Touch My Body

Touch My Body
Pemberi Ide


__ADS_3

"Pokoknya kita nggak mau nikahan kita dibikin bareng-bareng!" protes Jacob dan Gober bersamaan pada dua pria paruh baya di depan mereka.


Donal dan Mike duduk menikmati kopi sore dicafe dekat perusahaan keduanya. Jacob dan Gober datang setelah tahu ayah mereka tengah berkumpul dan mengobrol seperti biasanya.


"Siapa yang mau nikah bareng?" Richard kembali dari toilet, sempat mendengar protes anak sahabatnya dari jauh.


"Uncle Richard, tolong bilangin sama papi aku nggak mau nikah dihari yang sama bareng Gober...," pinta Jacob senang melihat ada orang lain yang bisa membantu membujuk ayah mereka.


"Oh, kalian yang mau nikah bareng?"


"Iya, Uncle. Tolong bilangin sama mereka kita nggak mau," ucap Jacob lagi.


Richard tersenyum, melirik sekilas ke arah calon menantunya Gober yang diam, tidak berani ikut bersuara seperti Jacob.


"Ngapain minta tolong sama Uncle, Cob? Ide nikah barengan kalian itu, kan dari Uncle."


"What?!" kaget Jacob dan Gober bersamaan.


"Iya. Uncle yang ngasih ide itu sama papi kalian," sahut Richard santai.


"Astaga ... kok, Uncle ngasih ide nggak banget gitu, sih sama Papi?" protes Jacob.


"Nggak banget gimana maksud kamu, Cob? Selama ini kalian, kan udah biasa ngerayain ultah bareng-bareng? Nggak masalah, dong kalo nikah juga dibikin barengan...."


Gober menghembuskan nafas panjang diikuti Jacob. Ingin meminta tolong namun orang yang mau dimintai tolong malah adalah pemberi ide gila pada ayah mereka.


"Bener kata Uncle kalian, Cob. Lagian seru tahu nikahan kalian dirayain bareng. Tamu-tamu pasti lebih banyak yang hadir dan nikahan kalian juga bakal masuk halaman berita. Anak pemilik perusahaan terkenal ngadain nikahan barengan belum pernah ada selama ini. Pernikahan kalian pasti bakal jadi cerita booming di seantero negeri." Mike ikut bersuara, mendukung penuh ide sahabatnya.


Jacob berdecak, kesal kenapa ayahnya mau saja mengikuti ide tidak masuk akal pria yang dia panggil Paman.


"Iya, Cob, Ber. Ide ini itu udah yang paling baik buat kalian berdua. Percaya, deh sama Papi. Nikahan kalian bakal ngalahin nikahan anak Presiden nanti," timpal Donal terkekeh-kekeh.


Gober berdecak, bergantian dengan Jacob. Hatinya sama kesalnya mendengar ayahnya malah menyetujui dan tidak menolak sama sekali ide gila calon mertuanya.


Jika tahu akan begini, lebih baik semua persiapan pernikahannya dengan Cima diatur sendiri olehnya sejak awal.


"Kalo gitu biar Jacob aja yang nikah duluan, Pi," ucap Gober pasrah.


"Apa? Kenapa?!"


"Nggak pa-pa. Aku rela mundur seminggu biar Jacob bisa nikah duluan."


"Nggak! Nggak ada yang ditunda-tunda begitu!" protes Richard menimpali pembicaraan ayah dan anak itu.


"Ta-tapi Uncle, kita—"


"Sekali enggak, ya tetep enggak, Ber!" potong Richard cepat. "Kalo kamu sampe berani tunda, jangan harap kamu bakal nikah sama anak Uncle!" sambungnya dengan wajah penuh keseriusan.


Donal dan Mike ingin sekali tertawa melihat wajah Gober yang seketika pucat mendapatkan ancaman tidak main-main dari sahabat biji mereka.

__ADS_1


Keduanya tahu Gober pasti tidak akan bisa menolak jika Richard sudah memberi ancaman memutuskan hubungan anaknya dan Gober, jika pria berwajah manis itu tetap bersikukuh menunda pernikahan mereka.


"Kalo gitu aku aja yang ditunda, Pi." Jacob ikut bersuara, menunjukkan rasa setia kawannya pada Gober.


"Ck, jangan macem-macem kamu, Cob!" Mike menyahut. "Pokoknya nggak ada yang ditunda-tunda. Kalo kalian tetep nggak mau nikah dihari yang sama, sekalian aja nggak usah nikah-nikah nanti!" ucapnya ikut memberi ancaman.


Wajah putus asa langsung tergambar diwajah dua calon pengantin pria itu. Baik Gober maupun Jacob tidak bisa membantah kemauan ayah-ayah mereka.


Pria pemberi ide gila di depan mereka pasti sedang tertawa puas dalam hati sekarang, pikir keduanya.


"Tenang aja, Ber. Abis kamu nikah, Uncle nggak bakal nanya berapa ronde lagi sama kamu." Richard tertawa sebelum meneguk kopi miliknya di atas meja.


Gober menggerutu, kesal sendiri dalam hati.


Setelah pembicaraan yang gagal total, Gober dan Jacob pulang dan singgah sebentar di butik Amanda menjemput Cima. Wajah keduanya masih sama kesalnya seperti tadi.


Bahkan Cima yang masuk ke dalam mobil kekasihnya tidak disapa sama sekali oleh keduanya. Cima mengernyit bingung dengan sikap sahabat-sahabat kakaknya yang terlihat cuek bebek petang ini.


"Pada kenapa, sih?" tanya Cima menatap bergantian Gober dan Jacob yang duduk di kursi depan.


Dua pria tampan itu diam, tidak memberi jawaban apa-apa. Cima berdecak kesal dan duduk bersandar di kursinya. Mungkin mengerjai dua orang ini bisa membuat mereka sadar, pikirnya.


Cima pun mengambil ancang-ancang, bersiap dan menendang kursi Gober dan juga Jacob di depannya kuat.


Sontak dua pria itu berjengkit kaget mendapati kursi mereka ditendang Cima dari belakang.


"Astaga Cima ... Lo mau bikin orang jantungan, yah?!" Jacob mengusap dadanya, menetralisir detak jantung yang menggila di dalam sana.


"Kenapa Cima sayang...?" Gober melirik wanitanya dari kaca spion depan, tahu calon istrinya pasti sedang tidak baik-baik saja saat ini.


"Males. Cepetan, aku mau pulang!" rajuk Cima terlanjur kesal dengan dua orang itu.


"Ish, Lo kalo lagi kesel sama orang jangan bawa-bawa gue juga dong, Ci! Gue belum nikah. Kalo gue jantungan trus stroke, gimana? Lo mau tanggung jawab sama calon bini gue?" Jacob menyela, tidak terima dengan sikap adik sahabatnya.


"Bodo! Kalo nggak suka turun aja dari mobil!" sinis Cima bersedekap dada.


"Lo—"


"Udah, udah...," sela Gober menengahi perdebatan Jacob dan Cima.


Sedikit memberi kode pada sahabat bijinya agar berhenti berucap, Jacob mendengus ikut bersedekap dada seperti Cima.


"Nggak usah di dengerin apa kata Jacob, Ci. Kita anterin dia kerumahnya dulu, yah? Abis itu baru kita lanjut malam mingguan di tempat biasa," bujuk Gober dari kursi belakang kemudi.


Membalas dia yang hanya diam saat Cima bertanya tadi, wanita itu memalingkan wajah, menatap keluar jendela. Cima hanya diam selama perjalanan menuju ke rumah Jacob.


"Gue nggak singgah yah, Cob. Salam aja buat mami Manis."


"Iya, nggak usah. Betina Lo lagi PMS keknya. Gue nggak mau dimakan hidup-hidup sama dia," sahut Jacob sengaja membuat Cima makin kesal.

__ADS_1


"Berisik! Udah sana turun!" usir Cima sedikit terpancing dengan ucapan Jacob.


"Hii ... Kunti serem." Jacob berpura-pura bergidik, membuka pintu mobil sebelum ditimpuk oleh Cima.


"Dasar reseh!" Cima bergegas membuka pintu mobil dan menendang tulang kering Jacob sebelum pria itu sempat menghindar.


"Aduh...," ringis Jacob memegang tulang keringnya yang berdenyut.


"Rasain...!"


"Bangkee, awas Lo, yah Cima!" Jacob maju, bermaksud ingin membalas perbuatan Cima.


Namun Cima dengan cepat masuk kembali ke dalam mobil, tertawa terbahak sembari menjulurkan lidah meledek Jacob yang hanya bisa memekik kesal di depan pintu kaca mobilnya.


Gober langsung menjalankan mobil, tidak ingin dua orang itu saling meledek lagi satu sama lain.


"Siapa itu, Jac?" Anna tiba-tiba keluar membuka pintu pagar rumah Jacob setelah mobil Gober pergi.


Sejak tadi dia melihat apa yang baru saja dilakukan Cima pada calon suaminya.


"Eh, Bebeb." Jacob berbalik, sedikit terkejut melihat Anna juga ada di sana.


"Siapa cewek tadi?" tanya Anna lagi.


"Oh, dia—"


"Dia cewek yang kamu rangkul mesra difoto, kan?" potong Anna sebelum Jacob sempat menjawab.


"Hah? Foto?"


"Iya, yang fotonya bahkan kamu simpen dikamar sampe dibingkai segala!" sinis Anna mulai panas.


"Udah mau nikah tapi masih nyimpen foto mantan. Minta dianterin segala lagi pulang ke rumah. Kenapa kamu nggak nikah aja sekalian sama dia?!" sambung Anna tanpa jeda.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ya ampun ... ada yang panas tapi bukan matahari 🤭😆


__ADS_2