarga kerajaan.
"Kalian semua boleh keluar kecuali kau Diron." Tunjuk raja Sura kepada pemimpin penjaga.
Gemetar tubuh Diron karena dia menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kejadian itu.
"Apa ada hal lain yang harus aku lakukan raja." Ucap Diron dengan suara gemetar.
"Kau menyebutkan nama Raynor, siapa dia ?." Bertanya Raja.
Diron bernafas lega, dimana Raja tidak memperpanjang masalah yang terjadi...."Dia adalah salah satu keluarga dari klan harimau merah, sepupu putri Sania."
"Sepupu putri Sania ?, Tapi Aku tidak pernah mendengar nama Raynor di klan harimau merah."
"Itu karena awalnya tuan muda Raynor memang tidak tinggal di dalam klan, setelah ayahnya meninggal barulah dia datang ke klan harimau merah."
"Siapa nama ayahnya." Raja Sura merasa penasaran.
Cangkir emas yang ditangan Raja Sura jatuh, dia terkejut mendengar jawaban dari Diron, bagaimana tidak, itu adalah berita tentang pahlawan Rezar, sosok penyelamat kerajaan Losborn dan Raynor adalah anaknya.
"Kau boleh keluar."
"Baik raja."
Di ruang makan sudah berkumpul semua anggota keluarga, termasuk istri kedua, ketiga dan keempat dari raja Sura, begitu juga lima anak mereka yang dua diantaranya sudah beranjak dewasa.
Tapi hanya putri Siva saja anak satu-satunya yang Raja Sura miliki dari istri pertama sebelum meninggal. Karena itu Raja Sura sangat menjaga putrinya itu.
"Dimana Siva." Bertanya Raja Sura karena melihat ada satu kursi kosong.
Weiz yang berdiri di kursi sebelah Raja Sura pun menjawab..."Tuanku, putri Siva masih ada didalam kamar."
"Pergi dan katakan kepada Siva untuk datang dan makan bersama."
Baru Weiz akan pergi, seorang wanita membuka pintu dan berjalan menuju satu kursi yang kosong.
__ADS_1
"Itu tidak perlu ayah, aku sudah datang."
"Baguslah kalau begitu, cepat makan dan ada yang ingin ayah bicarakan dengan mu."
Meski semua makanan yang di sediakan sangat mewah, Siva seakan tidak menikmati suasana di meja makan bersama ketiga ibu tirinya. Bisa dikatakan hubungannya dengan tiga ibu tiri Siva tidaklah menjadi keluarga harmonis.
"Siva berapa umurmu sekarang." Raja Sura mengawali pembicaraan.
"Untuk apa ayah bertanya ?, apa ayah tidak ingat umur anaknya sendiri."
"Siva jaga bicaramu, bagaimana pun juga ayahmu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, wajar saja dia sedikit lupa dengan umur anaknya." Satu ibu tirinya membalas dengan nada serius.
"Memang pekerjaan apa, aku lihat ayah hanya duduk di kursi singgasana dengan semua pelayannya saja."
"Sudahlah, jangan bahas hal yang tidak penting, ayah hanya bertanya tentang umurmu Siva."
"Aku sudah tujuh belas tahun." Jawab Siva dengan malas.
"Jadi sudah waktunya."
"Apa yang ayah maksud."
"Ayah memiliki sebuah janji untuk menjodohkan mu dengan seseorang, ketika usia sudah tiba waktunya."
Tiba-tiba saja Siva membanting tangan ke meja "Haaah !!!, aku menolaknya."
"Ini adalah janji ayah, karena dia lah yang dulu menyelamatkan ayah, ibumu dan seluruh kerajaan Losborn dari perang besar."
"Aku tidak perduli, meski pun dia adalah putra pahlawan besar, atau pangeran kerajaan kaya, aku tidak perduli, aku hanya ingin menikah dengan orang yang aku pilih sendiri." Balas Siva dengan tegas.
"Siva dengarkan ayahmu, kau tidak boleh membantahnya." Balas ibu tiri kedua kepada sikap Siva yang memberontak.
"Kau tidak berhak untuk mengaturku, kau bukan siapa-siapa selain wanita yang menggantikan ibuku." Siva benar-benar marah.
Raja yang sudah terbiasa menghadapi sifat anaknya itu, kini menunjukan sikap tegas.
"Siva jangan bicara seperti itu, bagaimana pun dia adalah ibumu juga, ayah tidak menganggap siapa pun sebagai pengganti." Ucap Raja Sura.
"Tapi tetap saja, ini adalah hidupku, aku tidak ingin menjadi tumbal untuk janji yang ayah buat."
"Ayah mengerti, jika memang kau ingin menolak, tapi kau harus ikut dengan ayah untuk bertemu dengannya." Raja Sura memberi syarat untuk Siva.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ikut dengan ayah dan langsung menolaknya." Satu jawaban pasti dan Siva pergi meninggalkan meja makan.
Meski pun Sura adalah seorang penguasa kerajaan, tapi dia tidak bisa menolak apa yang anaknya inginkan. Ada rasa penyesalan tentang sebuah janji kepada Rezar, dia hanya ingin membalas semua kebaikan dari penyelamatnya itu.