Touch My Body

Touch My Body
Syarat


__ADS_3

Mengingatkan lagi, yah pecinta biji ...


Selama bulan puasa author bakal up malam


Karena ini cerita 21++ jadi usahakan untuk semua pembaca yang berpuasa, membaca novel ini setelah berbuka atau pun sebelum sahur demi kenyamanan kita bersama ...


Jadi nanti kalau ada part manis atau main, tolong jangan diprotes lagi sama author, yah 😁


Selamat berpuasa untuk yang berpuasa 🥰


--------------------------------------------------------------------------


"Na, sini...," panggil Jacob mengayunkan tangan.


"Kenapa, Pak?"


"Sini dulu," panggil Jacob lagi meminta wanitanya mendekat.


Anna berdecak pelan dan berjalan mendekati atasannya yang duduk dibalik meja kerja.


"Kenapa sih, Pak?!" tanyanya sedikit risih.


"Makanya kesini dulu." Jacob menarik tangan Anna, gemas sendiri melihat wanita yang dia suka berjalan lelet seperti kura-kura.


Jacob menundukkan Anna ke pangkuannya dengan tangan yang langsung melingkar di pinggang ramping Anna.


"Kemarin aku bilang mau kenalin kamu sama orang tua aku, kan? Hari ini nyokap aku bakal telpon aku bentar lagi." Jacob melirik jam di atas meja dengan waktu yang sudah menunjukkan hampir pukul lima sore waktu setempat.


Lima menit lagi dan laptop yang dia letakkan di atas meja akan tersambung begitu Manis menghubunginya.


"Tu-tunggu, Pak. Kenapa tiba-tiba gini?" sahut Anna terbata.


"Jacob, Beb. Panggil nama aja, bentar lagi jam kantor abis."


Anna mengangguk cepat. "Ah, iya maksud aku, Jac. Kenapa kenalannya tiba-tiba gini?"


Jacob tersenyum sembari mengusap dagu Anna. "Nggak ada yang tiba-tiba, Beb. Kan, kemarin aku udah kasih tahu kamu. Lagian kenalannya, kan cuman lewat hp. Santai ajalah...."


"Tapi, Jac. Aku, kan belum setuju kenalan sama orang tua kamu, aku—"


"Oh, jadi kamu mau pura-pura lupa gitu?!" potong Jacob dengan intonasi yang dibuat-buat.


"Bu-bukan gitu. Aku cuma, cuma...."


"Cuma apa, hm?" Jacob maju mendekati wajah Anna, menunjukkan wajah tidak senangnya dengan ucapan wanita itu barusan.

__ADS_1


"A-aku cuma nggak siap aja, Jac." sahut Anna dengan nada suara yang perlahan menghilang.


Rasa malu dan tidak percaya diri menerpa hati Anna. Bagaimana mungkin pria yang adalah atasannya di perusahaan menjadi calon suaminya juga? Apa kata orang tua pria ini nantinya?


Anna benar-benar tidak habis pikir dengan skenario yang terjadi di antara dia dan Jacob saat ini.


"Kalo kamu nggak siap, kapan aku bisa nikahin kamu, Beb? Kamu mau hubungan kita menggantung gitu aja kayak biji aku?" canda Jacob mencoba mencairkan suasana di antara mereka.


"Ish, bukan gitu, Jac. Tapi kita, kan emang nggak punya hubungan apa-apa. Kamunya aja yang...." Anna tidak jadi meneruskan ucapannya setelah hampir salah berucap.


"Yang apa, hah?!" Jacob memicingkan mata, berubah kesal setelah mendengar ucapan Anna yang seperti terus ingin mengujinya.


"Pokoknya nggak ada bantahan lagi! Hari ini kamu kenalan sama orang tua aku dan Minggu depan kita pulang ke Indo!" sambung Jacob memberi penegasan.


Anna terlihat membuang nafas panjang bingung harus bagaimana lagi. Pria di depannya memang suka memaksa dan tidak bisa dibantah. Lagi-lagi dia harus terjebak dengan tipe pria pemaksa, pikirnya.


"Sebenernya aku belum aja siap, Jac. Gimana kalo aku kenalannya pas kita balik ke Indo? Kan, bisa sekalian ketemu juga di sana," tawar Anna berusaha bernegosiasi.


"Tapi, Beb—"


"Ayolah, Jac. Katanya kamu cinta sama aku? Aku nggak akan nolak lagi, deh kalo kita udah di Indo," manja Anna menatap penuh harap manik mata coklat muda Jacob.


Pria berlesung pipit itu terdiam, berpikir selama beberapa menit sebelum menjawab. "Ok, deh boleh. Kenalannya nanti aja sekalian di sana."


"Beneran?" tanya Anna dengan senyum mengembang.


"Syarat?"


"Iya. Kamu mesti cium aku sepuluh kali di semua bagian wajah aku," sahut Jacob tersenyum penuh arti.


"Apa?!" kaget Anna. "Syarat apaan itu? Mana ada syarat harus cium-cium segala?!" ucapnya tidak terima.


"Ada, kan syaratnya dari aku. Bebaslah aku mau ngasih kamu syarat apaan, Beb!" sahut Jacob santai.


"Nggak mau, aku nggak mau pokoknya kalo cium-cium begitu!" tolak Anna bersikeras.


"Yakin nggak mau?"


"Iya!"


"Yaudah, kalo gitu kita cari hotel deket sini."


Anna mengernyit bingung. "Mo ngapain?"


"Kamu nggak mau cium aku, kan?" Anna mengangguk.

__ADS_1


"Yaudah sekarang kita langsung ke hotel biar bisa main di sana sekalian."


"What?!" kaget Anna membola tidak percaya. Apa-apaan lagi pria ini, gumamnya.


"Tunggu, aku booking hotel dulu bentar." Jacob mengambil ponselnya di dekat mereka, sengaja membuat wanita yang masih duduk di pangkuannya panas dingin.


"Ih ... apaan sih, Jac." Anna menyambar ponsel Jacob sebelum pria itu sempat membukanya.


"Nggak! Nggak ada yang namanya main, main begituan!" Dihempaskannya ponsel Jacob sejauh mungkin, sebelum atasan gilanya semakin bertingkah tidak masuk akal.


"Kenapa, katanya tadi nggak mau cium? Kita langsung main aja, kan lebih enak, Beb...," sahut Jacob tersenyum geli dalam hati.


Senang rasanya menggoda wanita yang tampak sudah merah padam di depannya.


"Kalo kita main, nggak cuman ciuman aja yang kita dapet. Keringat sama enaknya juga dapet, Beb." sambung Jacob berusaha menahan tawa.


"Astaga...." Ingin rasanya Anna menyumpal mulut Jacob dengan kertas-kertas yang berserakan di atas meja kerja atasannya.


Wajah pura-pura polos Jacob seakan membuat Anna ingin mencekik pria gila itu sekarang juga.


"Udah nggak usah booking-booking-an segala. Sini aku cium kamu aja!" Anna mengalah, tidak mau memperpanjang pembahasan tidak masuk akal ini lagi. Orang waras harus mengalah pada orang labil, pikirnya.


"Gitu, dong. Kalo kamu iyain daritadi, drama cinta kita nggak bakal panjang kek sinetron begini, Beb." Jacob tersenyum menang, menarik pinggang Anna semakin menempel dengannya.


"Sepuluh kali, yah. Cium di bagian mana aja diwajah aku. Di bagian bawah juga boleh kalo kamu mau."


"Ck, maunya kamu itu!" kesal Anna karena untuk kesekian kalinya harus kalah dari pria pemaksa ini.


"Yah, kan nggak pa-pa juga kalo dapet bonus dari calon istri aku. Yang dibawah selalu siap kapan aja dibutuhkan kamu kok, Beb...," kekeh Jacob sengaja menggoda Anna yang makin kesal mendengar ucapannya.


Anna memutar mata malas, mendekat dan mendaratkan bibirnya pertama kali di dahi Jacob dengan cepat.


"Eh, jangan cepet-cepet, Beb. Mana ada ciuman cepat banget kayak kilat begitu?!" tahan Jacob sebelum Anna sempat mendaratkan bibirnya yang kedua kali.


"Ish, bawel amat, sih kamu! Terserah aku, dong mau ciumnya kayak gimana!" protes Anna tidak terima.


"Ya ampun, Bebeb. Yang namanya ciuman, yah harus romantis lah, Beb. Sini aku ajarin." Jacob menarik tengkuk Anna, menahannya agar tidak bergerak menerima serangan ciuman bertubi-tubi dari bibir basahnya.


Jacob bahkan berhenti lebih lama di bibir merekah Anna, dia sengaja bermain-main di sana dengan sapuan lidah dan bibir yang bergantian menyentuh hingga kedalaman mulut Anna yang manis.


Wanita itu tidak lagi bisa menolak saat Jacob mulai memainkan lidahnya dengan tangan yang lain mengusap punggung Anna lembut.


Seakan larut dalam pertukaran saliva yang memabukkan, Anna tanpa sadar memejamkan mata menikmati permainan memabukkan atasannya.


Keduanya tidak sadar saat layar laptop yang terbuka menunjukkan wajah seseorang, yang secara otomatis tersambung ketika dia menghubungi anak laki-lakinya.

__ADS_1


"Astaga Jacob...!" pekik Manis dari ujung sana.


__ADS_2