
"Hai," sapa Cima mendekati wanita yang tengah sibuk memilih-milih gaun.
Mulan berbalik, tersenyum menatap calon adik iparnya. "Hai," sapanya juga.
"Kakak yakin bakal nikah sama kakak aku?" tanya Cima ikut sibuk mengorek-ngorek gaun di depannya.
"Kenapa emangnya?"
"Yah, nggak pa-pa, sih. Cuma, kakak aku itu doyan yang gede-gede soalnya," sahut Cima penuh arti.
"Maksudnya?" tanya Mulan tidak mengerti.
"Yah itu, gede itu loh...," tunjuk Cima pada dada dan bokongg Mulan.
Mulan sampai mengikuti arah yang ditunjuk Cima, dan mengangguk mengerti. "Oh itu, yaudalah. Aku, sih B aja...," sahut Mulan santai.
"Hah? B gimana maksudnya, Ka?" tanya Cima gantian tidak mengerti.
"Biasa aja maksud aku, Cima. Kalo kakak kamu nggak suka, yaudah. Aku nggak apa-apa, toh kalo dia nggak mau dia bisa nyari yang lain, kan...," sahut Mulan tanpa sadar.
"Hah? Nyari yang lain? Emang, Ka Mulan ngasih, Ka Rama nikah lagi?"
"Eh, bukan itu maksud aku," sahut Mulan merutuki mulutnya sendiri.
Dia lupa kalau Cima tidak tahu apa-apa tentang cerita dibalik pernikahan dia dan Rama besok. Wanita berusia dua puluh tiga tahun itu hanya tahu Mulan adalah wanita yang dijodohkan oleh ayah dan ibunya. Cima pasti akan heboh jika mengetahui hal yang sebenarnya, pikir Mulan.
"Jadi maksud aku, kalo kakak kamu nggak suka, kan tinggal aku operasi buat besarin...," sambung Mulan asal bicara.
Hanya itu yang terlintas dipikirannya saat ini. Lagipula Cima pasti akan percaya-percaya saja dengan apa yang dia katakan.
"Bener Lo bakal operasi?" sela Rama tiba-tiba sudah berada di sana, berdiri diantara Mulan dan adik perempuannya.
"Apa, sih?!" kaget Mulan salah tingkah.
"Operasi ... bener, yah Lo bakal operasi," ucap Rama lagi sengaja menggoda calon istrinya.
"Nggak! Ngapain gue operasi kalo punya gue udah gede!" sahut Mulan tidak terima.
"Beneran gede? Coba sini gue pegang." Rama mengangkat tangannya, mengarahkannya pada dua benda kenyal di dada Mulan.
Cepat-cepat Mulan menutup dadanya dengan dua tangan, menatap nyalang pria iseng itu. "Mau gue patahin tangan Lo?!"
Rama sontak tertawa geli, puas menggoda wanita berambut panjang di depannya.
"Jangan, dong, Lan. Kalo tangan gue patah, gimana gue mau nyenengin Lo nanti, coba...." ucap Rama menunjukkan gaya meremass dadanya.
__ADS_1
"Ada anak kecil woi...!" sela Cima sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka.
Tidak mempedulikan ucapan dan kehadiran adiknya di sana, Rama malah makin menggoda Mulan yang semakin memerah malu dibuatnya.
"Dasar mesumm!"
Bukkk....
Mulan menendang tulang kering Rama, melampiaskan kekesalan dihatinya untuk pria bertubuh atletis itu.
"Aduh...," ringis Rama memegang tulang kering kanannya.
"Apa-apaan, sih Lo betina?!" marah Rama sembari menahan sakit.
"Siapa suruh Lo nakal begitu. Enak, kan ditendang?!" sahut Mulan tersenyum menang.
Wanita itu segera beranjak, pindah mencari gaun lainnya di lorong butik Amanda. Mereka sedang mencari gaun untuk pesta pernikahan besok.
Mulan sengaja diajak calon ibu mertuanya kesini agar dia bisa memilih sendiri gaun yang diinginkannya.
"Bangkee, awas aja Lo besok. Gue bales Lo, Lan...!" teriak Rama geram dengan tingkah Mulan.
Cima seketika tertawa terbahak melihat kelakuan pasangan calon pengantin itu di depan matanya. Sepertinya kehidupan rumah tangga kakak laki-lakinya akan ramai dan seru, pikir Cima.
"Kenapa, sih teriak-teriak begitu Rama?" Amanda datang bersama Tari, keluar dari ruang pribadinya dalam butik.
"Emang pada kenapa, sih?" tanya Tari ikut menimpali.
"Nggak ada! Calon menantu kalian itu udah kayak kuda liar!" ucap Rama berjalan tertatih meninggalkan ibu, Oma, dan adik perempuannya.
Cima semakin terbahak melihat wajah nelangsa kakaknya diikuti wajah tidak mengerti Amanda dan Tari. Dua wanita berbeda usia itu hanya bisa menggelengkan kepala menatap Rama yang perlahan berjalan menjauh dari mereka.
"Gimana, Lan? Udah ada yang kamu suka?" Amanda mendekati wanita berkulit putih dengan hidung mancungnya.
Mulan masih sibuk memilih, bingung harus menentukan gaun yang mana yang akan dia pakai.
"Belum, Tante...," jawab Mulan sopan.
"Kok, manggilnya masih Tante, sih. Besok, kan udah jadi menantu Mommy. Panggil Mommy aja Sayang...," ucap Amanda tersenyum lembut.
Mulan mengangguk dengan hati menghangat. Amanda memang sosok ibu yang baik, Mulan bisa merasakan ibunya ada di dalam diri Amanda.
"Gimana kalo yang ini aja?" tunjuk Amanda pada sebuah gaun panjang dengan payet rumit di dadanya.
"Sebenernya ini gaun belum lama selesai Mommy desain. Mommy buru-buru minta penjahit seleseinnya buat kamu pake besok."
__ADS_1
"Eh, bener, Mom?" sahut Mulan tidak percaya.
Amanda tersenyum mengangguk. "Iya, Sayang. Mommy siapin gaun ini buat Cima sebenernya. Mommy pikir dia yang bakal nikah duluan dibanding kakaknya yang nggak pernah serius sama cewek dari dulu. Tapi Mommy nggak nyangka, Rama akhirnya mau juga komitmen sama satu cewek. Yah, meskipun harus dipaksa dulu sama daddy...," kekeh Amanda mengingat bagaimana rencana pernikahan ini dimulai.
Dia tahu Mulan wanita yang baik dan pas untuk anak laki-lakinya yang kadang susah diatur. Amanda sudah membaca semua informasi yang berhasil suaminya kumpulkan tentang Mulan.
Calon menantunya ini pasti bisa membuat Rama berubah menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab kedepannya.
Mulan ikut tertawa mendengar perkataan wanita bermata sipit itu. Amanda selalu bisa membuatnya nyaman sejak pertama mereka bertemu dan berbicara berdua.
Rasanya dia tidak akan rela jika nanti dia harus melepaskan keluarga sebaik dan sehangat mereka.
"Udah dapet belum?" Tari ikut masuk, berjalan menggunakan tongkat di tangan.
"Masih belum, Ma. Mulan masih milih-milih," sahut Amanda lebih dulu.
"Trus itu ditangan kamu apa, dong?" tunjuk Tari.
"Iniβ"
"Ini yang aku pilih buat gaun besok, Grandma...," potong Mulan memberi keputusan terakhirnya.
Amanda terlihat bahagia mendengar jawaban Mulan. Setidaknya impian dia membuatkan sebuah gaun untuk menantu perempuannya bisa terealisasikan juga. Mulan membuat impian Amanda berhasil terkabulkan.
"Wah, gaunnya cantik banget, Lan. Kamu pasti keliatan cantik banget pake ini," puji Tari pada calon cucu menantunya.
"Iya, Grandma. Tadi Mommy yang bantuin aku milih gaun...." Mulan tersenyum, menatap bergantian dua wanita baik yang belum lama dia kenal dihidupnya.
Pernah merasakan hangatnya sebuah keluarga, hari ini Mulan akhirnya bisa merasakannya lagi setelah bertahun-tahun lamanya.
Memori kebersamaan indah itu terus berputar bak kaset rusak di kepalanya hingga saat ini. Mulan hanya berharap setelah dia menikah dengan Rama nanti, rencana besarnya bisa dia laksanakan secepatnya.
Mulan tidak mau membuang-buang waktu terlalu lama lagi. Sudah cukup selama ini dia berusaha bersabar, terkurung dalam rasa takut dan tidak berdaya. Mulan akan melakukan apapun demi untuk ambisinya ini.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Tungguin nikahan pasangan biji pertama ini, yah guys ππ€