
"Mereka orang tuanya Mulan?"
"Iya, Pak. Menurut Pak Deno mereka yang akan menggantikan kehadirannya sementara waktu disini."
Rama mengangguk, membolak balikkan sebuah berkas ditangan berisi latar belakang keluarga wakil presiden itu.
Sebelum menemui keduanya, Rama meminta Bora mencari informasi tentang mereka sebanyak-banyaknya. Setidaknya sebelum dia melangkah lebih jauh, Rama harus tahu siapa musuh-musuhnya.
"Kalo gitu, gue punya tugas buat Lo!" Rama mulai memberitahukan apa yang akan dilakukan Bora selama mereka bertemu di sebuah restoran bintang lima yang berada di tepat di pusat jantung kota Milan.
"Tapi, Pak. Kalo mereka curiga dan aku ketahuan gimana?" tanya Bora tidak yakin.
"Ya itu derita Lo!" jawab Rama santai, kembali mengatur duduknya bersandar di jok mobil.
Pria yang duduk di depannya terdengar menghembuskan nafas panjang. Bora kesal sendiri mendengar jawaban yang sama sekali tidak memberi motivasi apapun untuknya itu.
Mobil mereka pun melaju, memecah jalan ibu kota yang mulai ramai dengan kendaraan karena jam pulang kantor.
"Jangan lupa, Bor. Lakuin apa yang gue bilang tadi!" Rama bersuara sebelum mereka masuk ke dalam restoran yang cukup private dengan live music piano di dalamnya.
Kedua pria dengan tinggi badan yang hampir sama itu melangkah beriringan mendekati meja reservasi di mana pasangan suami istri yang tidak lagi muda menunggu kedatangan mereka.
"Selamat malam Pak Cokro...," sapa Rama terdengar hangat.
Pria yang disapa bangkit berdiri, mengulurkan tangan menyalami Rama lebih dulu. "Selamat Pak Rama, apa kabar?" tanyanya berbasa basi.
"Saya baik, terima kasih. Maaf membuat Bapak dan Ibu lama menunggu," sahut Rama sedikit melirik pada wanita dengan rambut yang disanggul seperti sarang lebah menggantung di pohon.
"Sama sekali tidak, Pak Rama. Kami juga belum lama tiba. Mari duduk," ucap Cokro menunjuk dua kursi depan mereka.
Bos bersama asistennya pun duduk dengan Bora menghadap wanita yang tersenyum tersipu menatapnya.
"Jadi kedatangan kami kesini ingin membahas lebih lanjut mengenai kerja sama kita Pak Cokro."
"Jangan terlalu terburu-buru anak muda, bagaimana kalau kita makan malam dulu. Perut kita harus diisi sebelum membahas sesuatu yang berat," sahut Cokro terdengar santai.
Rama mengangguk menunggu pelayan membawakan makan malam untuk dia dan Bora.
Keempat orang itu makan dengan diam, sambil sesekali mengomentari makanan restoran terkenal di kota ini.
"Aku permisi ke toilet dulu, Pi." Wati berbisik, tidak lupa ikut berpamitan juga pada rekan bisnis mereka.
__ADS_1
Wanita yang selalu memakai pakaian modis itu berjalan meninggalkan meja dengan gayanya yang anggun namun terkesan dibuat-buat.
Rama memberikan kode pada asistennya untuk mulai bergerak, melaksanakan rencana yang sudah mereka susun selama berada di mobil tadi.
Berpura-pura menerima telepon penting dari seseorang, Bora ikut beranjak meminta izin keluar dari restoran.
"Saya permisi sebentar, Pak...," pamitnya pada dua pria berbeda usia itu.
Bora yang tadinya mengarah keluar restoran, berbalik menuju toilet saat perhatian Cokro diambil alih lagi oleh atasannya.
Pria itu sedikit membuang nafas kasar dengan hati yang masih saja menggerutu sejak tadi. Nasib bawahan yang harus selalu mendengarkan apa perintah atasannya membuat Bora mau tidak mau harus melakukan pekerjaan yang menurutnya sangat menjijikkan ini.
Bora mulai memperhatikan keadaan sekitar, memastikan di mana letak cctv restoran berada dan masuk ke dalam toilet wanita sebelum ada yang melihatnya. Pria itu buru-buru mengunci pintu, berdiri di depan wastafel berpura-pura mencuci tangan.
Wati berjengkit kaget saat melihat asisten rekan bisnis mereka ikut berada dengannya di dalam toilet wanita.
"Astaga ... anda mengagetkan saya, Pak Bora." ucap Wati mengusap dadanya.
Bora tersenyum, berbalik menatap wanita tua yang umurnya mungkin tidak beda jauh dengan neneknya.
"Maaf, Lady. Aku hanya ingin berkenalan denganmu sampai memutuskan datang kesini menemuimu."
"A-apa?" sahut Wati makin kaget.
"A-anda mau apa Pak Bora?"
"Aku? Aku mau kamu, Lady...." Bora berhenti di depan Wati yang terdiam membeku di tempatnya, dengan tangan mengusap pipi Wati lembut.
"Aku tahu wajahmu pasti sangat halus seperti kulitmu. Aku penasaran ingin mengecapnya sedikit begitu aku melihatmu tadi Lady...." Bora masih tersenyum sengaja membuat wanita itu gugup dan salah tingkah.
"Anda mau apa sebenarnya Pak Bora, saya—"
"Ssttt...." Bora meletakkan jari telunjuknya di bibir merah menyala Wati.
"Sudah aku katakan, aku menginginkanmu. Bagaimana kalau kita menghabiskan waktu besok malam?" Bora mengambil secarik kertas dari saku jasnya, memberikannya ke tangan Wati.
"Ini, temui aku disini pukul tujuh malam. Berdandanlah yang cantik dan pakai pakaian terbaikmu. Aku akan menunggumu sampai kamu datang. Jangan membuatku kecewa dan menunggumu terlalu lama, Lady...." Bora tersenyum, masih mengusap pipi Wati sebelum pergi dari sana meninggalkan wanita yang merasakan jantungnya akan meledak saat ini juga.
Tidak tahu mimpi apa dia semalam sampai bertemu dengan pria muda yang mungkin seumuran dengan anaknya sedang menggoda dia dengan berani datang ke toilet wanita.
Wati sedikit tersipu membayangkan dia yang meski sudah tidak lagi muda namun masih bisa membuat pria setampan Bora terpikat. Wanita itu mendadak merasa seperti wanita muda yang tengah jatuh cinta.
__ADS_1
Jantungnya masih saja berdetak tidak karuan sampai dia kembali duduk di depan Bora yang tersenyum tipis menatapnya.
"Kenapa lama sekali, Mi?" tanya Cokro begitu melihat istrinya.
"Tadi ada sedikit gangguan di dalam toilet," jawab Wati melirik ke arah Bora sekilas.
Belum sempat menanyakan gangguan apa, Rama sudah memotong pembicaraan pasangan suami istri itu.
"Baiklah, saya tidak bisa berlama-lama Pak Cokro dan Ibu Wati. Istri saya sendirian di rumah, aku tidak tenang meninggalkan dia lebih lama lagi."
Perhatian keduanya langsung teralihkan, menatap Rama bertanya-tanya. "Pak Rama sudah menikah?" tanya Cokro lebih dulu.
"Iya, saya sudah menikah hampir dua bulan. Saya pindah kesini begitu saya menikah," jujur Rama.
"Benarkah? Kalau begitu kapan-kapan kita makan malam berempat saja Pak Rama. Kebetulan istriku juga sedikit kesepian disini, mungkin istri kita bisa berteman akrab setelahnya," ucap Cokro antusias.
"Boleh saja. Akan saya sampaikan nanti padanya." Rama beranjak dari duduknya tidak mau semakin lama berada di depan dua orang munafik itu.
Sebelum pergi meninggalkan meja makan, Bora masih sempat mengusap punggung tangan Wati yang berada di atas meja untuk memastikan rencana mereka berhasil.
Pria itu dengan cepat membersihkan tangannya dengan sanitizer begitu dia dan Rama masuk kembali ke dalam mobil. Rasa jijik dan ingin muntah menyelimuti pikirannya, bisa-bisanya dia melakukan hal senajiss ini pikirnya.
Rama duduk di kursi belakang, tersenyum dan menepuk pundak asistennya, bangga. "Kerja bagus, Bor. Pastiin rencana kita besok malam berjalan lancar!"
.
.
.
.
.
.
.
.
Wihh...
__ADS_1
Bora kira-kira berhasil gak, yah?