The Over Lord : Rise Of New Lord

The Over Lord : Rise Of New Lord
pembual


__ADS_3

Sebuah lorong panjang yang terbentuk di bawah tanah kota kerajaan Losborn, kurang lebih lima ratus meter dan itu melewati dinding perbatasan.


Menggunakan batu cahaya langkah demi langkah Erza berjalan dengan hati-hati, dinding serta lantai terbuat dari batu alam, lembab dan sedikit berlumut, itu yang membuat jalan di dalam lorong cukup licin.


Kemungkinan lorong ini memang sengaja dibuat oleh kelompok Taring Hitam untuk menyelundupkan barang-barang hasil jarahan mereka untuk dibawa keluar tanpa diketahui penjaga.


"Kenapa sampai sekarang para pasukan keamanan kerajaan Losborn tidak mengetahui persoalan kelompok Taring Hitam."


Faktanya semua orang di kerajaan Losborn tahu akan kehadiran kelompok Taring Hitam yang berkeliaran, tapi seakan mereka tutup mulut dan mata dari semua kegiatan itu.


Di ujung lorong, Erza sudah melihat pintu besi yang menjadi jalan masuk ke ruang rahasia. Erza mengetuk pintu, sebuah celah terbuka dan mata seseorang muncul untuk memeriksa.


"Tunjukan tanda pengenal mu." Tanya lelaki di balik pintu besi.


Erza mengeluarkan keping perak tanda pengenal yang menunjukan dirinya adalah anggota kelompok Taring Hitam.


"Baiklah, apa tujuanmu." Kembali dia bertanya kepada Erza.


"Aku harus bertemu ketua Dorondo, ini adalah soal lelaki yang ketua minta untuk aku cari." Jawabnya.


"Akan aku sampaikan, kau tunggu sebentar."


Tidak perlu menunggu waktu lama hingga pintu besi terbuka dan mempersilakan untuk Erza masuk menemui ketua Dorondo.


Ini adalah pertama kalinya Erza memasuki markas cabang bandit Taring Hitam di kerajaan Losborn, setiap ruang memiliki banyak perabotan mewah, termasuk tempat bersantai dan dapur untuk membuat makanan.


Ada banyak pula anggota berkumpul di dalam markas, mereka jelas sosok-sosok kuat yang memiliki jabatan penting di bawah kekuasaan ketua Dorondo.


Erza diarahkan masuk lebih dalam menuju satu kamar khusus dan Lelaki yang mengantarkan Erza mengetuk pintu.


"Ketua, aku sudah membawa wanita ini."


"Bawa dia masuk." Perintah Dorondo dari dalam.


"Baik ketua."


Di dalam kamar itu, lelaki paruh baya dengan kumis dan brewok lebat di wajahnya sedang ditemani tiga wanita tanpa busana.


Tentu tidak bisa dipikirkan oleh Erza, kegiatan positif apa yang ketua Dorondo lakukan bersama tiga wanita tanpa busana pula.


"Jadi Erza, apa kau menemukan orang itu."


"Maaf ketua Dorondo, akun sudah berkeliling kota dan bertanya kepada semua pedagang yang melihat kejadian itu, mereka mengatakan jika dia hanya seorang pengembara dan mungkin sudah meninggalkan kota kerajaan Losborn." Berkata Erza memberi laporan.


"Benarkah itu."


"Aku pikir apa yang para pedagang katakan ada benarnya." Erza meyakinkan.


"Lantas kenapa informasi dari anggota lain berbeda dengan mu, mereka mengatakan jika orang yang menggagalkan rencana pembunuhan putri Siva memiliki hubungan dengan klan harimau merah."


Erza terkejut, dia harusnya sadar jika ada banyak orang yang diperintahkan oleh ketua Dorondo untuk mencari informasi. Erza pun harus mencari alasan tepat agar bisa lolos dari masalah.


"Maaf ketua Dorondo, aku belum bertanya kepada klan harimau merah, anda harusnya tahu jika mencari informasi empat klan besar adalah hal sulit." Jawab Erza dengan alasannya.

__ADS_1


Tapi tidak terlihat jika Dorondo marah ..."Baiklah tidak apa, untuk sekarang aku sedang memiliki suasana hati yang baik."


"Sekali lagi aku minta maaf ketua." Erza hanya membungkuk patuh.


Dorondo memberi isyarat untuk semua wanita keluar, hanya menyisakan dirinya dan juga Erza.


"Kau mendekat lah Erza." Panggil Dorondo.


Dorondo melihatnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, sebuah tatapan mata uang membuat Erza tidak nyaman.


Tapi Erza tidak punya pilihan lain, dia tidak bisa membantah perintah Dorondo, bahkan jika harus melawan, kesempatan untuk menang adalah mustahil.


Dia pun menarik tubuh Erza untuk duduk di atas pangkuannya, Erza coba melawan dan memberontak tapi kekuatan Dorondo jauh diatasnya.


"Kau memiliki tubuh yang bagus, jika kau memanjangkan rambut mu, kau akan terlihat sangat cantik." Ucap Dorondo dengan tatapan penuh nafsu.


Baru saja Dorondo berniat membuka kancing baju milik Erza, keributan tersedengar dari luar ruangan.


*******


Raynor sudah di kelilingi oleh dua puluh orang bersenjata, mereka adalah para ahli beladiri tingkat penguasaan jiwa tahap awal hingga akhir.


Tidak ada sedikit pun rasa takut untuk Raynor, karena dia sendiri cukup yakin mampu mengalahkan mereka dengan mudah.


"Anak kecil kau berani menantang kami huh !!!?."


"Kau tahu, disini kandang singa, kau tidak lebih seekor kucing, jadi jangan seenaknya sendiri kau itu."


"Jika kau segera bersujud meminta ampun, kami bisa melepaskan mu untuk pergi."


"Itu benar, bagaimana pun kami adalah bandit."


Raynor menggelengkan kepalanya, mendengar semua ocehan tidak penting yang mereka katakan.


"Apa hanya itu yang kalian ingin katakan ?."


"Apa maksudmu ?."


Sorot mata Raynor menunjukkan aura intimidasi yang kuat, bagi mereka dengan mental lemah tentu merasakan kaki gemetar dan mulai sesak nafas.


"Sekarang biar aku yang bicara, jika kalian sayang nyawa sebaiknya jangan halangi jalan ku." Berkata Raynor dengan tenang.


"Apa-apaan kau, memang kau pikir kami akan takut dengan ancaman mu."


Tekanan aura tenaga dalam yang Raynor miliki berada jauh diatas semua bandit kelas keroco di sekitarnya, sehingga beberapa orang lebih memilih untuk mundur dari pada melawan Raynor.


"Aku peringatkan sekali lagi."


"Ngomong apa kau bocah..." Satu orang yang tidak perduli dengan ancaman Raynor mengayunkan pedang.


Ledakan energi membentuk wujud harimau merah yang meraung keras, ini adalah kekuatan dari teknik pengendalian jiwa raja harimau milik klan harimau merah.


Empat belas orang yang mengelilingi Raynor sebelumnya, satu persatu jatuh pingsan dan kejang-kejang dengan mulut berbusa, ketika menyaksikan sendiri sosok besar dari harimau di belakang tubuh Raynor.

__ADS_1


Kemampuan dari teknik aura intimidasi yang menyerang mental lawan adalah hal efektif untuk mengalah banyak orang dalam sekali penggunaan.


Tapi tiga orang masih bisa sadar meski pun efek dari tekanan mental membuatnya gemetar hebat.


"Itu adalah teknik milik klan harimau merah, siapa kau sebenarnya."


"Aku ?, Hanya orang yang hobi mengurusi urusan orang lain." Jawab Raynor dengan sedikit tersenyum.


Setelah menjawab pertanyaan lelaki itu Raynor menghantamkan satu pukulan untuk mereka bertiga, meski hanya menggunakan tangan kosong itu sudah cukup membuat seorang ahli beladiri tingkat penguasaan jiwa tahap akhir pingsan.


Tidak lama setelah Raynor mengalahkan dua puluh orang itu, kini muncul satu lelaki bertubuh besar hitam legam dengan bekas luka di wajahnya.


Raynor tahu jika satu sosok ini memiliki kekuatan yang lumayan besar, seorang ahli beladiri tingkat pemahaman bumi tahap tengah, sama dengan pencapaian Raynor sekarang.


Lelaki yang datang terkejut ketika melihat semua anak buahnya tergeletak di atas tanah, tapi satu hal aneh untuk dipikirkan adalah lawan mereka tidak lebih seorang anak muda.


"Siapa kau ?, berani-beraninya membuat keributan di tempat ini dan menghajar anak buah ku." Lelaki itu marah dan berjalan maju dengan sorot mata tajam.


"Memang aku harus bertanya mereka anak buah mu atau bukan ?, Mereka yang mulai duluan dan aku hanya membela diri." Balas Raynor tidak peduli.


"Apa kau tidak lihat aku memiliki bekas luka di wajah." Ditunjukkan wajahnya dihadapan Raynor.


"Memang apa pentingnya lukamu itu untukku."


"Kau harus tahu, luka ini aku dapatkan ketika melawan raja serigala merah hutan Jatilowa, bertarung mati-matian selama dua hari dua malam hingga raja serigala merah itu pergi karena tahu dia tidak bisa melawanku." Jawabnya dengan sombong.


"Hanya karena itu, kau beranggapan jika aku akan perduli ?."


Raynor berjalan maju dengan kesal, dia mendengar cerita tidak berguna dari seorang lelaki yang mengganggu waktunya untuk pergi ke tempat Erza.


Lelaki itu pun mengayunkan tangan kosong ke arah kepala Raynor, tapi cepat Raynor menahan dengan mudah, menariknya maju dan dilepaskan tamparan keras ke pipi lelaki besar itu.


Dia menolak percaya, tapi kenyataannya rasa sakit di pipi benar-benar ada, bentuk telapak tangan Raynor pun masih membekas merah dengan jelas.


"Kau berani menamparku, asal kau tahu, raja serigala merah saja pergi karena takut melawanku tapi kau...." Perkataannya terhenti.


Sebelum dia selesai bicara, Raynor sekali lagi melayangkan tamparan keras untuk kedua kalinya di pipi yang lain, antara kiri dan kanan terdapat tanda tangan lima jari berwarna merah.


"Sekali lagi kau bicara, aku buat kau menyesal."


"Kau yang akan menyesal karena sudah membuatku marah, bahkan aku tidak takut ketika melawan raja serigala, sedangkan kau hanya seorang anak kecil."


"Kau pikir aku percaya dengan semua ceritamu itu." Balas Raynor semakin marah.


Kini tidak hanya tamparan yang melayang di pipi, kepalan tangan, tendangan kaki, bahkan ketika Raynor hendak menebasnya dengan pedang, lelaki itu bersujud meminta ampun.


"Maafkan aku, maafkan aku tuan muda, aku hanya berbohong soal cerita jika aku melawan raja serigala sendirian, luka ini sebenarnya karena terpeleset dan tidak sengaja jatuh di sungai."


"Tentu saja aku tahu kau berbohong, cakar raja serigala merah tidak mungkin memberi luka kecil seperti diwajah mu, sekali raja serigala merah menyerang, sudah dipastikan kau akan lewat."


"Darimana anda tahu tuan muda."


"Dan asal kau tahu, aku adalah orang yang membunuh raja serigala merah itu, sendirian pula." Balas Raynor.

__ADS_1


Raynor pergi meninggalkan mereka semua yang sudah tidak mungkin mampu melawan balik, bahkan lelaki bertubuh besar hitam legam dengan bekas luka di wajahnya, seketika pingsan karena rasa sakit akibat tamparan.


__ADS_2