
"Ber, ada yang nyariin kamu, tuh di depan!" Rekan kerja pria berwajah manis dengan tubuh atletisnya berteriak dari arah pintu ruangan mereka.
Gober mendongak dari tempatnya mengernyit bingung saat mendengar ucapan sesama rekannya.
"Siapa?"
"Nggak tahu, katanya penting!"
Gober mengangguk, bangkit dari kursinya berjalan menuju pintu. Masih ada dua jam lagi sebelum jam pulang kantor, apa mungkin itu Cima?
Tapi Cima tidak pernah datang di saat jam kerjanya. Gober semakin penasaran begitu melihat mobil yang sering digunakan wanita yang dia cinta itu terparkir di pintu masuk perusahaan ayahnya.
Senyum mengembang langsung merekah dari bibir Gober, dia yakin Cima pasti sedang duduk menunggunya di dalam.
Tok ... tok ... tok....
Gober mengetuk kaca mobil samping kiri yang tertutup rapat dari belakang.
Perlahan kaca mobil turun, menunjukkan sosok berkacamata hitam di dalam sana.
"Masuk!" ucapnya penuh perintah.
"U-uncle?" kaget Gober membola.
"Masuk!" ucap Richard lagi tanpa melihat ke arah Gober yang mendadak gugup.
"Ma-mau kemana, Uncle? Ini masih jam kerja aku."
"Masuk sebelum Uncle seret kamu dari sana!" ancam Richard yang membuat Gober bergegas membuka pintu, duduk di samping kursi kemudi.
Richard langsung tancap gas, meninggalkan lobi perusahaan sahabatnya sebelum Gober sempat menarik seat belt.
Pria itu hampir terlempar saking kencangnya mobil yang dibawa Richard yang entah menuju kemana.
Wajah Richard yang dingin menandakan ada sesuatu yang pasti membuat pria yang dikenal ramah pada dia dan Jacob itu marah. Gober merasa hidupnya mungkin akan berakhir disini begitu bunyi decitan ban terdengar memekakan telinga.
"Turun!" perintah Richard membuka pintu mobil lebih dulu.
Susah payah Gober menelan saliva mencoba mencari di mana ponselnya berada. Sialnya pria itu lupa mengambil ponsel yang dia cars tadi siang di samping meja kerjanya.
Bagaimana ini? Bagaimana dia meminta tolong pada Cima atau siapa saja yang bisa menolongnya dari terkaman singa jantan yang mungkin akan memakannya hidup-hidup?
Gober terlonjak kaget saat Richard mengetuk kaca pintunya dari luar tidak sabar. Buru-buru dia turun, mengikuti Richard yang ternyata membawanya ke sebuah gedung tua yang entah berada di mana.
"Kita ngapain kesini Uncle?" tanya Gober takut-takut.
"Uncle mau ngasih makan hewan peliharaan, Uncle," sahut Richard berjalan lebih dulu di depan Gober.
__ADS_1
"He-hewan peliharaan Uncle?"
"Iya, kamu musti kenalan sama mereka. Biasanya jam segini pegawai Uncle ngasih mereka makan."
Gober merasa kakinya tidak lagi menapak bumi begitu mendengarkan kata hewan peliharaan. Pikirannya langsung tertuju pada hewan-hewan buas penyuka daging segar yang mungkin saja akan menyukai daging empuknya.
Gober semakin ketakutan begitu mereka memasuki lorong ruangan yang cukup gelap dan pengap dengan suasana yang baginya sangat menyeramkan.
Astaga ... apa Richard akan menjadikannya makanan segar untuk hewan-hewan peliharaannya itu? Apa hidupnya yang indah hanya akan berakhir sampai disini?
Gober jadi teringat dengan ancaman yang sempat Richard lontarkan padanya tempo hari tentang jangan menyentuh Cima sedikit saja.
Ini semua salahnya, kenapa juga dia harus mencium Cima di mobil waktu itu. Gober yakin Richard pasti sudah tahu apa yang dia lakukan pada anak perempuannya.
Tiba di sebuah pintu besar, Gober sedikit berlari menahan tangan Richard sebelum pria yang tidak lagi muda itu membuka pintu di depannya.
Lebih baik dia meminta maaf sebelum Richard melemparkannya ke kandang hewan-hewan buas di dalam sana.
"Ngapain, sih kamu?!" sentak Richard menepis tangan Gober.
"Uncle, tolong maafin aku, Uncle. Aku bener-bener nggak sengaja...." pinta Gober bergegas berdiri di depan pintu, menghalangi jalan Richard.
"Apa-apaan, sih kamu, Ber?! Minggir!"
"Nggak, aku nggak bakal minggir kalo Uncle nggak mau maafin aku...," sahut Gober bersikukuh.
Richard mengernyit merasa ada yang tidak beres dengan tingkah Gober. "Kenapa, kamu takut?!"
"Apa?! Kamu apain, sih Cima?!" potong Richard meradang.
Gober seketika terdiam, merasa dia mungkin sudah salah bicara. Richard maju, mendekati pria yang sontak gugup salah tingkah di depannya.
"Kamu udah berani-berani nyium anak Uncle, hah?!" Richard menarik kemeja Gober, menatapnya marah.
"Bu-bukan gitu, Uncle. Aku cuma—"
"Cuma apa?! Kamu lupa sama apa yang pernah Uncle bilang kemaren sama kamu, hah?!" Richard semakin mengeratkan tangannya di kemeja Gober bersiap menerkam pria yang mulai ketakutan di depannya.
"A-aku cuma becanda, Uncle. Aku cuma becanda tadi," sahut Gober cepat.
"Apa kamu bilang, becanda?!"
"Iya, Uncle. Aku cuman becanda tadi, aku cuma mau godain Uncle aja," bohong Gober berusaha menyelamatkan dirinya dari terkaman singa jantan yang sedang marah.
Bodohnya dia yang berpikir Richard sudah tahu tentang ciuman tiba-tiba malam itu bersama Cima. Gober seakan menyerahkan dirinya cuma-cuma pada Richard yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang kejadian malam penuh rasa berdebar dihatinya.
"Kamu sengaja mau ngerjain Uncle, yah?!" dengus Richard melepaskan kemeja Gober, kasar. Pria itu sampai terdorong mengenai pintu besar di belakangnya.
__ADS_1
"Awas aja kalo kamu macem-macem sama Cima, Ber. Abis biji kamu Uncle cincang jadi daging giling!" ancam Richard yang terdengar serius.
Gober seketika merasakan area pangkal pahanya berdenyut. Membayangkan hal itu sontak membuat benda kebanggaannya nyeri di dalam sana.
Refleks Gober menutupnya, melindungi dari bahaya yang bisa saja datang mengancam kejayaannya.
"Astaga, Uncle ... tadi aku beneran cuma becanda. Abisnya wajah Uncle daritadi nggak ada enak-enaknya diliat, sih. Aku cuman pengen becanda aja biar suasana lebih santai gitu, Uncle...," sahut Gober beralasan.
Dalam hatinya dia sedikit bersyukur karena Richard tidak tahu masalah ciuman itu. Hampir saja dia mati sia-sia disini, batinnya.
"Dasar reseh! Kamu sama aja kayak Bapak kamu!" kesal Richard mendorong Gober dari depan pintu yang ingin dia masuki.
Gober membuang nafas panjang merasa terselamatkan dari terkaman singa jantan ponsesif itu. Dia pun lalu ikut masuk mengikuti Richard dari belakang.
Pemandangan pertama yang dia lihat begitu masuk ke dalam sana adalah banyaknya burung-burung yang berterbangan di dekat mereka.
Di dalam ruangan yang sangat luar biasa luas dengan pohon-pohon tinggi yang sengaja di tanam di sana membuat suasana di sana seperti sedang berada di tengah hutan.
Gober mengernyit merasa bingung kenapa ayah wanita yang dia cinta membawanya kesini.
"Ini apa, Uncle?" Gober berhenti di samping Richard yang ikut mengambil makanan dari dalam ember untuk memberi makan burung-burungnya.
"Kamu nggak liat ini semua apa!"
"Liat, Uncle. Maksud aku kenapa kita dateng kesini?" tanya Gober ingin tahu.
"Ini semua burung-burung mahal, Ber. Nanti kalo kamu nikah sama Cima, kamu yang bakal ngurusin mereka!"
"Eh...." Gober terkejut begitu mendengar Richard berkata menikahi Cima.
"Uncle udah setuju aku nikah sama Cima?" tanya pria itu mendadak bahagia.
"Enak aja, siapa yang bilang udah setuju? Uncle, kan cuma ngomong kalo ... emangnya udah pasti kamu bakal nikah sama Cima, enggak, kan?"
Gober berdecak tidak habis pikir kenapa pria di depannya bisa sangat labil begitu. Richard hanya tersenyum tipis meneruskan kegiatannya memberi makan burung-burung mahalnya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Apakah ini pertanda atau hanya gentayangan?
Entahlah, yang penting biji Gober masih selamat jadi daging giling, yah 🤭🤣