
"Man, tolongin aku, Man...," lirih Deno memegang perutnya.
Pria yang selama hampir lima tahun bekerja dengannya hanya diam dengan pandangan lurus ke depan.
"Kamu nggak mau nolongin aku, Man? Aku udah naikin derajat kamu selama ini, Man. Harusnya kamu tahu bales budi sama aku!" Pria yang disindir masih diam, tidak mengeluarkan satu kata pun.
Richard tersenyum sinis, bertepuk tangan menertawakan keadaan Deno yang tampak menyedihkan di depannya.
"Nggak usah ngemis-ngemis minta tolong begitu Lo, Pak Deno. Sekalipun lidah Lo putus, ajudan Lo nggak bakal nolongin elo di sini!"
"Brengsek! Lo ngapain ajudan gue sampe dia begitu, hah?!" marah Deno tertatih bangun dari atas tanah.
"Gue? Ngapain ajudan Lo? Nggak salah...?!" sinis Richard bersedekap dada. "Lo tanya aja sendiri sama orangnya kenapa dia nggak mau nolongin elo! Harusnya Lo sadar kenapa ajudan kepercayaan Lo ini sampe tega khianatin elo!"
Deno mendengus, mengusap dahinya kasar sambil menahan rasa nyeri di perut. "Gue yakin Lo pasti sengaja hasut Aman biar nusuk gue dari belakang, kan? Lo emang licik, Pak Richard!"
Richard sontak tertawa, geli mendengar ucapan yang sebenarnya lebih pantas ditujukannya padanya.
"Lo bilang gue licik? Bukannya elo yang selama ini selalu licik sama orang lain? Gue aja hampir kena jebakan licik Lo tempo hari!" ledek Richard masih tertawa.
"Mending Lo nggak usah nuduh-nuduh gue kalo Lo sendiri pakarnya licik, No!" sambung Richard sengaja membuat Menteri itu makin kesal.
"Taii...! Sebenernya Lo mau apa, sih bawa gue kesini. Gue nggak kenal sama cewek yang Lo bilang tadi. Selama gue jadi Menteri, nggak pernah sekalipun gue terlibat skandal sama cewek manapun. Lo gila kalo ngatain gue nyelakain cewek, Pak Richard!"
Richard berdecih, muak mendengar pembelaan Deno.
"Bener Lo nggak pernah nyelakain cewek manapun?" Deno mengangguk penuh keyakinan.
"Dasar brengsek! Baru aja tadi sore Lo celakain cewek dan sekarang Lo malah bilang nggak pernah?! Lo jadi cowok pengecut amat, sih!" kesal Richard kembali maju mendekati Deno.
"Chad, Chad ... udah," tahan Donal masih berdiri di dekat pria yang mulai emosi lagi.
"Ck, lepasin gue, Nal. Lo nggak tahu aja apa yang udah, nih ****** lakuin sama Mulan!" tepis Richard kesal tangannya di tahan oleh Donal.
"Mulan?" sahut Donal dan Deno bersamaan.
Deno seketika berdecih, akhirnya tahu siapa wanita yang dimaksud Richard sejak tadi.
"Jadi ini karena cewek gampangan itu? Ck, ck, ck ... nggak nyangka gue tua bangka kayak Lo demen juga sama daun muda!" ledek Deno tersenyum sinis.
__ADS_1
"Lo bilang apa, tua bangka?!" sahut Richard meradang.
"Emang tua bangka, kan? Emang Lo mau gue bilang apa lagi, hah?! Gue nggak nyangka Mulan sampe bisa bikin pria-pria tua kayak kalian tergila-gila sama dia...," ledek Deno lagi tertawa puas.
Mendengar Mulan celaka akibat pria gila di depannya, Donal bergantian maju mendekati Deno dan melayangkan tendangan mautnya yang tepat mengenai dada Deno.
"Brengsek! Mati Lo biji!" marah Donal melanjutkan tendangan mautnya, sampai Deno kembali tergeletak di tanah.
Richard hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya yang justru berubah seratus delapan puluh derajat begitu mendengar nama Mulan disebut.
Richard beralih memanggil asistennya dan memintanya mempersiapkan kejutan selanjutnya untuk Deno.
"Udah siap belum, Bor?" tanyanya.
"Udah, Pak. Kita tinggal mengikat mangsa ke sana."
"Yaudah, kamu seret sana si Donal. Aku capek narik-narik dia lagi pas lagi berantem kayak gitu. Kamu aja yang urus dia!" Richard berlalu, pergi meninggalkan Donal yang masih terus melayangkan tendangannya sampai Bora datang menahannya.
"Pak Donal ... sudah, Pak. Tidak perlu menghabiskan energi untuk dia."
"Minggir, Bor. Jangan halangin gue! Berani bener, nih biji macem-macem sama Mulan. Pengecut banget jadi biji!" kesal Donal mendorong Bora dari depannya.
"Itu...."
"Iya, Pak. Pakai itu saja biar Bapak tidak perlu repot-repot dan capek buang energi untuk mukulin biji tidak tahu malu ini."
Donal seketika mengangguk dengan senyum mengembang diwajah. Dia langsung menyeret Deno yang terhuyung-huyung mengikutinya.
"Ikat dia ke sana,, Bor." perintah Donal membuang kasar tubuh Deno.
Sebuah crane atau derek jangkung berdiri kokoh di depan mereka dengan Richard duduk di kursi operatornya. Bora bergegas mengikat Deno ke sana dengan tali baja yang melingkar dari perut sampai ke paha dalam Deno.
"Ma-mau apa kalian?!" pekik Deno berontak.
"Diem Lo, biji! Jangan macem-macem kalo nggak mau gue ulek biji Lo itu!" ancam Donal ikut menahan tangan Deno.
Bora menyelesaikan tugasnya tidak sampai lima menit. Dia dan Donal bergegas mundur meninggalkan Deno yang berteriak-teriak minta dilepaskan.
"Brengsek! Lepasin gue bego...!" pekik Bora marah.
__ADS_1
Dari atas kursi operator Richard mengambil sebuah mike kecil disampingnya dan mulai berbicara. "Nggak usah teriak-teriak begitu, No. Kita nikmatin aja wahan bermain Lo yang baru."
Richard mulai menyalakan mesin, menjalankan crane dengan Deno diikat pada ujung crane tersebut. Dengan kecepatan yang dimulai sangat pelan dan perlahan cepat, Richard memainkan tuas pengaturnya dengan semaunya.
Deno dibuat melayang dan diputar di atas udara hingga pria yang tadinya berteriak takut pingsan berkali-kali sampai muntah ditempatnya.
"Chad, gantian dong...!" pekik Donal dari bawahnya menggunakan toa kecil di tangan.
"Tunggu, gue masih pengen main-main dulu. Seru tahu main pake orang beneran," sahut Richard kembali memutar-mutar tuas pengendali crane, membawa Deno melayang semakin cepat di udara.
"Ish, gue juga mau, Chad...! Gantian dulu, napa!" Dua orang pria yang tidak lagi muda malah asik berdebat ingin ikut merasakan sensasi memainkan tuas crane dengan tubuh manusia yang digantung bebas di tangkainya.
Deno sudah hampir lima puluh kali pingsan dan sadar merasakan tubuhnya diguncang bak sedang menaiki roller coaster.
"Astaga ... ini beneran seru, Chad. Kayaknya kalo kita punya musuh lagi kita bakal sering main-main ini, deh nanti...," canda Donal tertawa puas memainkan tuas crane.
Deno sudah diturunkan dalam keadaan pingsan dan diikat ke tiang kapal yang akan membawanya ke belahan bumi bagian Utara.
"Jadi kita beneran bakal ngirim, nih biji ke Kutub Utara, Chad?"
"Yo'i, biar aja dia tinggal bareng beruang kutub di sana. Dia nggak cocok tinggal sama kita yang manusia di sini!"
.
.
.
.
.
.
.
Ih ... jadi pengen maen tuas kayak babang Richard... 😆
Ide kali ini author ambil dari dua orang pembaca yang ngasih komen kemaren, yah 🤭
__ADS_1
Terima kasih buat komen-komennya pecinta biji 😁🤗