
Menjatuhkan dirinya di samping Gober yang salah tingkah, Rama diam selama beberapa menit.
Perasaan Gober dibuat gundah gulana dengan keterdiaman sahabatnya sejak kecil. Gober tahu jika Rama sudah bersikap seperti ini, pria itu sedang dalam mode paling seriusnya.
"Lo inget nggak sama janji kita waktu masih awal-awal cinta monyet, Ber?" tanya Rama tiba-tiba.
Gober mengangguk, tanda ingat. Tangannya saling bertaut karena gugup dengan apa yang akan dikatakan Rama selanjutnya.
"Kita pernah janji nggak bakal suka sama satu cewek yang sama, kan?" ucap Rama yang diangguki Gober lagi.
"Gue emang udah curiga sejak kita masih remaja, Ber. Lo tahu gue curiga apa?" Gober menggeleng.
"Gue curiga kalo Lo punya perasaan sama ade gue!" sambung Rama memalingkan wajah menatap Gober yang tertunduk.
"Gue nggak lupa gimana Lo pernah ngomong Lo bakal nikah sama Cima waktu dia baru aja masuk SMP, Ber. Gue tahu Lo becanda waktu itu, tapi gue nggak nyangka Lo sekarang ternyata bener-bener buktiin omongan candaan Lo sama gue dan Jacob. Gue ngerasa kayak dibodohi tahu nggak," jujur Rama panjang lebar.
"Harusnya waktu itu kita juga bikin perjanjian nggak bakal ada yang jatuh cinta sama ade kita masing-masing," sambung Rama lagi.
Gober terlihat menghembuskan nafas panjang sembari mengangkat kepalanya menatap ke depan.
"Waktu itu, gue emang becanda, Ra. Tapi makin kesini setiap hari ketemu ade Lo, omongan yang tadinya cuman gue anggap becandaan malah jadi kenyataan. Perasaan itu hadir sendiri tanpa gue suruh, Ra. Sejak ade Lo yang manja nangis minta es cream, setiap kali liat es cream gue malah teringat Cima. Sebenernya kalo boleh jujur, gue udah lama nyimpen perasaan ini buat Cima."
Rama tersenyum tipis menatap wajah sahabatnya yang tidak terlihat berbohong sama sekali. Dia pun kembali memalingkan wajah, menatap ke depan seperti Gober.
"Kalo udah lama trus kenapa Lo masih aja main-main diluar sana, hm? Harusnya Lo jujur aja sama gue kalo Lo udah suka sama Cima dari lama," kekeh Rama sengaja membuat Gober terdiam malu.
"Gue sebenernya nggak terlalu peduli dengan gimana masa lalu cowok yang bakal jadi pilihan terakhir ade gue, Ber. Meski selama ini Lo tahu gue sama bokap selalu overprotektif sama Cima, tapi sebenernya kita ngasih kebebasan sama dia mau milih yang mana. Sayangnya sejauh ini yang pernah deket sama Cima, cuman cowok-cowok brengsek yang ada maunya aja sama dia. Kalo nggak pegang-pegang kayak Lo tadi, yah itu ... diplorotin uangnya." Rama tertawa kecil sebelum melanjutkan ucapannya.
"Selama ini kita selalu membasmi biji-biji itu, yah karena alesan tadi, Ber. Bokap pasti nyari tahu dulu seluk beluk cowok yang bakal jadi pacarnya Cima sebelum bertindak. Dan kalo Lo udah sejauh ini, sedikit banyak pasti bokap udah ngedukung elo sama Cima."
Gober tersentak, antara percaya dan tidak percaya dengan perkataan sahabatnya. "Maksud Lo, Uncle udah setuju gitu gue sama Cima?" tanyanya penuh harap.
"Ck, Lo tuh lucu yah, Ber. Kalo nggak setuju ngapain bokap gue terima lamaran Lo kemaren?! Pertanyaan Lo nggak jelas banget!" jawab Rama geleng-geleng kepala.
Gober berdecak, duduk menyandarkan diri dengan perasaan lebih tenang dari sebelumnya. "Yah gimana gue nggak nanya kayak gitu, Ra. Lo nggak tahu aja apa yang gue lewatin selama ini pas mantepin diri ngejar ade Lo!"
Rama sontak tertawa, yakin jika ayahnya pasti membuat pria berwajah manis itu ketakutan. Richard memang paling ditakuti oleh Gober dan Jacob di antara dua sahabatnya yang lain.
"Itu udah jadi resiko elo lah, Ber. Lo, kan tahu sendiri sikap bokap gue kayak gimana. Apalagi ini mengenai anak perawan dia satu-satunya. Wajarlah kalo bokap gue sedikit ngerjain Lo kemaren."
Gober mendengus, membenarkan ucapan sahabatnya. Harusnya dia tahu jika perjuangannya mendapatkan Cima tidak seperti dia mendapatkan angsa berbau pandan di club.
__ADS_1
Perjuangan yang mengharuskan jantungnya selalu sehat membuat Gober bahkan harus selalu siap siaga dimana pun dia berada. Calon mertuanya itu seperti punya mata dan telinga dimana-mana.
"Jadi berarti sekarang, gue udah bisa lega dikit, dong sama lampu hijau dari uncle Richard, Ra?"
"Eh ... siapa bilang?" sahut Rama menegapkan duduknya. "Lo kayaknya masih harus dites lagi, deh." sambung Rama yang dipandangi bingung oleh Gober.
"Maksud Lo dites apaan?" tanya Gober penasaran.
"Yah nggak tahu. Lo tanya aja sendiri sama bokap gue." sahut Rama santai.
Gober kembali berdecak, berubah gugup mendengar ucapan asal dari sahabatnya. Apa perkataan Richard tentang dia yang akan mengecek berapa kali Gober main saat malam pertama dengan Cima akan benar Richard lakukan?
Gober bergidik membayangkan sementara dia sedang asik memaju mundurkan tubuhnya di atas Cima, Richard malah duduk di dekat ranjang mereka mengamati permainan kesukaannya.
Astaga ... Gober tidak bisa membayangkan hal segila itu akan menimpanya. Bukannya berhasil mengeluarkan benih-benih berharganya, bijinya pasti tidak akan bisa berdiri tegap seperti biasa, pikir Gober.
"Ngomong-ngomong gue belum setuju, yah Lo nikah sama ade gue, Ber!"
Gober tersadar dari lamunannya, beralih menatap Rama. "Eh, kok gitu sih, Ra? Gue masih belum cukup baik, yah buat ade Lo?" tanyanya rendah diri.
"Kalo baik, sih gue juga lebih tahu dari Cima Lo baik banget. Tapi ceritanya Lo nggak minta izin sama gue deketin Cima, Ber. Gue nggak terima sebagai kakak tertua dari Cima Lo ngelangkahin gue gitu aja!" sahut Rama berapi-api.
Tatapan penuh arti terlihat dari manik mata coklat tua Rama. Sepertinya mengerjai Gober juga akan menjadi hal yang menyenangkan baginya, gumam Rama.
Rama tersenyum smirk, menepuk pundak Gober. "Gampanglah, Lo tinggal pilih mau dapet hadiah apa dari gue."
"Hadiah?"
"Iya. Pilih aja mau hadiah apa dari gue."
Gober memicingkan mata merasa ada udang dibalik biji. Sahabatnya pasti sengaja menjebaknya dengan perkataan menggantung seperti itu.
"Nggak usah deh, Ra. Gue lagi nggak butuh apa-apa dari Lo. Gue cuman butuh Lo restuin aja hubungan gue sama Cima. Itu udah jauh lebih dari cukup buat gue...," sahut Gober mencari aman.
"Yakin Lo nggak mau?" Gober mengangguk penuh keyakinan.
"Yaudah, kalo gitu gue yang ngasih hadiah buat Lo!" sahut Rama tidak ingin hilang akal.
"Hah? Buat apa?" Rama tidak menjawab pertanyaan Gober dan beranjak dari duduknya merogoh ponsel dari saku celana.
Menekan sebuah tombol memulai video, Rama menarik Gober ikut berdiri bersamanya dan berucap. "Hadiah dari gue cuman ini. Lo harus ikutin ucapan gue."
__ADS_1
"Ucapan apaan?" tanya Gober curiga.
"Ikut aja. Siap, yah ... ikut gue." Rama berdehem sebelum berkata lagi, sembari memastikan rekaman video di ponselnya sudah berjalan.
"Liat di kamera, Ber." tunjuk Rama. "Gue Gober...."
"Gue Gober...." ucap sahabatnya mengikuti.
"Dengan ini."
"Dengan ini."
"Mengakui."
"Mengakui."
"Kalo gue."
"Kalo gue."
"Biji bengkok."
"Biji bengkok! Eh, apa?!" sadar Gober telah dipermainkan sahabatnya sendiri.
"Nah, kan ... akhirnya Lo ngaku juga biji Lo bengkok!" Rama tertawa terbahak, puas mengerjai sahabat bijinya.
Gober berdecak kesal, mendorong Rama kuat hingga jatuh ke kolam depan mereka. "Dasar bangkee Lo!" pekiknya emosi.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Biji bengkok ya ampunn 🤣🤣