Touch My Body

Touch My Body
Kaget


__ADS_3

"Lan...."


"Duduk, Bor." Mulan menunjuk tempat duduk di depannya.


"Gimana? Udah ada info terbaru belum?" tanya Mulan tidak sabar.


"Ini...." Bora menyodorkan satu map ke hadapan Mulan. "Ada beberapa laporan yang berhasil aku dapetin dari mata-mata yang aku bayar."


Mulan mengambil map tersebut, membukanya perlahan. Manik mata Mulan membola saat melihat sebuah laporan kepemilikan tanah dan beberapa properti yang lain atas namanya dan juga ibunya.


"Apa ini, Bor?" tanya Mulan kaget.


"Seperti yang kamu liat, sebelum ibu kamu meninggal beliau sempat membeli rumah dan juga properti menggunakan nama kamu. Tapi sekarang rumah sama properti ini dikuasain sama nyonya Wati. Dia yang nyimpen surat-suratnya di bank. Nyonya Wati beralasan ibu kamu membeli semua itu pake duitnya Pak Cokro, jadi dia bilang dia punya hak di sana."


"Emang bener begitu?" tanya Mulan lagi.


"Nggaklah, aku udah cek. Ibu kamu membeli semua itu pake duitnya sendiri. Alesan Nyonya Wati aja yang emang pengen nguasain semua milik ibu kamu, Lan."


Mulan berdecak, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia sama sekali tidak tahu jika bahkan sebelum ibunya meninggal, ibunya masih sempat memberikan peninggalan untuk dia dan dengan kejamnya malah direbut oleh ibu tirinya tanpa sepengetahuan Mulan. Orang-orang itu memang tidak pernah puas dengan apa yang mereka miliki, kesalnya dalam hati.


"Oh yah, kata mata-mataku juga. Kamu punya saham sekitar 25% di perusahaan Pak Cokro juga...," sambung Bora memberitahukan hal penting lainnya.


"Hah? Yang bener?" tanya Mulan makin kaget.


"Iya, dulu ibu kamu pernah beli saham di perusahaan mereka karena hampir bangkrut. Pak Cokro mesti jualin sahamnya dibawah harga karena takut perusahaan dia nggak bakal bertahan. Nah, kesempatan itu digunain ibu kamu buat membelinya dengan uang milik dia sendiri dan tanpa campur tangan Pak Cokro. Beruntungnya sampe sekarang nggak ada yang tahu siapa pemilik 25% saham itu," terang Bora panjang lebar.


"Jadi, saham itu milik gue?" sahut Mulan lebih kepada gumamannya sendiri.


"Iya, lah siapa lagi. Kan, cuma kamu anaknya ibu kamu...," kekeh Bora tersenyum geli.


Mulan terdiam dengan perasaan tidak percaya. Entah karena ibunya sudah memiliki firasat yang tidak enak sampai melakukan hal ini sebelum dia meninggal, tapi Mulan merasa kesempatan yang sangat bagus ini bisa memudahkannya untuk membalas dendam.


"Disitu ada surat kepemilikan saham atas nama ibu kamu, Lan...." Bora menunjukkan sebuah dokumen yang masih terbungkus rapi dengan tanda tangan ibu Mulan tertera di sana.

__ADS_1


"Astaga, kamu bisa dapetin ini darimana, Bor?" Mulan menatapnya tidak percaya.


"Itulah gunanya kita nyewa mata-mata, Lan."


"Jadi ini bener udah punya aku sekarang?" Mulan menatap surat ditangannya berbinar.


"Iya, Lan. Kamu punya hak yang sama dengan semua pemilik saham di perusahaannya Pak Cokro. Kamu tinggal nunggu waktu yang tepat aja buat muncul di depan mereka sebagai pemilik saham ini yang resmi."


"Tapi ... aku nggak tahu apa-apa soal ini, Bor. Gimana aku mau balas dendam kalo saham beginian aja aku nggak tahu. Aku sekolah cuman sampe kelas dua SD, Bor. Dari segi pendidikan aja aku udah kalah jauh, gimana aku mau balas dendam kalo aku sendiri nggak punya pengetahuan yang lebih." Wajah Mulan seketika berubah sendu.


Membayangkan dia akan menunjukkan diri di depan semua orang dengan pengaruh yang dimilikinya pasti tidak akan berhasil jika dia tidak punya pengetahuan apa-apa mengenai saham dan perusahaan.


Mulan takut dia hanya akan mempermalukan dirinya sendiri jika dia kesana tanpa ada persiapan yang matang dan tujuan yang jelas.


Kakak tirinya pasti akan dengan mudahnya menjatuhkan dia di depan semua pemegang saham yang lain, pikir Mulan.


"Nggak usah khawatir, ada gue yang bisa bantuin elo!" Rama tiba-tiba masuk, mendekati Mulan dan Bora yang kompak terkejut.


"Ra-Rama...," ucap Mulan terbata.


"Gue udah tahu semuanya dari Bora, kemarin gue ke apartemen dia buat cari tahu apa hubungan Lo sama Deno. Siapa yang nyangka gue cuma pengen nyari tahu soal itu, tapi malah tahu lebih banyak tentang elo. Gue sempet denger omongan Bora sama mata-matanya dia...," sahut Rama menunjuk ke arah asisten kepercayaan ayahnya.


"Jadi bener Pak Rama ke apartemen aku kemarin?" sela Bora tidak menyangka.


"Kenapa? Kaget, yah?" sinis Rama. "Kemaren Lo izin sama gue nggak bisa nemenin gue karena ada kerjaan bantuin Om Donal, eh nggak taunya Lo boongin gue dan malah sibuk ngurusin masalah istri gue. Emang Lo siapa ngurusin masalah istri gue? Udah berasa bos Lo disini?!" sambung Rama tidak senang.


Kemarin setelah mengantarkan Mulan pulang kerumah mereka. Rama memilih pergi ke apartemen Bora untuk menanyakan hal yang membuat pikirannya tidak bisa tenang selama berhari-hari ini.


Pria itu dibuat kaget saat mendapati Bora ternyata tidak sibuk bekerja seperti apa yang dia bilang waktu itu, dan malah membahas masalah mengenai Mulan istrinya.


Bora sempat mendengar seseorang berada di depan pintu apartemennya namun tidak mendapati Rama di sana. Pria itu bergegas pergi, begitu dia mendengar semua latar belakang tentang Mulan dari mulut mata-mata yang dibayar Bora kemarin.


"Bu-bukan begitu, Pak. Aku hanya—"

__ADS_1


"Udah diem, jangan bicara kalo nggak gue suruh!" potong Rama beralih menatap istrinya.


"Lo masuk duluan yah, Lan...," ucap Rama dengan suaranya yang berubah lembut.


"Masuk kemana?" tanya Mulan polos.


Hatinya benar-benar gugup sekarang, setahunya Rama sedang pergi ke perusahaan dan belum kembali siang ini. Siapa yang menyangka jika Rama ternyata sudah pulang disaat dia tengah membahas masalah balas dendamnya dengan Bora.


Pria yang duduk di depannya itu juga hanya bisa menunduk, tidak menyangka Rama akan ikut berada di sana dengan mereka.


"Ke kamar gue, kita bakal ngebahas ini abis gue ngasih hukuman sama Bora!" ucap Rama penuh intimidasi.


Bora merasa hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan untuknya, Rama pasti akan memberi hukuman yang tidak tanggung-tanggung dan yang pasti akan membuatnya kerepotan sendiri. Dalam hatinya Bora berharap Rama masih akan sedikit berbelas kasihan padanya.


Mulan pun beranjak, masih sempat melirik Bora yang mendongak menatapnya memohon pertolongan. Wanita itu tidak mengindahkannya dan memilih pergi meninggalkan Bora dan Rama di ruang makan.


"Sekarang Lo pilih, Bor. Mau hukuman yang berat atau yang luar biasa berat buat Lo?!" Rama bersuara begitu Mulan menghilang dibalik dinding rumah mereka, tersenyum menatap Bora penuh arti.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Ketahuan, deh 🤭


__ADS_2