Touch My Body

Touch My Body
Bilang Iya!


__ADS_3

Malu ...


Satu kata yang masih menari-nari dipikiran Anna setiap kali bertemu dengan atasannya di kantor maupun di apartemen milik pria itu.


Setelah pagi panas yang ditinggalkan Jacob padanya, Anna tidak mampu menutupi rasa malu bahkan mungkin rendah dirinya karena harus jatuh lagi di pelukan pria yang bisa dikatakan masih sangat asing untuknya.


Sial! Kalau saja dia tidak lupa mengunci pintu kamarnya waktu itu, Jacob tidak mungkin melihatnya dalam keadaan tanpa busana yang berakhir dengan Jacob menjelajahi tubuhnya hingga sampai kedalaman.


Meski tidak sampai bercinta, tapi setiap kali mengingat permainan lidah dan bibir panas Jacob padanya, Anna menjadi malu dan gila sendiri.


Bagaimana mungkin dia malah hanyut dalam permainan Jacob waktu itu? Dia benar-benar gila sampai berharap Jacob akan bermain di atasnya sesudah puas bermain lidah dibawah sana.


"Pak Jacob? Ngapain di sini, Pak?" kaget Anna baru saja membuka pintu kamarnya.


"Sini." panggil Jacob menepuk ranjang di sampingnya.


"Ngapain, Pak?" tanya Anna takut-takut.


"Ke sini aja," panggil Jacob lagi.


Anna menyeret kakinya yang sontak terasa berat dengan pikiran berkecamuk, mau apalagi pikirnya pria ini.


"Aku duduk di sini aja, Pak." sahut Anna menjatuhkan dirinya di kursi dekat ranjang.


Jacob berdecak, menarik Anna dari sana memaksa dia duduk di dekatnya.


"Aku minta kamu duduk di sini bukan disitu!" kesal Jacob mendudukkan Anna di atas ranjang.


"Pa-pak Jacob mau apa sebenernya, Pak?" gugup Anna.


"Nggak ada, aku cuman mau ngomong aja sama kamu."


Anna mengernyit waspada. "Ngomong nggak harus dikamar aku juga, kan Pak!"


"Emang nggak harus di kamar, sih. Tapi dari tadi aku nungguin kamu di ruang tamu, kamunya lama amat di dapur nggak tahu ngapain aja. Aku pikir mendingan aku langsung aja nungguin kamu di sini," sahut Jacob beralasan.


Anna mendengus tidak bisa mengelak. Dia memang sengaja berlama-lama di dapur karena tahu Jacob masih duduk di ruang tamu apartemen.


Anna ingin menghindari pria itu karena masih malu dengan kejadian tempo hari.


"Ngomong-ngomong kalo lagi dirumah kayak gini, kamu nggak usah panggil aku Bapak lagi, Na. Panggil aja aku Jacob."


Anna mengernyit lagi, bingung kenapa tiba-tiba pria di depannya meminta dia memanggilnya dengan nama.


"Tapi, Pak—"


"Jacob, panggil aku Jacob, Na...!"


"Tapi—"


"Nggak ada tapi-tapian lagi!" potong Jacob kembali. "Panggil aku Jacob!"

__ADS_1


Anna diam dengan tangan saling bertaut satu sama lain. Apa sebenarnya yang diinginkan atasannya ini, gumam Anna.


"Aku udah bilang, kan kemaren aku bakal tanggung jawab. Kita udah resmi pacaran setelah aku main-main di tubuh kamu."


Anna langsung merona merah mendengar ucapan Jacob yang mengingatkannya lagi tentang kejadian memalukan itu. Astaga ... bisa-bisanya Jacob membicarakan kegiatan panasnya dengan gamblang begitu. Tapi tunggu ... apa tadi dia bilang, pacaran?


"Tunggu, Pak. Maksudnya apa Pak Jacob bilang kita pacaran?" tanya Anna sadar ada yang salah dengan ucapan atasannya.


"Ck, kamu tuh kalo dibilangin nggak mau denger, yah? Udah aku bilang daritadi, panggil aku Jacob!" Pria berlesung pipit itu mencubit pipi Anna, gemas dengan tingkah wanita di sampingnya.


"Tapi aku nggak bisa, Pak. Aku—"


"Bisa, kamu pasti bisa. Seiring berjalannya waktu kamu bakal terbiasa manggil nama aku dan perlahan berubah manggil aku Bebeb," sahut Jacob percaya diri.


"Hah? Bebeb?"


"Iya, Bebeb ini bakal jadi calon suami kamu, Na."


"What?!" kaget Anna dengan mata yang membola sempurna.


"Nggak usah kaget begitu lah, Na. Kan, aku udah bilang mau tanggung jawab."


"Ta-tapi nggak jadi calon suami juga, kan Pak...," sahut Anna tidak habis pikir dengan pikiran atasannya.


"Ish, mulut kamu emang nggak bisa dibilangin, yah...." Jacob menarik tengkuk Anna, menautkan bibir mereka, kesal karena Anna terus memanggilnya dengan sebutan Bapak.


Jacob semakin sering berbuat seenaknya dengan mencium Anna tanpa permisi yang makin membuat wanita itu kesal dan malu bersamaan.


Pria itu mundur, tersenyum mengusap bibir Anna yang sedikit bengkak karena ulahnya. Anna sempat terdiam selama beberapa saat sebelum kembali bersuara.


"Pokoknya aku nggak mau kalo manggil kamu dengan sebutan Bebeb lagi, Jac!" ucap Anna akhirnya mengerti memanggil atasannya dengan nama.


Senyum diwajah Jacob semakin mengembang seiring rasa membuncah dihatinya dipanggil begitu oleh Anna.


"Pelan-pelan ... kan, aku udah bilang pelan-pelan aja. Nggak perlu sekarang juga Anna."


"Enggak! Pokoknya aku nggak mau! Dan nggak ada itu ceritanya calon-calon suami!" sahut Anna bersikeras.


"Jadi kamu nggak mau aku tanggung jawab? Aku udah main-main ditubuh kamu loh, Na ... udah rasain punya kamu yang manis juga. Remas-remass atas bawah juga, yakin aku nggak perlu tanggung jawab?"


"Ish." Anna memukul lengan Jacob, kesal atasannya malah membicarakan apa saja yang mereka lewati pagi itu.


"Kok dipukul sih, Bebeb?" manja Jacob makin membuat Anna kesal.


"Nggak ada Bebeb, Bebeb! Kamu pikir aku Bebek dipanggil Bebeb?! Pokoknya aku nggak mau! Kalo panggil nama, ok aku ikutin. Tapi kalo Bebeb, enggak bakal!" Anna beranjak dari ranjang meninggalkan Jacob yang tersenyum penuh arti.


Pria itu dengan cepat ikut beranjak, sedikit berlari menuju pintu kamar Anna sebelum wanitanya sempat keluar dari sana.


"Kalo gitu kita sekalian main aja biar aku bisa tanggung jawab jadi calon lakik kamu!" ucap Jacob berdiri menghadang Anna.


"Apa? Main?!"

__ADS_1


"Iya, kan biar aku bisa beneran tanggung jawab. Kalo kita main kamu pasti nggak bakal tolak aku lagi."


"Sinting! Jangan gila kamu, Jac. Minggir aku nggak mau nikah sama kamu!" dorong Anna berusaha keluar dari kamarnya.


"Nggak! Kamu nggak bakal keluar dari sini sebelum kita main dan aku bisa jadi calon suami kamu!" Jacob menahan tangan Anna menarik wanita itu kembali ke ranjang.


"Lepasin aku! Kamu bener-bener nggak waras, Jac. Nggak ada ceritanya aku mau main sama kamu!" Anna berusaha menarik tangannya berontak tidak ingin diapa-apakan oleh Jacob.


"Tenang aja, aku bakal main pelan-pelan. Kamu bakal merem melek enak kayak kemarin." Jacob mendorong Anna ke atas ranjang, ikut naik ke atas tubuhnya sebelum Anna sempat beranjak dari sana.


"Lepasin aku! Kamu gila, Jac. Aku nggak mau!"


"Ok, kalo kamu belum mau sekarang, tapi kamu harus setuju aku jadi calon suami kamu."


"Apa?! Enggak! Jangan harep!"


"Yaudah kalo gitu kita main sekarang," sahut Jacob sengaja membuat wanita berambut panjang itu tidak punya pilihan.


"Aaa ... enggak!" pekik Anna berontak saat Jacob menunduk ingin menciumnya.


"Bilang iya dulu baru aku berhenti!"


"Aaaa...! Dasar gila!"


"Bilang iya, cepet!"


"Enggak!"


"Yaudah, kamu yang milih kita main kalo gitu!" Jacob menunduk lagi bersiap mencumbu bibir tipis Anna yang akhirnya tidak punya pilihan lain.


"Ok, ok ... aku terima, kamu bakal jadi calon suami aku!" pekik Anna memendam kesal dalam hati.


"Bener?"


"Iya."


"Ok, kalo gitu aku kenalin kamu sama mami dan papi aku besok!"


"Apa?!"


.


.


.


.


.


Ih ... biji kalo udah demen emang suka maksa kayak gitu!

__ADS_1


Dasar biji! 😆


__ADS_2