
"Gimana, Man udah ada kabar belum nyokap bokap, aku?"
"Masih belum, Pak. Aku sudah coba menghubungi nomor rumah tapi tidak ada yang mengangkatnya sampai sekarang. Apa aku harus menelepon polisi untuk memastikan keadaan di sana, Pak?" tanya Aman, asisten pribadi Deno.
"Jangan ... kalo sampe polisi kesana bisa-bisa media makin heboh kalo mereka denger ada polisi yang dateng ke rumah. Kayaknya aku harus ke Milan buat mastiin sendiri apa yang terjadi di sana."
"Tapi, Pak. Minggu depan Bapak ada pertemuan dengan pimpinan partai. Bapak yakin mau ke Milan sekarang?"
Deno mengangguk. "Iya, Man. Aku musti kesana, perasaan aku nggak enak mereka berdua nggak ada kabar begini. Kamu tinggal disini aja dan atur semua persiapan aku sampe aku balik."
Dan disinilah Deno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif itu baru saja tiba di bandara setelah menempuh perjalanan berjam-jam lamanya yang menghabiskan waktu dan energinya cukup banyak.
Deno memilih menaiki Uber untuk bisa ke rumah mereka yang berada tepat di Kota Milan, Itali. Entah kenapa semakin dekat dengan rumah, perasaan Deno semakin tidak tenang.
Pria itu turun dan cukup kaget melihat keadaan rumah yang tampak berantakan dengan daun-daun kering berserakan memenuhi halaman depan rumah mereka.
Mobil yang terparkir di depan garasi yang tertutup menandakan ibu dan ayahnya pasti ada di dalam. Deno melangkah, menarik koper kecil yang dia bawa bersamanya mendekati rumah.
Deno mengetuk pintu sambil memanggil nama Cokro dan Wati beberapa kali namun tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam rumah. Deno sontak merasa ada yang tidak beres, tidak mungkin tidak ada pelayan dirumah mereka mengingat saat ini masih pukul tiga sore.
Pelayan biasanya akan datang pada pagi hari dan pulang saat matahari terbenam setelah menyediakan makan malam untuk pasangan suami istri itu.
"Pi, Mi...!" panggil Deno lagi yang entah keberapa kalinya.
Bel disamping pintu rumah pun sudah dia tekan berulang-ulang, pintu yang tertutup rapat diikuti jendela yang sama-sama tertutup menandakan pasti ada sesuatu di dalam sana.
Deno pun mengitari rumah mencoba melihat dari celah-celah gorden jendela yang tertutup. Deno takut jika ada pencuri yang masuk dan sedang menyekap kedua orang tuanya.
Dia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia memecahkan jendela kaca di belakang rumah.
Deno berhenti tepat di belakang rumah dan mulai mencari batu di sekitar situ, Deno memecahkan kaca dan menariknya agar memudahkan dia masuk.
Dengan tubuh yang terseok-seok, Deno memaksa masuk dari jendela yang hanya seukuran badannya saja hingga pria itu berhasil masuk ke dalam rumah.
Suasana sepi dan bau menyengat langsung tercium di hidung Deno begitu dia menginjakkan kakinya di dalam ruang dapur yang tepat mengarah ke ruang depan.
__ADS_1
Deno mulai mengendap-endap mencari dari mana asal bau busuk itu berasal. Rasa penasarannya akan bau tersebut lebih besar dibanding mencari di mana kedua orang tuanya berada.
Langkah kaki Deno terhenti begitu tiba di depan pintu kamar Cokro dan Wati. Sebelum membuka pintunya, Deno masih sempat melihat ke sekitarnya memastikan tidak ada siapa-siapa di sana.
Perlahan dia membuka pintu dan sedikit mengintip dari celah pintu yang terbuka. Manik mata Deno membola saat melihat sosok penuh darah terbaring kaku di atas ranjang dengan seorang wanita yang terduduk diam disisi ranjang.
"Mami...," pekik Deno mendorong pintu kaget.
Wanita yang dipanggil tidak menjawab, duduk dengan pandangan kosong dan tangan yang memegang sebilah pisau penuh darah yang telah kering.
"A-apa yang terjadi, Mi?" Deno menutup mulutnya, tidak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
"Papi kenapa, Mi?" tanya Deno merasakan kakinya lemas seketika.
Cokro terbaring tidak bernyawa di ranjang dengan luka bekas tusukan di dada dan wajahnya. Darah kering diikuti bau yang mulai menyengat memenuhi isi dalam kamar.
Deno merasakan perutnya bergejolak seiring rasa mual yang menghampirinya. Buru-buru Deno masuk ke kamar mandi, memuntahkan isi dalam perutnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Tidak ada tanda-tanda kerusakan ataupun perampokan dalam rumah mereka. Tidak mungkin ada pembunuh yang masuk dan menghabisi nyawa ayahnya sementara ibunya terlihat baik-baik saja.
"Mi, apa yang terjadi, Mi?" tanya Deno lagi berjongkok di depan Wati yang diam menatap kosong.
Deno perlahan melepaskan pisau yang di genggam kuat oleh Wati, melemparkannya sejauh mungkin dari ibunya.
Wati seperti terkejut dan menatap Deno marah bercampur kesal. "Dasar tukang selingkuh! Berani kamu pukulin aku, hah?!"
Wati mulai histeris, mendorong Deno dengan kasar. "Aku bunuh kamu! Aku bunuh kamu, Cokro!" pekiknya lagi mencoba mengambil barang apa saja yang ada di dekatnya.
"Mami ... Mami kenapa, Mi?" Deno mundur saat Wati berhasil mengambil vas bunga di atas nakas dan bersiap melemparkannya pada anak semata wayangnya.
"Mami, aku Deno, Mi. Lepasin itu, Mi...," bujuk Deno berusaha membuat Wati sadar.
Sepertinya masalah kejiwaan yang sempat mendera Wati beberapa tahun yang lalu kambuh. Entah apa yang menyebabkan ibunya kembali stress dan seperti orang tidak waras di depannya.
Deno refleks mundur menghindari lemparan vas bunga yang dilemparkan Wati, mencoba mengajaknya berbicara untuk membuat Wati sadar.
__ADS_1
Wanita itu mulai berteriak-teriak tidak jelas diikuti ucapan kotor yang keluar dari mulutnya sembari mengambil barang-barang di dekatnya.
Mulut Wati terus berkata tukang selingkuh dan merutuki pria yang kini telah meregang nyawa di atas ranjang.
Deno yakin Wati akan bertingkah semakin tidak terkendali, dia harus mencari cara agar Wati berhenti melemparinya dengan barang.
Begitu kesempatan itu datang, Deno segera berlari menyambar Wati menahan pergerakannya dan mengikat tangan dan juga kaki Wati dengan sebuah kain yang berhasil dia dapat di sekitarnya.
Wati berhasil Deno ikat setelah teriakan memekakan telinga keluar dari bibirnya.
********************
"Pak Rama...." Bora tiba-tiba masuk ke dalam ruangan atasannya yang sibuk bermesraan bersama istrinya.
Pria itu sedikit berdehem karena sempat melihat pergulatan bibir dan juga lidah keduanya yang membuat Bora panas dingin sendiri.
Mulan segera mendorong Rama, salah tingkah saat dipergoki asisten suaminya.
"Apa-apaan, sih Lo, Bor?! Nggak tahu ketuk pintu, Lo?!" sentak Rama kesal merasa kegiatan kesukaannya terganggu.
"Ma-maaf, Pak. Tapi ada sesuatu yang sangat urgent (penting), Pak." sahut Bora tertunduk malu.
Ah, sial! Kenapa juga dia harus melihat hal yang sudah sangat lama tidak dia lakukan lagi. Rama terdengar mendengus, bangkit dari kursi sofa karena Mulan sudah lebih dulu meninggalkannya kembali ke kursi di belakang meja kerja Rama.
"Urgent apaan, hah?! Taunya cuma gangguin orang aja Lo!"
"Tapi ini emang beneran urgent, Pak. Ini tentang keluarga, Bu Mulan."
Rama dan Mulan kompak menatap ke arah Bora yang berdiri tidak jauh dari mereka. Mulan merasa dia tidak salah mendengar saat Bora berkata tentang keluarganya.
"Keluarga aku, Bor?"
"Iya, Bu. Ada sesuatu yang terjadi pada mereka."
To Be Continued
__ADS_1