Touch My Body

Touch My Body
Bagaimana ini...


__ADS_3

"Na, kemeja aku yang kemaren mana?" Jacob yang sibuk mencari kemeja kesayangannya tidak kunjung mendapatkan sahutan dari sekretaris yang tinggal satu atap dengannya di apartemen.


Pria itu berdecak, keluar dari kamar menggunakan celana panjang kain berwarna hitam dengan tubuh bagian atas yang polos.


"Di mana sih, nih sekretaris ... daritadi di tanyain nggak nyahut-nyahut?" keluh Jacob berjalan cepat menuju kamar Anna yang berada tepat di samping kamarnya.


Dengan kesal Jacob membuka pintu kamar Anna, memekik memanggil nama wanita berambut panjang itu.


"Anna...!"


"Aaa...!" Anna yang kaget refleks berteriak, menjatuhkan handuk pendek berwarna putih yang dia kenakan.


Jacob langsung membola, menatap tubuh polos dengan dada yang menantang sempurna.


"Astaga...," ucapnya tidak mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Anna.


Anna yang kesal berteriak, menutup dada dan tubuh intinya yang terekspos sempurna di depan Jacob.


"Keluar...!" pekiknya marah.


"Iya, iya ... nggak usah teriak-teriak begitu juga kali, Na." sahut Jacob santai, berbalik tanpa menutup pintu kamar sekretarisnya kembali.


"Pintunya ditutup Pak Jacob!" teriak Anna lagi makin kesal.


"Ish, tadi katanya suruh aku keluar. Kalo aku tutup pintu, jadinya aku liat kamu telanjangg lagi, Na."


Anna berdecak, menarik cepat handuk yang terlanjur jatuh tidak pada tempatnya. Wanita itu buru-buru mendekati pintu, bermaksud menutup dan menguncinya dari dalam.


"Dasar biji nggak ada sopan-sopannya!" gumam Anna sebelum menutup pintu.


"Apa? Kamu bilang apa tadi?!" Jacob menahan pintu kamar Anna, tidak terima dikatai begitu oleh sekretarisnya.


"Apa sih, Pak?! Keluar nggak!" pekik Anna menahan pintu dengan kuat.


"Nggak, enak aja aku disuruh keluar. Kamu lupa ini apartemen aku!" Jacob semakin kuat mendorong pintu kamar Anna yang membuat wanita itu jatuh terjerembab ke lantai.


"Aduh...," ringis Anna merasa bokongnyaa yang berdenyut.


Handuk pendek berwarna putih yang dikenakan Anna sedikit tersingkap saat dia jatuh menyambar lantai kamar. Lagi-lagi Jacob mendapatkan pemandangan gratis di pagi hari yang memanjakan mata nakalnya.


"Haduh ... kamu sengaja godain aku yah, Na?" ucap Jacob ikut berjongkok di depan Anna yang masih meringis kesakitan.


"Udah demen banget, yah sama aku sampe kayaknya nggak pernah capek godain aku mulu dari kemaren," sambung Jacob percaya diri.

__ADS_1


Anna mendengus, kesal melihat Jacob malah tersenyum mengejek dan beranjak dari depannya tanpa membantunya berdiri.


Pria itu dengan tidak pedulinya berjalan meninggalkan Anna yang harus bangkit sendiri dengan susah payah. Kalau bukan atasannya, sudah lama Jacob mendapatkan bogem mentah darinya, gumam Anna dalam hati.


"Bapak nggak usah kepedean, deh. Lagian siapa juga yang bakal tertarik sama biji standar punya Bapak!" sahut Anna tidak lagi peduli dengan ucapannya yang sedikit tidak sopan pada Jacob.


"Eh, siapa yang Lo bilang biji standar tadi?!" Jacob berbalik, kembali mendekati Anna yang memutar mata malas.


"Kenapa, nggak terima?" cibir Anna membalas senyuman mengejek Jacob padanya.


"Dasar betina! Emang kamu udah pernah rasain biji aku, hah?! Dada datar aja bangga!"


"Apa?!"


"Dada datar! Kenapa, nggak terima?" balas Jacob tersenyum menang.


"Kurang ajar, cari mati, nih biji reseh!" ucap Anna berapi-api.


"Bodo! Aku nggak takut sama kamu!" Jacob menjulurkan lidah, sengaja membuat Anna meradang.


Wanita itu mengepalkan tangan, mengangkat satu kakinya bersiap menendang area pangkal paha Jacob.


"Eitss ... nggak semudah itu ferguzo," tahan Jacob meledek sekretarisnya.


Anna kembali mendengus, menarik rambut Jacob yang sudah dia sisir rapi tanpa peduli atasannya yang memekik kesakitan di depannya.


"Aduh ... sakit, Na!"


"Tadi katanya nggak takut, baru dijambak dikit, doang udah teriak-teriak kayak kucing minta kawin! Dasar bancii!" cibir Anna menarik rambut Jacob dengan dua tangannya.


Pria bertubuh tinggi itu tidak ingin hilang akal. Melihat ada kesempatan di depannya, Jacob menarik handuk Anna, sengaja membuat wanita itu malu dan kelabakan tidak tahu harus berbuat apa di depannya.


"Aaa...! Dasar mesumm!" Anna melepaskan tangannya dari rambut Jacob, bergegas menarik handuk yang di pegang atasannya.


Dengan sengaja Jacob melempar handuk itu sejauh mungkin dan menarik pinggang polos Anna saat dia ingin lari dari hadapan Jacob.


"Mau kemana kamu dada datar?!"


"Lepasin aku! Aaa...!" teriak Anna lagi berontak dalam rangkulan pinggang Jacob yang kuat.


Pria berlesung pipit itu membawa Anna ke atas ranjang, melemparkannya dengan kasar dan naik ke atas tubuh polos Anna dengan cepat.


"Lepasin aku, kamu mau apa, hah?!"

__ADS_1


"Diem!" bentak Jacob menahan kedua tangan Anna di samping kepalanya dengan kaki berada di antara kaki jenjang Anna.


"Lepasin aku! Dasar gila!" Anna masih berontak saat Jacob tiba-tiba mencium bibirnya, memaksa masuk menelusuri tiap sudut mulut Anna yang terbuka.


Anna membola dengan dengan nafas yang tercekat. Atasannya benar-benar tidak waras, dalam kondisi tubuh yang polos tanpa sehelai benangpun, Jacob mencumbunya dengan penuh semangat.


Kecapan yang bergantian dengan lidah mulai dimainkan Jacob dengan lihai. Bibir tipisnya asik merasai bibir Anna yang dia suka. Rasa manis selalu dia rasakan sejak pertama bibir mereka saling beradu di dalam toilet club.


Rasa manis ini layaknya candu yang membuat Jacob ketagihan ingin merasakan lagi dan lagi. Ciumannya kini semakin menuntut dengan debaran menggila di dalam sana.


Anna memang berbeda. Dia selalu bisa membuat Jacob lupa diri dan menginginkannya lagi. Terbukti saat ciumannya perlahan melembut, Anna yang tadinya berontak malah mulai terbuai dengan hisapann dan permainan lidahnya.


Jacob tersenyum tipis sebelum melepaskan pagutan mereka dan pindah menyentuh leher Anna yang wangi aroma cherry blossom. Jejak bibirnya sengaja dia tinggalkan beberapa di sana sebelum turun menyentuh dada Anna yang dikatainya datar.


Anna menegang merasakan sapuan lembut lidahh Jacob yang bermain-main di puncaknya yang mengetatt. Bagaimana ini, Anna merasakan tubuhnya bereaksi tidak biasa.


Dia mulai menginginkan hal yang lebih dari Jacob. Perasaan ini, keinginan ini, sudah lama Anna tidak pernah merasakannya lagi. Haruskah dia kembali jatuh dalam pelukan pria yang sejak lama ingin sekali dia hindari?


Anna tidak ingin terjebak kembali dalam rasa yang sama dan membuat hatinya terluka lagi seperti dulu.


Dalam keraguan hatinya yang bimbang, Anna tidak menyadari Jacob telah sampai di perut bawahnya. Kedua tangan yang tadinya Jacob tahan kini sudah dilepaskan olehnya.


Jacob malah menahan pinggang Anna, merebahkan dirinya dengan nyaman di bawah sana dan bersiap merasai benda imut yang ditutupi bulu-bulu halus itu.


"Jac...," desahh Anna menggelinjangg tidak tenang.


"Rileks, Na. Aku cuma penasaran sama ini."


"Ta-tapi—"


"Tenang, aku bakal tanggung jawab." Jacob menunduk, membenamkan dirinya dalam kelembutan Anna.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Berendam dulu kata Jacob 🤣


__ADS_2