
"Seneng, kan Lo udah nikah sama gue?" sinis Rama begitu mereka masuk ke kamar hotel, bersiap untuk resepsi nanti malam.
"Biasa aja," sahut Mulan santai.
Rama berdecih, melipat tangannya di depan dada. "Nggak usah boong, pasti sekarang Lo lagi girang-girangnya dalem hati! Iya, kan?"
Mulan berdecak, memutar bola matanya malas. "GR!"
Wanita itu terus masuk, berjalan melewati Rama yang sontak menahannya.
"Mau kemana Lo?!"
"Apa, sih?! Lepasin gue!" sentak Mulan tidak suka.
"Kenapa emangnya? Lo bini gue sekarang, gue berhak megang-megang elo!"
Mulan berdecih, muak mendengar ucapan Rama. "Tapi Lo nggak cinta sama gue, kan?! Dan gue juga nggak cinta sama Lo, jadi kita nggak punya hak apa-apa satu sama lain!" sahutnya tidak mau kalah.
"Oh, yah? Bukannya elo yang tergila-gila sama gue sampe maksa nikah sama gue?! Nggak usah munafik, deh Lo!" sinis Rama masih menahan tangan wanita yang telah resmi menjadi istrinya.
"Udah berapa kali gue bilang bukan gue yang minta nikah sama Lo, tapi bokap elo! Jadi kalo mau protes, Lo harusnya protes sama dia sebelum kita nikah hari ini!" Mulan menepis tangan Rama kasar, melangkah cepat dari hadapan pria bertubuh atletis itu.
Bukan Rama namanya kalau dia bisa kalah begitu saja dari Mulan. Buru-buru pria itu mendekati istrinya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping Mulan, mengangkat dia menuju ranjang hotel.
"Lepasin gue!" pekik Mulan kaget, berusaha berontak dalam rangkulan tangan Rama.
"Berisik!" Rama melemparkan tubuh Mulan ke atas ranjang, mengunci pergerakan wanita itu di atas sana.
"Mau apa Lo?!" kesal Mulan dengan nafas yang naik turun.
Rama sengaja mendekatkan wajahnya dengan wajah Mulan, bermaksud menggoda wanita berkulit putih itu.
"Lo tanya mau apa? Lo lupa kita udah nikah sekarang?" bisik Rama ditelinga Mulan.
Nafas pria itu seketika membuat tubuh Mulan menegang, dia harus memikirkan sebuah cara sebelum pria gila ini melakukan hal yang tidak benar padanya.
"Nggak usah takut, gue bakal ngelakuinnya pelan-pelan sama Lo...," bisik Rama lagi tersenyum penuh arti.
Sepertinya mengerjai Mulan sebelum pesta pernikahan mereka dimulai akan cukup menyenangkan, pikir Rama. Dia ingin membuat wanita ini berhenti bersikap sombong dan arogan padanya. Rama ingin Mulan tahu siapa bosnya disini.
Perlahan mendekati Mulan yang tampak memerah dibawahnya, Rama tidak sadar dengan lutut kaki kanan Mulan yang sedang mengarah pada bagian kelelakiannya.
Mulan dengan sengaja dan penuh kekuatan mengangkat lututnya, menendang benda kebanggaan Rama hingga pria itu memekik kesakitan diatas tubuhnya.
__ADS_1
"Aduh...," pekik Rama memegang benda kebanggaannya.
Tidak puas sampai di sana, Mulan ikut menendang perut Rama hingga dia jatuh dari atas ranjang, membentur lantai kamar dengan kuat.
"Aduh...," pekik Rama lagi merasakan badannya yang remuk.
"Mampus Lo!" ejek Mulan bangkit dari atas ranjang, tersenyum penuh kemenangan.
"Taii, dasar kuda liar gila!" pekik Rama menahan sakit luar biasa di pangkal pahanya.
"Itu akibatnya kalo macem-macem sama gue!" Mulan beranjak melangkahi tubuh Rama di atas lantai, berjalan santai masuk ke kamar mandi.
Di dalam sana Mulan tertawa puas dengan hati yang lega. Dia yakin mulai sekarang Rama tidak akan berani macam-macam lagi padanya.
Mulan harus memastikan tubuhnya aman setidaknya sampai semua rencana balas dendamnya berhasil dia lakukan.
Mulan tidak mau memberikan keperawanannya dengan cuma-cuma pada pria mesumm dan menjengkelkan seperti Rama.
"Ya ampun, Ra. Udah belah duren aja Lo?" ledek Jacob melihat cara jalan Rama yang aneh.
"Iya ih, nggak bisa tahan apa sampe tar malem?" sambung Gober berdiri di samping kanan sahabatnya.
"Eh, tapi kok malah elo yang jalannya nggak bener gini, Ra? Harusnya, kan Mulan bukan elo...."
Pria itu sedang menahan kekesalan melihat Mulan sedang tertawa lepas di depannya bersama ibu-ibu mereka, tanpa memikirkan apa yang baru saja dia lakukan pada benda masa depannya.
Terkadang Mulan juga sengaja menatapnya mengejek, diikuti senyumnya yang menurut Rama sangat menjengkelkan. Hati pria itu semakin kesal dan marah melihat kelakuan Mulan saat ini.
"Wih, ada yang bau pandan, nih...." Keith datang bersama anak bungsunya yang baru berusia tiga tahun dalam gendongannya.
"Gimana rasanya belah duren? Enak nggak?" ucap Keith lagi meledek sepupunya.
"Berisik Lo! Inget ada anak Lo disini, jangan ngomong yang biru-biru begitu di depan anak kecil!" sewot Rama makin kesal melihat Keith.
"Ih, galak banget, sih yang udah jadi bapak-bapak. Jangan kebanyakan marah-marah, Ra. Tar Lo makin keliatan tua jalan sama Mulan!" ledek Keith lagi tidak mempedulikan wajah kesal Rama.
Jacob dan Gober ikut tertawa mendengar ucapan kakak sepupu sahabat mereka. Keith memang senang menggoda Rama sejak dulu, terkadang keduanya bertengkar hanya karena masalah kecil dan berakhir dengan Rama yang merengek minta dibela oleh Rena, tantenya.
"Keith!" Wanita cantik yang mulai memiliki garis-garis halus diwajahnya datang mendekati keempat pria itu.
"Mulut kamu emang nggak bisa direm, yah?! Anak kamu ada disini, loh dengerin kamu ngomong!" ucapnya mengingatkan.
"Mommy ... aku, kan cuma becanda, Mom," sahut Keith membela diri.
__ADS_1
Rena berdecak, mengambil cucu laki-lakinya dari tangan Keith. "Nggak usah ngomong tua kalo kamu juga udah tua!" telak, Rena bersuara yang langsung mengundang tawa dari bibir Rama, Jacob dan Gober.
"Nggak usah didengerin apa kata sepupu kamu, Ra. Selamat, yah ... bahagia selalu sama Mulan. Inget sekarang berhenti pergi ke club, jangan main-main kesana lagi kalo udah nikah." Rena mengingatkan keponakannya sebelum dia pergi dari sana membawa cucunya.
"Bener itu kata Tante kamu, Ra." Seorang pria blasteran gantian mendekati keempat pria itu.
Mike datang bersama Donal yang tersenyum mengulurkan tangan memberi selamat untuk anak sahabat mereka.
"Kita abis nikah langsung brenti main kesana lagi sampe sekarang. Yah, paling perginya ke cafe aja kalo mau ketemuan," sambung Donal ikut bersuara.
"Iya bener, tanggung jawab abis nikah emang lebih gede. Kalo mau hidup Lo tentram, jangan coba-coba main api kalo nggak mau kebakar!" timpal Dira ikut mendekati mereka.
Pria-pria yang sudah menikah itu mulai memberikan wejangan-wejangannya pada Rama yang malas mendengarnya. Fokus dia sekarang hanya ingin membalas perbuatan Mulan dan membuat wanita itu kapok.
"Berarti kalo belum nikah masih boleh, dong main kesana, Pi?" ucap Gober menggoda ayahnya Donal.
"Ck, tunggu aja kalo Papi udah jodohin kamu sama anak temen Papi. Kamu nggak bakal bisa keluar rumah sebulan!" ancam Donal menatap tajam anak tunggalnya.
Jacob tertawa melihat wajah Gober yang mendadak kesal karena mendengar ucapan ayahnya. Sejak dulu Donal memang selalu mengancam Gober dengan hal ini jika dia belum bisa mendapatkan calon istri idaman untuk dirinya kelak.
"Nggak usah ketawain temen kamu, Cob. Kamu juga bakal Daddy jodohin kalo masih aja main-main diluar sana!" Mike ikut bersuara, memberi peringatan untuk anaknya.
Ketiga sahabat itu memang punya tabiat yang sama dengan mereka dulu. Mike dan Donal tidak bisa melarang lebih karena tahu dari mana mereka mengikuti jalan kehidupan seperti ini.
Gantian dengan Jacob, kali ini giliran Gober tertawa puas mendengar sahabatnya ikut diancam demikian oleh ayahnya. Setidaknya akan ada yang bernasib sama dengannya, pikir Gober.
.
.
.
.
.
.
.
.
Moga aja bijinya nggak kenapa-napa, yah Rama 🤭😆
__ADS_1
Yang tanya² anaknya siapa dua biji yang lain, udah terjawab, yah guys 🤭😂