
"Apa ini?"
"Gaun buat Lo."
Mulan mengernyit. "Buat apa?"
"Ya buat dipakelah Mulan, masa buat di makan!" sahut Rama cuek.
"Ck, gue juga tahu ini buat dipake. Maksud gue, Lo ngapain ngasih gue gaun? Emang ada acara?" tanya Mulan sembari mengeluarkan isi dalam tas yang diberikan Rama.
"Iya, tar malem acaranya jam tujuh. Dandan yang cantik dan jangan malu-maluin gue!" Rama beranjak, pergi dari kamar istrinya tanpa mendengar jawaban Mulan.
Wanita itu tidak tahu apa maksud Rama memintanya berdandan yang cantik. Jika memang acara nanti malam sangatlah penting, apa harus diapun ikut pergi dengan Rama? Kenapa Rama tidak pergi dengan Bora saja? Tunggu, apa Rama mau memperkenalkan dia ke semua orang sebagai istrinya?
Mulan mendadak jadi malu sendiri memikirkannya. Dan jika pikirannya ini benar, Mulan merasa sekarang dia telah benar-benar menjadi istri seseorang.
"Gimana, Bor? Udah siap, kan semua?"
"Sudah, Pak. Bapak dan Ibu Mulan tinggal duduk yang manis saja nanti."
Rama mengangguk, duduk di ruang tamu menunggu Mulan selesai bersiap. Malam ini mereka akan diantar Bora seperti biasa.
Rama sudah memikirkan hal apa saja yang akan dia lakukan nanti begitu mereka tiba di restoran tempat makan malam mereka.
"Oh yah, Pak. Untuk yang Bapak pesan tadi, aku sudah minta waiters (pelayan) mengaturnya. Bapak hanya perlu memberikan kode pada mereka dan mereka akan langsung mengantarkannya ke meja Bapak," sambung Bora memberitahukan hal yang diminta Rama tadi sore padanya.
"Ok, nanti Lo bisa jalan-jalan dulu kemana Lo mau. Gue bakal telpon Lo kalo gue udah selesai sama Mulan."
Bunyi sepatu menuruni tangga menghentikan pembicaraan kedua pria itu. Rama seketika mengalihkan pandangannya menatap kaki putih mulus yang terbungkus heels merah setinggi tujuh centi, yang perlahan turun dengan anggun.
Manik mata coklat Rama tidak berkedip melihat gaun indah berwarna senada membungkus pas tubuh seksi Mulan dengan potongan gaun di bagian dada Mulan yang besar. Rambutnya yang digerai dan kini telah dicatnya berwarna hitam, makin menyempurnakan penampilan Mulan malam ini.
Rama rasanya ingin sekali membenamkan diri di dada Mulan yang hampir menyembul keluar. Mulan memang selalu cantik dan menggairahkan, pikirnya.
"Gimana gaunnya, Pak?" bisik Bora mengerti dengan arti pandangan mata Rama pada Mulan.
"Perfect!" (sempurna). sahut Rama bangkit dari kursinya mendekati Mulan.
"Kerja bagus, Lan. Nggak sia-sia gue beliin Lo gaun mahal-mahal begini," ucap Rama begitu tiba di depan Mulan yang mencebik.
"Lo kalo beli gaun yang bener dikit, dong. Ini gaunnya terlalu terbuka, Ra. Gue nggak nyaman pakenya...!" keluh Mulan menarik kain gaun di bagian dadanya.
"Terbuka gimana, sih? Ini udah yang paling sopan diantara semua gaun yang gue dapet di butik-butik sini, Mulan. Lo harusnya tahu kita sekarang lagi diluar negeri bukan di Indo. Lo kalo mau cari gaun yang tertutup mana ada!" sahut Rama beralasan.
__ADS_1
Padahal dia memang sengaja memilih gaun ini karena potongan dadanya yang cukup dibawah. Rama senang melihat dua benda yang sempat dia remass itu menyembul seperti sedang memanggilnya minta di daki. Mungkin nanti dia harus sering-sering membeli gaun model seperti ini untuk Mulan, gumamnya.
"Ayo pergi, kita udah telat!" Rama berjalan lebih dulu meninggalkan Mulan yang tidak bisa membantah lagi.
Mulan terpaksa menyeret kakinya mengikuti Rama dari belakang dengan hati yang kesal. Bora memperhatikan bagaimana pasangan suami istri itu tidak ada romantis-romantisnya.
Sempat berpikir Rama akan memperlakukan Mulan dengan sangat manis malam ini, nyatanya mereka hanya berdebat sepanjang jalan karena gaun yang dipakai Mulan.
Bora sampai bingung sendiri memikirkan apa maksud sebenarnya Rama mengajak Mulan makan malam romantis, tapi malah bertingkah menyebalkan di samping Mulan.
"Ayo turun, gue tinggalin Lo kalo lama-lama lagi!" Rama membuka pintu, keluar lebih dulu dari dalam mobil.
Mulan sempat berkata tidak akan turun karena tidak percaya diri dengan gaun yang dia pakai. Rama langsung kesal karena menganggap Mulan seakan tidak menghargai pemberian pertamanya untuk wanita itu.
"Nggak usah ngerasa nggak pede, Bu. Ibu cantik, kok pake gaun itu. Lagipula itu gaun yang dibeli Pak Rama khusus buat Ibu. Pak Rama pasti seneng dan bangga liat Ibu pake gaun yang dia kasih." Bora bersuara setelah Rama turun dari mobil.
Dia ingin memberikan keyakinan dihati Mulan kalau malam ini Mulan memang sangat terlihat cantik dan berbeda.
Bora juga ingin menegaskan bagaimana perasaan Rama saat ini melihat Mulan memakai gaun pemberiannya. Meski punya maksud yang lain, tapi Bora yakin Rama tulus memberikan gaun tersebut untuk istrinya.
"Makasih, Bor." Mulan tersenyum, keluar dari mobil mendekati suaminya. Benar kata Bora, setidaknya dia harus menghargai pemberian Rama untuknya.
Rama tersenyum tipis melihat Mulan akhirnya mau juga keluar dari mobil tanpa perlu diseret terlebih dahulu. Pria itu mengulurkan tangan, memberi isyarat agar Mulan merangkul lengannya.
"Taruh tangan Lo disini," tunjuk Rama pada lengannya.
"Harus emang?"
Rama berdecak, menarik tangan Mulan tidak sabar. "Kita nggak bakalan masuk-masuk kalo gue mesti jawab pertanyaan nggak penting Lo lagi!"
Rama melingkarkan tangan Mulan ke lengannya, membawa Mulan masuk menuju meja reservasi mereka.
Hanya ada lima meja di sana dengan tiga diantaranya sudah terisi. Rama senang karena Bora mengerjakan tugas yang dia berikan dengan baik.
"Duduk." Rama menarik kursi, mempersilahkan istrinya duduk.
Mulan mengangguk, duduk sembari memperhatikan ke sekitar mereka. "Kita lagi ikutin acara apa, Ra?" cicitnya.
"Acara makan malam."
"Hah? Sama siapa?"
"Gue."
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Mulan tidak mengerti.
Rama tidak sempat menjawab pertanyaannya karena pelayan restoran yang datang membawa menu pembuka untuk mereka.
Mulan dibuat bingung dengan mereka yang langsung disuguhkan makanan tanpa memesan lebih dulu. Apa mungkin ini cuman akal-akalan Rama aja bilang kita ada acara padahal dia cuma pengen makan malam, doang sama gue?
Mulan memicingkan mata menatap pria di depannya tajam, awas aja kalo abis ini Rama macam-macam padanya, gumam Mulan.
"Non dimenticare di portare il mio ordine speciale una volta terminato il menu principale." (Jangan lupa bawakan pesanan khusus saya setelah menu utama selesai), ucap Rama pada pelayan sebelum dia pergi meninggalkan meja mereka.
"si signore." (Baik, Tuan), sahut pelayan itu.
"Ngomong apa Lo sama pelayan tadi?" tanya Mulan curiga.
"Nggak ada, gue cuma bilang makasih, doang...," bohong Rama.
"Makasih, kok panjang banget ngomongnya," sahut Mulan tidak percaya.
"Tar, Lo bisa cari di kamus artinya kalo nggak percaya."
Mulan berdecak, menyuapkan sesendok makanan pembuka mereka di atas meja. Malam itu ditemani musik saxophone, Mulan dan Rama makan dalam diam.
Rama yang sedang larut dalam pikirannya sendiri tentang rencananya malam ini, dan Mulan yang dibuat bertanya-tanya tentang apa maksud Rama mengajaknya makan malam berdua seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
Masih berlanjut, guys 🤭
Sabar menanti up, yah 🤗😁
__ADS_1